Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
4Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Taufik Rahman_Review Atas Schwartz Dan Carroll, Integrating and Unifying...

Taufik Rahman_Review Atas Schwartz Dan Carroll, Integrating and Unifying...

Ratings:

4.5

(4)
|Views: 2,673|Likes:
Published by Taufik Rahman
CEO adalah seorang sosiolog dan juga pejuang kelestarian lingkungan. tentunya jika ingin memimpin perusahaannya menjadi perusahaan yang ber CSR.
CEO adalah seorang sosiolog dan juga pejuang kelestarian lingkungan. tentunya jika ingin memimpin perusahaannya menjadi perusahaan yang ber CSR.

More info:

categoriesBusiness/Law
Published by: Taufik Rahman on Jan 03, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See More
See less

03/31/2011

 
M
ENUJU
“K 
ESALEHAN
” P
ERUSAHAAN
:
M
ENGITEGRASIKAN
 
KEAGUNGAN
N
ILAI
-
NILAI
EMANUSIAAN
, K 
ESEIMBANGAN
 M
ORAL
,
DAN
A
KUNTABILITAS
P
ERUSAHAAN
 
DALAM
ERANGKA
ERJA
B
ISNIS
 
DAN
 
MASYARAKAT
Taufik Rahman
Aktivis Lingkar Studi CSRwww.csrindonesia.com 
Pertama-tama bertindaklah sesuai dengan ketentuan universal,lalu bertindaklah dengan cara sedemikian rupa,sehingga engkau selalu menghormati perikemanusiaan,entah karena dirimu atau orang lain,bukan sekali-kali saja, melainkan selamanya 
Immanuel Kant
 
CEO sebagai “Sosiolog”
KENDATI term
corporate social responsibility 
(CSR) sudah sedemikianmenggema dan mungkin sudah sangat akrab di berbagai kalangan, namunhingga kini term ini masih menyisakan perdebatan mengenai definisi,cakupan, dan soal metodologi penyelenggaraannya.Di ujung tahun 2007 muncul sebuah tulisan yang hendak menutup debatdefinisi CSR. Artikel itu ditulis Alexander Dahlsrud (2008), “How CorporateSocial Responsibility is Defined: an Analysis of 37 Definitions” (Jurnal
Corporate Social Responsibility and Environmental Management,
No.15
 / 
2008). Dahlsrud berkesimpulan bahwa pada akhirnya CSR dapatdidefinisikan sebagai: “kontribusi perusahaan untuk pencapaian tujuanpembangunan berkelanjutan—sebuah proses perubahan yang disengajauntuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankankemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya.”Dahlsrud juga dalam tulisan itu mengidentifikasi 5 komponen pokok dariberbagai definisi CSR yang ada, yaitu: ekonomi, sosial, lingkungan, pemangkukepentingan (
stakeholder 
) dan voluntarisme. Buat Dahlsrud, perdebatan soaldefinisi CSR sudah tuntas. Kalau pun ada, itu cuma masalah artikulasi, bukansubstansi. Ternyata uraian Dahlsrud tidak berhasil benar-benar menutup debat definisidan cakupan CSR.Mark S. Schwartz dan Archie B. Carroll pada pertengahan tahun 2008 inimenerbitkan artikel dengan judul: “Integrating and Unifying Competing andComplementary Framework: The Search for Common Core in the Businessand Society Field,” (
Business and Society 
Vol. 47, No. 2, June, 2008). Sepertiterungkap dari judulnya, tulisan ini berisi cakupan yang sangat luas, detaildan sangat padat. Mereka menuangkan hasil pengamatan dan analisa yangsangat saksama atas konsep, istilah, cakupan dan bahkan metodologi dalamsebuah uraian yang kental akademik akan tajuk ini. Topiknya pun merekaperluas: menemukan elemen-elemen kunci dalam diskusi, praktik, danbahkan kemajuan akademik mengenai lapangan kajian tentang bisnis danmasyarakat.
Taufik Rahman,www.csrindonesia.com 
1
 
Melihat sedemikian padat berisinya artikel ilmiah ini, diperkirakan ia menjadisebuah titik tolak baru mengenai perkembangan kajian bisnis danmasyarakat—termasuk di dalamnya isu mengenai CSR. Schwartz dan Carroll(2008) dalam artikel ini menguraikan hasil metanalisis atas berbagai ide,gagasan dan kemajuan akademik tentang kajian bisnis dan masyarakat yangberkembang pesat sejak tahun 1960-an hingga tahun 2007. Literatur yangdiperhatikan Schwartz dan Carroll bukan saja berupa buku, artikel jurnal, danberbagai referensi ilmiah lainnya, tapi juga berbagai hasil penelitian yangmemerhatikan tentang bagaimana para CEO perusahaan dan konsultan bisnisterkemuka mendefinisikan dan memberikan cakupan kajian bisnis danmasyarakat (
business and society 
). Tulisan ini mencoba manyajikan ulang intisari gagasan, sedikit memberikankonteks, dan mencoba memberikan apresiasi atas karya Schwartz dan Carroll(2008) yang diperkirakan akan menjadi klasik ini.Bagi pelanggan jurnal
business ethics
(Kluwer Academic Publishers) dan jurnal
business and society 
(Sage Publication), nama Marks. S. Schwartz danArchie B. Carroll adalah tokoh yang tidak asing. Mark S. Schwartz adalahasisesten professor dalam bidang
governance
, hukum dan etika di AtkinsonSchool of Administrative Studies, Universitas York, Toronto, Canada.Sedangkan Archie B. Carroll adalah professor emeritus dalam bidangmanajemen dan menjabat sebagai direktur
Nonprofit Management 
danprogram
Community Service
di Terry College of Business, Universitas Georgia.Melihat latar belakang keduanya, tampak jelas bahwa isu dan kajian diseputar isu bisnis dan masyarakat di Barat, dikembangkan oleh paraakademisi ilmu ekonomi (
business school
). Agak jauh berbeda dengan apayang terjadi di Indonesia. Isu ini lebih banyak ditangani dan dikembangkanoleh mereka yang memiliki latar belakang ilmu sosial, aktivis LSM dan sedikitbanyak menyita perhatian para aktivis lingkungan. Jika di Barat terdapat kecenderungan serius di mana para ekonom—dan jugatidak sedikit para CEO yang mulai sadar akan makna strategis kewajibansosial, “berjuang keras” untuk memahami dan menjadikan dirinya sebagai“sosiolog”, maka pemandangan sebaliknya terjadi di Indonesia: para ilmuwansosial dan aktivis LSM kendati belum begitu kuat mencoba memahamidinamika dan dampak sosial dan lingkungan aktivitas bisnis. Namun sayang,sebagian besar kecenderungan ini, dalam perkembangannya di Indonesiamengarah kepada kesadaran ideologis. Untuk itu, masih sangat jauh untukmenemukan sebuah titik persamaan antara kesadaran etis dan pelestarianlingkungan di kalangan akademisi ekonomi dan pelaku bisnis di Barat dengankesadaran para ilmuwan sosial dan aktivis LSM di Indonesia bahwa praktikbisnis memang didasarkan pada keilmuan yang multidisiplin.
Lima
Core
Kajian Bisnis dan Masyarakat
Menurut telaah Schwartz dan Carroll (2008), dinamika hubungan antara bisnisdan masyarakat telah banyak menyita perhatian serius dari para akademisi,konsultan dan bahkan pelaku bisnis itu sendiri. Titik akhir perhatian merekamenyatakan bahwa penyelenggaraan bisnis saat ini memiliki kecenderungankuat mengarah pada penyelengaraan bisnis yang lebih manusiawi, lebih etisdan lebih transparen. Kesadaran ini berlangsung baik atas desakan pasar,regulasi, dan berbagai kritik sosial-politik, maupun atas dasar kesadaranindividual dan dasar filosofis bangunan “kerajaan bisnis”.
Taufik Rahman,www.csrindonesia.com 
2
 
Menurut keduanya, di sepanjang tahun 1960 (dan juga sebelumnya) hinggatahun 2007, terdapat lima konsep kunci yang menjadi perhatian utamadinamika dan praktik hubungan antara bisnis dan masyarakat. Kelima konsepkunci ini adalah: (1)
Corporate Social Responsibility 
(CSR); (2)
Stakeholder Management 
(SM); (3)
Business Ethics
(BE); (4)
Sustainbaility 
(SUS); dan (5)
Corporate Citizenship
(CC).Kelima istilah itu dalam digunakan oleh para akademisi, konsultan dan paraCEO untuk merujuk praktik, menentukan cakupan kebijakan, program, danbahkan metodologi dalam dinamika hubungan bisnis dengan masyarakat.Karenanya, kendati memiliki definisi yang dapat dibedakan, namun dalamdataran praktik kelima istilah ini sering dipersamakan, dijadikan sebagaibagian dari (
in part 
) dan berintegrasi dengan (
incorporate
) konsep tertentu,dan bahkan menjadi konsep yang saling dipertukarkan (
interchangeably 
).Sebagian kelompok memandang bahwa CSR merupakan bagian dari BE; CSRmerupakan bagian integral dari tindakan ethical responsibilites BE; SMsebagai bagian terpenting dari BE; BE, SM, SUS, dan CC dibangun atas dasarkesadaran kewajiban sosial (CSR) atau sebaliknya: CC merupakan konsepkunci yang merujuk pada penyelenggaraan dan praktik BE, SM, SUS, danCSR. Demikian seterusnya.Dalam penilaian Schwartz dan Carroll (2008), debat, dan mencoba membeda-bedakan secara ketat akan klaim
in part, incorporate,
dan
interchangeably 
dari kelima
core field business and society 
ini pada dasarnya tidak ditemukansebuah nilai perbedaan yang signifikan. Kesemuanya merujuk pada cita-cita,praktik, dan arah penyelenggaraan bisnis yang lebih manusiawi, etis,transparen dan berkomitmen tinggi pada keberlanjutan lingkungan. Titik temulainnya adalah bahwa inisiatif itu semua diselenggarakan secara
volunteer 
;Semuanya merupakan langkah awal dari upaya, kontribusi, dan inisiatif perusahaan untuk menyatakan tanggung jawabnya kepada masyarakat danpara pemangku kepentingan.Untuk itu, jika pun harus terjadi sebuah debat akademik yang ketat dan kaku,penggunaan lima istilah kunci di atas dalam dataran praktik, pada akhirnyaharus dibaca sebagai
evolved into
,
reconcetualized 
,
supplanted 
,
replaced 
,dan
reinforced.
Dalam hal ini konsep
Triple bottom line
dari Elkington atausebuah istilah yang lebih luas seperti
social issues in management 
bisadijadikan sebagai sebuah “payung” mengenai cakupan kajian tentangdinamika bisnis dan masyarakat. Dan dalam hal ini Schwartz dan Carroll(2008) menegaskan bahwa lima
core
di atas harus dibaca sebagai sesuatuyang integral (
integrating
), merupakan satu kesatuan (
unifying
) dari upayamembuat sebuah kerangka kajian (
framework 
) dari dinamika bisnis danmasyarakat.Dalam alinea-alinea berikut akan dikemukakan bagaimana Schwartz danCarroll (2008) mendeskripsikan masing-masing
core
di atas. PenjelasanSchwartz dan Carroll (2008) itu merupakan penjelasan yang lebihmenunjukkan titik temu dibandingkan mencari-cari perbedaan. Karenanya jika pun harus dinyatakan sebagai sebuah perbedaan, maka sebaiknya dibacasebagai sebuah gerak evolusi konsep.
Taufik Rahman,www.csrindonesia.com 
3

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Asep Wahyoedien liked this
Asep Wahyoedien liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->