Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Delik Perzinahan Dan Berbagai Sistem Hukum Dan Dalam Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia

Delik Perzinahan Dan Berbagai Sistem Hukum Dan Dalam Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia

Ratings: (0)|Views: 406 |Likes:
Published by Azim Izzul Islami

More info:

Published by: Azim Izzul Islami on Jun 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/13/2014

pdf

text

original

 
 
1
 Tinjauan Delik Perzinahan dalam Berbagai Sistem Hukumdan Prospeknya dalam Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia
Oleh: Ahmad Bahiej 
 
 Abstrak
Tiap sistem hukum yang ada di dunia memandang berbeda terhadapdelik perzinahan sebagai bagian dalam delik-delik mengenai kesusilaan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan cara pandang dan nilai-nilai yang melatarbelakanginya. Sistem hukum yang berlaku dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai kesusilaan, perzinahan akan dipandang sebagai sebuah perbuatan yang asusila. Namun hal ini berbeda menurut masyarakat yang lebih bercorak individualis. Mereka menilai perzinahan sebagai bentuk perbuatan  yang biasa dan tergantung kemauan tiap individu. Perzinahan akan dipandang tercela jika terjadi hal itu dilakukan dalam bingkai perkawinan.Usaha pembaharuan hukum pidana Indonesia yang didengung- dengungkan selama ini, diharapkan banyak membuat perubahan-perubahan baru mengenai kelemahan aturan pidana mengenai delik perzinahan sebagaimana diatur dalam Pasal 284 KUHP. Oleh karena itu, semenjak Konsep KUHP dikeluarkan pada tahun 1964, aturan delik perzinahan mengalami perubahan signifikan.
Pendahuluan
Pada tulisan yang lalu, penulis telah memaparkan delik perzinahan secara yuridis formil sebagaimana yang telah diatur dalamPasal 284 KUHP. Pembahasan secara positifistik tersebut ternyatamemperjelas pemahaman, bahwa delik perzinahan sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 284 KUHP memiliki banyak kelemahan secaramoril. Nilai dasar yang dipakai dalam membentuk Pasal 284 KUHPberbeda sama sekali dengan konsepsi masyarakat Indonesia mengenai
zina 
itu sendiri. Jelas sekali, perbedaan pandangan demikian berimbaspada perbedaan pengaturan
zina 
dalam hukum pidana.
*
Adalah dosen Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
 
 
2
Oleh karena itu, dalam kesempatan kali ini penulis kembalimemaparkan kembali mengenai tindak pidana perzinahan, akan tetapidalam sudut yang berbeda dengan tulisan yang lalu. Dalam tulisan ini,penulis berusaha memaparkan perbandingan delik perzinahan yang adadalam hukum positif Indonesia (KUHP) dengan hukum lain mengenaitindak pidana perzinahan. Selain itu, akan dipaparkan pula bagaimanausaha yang telah dilakukan untuk mengeliminir kelemahan pengaturandelik perzinahan menurut KUHP dalam kerangka pembaharuanhukum pidana Indonesia.
Perbandingan Delik Perzinahan dalam Hukum Pidana Positif Indonesia dengan Sistem Hukum Pidana Lain.1. Hukum Pidana Islam
Dengan membandingkan hukum pidana Islam dengan hukumpidana positif Indonesia (KUHP) dapat dikemukakan perbedaan-perbedaan sebagai berikut:
a.
Menurut KUHP, zina hanya dapat terjadi bila ada persetubuhanantara kedua orang pelaku (pria dan wanita) telah kawin, atau salahsatu dari keduanya telah terikat perkawinan dengan orang lain.Bukanlah perzinahan apabila perzinahan itu dilakukan denganpaksaan ( 
vide 
pasal 285 KUHP), persetubuhan dengan perempuandalam keadaan pingsan atau tidak berdaya ( 
vide 
pasal 286 KUHP)dan persetubuhan dengan perempuan yang belum cukup umur limabelas tahun ( 
vide 
pasal 287 KUHP). Sedangkan menurut hukumpidana Islam, tidak mempersoalkan apakah pelaku-pelakunya telahdiikat perkawinan dengan orang lain atau belum. Setiappersetubuhan di luar perkawinan yang sah adalah zina. Adapunpersetubuhan yang dilakukan dengan paksaan atau persetubuhandengan wanita dalam keadaan tidak berdaya atau pingsan hanyamerupakan alasan penghapus pidana bagi wanita yang menjadikorban.
1
Bagi pria yang melakukan perbuatan-perbuatan itu tetapdikategorikan sebagai pelaku zina.
1
Prof. Drs. Masyfuk Zuhdi, Op. cit., hal. 35.
 
 
3
b.
Menurut ketentuan yang diatur di dalam KUHP, perzinahan hanyadapat terjadi jika ada persetubuhan yang dilakukan orang yang telahterikat dengan perkawinan. Sedangkan orang yang belum menikahdalam perbuatan ini adalah termasuk orang yang turut melakukan
(medepleger).
Sedangkan perzinahan dalam tinjauan hukum pidanaIslam adalah lebih luas dari pada pembatasan-pembatasan dalamKUHP tersebut. Hukum pidana Islam tidak mempersoalkandengan siapa persetubuhan itu dilakukan. Apabila persetubuhan inidilakukan oleh orang yang telah menikah maka pelakunya disebutpelaku
muhsân 
, dan apabila persetubuhan ini dilakukan oleh orang yang belum menikah maka pelakunya disebut pelaku
 gâiru 
 
muhsân 
.
c.
 Ancaman pidana yang ditetapkan dalam pasal 284 ayat (1) KUHPadalah pidana penjara sembilan bulan, baik bagi pelaku yang telahmenikah maupun bagi orang yang turut serta melakukan perbuatanzina itu. Sedangkan menurut hukum pidana Islam, ancaman pidanadisesuaikan dengan pelaku perzinahan. Jika pelaku zina itu
muhsân 
 atau telah menikah maka ancaman pidananya adalah rajam
(stoning todeath 
 ). Namun jika perzinahan itu dilakukan oleh orang yang belummenikah
(gâiru muhsân)
maka ancaman pidananya adalah dicambuk atau didera sebanyak delapan puluh kali.
d.
Ketentuan yang mengatur mengenai persaksian tidak diatur secarakhusus dalam delik perzinahan menurut KUHP. Maka sistempembuktian delik perzinahan sama dengan sistem pembuktiandelik-delik yang lain. Artinya, alat bukti yang digunakan dalammembuktian adanya perbuatan zina ini seperti alat-alat bukti yang telah diatur dalam pasal 184 KUHAP, yaitu :
1.
keterangan saksi;
2.
keterangan ahli;
3.
surat;
4.
petunjuk;
5.
keterangan terdakwa.Selanjutnya pasal 185 ayat (3) mengatur bahwa keterangan seorang saksi saja cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalahterhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya apabila disertaidengan suatu alat bukti yang sah lainnya.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->