Sebentar lagi tahun 2007 akanberakhir, apa yang harus dilakukan baiksebagai umat, pribadi, maupun sebagaibangsa?
Sekarang ini yang paling harusdijadikan fokus bersama adalah soalkesejahteraan masyarakat yang semakinlama semakin susah, terutama karenadaya beli yang sangat rendah. Yang keduakarena lapangan kerja semakin sulit. Nah,ini saya kira yang harus jadi perhatianbersama, dan harus dievaluasi mengapaproses demokratisasi kita tidak begitumaju, seolah-olah tidak ada hubungandengan persoalan perbaikan kesejahtera-an masyarakat.Nah, kalau kemudian masalah kese- jahteraan ini tidak tertangani denganbaik, kita takutkan akan terjadi
socialgap
(kesenjangan masyarakat) di mana-mana. Sekarang ini kan kerusuhan sudahsangat memrihatinkan. Bukan saja bebe-rapa pilkada (pemilihan kepala daerah)menghasilkan juga kerusuhan, tapi jugasoal antri pembagian daging korbanbelum lama ini. Artinya, di masyarakatkita memang sudah terjadi disorientasi,tidak jelas ke mana arahnya. Memangsoal kesejahteraan, soal keadilan danpemerataan sekarang ini menjadi masalahyang sangat penting.
Munculnya masyarakat yang disorien-tasi, apakah disebabkan karena merekakehilangan figur?
Iya, yang ironis proses demokratisasikita melalui pemilu maupun pilkada ber- jalan begitu rupa dengan jadwalnya yangtidak jelas, kapan harus dilaksanakan?Ternyata itu tidak membawa satu per-ubahan yang cukup baik. Bahkan ironis-nya, ternyata pemilu dan pilkada itutidak menghasilkan pemimpin yang ke-mudian mempunyai wibawa dan penga-ruh untuk mengatasi masalah-masalahyang objektif yang dihadapi masyarakat.Nah ini sangat ironis, karena di era refor-masi ketika era kebebasan berpolitik tetapi kemudian kita kekurangan dantidak mempunyai etos demokrasi, tidak punya kultur demokrasi sehingga pilka-da-pilkada itu menimbulkan kerusuhan.
Menurut pengamatan Anda, kalau kon-disi dibiarkan, apa yang bakal terjadi?
Kondisi yang makin memburuk. Se-karang secara umum karena kita meng-alami
social gap
, maka apa yang terjadiadalah kita melihat hilangnya solidaritassosial. Jadi, orang gampang berkelahi,orang gampang bertikai karena hal-halyang tidak jelas dan kita sebagai bangsaini malah kehilangan apa yang sebe-narnya masih bisa kita impikan bersama.Misalnya tentang kapan datangnya kese- jahteraan tadi?Malah sekarang seolah-olah tidak jelas, kalau dulu kan masihada GBHN (Garis-garis Besar HaluanNegara), ada Pelita (Pembangunan LimaTahun) dan Repelita (RencanaPembangunan Lima Tahun), tapisekarang ini kan semua tergantungpemimpin, sementara pemimpin yangdihasilkan oleh proses demokrasi kitatidak terlalu kuat, tidak terlalu mempu-nyai visi ke depan yang jelas, tidak bisamemberi harapan dan arahan ke manaseharusnya masa depan ini kita bawa.Selain itu, kita juga lihat bagian darisocial gap itu juga akhirnya banyak orangmengalihkan persoalan-persoalan objektif yang seharusnya masalah lapangan kerjayang susah, masalah kemiskinan yangmakin merata ke mana-mana, kemudian juga masalah konflik intern agama,masalah-masalahnya yang seharusnyatidak seharusnya terjadi, kita seharusnyamempunyai satu kekuatan kultur yangmenjaga itu sejak lama tapi tiba-tibasekarang ini gampang digoyahkan.
Lantas menurut Anda di mana peranpara tokoh agama?
Tokoh agama seharusnya ikutberbicara hal-hal yang objektif tadi, hal-hal yang berkaitan dengan makin susah-nya masyarakat sekarang dengan dayabeli yang rendah, orang makin susahmenyekolahkan anaknya karena sekolahsemakin mahal, orang sakit juga jarangdiobati, dan seolah-olah pemerintah initidak berdaya atau memang melakukanpembiaran?Bagaimana seharusnyanegara bisa melindungi warganya, karenaperan dari negara paling kurang adalahmelindungi. Apakah dia sebagai migrandan sebagainya. Jadi hal-hal seperti itukita kelihatan lemah sekali.
Anda melihat tahun depan 2008 inisangat berat?
Ya, sangat berat kalau tidak munculseorang tokoh besar, tokoh yang kuatyang berani melakukan risiko dan pemi-hakan terhadap problem bangsa danrakyat ini. Jadi harus ada tokoh yangsangat tegas, yang bisa diikuti bersamabahwa kita masih punya keyakinanbangsa ini masih ada di masa depan danmempunyai martabatnya.Sebenarnya terpulang ke masalah tadi,yakni pemimpin yang kuat. Masalah pem-berantasan korupsi, misalnya, itu kanbukan sekadar masalah hukum, tapi jugamasalah kultur. Jadi kalau misalnya apayang menjadi pilar kultur kita sepertiagama Islam misalnya, kemudian tidak ikut mendorong terhadap pemberantasankorupsi, maka akan menjadi susah men-ciptakan sebuah kultur yang anti korupsi.Harus ada kemauan bersama untuk berubah menjadi lebih baik.
DIALOG JUMAT
TABLOID REPUBLIKATABLOID REPUBLIKA
DIALOG JUMAT
54
JUMAT, 28 DESEMBER2007
L
APORAN
U
TAMA
JUMAT, 28 DESEMBER2007
PEKERJAANRUMAHITU...
DR MOESLIM ABDURRAHMAN
’MASYARAKATSUDAHDISORIENTASI’
W
AWANCARA
S
atu hal yang membuat miris cendekiawan Muslim
Dr MoeslimAbdurrahman
adalah soal berbagai aksi kerusuhan dan kekerasan danfrekuensinya semakin meningkat. Sebut satu contoh, adalah keti-dakpuasan masyarakat pada proses pemilihan kepala daerah yang kerapberujung rusuh. Atau contoh sederhana, ia menyebut, adalah pembagiandaging kurban yang juga berujung kisruh.”Bila tidak ditangani dengan baik, maka akan menjadi ‘tabungan’ persoalan di ke-mudian hari,” ujar direktur Ma’arif Institute for Culture, dan direktur LembagaPengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (LPIS) ini.Menurut dia, aneka kejadian itu merupakan suatu pertanda. ”Di dalam ma-syarakat kita memang sudah terjadi disorientasi,’’ tambahnya.Berikut ini kutipan wawancara refleksi akhir tahun wartawan
Republika
DamanhuriZuhri
dengan doktor antropologi dari Universityof Illinois, Urbana, Amerika Serikat ini:
T
ahun 2007 akan segera berakhir, namun berbagaipersoalan umat masih banyak yang belum tersele-saikan dengan baik. Sebut misalnya munculnyabeberapa aliran sesat yang seolah muncul tiba-tibadan ”mencuri” energi kita: sebagian menyikapi de-ngan proporsional, sebagian lagi menyikapinya dengan amuk –– sikap yang jauh dari nilai-nilai keislaman.Karena itulah, berbagai kalangan mengusulkan perlunyapemetaan dakwah yang lebih baik di masa-masa yang akandatang. Persoalan lain adalah perlunya sosialiasi zakat yangharus terus dilakukan sehingga hasil yang diraih bisa lebihbesar dan optimal untuk peningkatan kesejahteraanmasyarakat. Berikut ini pandangan empat cendekiawan Muslimkita tentang persoalan-persoalan yang mencuat di tahun 2007dan solusinya agar menjadi lebih baik di tahun 2008.
DARMAWAN/REPUBLIKA
Drs KH Amidhan
, Ketua MUI Pusat
Dakwah HarusLebih Tepat Sasaran
M
ateri dakwah terlalu kering kare-na hanya mengedepankanmateri fikihiyah; soal halal dan haramserta boleh dan tidak boleh. Sangatkurang pendalaman materi akidah danmateri yang bersifat
tasaufiyah
.Sementara itu, lingkungan strategismasyarakat kita masih dipengaruhioleh kepercayaan lokal.Ingat lebih 300 macam alirankepercayaan yang menyelinap kebawah sadar tapi sewaktu-waktu bisamuncul di permukaan. Materi dakwahsering tidak menjawab pertanyaanrohaniah dari kalangan masyarakatkita termasuk kalangan intelektual.Oleh karena itu tidak heran bila tidakhanya masyarakat bawah, kalanganmasyarakat terpelajar pun dapat ter-perosok ke aliran sesat. Di sisi lainmasyarakat miskin tidak membu-tuhkan ceramah agama saja, tapi dak-wah sosial ekonomi.Yang ideal, diadakan dulu KongresDakwah se-Indonesia dan diram-pungkan peta dakwah untukmelakukan perkiraan yang akurat.Untuk gerak cepat setiap da’i terjun kelapangan hendaknya mempelajari dulukondisi masyarakat setempat untukmengetahui apa yang dibutuhkanmereka. Mungkin perbaikan ekonomiyang dibutuhkannya atau mungkin jugaakidah yang dikedepankan. Hati mere-ka yang perlu direbut.
P
otensi zakat sesungguhnya di Indonesia cukupbesar. Dalam sebuah penelitian yangpernahdisiarkan kepada masyarakat, disebutkan takkurangdari Rp 20 triliun potensi zakat yangada didalam masyarakat Muslim Indonesia. Sayangnya,potensi tersebut, belum mampu digali.Solusinya, zakat perlu dikelolah oleh sebuahlembaga, bukan diberikan pada orangperorang.Badan Amil Zakat ataupun Lembaga Amil Zakat ituharus amanah, profesional, transparan, dan diper-caya oleh masyarakat maupun pemerintah.Sebagaimana disebutkan dalam QSAt-Taubah (9)ayat 60 dan 103, zakat bukanlah urusan pribadisemata, bukan urusan
muzakki
(yangmengelu-arkan zakat) dengan
mustahik
(yangmenerimazakat). Bila zakat selalu diberikan langsungoleh
muzakki
kepada
mustahik
, saya yakin tidak akanmenyelesaikan masalah. Paling-palinghanyasebatas sementara yangsifatnya konsumtif.Karenanya ada empat hal besar yang harusdilakukan, yaitu sosialisasi yang harus terusdilakukan, penguatan kelembagaan termasukpenyiapan sumber daya manusia (SDM) zakat,sinergi antar sesama badan atau amil zakat ter-masuk komponen umat lainnya, serta pendaya-gunaan zakat yang mengarah pada peningkatankesejahteraan masyarakat.
Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc
, Ketua Umum Baznas
Potensi Zakat Belum Tergarap
D
i bidang sosial keagamaan adanyakesadaran keagamaan yang makin tinggidi kalangan masyarakat. Hanya saja, darisemakin tingginya kesadaran keagamaan itudisertai pula munculnya fanatisme berlebihanyang kadang fanatisme tersebut diwujudkandalam bentuk kekerasan dengan dalih agamaseperti yang terjadi di beberapa daerah.Harus diakui, permasalahan yangmuncul dimasa-masa lalu, belakangan ini muncul kembaliseperti tudingn bid’ah, khurafat dan lainnya yang jika dibiarkan bisa berdampak sangat buruk.Solusinya, perlunya kesadaran kerukunanbaik internal maupun eksternal. Di situlah pen-tingnya
tasamuh
(toleransi) baik internalmaupun eksternal. Adanya perbedaan-perbe-daan
furu’iyah
(cabang) dan bukan perbedaanyang fondasi, harus bisa disikapi dengan arif.Saya setuju keluarnya fatwa MUI tentangali-ran sesat, karena memangharus ada ketegasandari MUI tentangmasalah tersebut. Hanya saja,menurut saya, perlu ada ketegasan pula dariMUI bahwa melakukan pengrusakan atas dalihapa pun tidak bisa dibenarkan dan itu diharam-kan. Jadi, harus ada ketegasan MUI yangmelarangadanya pengrusakan terhadap aliransesat, karena itu terhadap pelaku pengrusakan,harus dilakukan proses hukum.
dam
Ismail Yusanto
,Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia
Ada MasalahdalamAkidah Umat
M
asalah keagamaan yang sangatmenonjol tahun 2007 adalahmasalah aliran sesat terutama aliranAlqiyadah al Islamiyah. Munculnya ali-ran ini menunjukkan adanya per-masalahan di dalam tubuh umat dan juga merupakan cermin dari kualitasakidahnya. Buktinya, ajaran aliran itutidak masuk akal tapi tetap dipercayadan diterima, seperti masalah pemba-yaran uang sebesar Rp 800 ribu yangdiyakini bisa masuk surga.Solusinya, tentu perlunya pembi-naan umat yang lebih tinggi lagi olehormas dan sikap tegas dari pemerin-tah untuk tidak membiarkan berkem-bangan aliran-aliran yang jelas-jelasyang bertentangan dengan Islam.
Masykuri Abdillah
Guru Besar Hukum Islam UIN SyarifHidayatullah Jakarta
Umat Harus LebihDewasa
Demonstrasi menentang aliran Al Qiyadah Al Islamiyah di Jakarta bulan Oktober lalu.Banyak pekerjaan rumah yang harus dibereskan di tahun 2008.
EDIYUSUF/REPUBLIKA