Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hadits Hasan

Hadits Hasan

Ratings: (0)|Views: 63 |Likes:
Published by Ibnu Gunadi
created by anak2 "sidah risfat"
created by anak2 "sidah risfat"

More info:

Published by: Ibnu Gunadi on Jun 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2012

pdf

text

original

 
1
A.
 
PendahuluanHal yang dipelajari dalam Ilmu Hadits Dirayah adalah pembahasan tentangkaidah-kaidah yang membantu untuk membedakan antara hadits yang shahih, yangdisandarkan kepada Nabi saw, dan hadits diragukan penyampaiannya kepada beliau.Ilmu yang berkaitan dengan dengan sanad akan mengantar kita menelusuri apakahsebuah hadits itu bersambung sanadnya atau tidak, dan para perawinya termasuk orang-orang yang terpercaya atau tidak. Sedangkan ilmu yang berkaitan dengan matan akanmembantu kita mengetahui informasi yang terkandung di dalam hadits apakah berasaldari nabi atau tidak dan berhubungan dengan dalil atau tidak.Setiap pengenalan dan pembedaan terhadap nilai suatu hadits, harus dibina olehilmu pengetahuan tentang hal ihwal rawi, mengenai keadilannya, hafalannya,,kelemahannya, dan sebagainya. Dengan mengetahui itu kita akan bisa menentukankualitas suatu hadits, apakah
maqbul
(diterima)
 
atau
mardud 
(ditolak), baik dilihat darisudut matannya maupun sanadnya.B.
 
Pembagian Hadits Secara KualitasHadits bila ditinjau dari kuantitasnya, berarti memandang jumlah rawi yangmeriwayatkannya. Sedangkan bila ditinjau dari kualitasnya, maka memandang mutudari rawi maupun matannya. Kedua tinjauan ini masih mempunyai hubungan.Jika hadits mutawatir sudah memberi faidah
 yaqin bil qath‟ 
 I,
berbeda jika haditsahad yang memberi faidah
dhanny
(prasangka yang kuat akan kebenarannya). Maka disini mengharuskan penelitian terhadap para rawi beserta matan hadits ahad tersebut.Sehingga nantinya akan diketahui apakah hadits itu bisa
maqbul
dengan terpenuhinyasemua persyaratan yang telah ditentukan; atau
mardud 
apabila syarat-syarat tersebuttidak terpenuhi.
1
Jumhur muhadditsin membagi hadits secara kualitasnya menjadi tiga:1.
 
Hadits shahih2.
 
Hadits hasan3.
 
Hadits dhaif 
2
 Dari pembagian itu, menurut jumhur muhadditsin, yang termasuk 
maqbul
3
 
adalah hadits shahih dan hasan. Sedangkan hadits dhaif adalah
mardud.
Imam
1
Fathur Rahman,
 Ikhtishar Mushthalahul Hadits,
(Bandung: Al Ma‟arif, 1974), 94.
 
2
Ibrahin al Lahim,
Syarah Ikhtishar Ulum al Hadits,
(t. tp: Maktabah Asy Syamilah, t. t), 22.
3
Hadits maqbul sendiri terbagi menjadi dua:
ma‟mul bihi
dan
 ghairu ma‟mul bihi.
Memgenai macam-macamnya, akan disebutkan pada pembahasan di Hukum Hadits Shahih.
 
2
Turmudzi, adalah ulama pertama yang membagi hadits ke dalam tiga jenis tersebut.Sebelumnya,
taqsim
hadits hanya terbagi menjadi dua,
maqbul
(shahih)
 
dan
mardud 
(dhaif)
.
Dengan cara adanya jalan lain pada suatu hadits dhaif, Imam Turmudzimenggolongkannya ke dalam hadits hasan.C.
 
Hadits shahih
1.
 
Pengertian
Secara bahasa yaitu lawan dari kata
saqim
(yang berpenyakit), yaitu hakekatpada badan dan majas (personifikasi) dalam hadits dan dalam makna-makna lain.Atau bermakna sah dan benar.
4
 Sedangkan sacara istilah, menurut muhadditsin, yang dimaksud denganhadits shahih adalah:
 
 
 . ,
 
 
 Hadits yang sanadnya bersambungan, dinukilkan (diriwayatkan) oleh rawi yang
adil, sempurna ingatannya, tidak ber‟illat dan juga tidak syadz (janggal)
.
 Dari pengertian di atas, dapat diketahui syarat hadits shahih menurut jumhurmuhadditsin adalah:a.
 
Sanadnya tidak terputusb.
 
Rawinya adil.c.
 
Rawinya dhabit (sempurna ingatannya).d.
 
Tidak ada „illat.
 e.
 
Tidak janggal.Menurut jumhur muhadditsin, suatu hadits dinilai shahih tidak tergantungbanyaknya sanad. Tetapi cukup jika sanadnya dan matannya shahih meskipunperawinya hanya seorang.Ibnu Shalah berpendapat, seandainya ada perselisihan di antara paramuhaddits tentang keshahihan suatu hadits, bukanlah karena syarat-syarat itusendiri, melainkan karena adanya perselisihan dalam menetapkan terwujud atautidaknya sifat-sifat tersebut, atau karena adanya perselisihan dalam mensyaratkansifat-sifat tersebut.
4
Mahmud Thahhan,
Taisiru Mushthalahul Hadits,
(Surabaya: Al Hidayah, t. t.), 34.
 
3
2.
 
Syarat Hadits Shahih
 
a.
 
Sanadnya tidak terputus
Maksudnya ialah perawi-perawinya dari sanad hadits tersebut benar-benarmeriwayatkan dari rawi sebelumya, mulai dari sanad pertama sampai sanadterakhir yang menuju ke Nabi saw.
b.
 
 Rawinya adil.
Yang dimaksud dengan „
adil
disini adalah rawi hadits tersebut harus seorangmuslim, mukallaf (akil baligh), serta selamat dari sesuatu yang menjadikan diaseorang fasiq dan sebab-sebab yang dapat mencecatkan kepribadiannya
(muru‟ah)
.
5
 Menurut jumhur muhaddits, keadilan dalam periwayatam hadits lebih umum
daripada „adil dalam persaksian
(
syahadah)
. Jika dalam
syahadah
membutuhkandua orang saksi laki-laki dan juga merdeka, maka dalam periwayatan haditscukup seorang, baik laki-laki maupun perempuan, merdeka atau pun budak.Adapun yang dapat
mempengaruhi
 
muruah
adalah sebagai berikut:1)
 
Mengerjakan dosa kecil yang bisa menodai agama dan sopan santun.2)
 
Mengerjakan perkara mubah yang dapat mengakibatkan penyesalan dan jauh dari kemulyaan, seperti kencing di jalan.
c.
 
 Rawinya dhabit (sempurna ingatannya).
Ialah orang yang kuat ingatannya. Maksudnya bahwa ingatnya lebih banyak daripada lupanya,dan kebenarannya lebih banyak daripada kesalahannya.Ibnu Hajar membagi dhabit menjadi dua:1)
 
Dhabit
shadr,
yaitu apabila orang itu ingatannya kuat, sejak dari menerimasampai menyampaikan hadits tersebut kepada orang lain kapan saja.2)
 
Dhabit
kitab
, yaitu jika hafalan yang kuat seseorang itu dari kitabnya yangterjaga setelah ia mendengarkan atau menerima suatu hadits.
6
 Jadi, dhabit itu terkumpul beberapa hal:1)
 
Tidak pelupa
5
Ahmad Umar Hasyim,
Qawaid Ushul al Hadits,
(Beirut: Dar al Fikr), 40.
6
Mahmud Thahhan.,et. al.,
 Mu‟jam al Mushthalah al Haditsiyah,
(t.tp: Al Maktabah Syamilah, t.t.), 28.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->