Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Keadilan Qisas Diyat

Keadilan Qisas Diyat

Ratings: (0)|Views: 266 |Likes:
Published by Azim Izzul Islami

More info:

Published by: Azim Izzul Islami on Jun 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/15/2012

pdf

text

original

 
 
Memahami Keadilan Hukum Tuhan dalam Qisas dan Diyat
Oleh: Ahmad Bahiej
*
 
Abstrak
Qisas-diyat merupakan salah satu aturan dalam syari’at Islam mengenai hukum pidana dan berlaku bagi tindak pidana-tindak pidana yang berkaitan dengan pembunuhan dan penganiayaan. Allah mengatur secara khusus mengenai tindak pidanaini dalam al-Qur'an dengan beberapa hikmah yang terkandung, antara lainterjaminnya kehidupan ekonomi keluarga korban, menghilangkan budaya ketidakadilan yang dalam al-Qur'an dicotohkan dengan pembebasan budak, hubungan muslim dannon-muslim, dan adanya alternatif pemidanaan.
Kata kunci: qisas, diyat, fiqh, hikmah
A. Pendahuluan
Qisas-diyat merupakan salah satu aturan dalam syari’at Islam mengenai hukumpidana dan berlaku bagi tindak pidana-tindak pidana yang berkaitan denganpembunuhan dan penganiayaan. Qisas yang berasal dari bahasa Arab
al-qis
ā
s
bermakna
an yaf’ala bil-f 
ā
’il mi
£ 
la m
ā
fa’ala
1
 
yang berarti melakukan seperti apa yang telahdilakukan pelakunya. Sedangkan diyat yang berasal dari bahasa Arab
ad-diyat 
(singular) atau
diy
ā
(plural) adalah bentuk 
ma
¡ 
dar 
(bentuk jadian) dari
wad 
ā
 
yangberarti
m
ā
yu’
a in al-m
ā
l badala an-nafs al-qat 
ī 
l
(harta yang diberikan sebagai ganti
*
Dosen Jurusan Jinayah Siyasah Fakultas Syari'ah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan KalijagaYogyakarta dan Kandidat Doktor Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
1
Luis Ma’luf,
 Al-Munjid f 
ī 
al-Lugah wa al-I'l
ā
m,
(Beirut: Dar al-Masyriq, 1986), hlm. 631.
 
 
dari jiwa yang terbunuh). Bentuk asli dari
ad-diyat 
adalah
al-wad 
³  
.
Huruf 
ta’
digunakansebagai ganti dari huruf 
wau
yang dibuang sebagaimana dalam kata
‘iddat 
.
2
 Dalam beberapa segi, aturan mengenai qisas-diyat ini mempunyai beberapakeunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh aturan-aturan jarimah lain, seperti dalamhudud maupun ta'zir. Keunikan-keunikan itu antara lain adalah,
 pertama
, posisi qisas-diyat dalam hukum pidana Islam. Dalam literatur-literatur fiqh disebutkan bahwa aturanmengenai qisas-diyat ini tidak termasuk ke dalam pembahasan mengenai hudud, namunberdiri sendiri sebagai cabang dari jinayat (hukum pidana Islam).
Kedua,
aturan-aturan mengenai qisas-diyat dalam al-Qur’an lebih banyak daripada aturan-aturan jarimah yang lain. Paling tidak ada lima ayat al-Qur’an yangmembahas mengenai qisas-diyat ini.
3
 
Ketiga,
sanksi pidana bagi jarimah qisas-diyatlebih komprehensif dan menyediakan berbagai macam alternatif pidana bagi pelakunya.Pidana dengan berbagai alternatif ini tidak dikenal dalam bentuk jarimah-jarimah yanglain, khususnya dalam jarimah hudud.
B. Potret Historis Pidana Qisas-Diyat Pra Islam
Sebelum datangnya Islam, sanksi pidana pembunuhan dikenal dalam beberapabentuk. Bagi kaum Yahudi diberlakukan pidana qisas yang telah ditetapkan dalam kitabsucinya, Taurat. Sedangkan kaum Nasrani hanya diberlakukan diyat. Namun pada masaArab Jahiliyyah, berlaku hukum pembalasan yang berdasar pada kebiasaan-kebiasaanmereka.
4
Sebagai gambaran Bani Nazir yang memposisikan derajatnya lebih tinggidaripada Bani Quraizah beranggapan bahwa jika ada anggota Bani Nazir yang
2
 
 Ibid.,
hlm. 895.
3
 
Ayat al-Qur'an yang dijadikan dalil penetapan sanksi
qisas-diyat 
terdapt dalam surat al-Baqarahayat 178-179, Surat an-Nisa ayat 92 dan 93, serta Surat al-Maidah ayat 43.
4
Wahbah az-Zuhaily,
 At-Tafs
ī 
r al-Mun
ī 
r f 
ī 
al-'Aq
ī 
dah wa asy-Syar 
ī 
'ah wa al-Minh
ā
 j,
(Beirut: Daral-Fikr al-Mu'ashir, 1991), Jilid I-II, hlm. 105.
 
 
membunuh salah seorang anggota Bani Quraizah, maka tidak dibalas dengan pidanamati (qisas), namun cukup dibayar dengan denda seratus
wasaq
kurma.
5
 Syari’at Nabi Musa mengenai qisas tersebut dituangkan dalam Kitab KeluaranPasal 21:“Sesungguhnya barangsiapa memukul manusia dan (mengakibatkan manusia itu)mati, maka ia harus dibunuh. Dan jika orang laki-laki berlaku aniaya terhadaplaki-laki lain sehingga ia membunuhnya secara licik, maka engkau harusmengambil dari
mazbah
-ku agar orang itu dibunuh. Barangsiapa memukul ayahdan ibunya, maka ia harus dihukum mati. Jika terjadi penganiayaan, makabalaslah jiwa dengan jiwa, mata dengan mata, gigi dengan gigi, tangan dengantangan, kaki- dengan kaki, luka dengan luka, relah (dibalas) dengan rela”.
6
 Dalam syari’at Nabi Isa sebagian berpendapat bahwa hukuman mati bagipembunuh tidak ada dasarnya sama sekali. Mereka berargumen dengan kitab kelimayang memuat sabda Nabi Isa:
 
“Janganlah engkau membalas kejahatan dengan kejahatan, akan tetapi jikaseseorang menempeleng pipi kananmu maka berilah juga pipi kirimu. Dan (jika)ada orang yang memusuhimu dan mengambil bajumu, maka berikanlah baju itukepadanya. Dan (jika) ada orang yang menghinamu satu mil, maka pergilahbersamanya sejauh dua mil”.
7
 Pendapat ini didukung oleh asy-Syafi’i dalam kitabnya
al-Um
yang menyatakanbahwa bagi kaum Injil (Nasrani) diwajibkan memaafkan pembunuh dan tidak membunuhnya.
8
Sebagian yang lain berpendapat bahwa syari’at Nabi Isa mengenaladanya pidana mati dengan berdasar pada apa yang telah diucapkan oleh Nabi Isa:
5
Al-Imam al-Jalil al-Hafiz ‘Imaduddin Abu Fida’ Isma’il ibn Katsir,
Tafsir al-Qur’
ā
n al’Adz
ī 
m
Jilid I, (ttp.: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, tth.), hlm. 209. Sebagai gambaran, 1
wasaq
sama dengan60 gantang. Jika 1 gantang sama dengan 3,125 kg maka Bani Nazir kurang lebih membayar 18.750 kg(18,75 ton) kurma kepada Bani Quraizah. Namun sebaliknya, jika anggota Bani Quraizah membunuhsalah seorang anggota Bani Nazir, maka Bani Quraizah diwajibkan membayar denda dua kali lipat, yaitusebanyak 200
wasaq
(± 37,5 ton) kurma. Sebagai standar ukuran perbandingan ini, penulis mengambilkesebandingan ukuran
wasaq
dan
gantang
dalam Adib Bisri,
Kamus Al-Bisri,
(Surabaya: PustakaProgressif, 1999), hlm. 778 dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
Kamus Besar Bahasa Indonesia,
(Jakarta: Balai Pustaka, 1997), hlm. 291.
6
As-Sayyid as-Sabiq,
Fiqh as-Sunnah
(Beirut: Dar al-Fikr, 1977), II: 431.
7
 
 Ibid.
 
8
Haliman,
 Hukum Pidana Syari'at Islam Menurut Ajaran Ahlus Sunnah,
(Jakarta: Bulan Bintang,tth.), hlm. 279.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->