Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Banjir

Banjir

Ratings: (0)|Views: 19 |Likes:
Published by kigunungmenyan

More info:

Published by: kigunungmenyan on Jun 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2013

pdf

text

original

 
Banjir! Longsor! Kita Kaget Lagi!
Oleh Otto SoemarwotoGuru Besar Emeritus Ekologi UnpadMusim hujan telah tiba. Masih belum puncaknya. Namun, berturut-turutterjadi banjir bandang di Jember, Jawa Timur (2/1), dan longsor diBanjarnegara, Jawa Tengah (3/1). Korban yang besar lebih dari 100orang di Jember, dan dikhawatirkan melebihi 100 orang diBanjarnegara. Kita terkejut meskipun telah menjadi berita rutinsetiap musim hujan.Banjir dan longsor serta sejolinya kekurangan air dan kebakaran hutanadalah risiko bencana yang dapat kita kelola. Pengelolaan adalahusaha berencana dan sistematis untuk memperkecil besarnya risiko.Besarnya risiko dapat dihitung dengan rumus R = p x K; dengan R =risiko, p = probabilitas yang dalam bahasa sehari-hari disebutkemungkinan, dan K = konsekuensi berupa kerugian materiil, luka, dankematian.Dari rumus itu, risiko bencana dapat diperkecil dengan memperkecilkemungkinan (p) terjadinya bencana dan/atau memperkecilkonsekuensinya (K). Usaha ini bersifat preventif. Namun, kita tidak melakukan usaha preventif. Penanggulangan bencana itu mahal danpenderitaan telah terjadi. Usaha preventif lebih murah danpenderitaan dapat dicegah.Lahan kritisBanjir dan longsor adalah bencana alam yang bersumber pada hujanlebat serta kerusakan hutan dan vegetasi lain yang menghasilkan lahankritis. Untuk mengelola risiko bencana banjir dan longsor, kita tidak dapat mencegah terjadinya hujan lebat. Namun, kita dapat mengurangikemungkinan (p) terjadinya bencana dengan mencegah dan/ataumemperbaiki lahan kritis. Meskipun telah dilakukan reboisasi danpenghijauan berjuta hektar sejak tahun 1960, luas lahan kritisbukannya berkurang, melainkan terus bertambah. Kegagalan inidisebabkan oleh tiga faktor.Pertama, karena ada oknum pejabat yang pura-pura tidak tahu adapenebangan hutan untuk mendapatkan kayu dan menanam sayuran yangkemudian ditadah oleh oknum-oknum di kota. Oknum ini pun yangmemodali penebangan. Dari tayangan di televisi tampak jelas, airbanjir bandang di Jember membawa banyak sekali lumpur yang memberipetunjuk bahwa hutan di hulu telah rusak. Kerusakan disebabkankonversi hutan untuk perkebunan kopi rakyat dan pertanaman sayuran
 
dan palawija. Tetapi, mengapa yang berwewenang atas hutan itu diamsaja?Kedua, kegagalan reboisasi dan penghijauan yang telah kita lakukansejak tahun 1960-an. Kegagalan reboisasi dan penghijauan dalam tahunpertama sudah dapat mencapai lebih dari 50 persen. Karenapemeliharaan sangat minim, setelah lima tahun yang hidup tinggalbeberapa persen saja. Yang mati lebih dari 90 persen. Lalu diadakangerakan reboisasi dan penghijauan lagi. Sebab, kegagalan ialah waktupenanaman sering tidak tepat. Anggaran baru cair akhir musim kemaraudan bibit yang ditanam masih kecil sehingga banyak yang mati. Lebihcelaka lagi jika anggaran baru cair pada akhir musim hujan dan bibityang kecil ditanam pada musim kemarau. Mubazirlah miliaran, bahkansecara nasional triliunan rupiah.Herankah kita kegagalannya tinggi? Pada lain pihak, kegagalan memberikesempatan kepada instansi dan lembaga swadaya masyarakat tertentuuntuk mendapatkan proyek reboisasi dan penghijauan lagi. Adakahkesengajaan untuk menjaga agar dana proyek reboisasi dan penghijauantidak mengering? Wallahualam.Ketiga, kemiskinan yang diperparah oleh pembangunan yang tidak prorakyat miskin. Di Jawa tampak jelas, pembangunan jalan tol,industri, dan permukiman telah memarjinalkan rakyat miskin. Pemilik lahan dapat ganti rugi meskipun sering di bawah harga pasar. Namun,buruh tani serta pengusaha pedati dan pedagang pengangkut hasilpertanian yang kehilangan sumber pendapatannya tidak dapat ganti rugiapa-apa. Mereka tergusur dan hanya mempunyai dua pilihan, naik gunungdan membabat hutan untuk menanam bahan pangan agar tidak matikelaparan atau bermigrasi ke kota serta memperbesar barisan pengamen,penganggur, pengemis, pedagang kaki lima, serta penghuni rumah reyotdi bantaran sungai dan di kolong jembatan.Peristiwa ini terutama terjadi pada waktu laju pembangunan sangattinggi dalam tahun 1970-1990 pada era Orde Baru. Analisis mengenaidampak lingkungan (amdal) yang dibuat, juga oleh universitasterkenal, tak memerhatikan ini dan disetujui Kementerian NegaraLingkungan Hidup serta instansi bawahannya. Gunung Geulis di JawaBarat adalah sebuah contoh yang sangat ilustratif bagaimana penduduk tertekan oleh pembangunan industri dan perumahan ke lereng gunung.Gunung telah gundul sampai ke puncaknya. Gunung Geulis tidak geulis(cantik) lagi.Ala Protokol KyotoMengingat reboisasi dan penghijauan selama 50 tahun telah gagal,
 
perlu dicari modus operandi baru. Disarankan untuk meniru mekanismepembangunan bersih (MPB) ala Protokol Kyoto yang saya sebut pseudo-MPB (tiruan MPB). Penelitian dan pengalaman menunjukkan, di bawahkondisi tanah dan iklim Indonesia, hutan yang rusak dapat pulihkembali secara alamiah. Tak perlu direboisasi. Hutan yang tumbuhkembali mengikat karbon. Karbon itu diberikan kepada penduduk. Yangdiberikan hanya karbonnya, bukan hutannya dan lahannya. Hutan danlahan hutan tetap milik negara.Karena tidak perlu reboisasi, dana reboisasi digunakan membeli karbonyang terikat dalam hutan yang tumbuh kembali. Uang pembelian karbonitu diberikan kepada penduduk dengan syarat hutan tetap utuh. Jikahutan dibabat atau dibakar untuk menanam sayuran atau jagung dansingkong, uang pembelian karbon hangus. Pembelian karbon itu akanmerupakan insentif yang kuat untuk mendorong penduduk menjaga hutandari kerusakan.Memperkecil konsekuensi bencana (K) dapat dilakukan denganmenggunakan sifat curah hujan serta peta topografi dan rawan longsor.Berdasarkan data itu, dapat direncanakan tata ruang pembangunan untuk menghindari penduduk terdorong ke lereng gunung dan membangunperumahan di bawah lereng itu. Dalam amdal harus secara eksplisitdicantumkan rekomendasi cara menangani rakyat miskin bukan pemilik lahan. Permukiman yang telanjur ada yang menghadapi risiko bencanatinggi perlu ditata kembali. Penataan kembali memang tidak mudah.Namun, alternatifnya ialah pengungsian penduduk serta jatuhnya korbanluka dan meninggal karena banjir dan longsor.Salahkah penduduk miskin yang merambah hutan? Dari segi hukum formal,ya. Namun, dari segi sosial-ekonomi tidak. Mereka tergusur olehpembangunan dan menjadi korban bencana. Menyalahkan mereka, ibaratnyasudah jatuh tertimpa tangga. Yang salah ialah para perencana danpelaksana pembangunan, pembuat amdal, dan instansi yangmenyetujuinya. Mereka tidak mempunyai kepekaan sosial dan hanyamengejar ekonomi.Dari tiga pilar pembangunan berkelanjutan ekologi, ekonomi, dansosial yang disetujui dalam KTT Pembangunan Berkelanjutan diJohannesburg dalam tahun 2002 hanya pilar ekonomi yang diperhatikan.Dua pilar lainnya, yaitu ekologi dan sosial, diabaikan. Hasilnya,pembangunan tidak akan berkelanjutan.Nanti bulan Mei kita lupa bencana banjir dan longsor. Kita kagetkebakaran hutan. Malaysia dan Singapura mengomeli kita. Kita malu.Atau mungkin tidak juga karena kita sudah kehilangan budaya malu.Kemudian mulai bulan Juni kita kaget berita rutin kekurangan air.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->