Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sejarah Sistematika KUHP Dan Pembaharuan Hukum Pidana

Sejarah Sistematika KUHP Dan Pembaharuan Hukum Pidana

Ratings: (0)|Views: 439 |Likes:
Published by Azim Izzul Islami

More info:

Published by: Azim Izzul Islami on Jun 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/09/2013

pdf

text

original

 
 
1
Hand out Mata Kuliah Hukum Pidana 
 
Dosen Pengampu: Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum.
SEJARAH PEMBENTUKAN KUHP, SISTEMATIKA KUHP,DAN USAHA PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA INDONESIA
Sejarah Pembentukan KUHP
Induk peraturan hukum pidana positif Indonesia adalah Kitab Undang-undangHukum Pidana (KUHP). KUHP ini mempunyai nama asli
Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch Indie (WvSNI)
yang diberlakukan di Indonesia pertama kalidengan
Koninklijk Besluit 
(Titah Raja) Nomor 33 15 Oktober 1915 dan mulaidiberlakukan sejak tanggal 1 Januari 1918. WvSNI merupakan turunan dari WvSnegeri Belanda yang dibuat pada tahun 1881 dan diberlakukan di negara Belandapada tahun 1886. Walaupun WvSNI notabene turunan (copy) dari WvS Belanda,namun pemerintah kolonial pada saat itu menerapkan asas konkordansi(penyesuaian) bagi pemberlakuan WvS di negara jajahannya. Beberapa pasaldihapuskan dan disesuaikan dengan kondisi dan misi kolonialisme Belanda ataswilayah Indonesia.Jika diruntut lebih ke belakang, pertama kali negara Belanda membuatperundang-undangan hukum pidana sejak tahun 1795 dan disahkan pada tahun1809. Kodifikasi hukum pidana nasional pertama ini disebut dengan
Crimineel Wetboek voor Het Koninkrijk Holland.
Namun baru dua tahun berlaku, pada tahun1811 Perancis menjajah Belanda dan memberlakukan
Code Penal 
(kodifikasihukum pidana) yang dibuat tahun 1810 saat Napoleon Bonaparte menjadipenguasa Perancis. Pada tahun 1813, Perancis meninggalkan negara Belanda.Namun demikian negara Belanda masih mempertahankan
Code Penal 
itu sampaitahun 1886. Pada tahun 1886 mulai diberlakukan
Wetboek van Strafrecht 
sebagaipengganti
Code Penal 
Napoleon.Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1945, untukmengisi kekosongan hukum pidana yang diberlakukan di Indonesia maka dengandasar Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945, WvSNI tetap diberlakukan.Pemberlakukan WvSNI menjadi hukum pidana Indonesia ini menggunakanUndang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum PidanaIndonesia. Dalam Pasal VI Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 disebutkanbahwa nama
Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indie 
diubah menjadi
Wetboek van Strafrecht 
dan “dapat disebut Kitab Undang-undang Hukum Pidana”.Di samping itu, undang-undang ini juga tidak memberlakukan kembali peraturan-peraturan pidana yang dikeluarkan sejak tanggal 8 Maret 1942, baik yangdikeluarkan oleh pemerintah Jepang maupun oleh panglima tertinggi BalatentaraHindia Belanda.Oleh karena perjuangan bangsa Indonesia belum selesai pada tahun 1946dan munculnya dualisme KUHP setelah tahun tersebut maka pada tahun 1958dikeluarkan Undang-undang Nomor 73 Tahun 1958 yang memberlakukan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 bagi seluruh wilayah Republik Indonesia.
Sistematika KUHP
Sistematika KUHP (WvS) terdiri dari 3 buku dan 569 pasal. Perinciannyaadalah sebagai berikut:a. Buku Kesatu tentang Aturan Umum yang terdiri dari 9 bab 103 pasal (Pasal1-103).
 
 
2
b. Buku Kedua tentang Kejahatan yang terdiri dari 31 bab 385 pasal (Pasal 104s.d. 488).c. Buku Ketiga tentang Pelanggaran yang terdiri dari 9 bab 81 pasal (Pasal 489-569).Aturan Umum yang disebut dalam Buku Pertama Bab I sampai Bab VIIIberlaku bagi Buku Kedua (Kejahatan), Buku Ketiga (Pelanggaran), dan aturanhukum pidana di luar KUHP kecuali aturan di luar KUHP tersebut menentukan lain(lihat Pasal 103 KUHP).
Usaha Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia
Menurut Barda Nawawi Arief, pembaharuan hukum pidana pada hakekatnyamerupakan suatu upaya melakukan peninjauan dan pembentukan kembali(reorientasi dan reformasi) hukum pidana yang sesuai dengan nilai-nilai sentralsosio-politik, sosio-filosofik, dan nilai-nilai sosio-kultural masyarakat Indonesia.Oleh karena itu, penggalian nilai-nilai yang ada dalam bangsa Indonesia dalamusaha pembaharuan hukum pidana Indonesia harus dilakukan agar hukum pidanaIndonesia masa depan sesuai dengan sosio-politik, sosio-filosofik, dan nilai-nilaisosio-kultural masyarakat Indonesia. Pada pelaksanaannya, penggalian nilai inibersumber pada hukum adat, hukum pidana positif (KUHP), hukum agama, hukumpidana negara lain, serta kesepakatan-kesepakatan internasional mengenai materihukum pidana.Adapun alasan-alasan yang mendasari perlunya pembaharuan hukum pidananasional pernah diungkapkan oleh Sudarto, yaitu:a. alasan yang bersifat politikadalah wajar bahwa negara Republik Indonesia yang merdeka memilikiKUHP yang bersifat nasional, yang dihasilkan sendiri. Ini merupakankebanggaan nasional yang
inherent 
dengan kedudukan sebagai negara yangtelah melepaskan diri dari penjajahan. Oleh karena itu, tugas dari pembentukundang-undang adalah menasionalkan semua peraturan perundang-undangan warisan kolonial, dan ini harus didasarkan kepada Pancasilasebagai sumber dari segala sumber hukum.b. alasan yang bersifat sosiologissuatu KUHP pada dasarnya adalah pencerminan dari nilai-nilai kebudayaandari suatu bangsa, karena ia memuat perbuatan-perbuatan yang tidakdikehendaki dan mengikatkan pada perbuatan-perbuatan itu suatu sanksiyang bersifat negatif berupa pidana. Ukuran untuk menentukan perbuatanmana yang dilarang itu tentunya bergantung pada pandangan kolektif yangterdapat dalam masyarakat tentangn apa yang baik, yang benar dansebaliknya.c. alasan yang bersifat praktisteks resmi
WvS 
adalah berbahasa Belanda meskipun menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 dapat disebut secara resmi sebagai KUHP.Dapat diperhatikan bahwa jumlah penegak hukum yang memahami bahasaasing semakin sedikit. Di lain pihak, terdapat berbagai ragam terjemahanKUHP yang beredar. Sehingga dapat dimungkinkan akan terjadi penafsiranyang menyimpang dari teks aslinya yang disebabkan karena terjemahanyang kurang tepat.Selain pendapat Sudarto di atas, Muladi menambahkan alasan perlunyapembaharuan di bidang hukum pidana yaitu alasan adaptif. KUHP nasioanl dimasa mendatang harus dapat menyesuaian diri dengan perkembangan-perkembangan baru, khususnya perkembangan internasional yang sudahdisepakati oleh masyarakat beradab.Sebenarnya pembaharuan hukum pidana tidak identik dengan pembaharuanKUHP. Pembaharuan hukum pidana lebih bersifat komprehensif dari pada sekedar
 
 
3
mengganti KUHP. Barda Nawawi Arief, guru besar hukum pidana UniversitasDiponegoro Semarang yang menyebutkan bahwa pembaharuan hukum pidanameliputi pembaharuan dalam bidang struktur, kultur dan materi hukum. Di sampingitu, tidak ada artinya hukum pidana (KUHP) diganti/diperbaharui, apabila tidakdipersiapkan atau tidak disertai dengan perubahan ilmu hukum pidananya. Dengankata lain
criminal law reform 
atau
legal substance reform 
harus disertai puladengan pembaharuan ilmu pengetahuan tentang hukum pidananya
(legal/criminal science reform).
Bahkan harus disertai pula dengan pembaharuan budaya hukummasyarakat
(legal culture reform)
dan pembaharuan struktur atau perangkathukumnya
(legal structure reform).
Sedangkan menurut Sudarto, pembaharuanhukum pidana yang menyeluruh itu harus meliputi pembaharuan hukum pidanamaterial, hukum pidana formal dan hukum pelaksanaan pidana. Dengan demikianpembaharuan KUHP hanya berarti pembaharuan materi hukum pidana.Jika ditinjau dari segi ilmu hukum pidana, pembaharuan KUHP (materi hukumpidana) dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, pembaharuan dengan caraparsial, yakni dengan cara mengganti bagian demi bagian dari kodifikasi hukumpidana. Dan kedua, pembaharuan dengan cara
universal,
total
 
atau menyeluruh,yaitu pembaharuan dengan mengganti total kodifikasi hukum pidana.Pembaharuan KUHP secara parsial/tambal sulam yang pernah dilakukanIndonesia adalah dengan beberapa peraturan perundang-undangan, yaitu:1. UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana (merubah namaWvSNI menjadi WvS/KUHP, perubahan beberapa pasal dan krimininalisasidelik pemalsuan uang dan kabar bohong).2. UU Nomor 20 Tahun 1946 tentang Hukuman Tutupan (menambah jenispidana pokok berupa pidana tutupan).3. UU Nomor 8 Tahun 1951 tentang Penangguhan Pemberian Surat Izin kepadaDokter dan Dokter Gigi (menambah kejahatan praktek dokter).4. UU Nomor 73 Tahun 1958 tentang Menyatakan Berlakunya UU Nomor 1Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana untuk Seluruh Wilayah RI danMengubah KUH Pidana (menambah kejahatan terhadap bendera RI).5. UU Nomor 1 Tahun 1960 tentang Perubahan KUHP (memperberat ancamanpidana Pasal 359, 360, dan memperingan ancaman pidana Pasal 188).6. UU Nomor 16 Prp Tahun 1960 tentang Beberapa Perubahan dalam KUHP(merubah
vijf en twintig gulden 
dalam beberapa pasal menjadi dua ratus limapuluh rupiah).7. UU Nomor 18 Prp Tahun 1960 tentang Perubahan Jumlah Hukuman Dendadalam KUHP dan dalam Ketentuan-ketentuan Pidana lainnya yangdikeluarkan sebelum tanggal 17 Agustus 1945 (hukuman denda dibacadalam mata uang rupiah dan dilipatkan lima belas kali).8. UU Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atauPenodaan Agama (penambahan Pasal 156a).9. UU Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penerbitan Perjudian (memperberatancaman pidana bagi perjudian (Pasal 303 ayat (1) dan Pasal 542) danmemasukkannya Pasal 542 menjadi jenis kejahatan (Pasal 303 bis)).10 UU Nomor 4 Tahun 1976 tentang Perubahan dan Penambahan BeberapaPasal dalam KUHP Bertalian dengan Perluasan Berlakunya KetentuanPerundang-undangan Pidana, Kejahatan Penerbangan, dan Kejahatanterhadap Sarana/Prasarana Penerbangan (memperluas ketentuanberlakunya hukum pidana menurut tempat (Pasal 3 dan 4), penambahanPasal 95a, 95b, dan 95c serta menambah Bab XXIX A tentang KejahatanPenerbangan).11. UU Nomor 27 Tahun 1999 tentang Kejahatan terhadap Keamanan Negara(menambah kejahatan terhadap keamanan negara Pasal 107 a-f).
 
Sedangkan usaha pembaharuan KUHP secara menyeluruh/total dimulaidengan adanya rekomendasi hasil Seminar Hukum Nasional I, pada tanggal 11-16

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->