Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Penegakan Hukum Kasus Pencurian Kecil

Penegakan Hukum Kasus Pencurian Kecil

Ratings: (0)|Views: 77 |Likes:
Published by Frandika Primayoga

More info:

Published by: Frandika Primayoga on Jun 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/17/2012

pdf

text

original

 
Penegakan Hukum Kasus Pencurian Kecil
Oleh : Jamal Wiwoho (Dosen S1,S2 dan S3 Fakultas Hukum UNS Solo)Awal tahun ini, publik kembali dikejutkan dengan kasus AAL (15 tahun) pencuriansandal jepit di Palu, Sulteng yang divonis bersalah dan dikembalikan ke orangtuanya di PN Palu.Proses penanganan perkara pidana ini dianggap oleh banyak kalangan tidak bisa memenuhi rasakeadilan masyarakat. Rakyat kecil selalu lemah jika berhadapan dengan hukum. Aksi solidaritaspublik pun menggema di suluruh pelosok negeri.Sebenarnya masih banyak rakyat kecil yang mengalami rasa ketidakadilan macam itu.Misalnya, kasus Aminah, pencuri tiga butir kakao di Banyumas yang divonis penjara 1 bulan 15hari (2009). Kemudian, Supriyadi (40), terlibat kasus pencurian dua batang singkong dan satubatang bambu di Pasuruan divonis 1 bulan 20 hari kurungan (10/2010). Kasus Amirah, pekerjarumah tangga yang dituduh mencuri sarung bekas di Pamekasan, dipenjara 3 bulan 24 hari(7/2011) .Berbagai kasus pencurian yang melibatkan rakyat kecil selalu mendapatkan pembelaanoleh publik. Di sini akan menjadi perdebatan hebat dari substansi tujuan hukum itu sendiri antarakepastian hukum, keadilan dan kemanfaatan. Secara teoritis filosofis, rumusan tersebut sangatideal, namun dalam tataran empiris, ketiganya sangat sulit diwujudkan secara bersamaan.Pembelaan publik selalu memakai pendekatan keadilan substansial, bukan sekedar proseduraldan mengedepankan alasan-alasan sosiologis. Dalam kondisi tertentu akhirnya muncul pendapatumum bahwa hukum hanya tajam jika berhadapan dengan orang lemah yang tidak memilikiakses ekonomi dan politik, namun tidak berdaya jika berhadapan dengan orang yang dekatdengan kekuasaan.Dalam konteks penegakan hukum (law enforcement), perkara pencurian kecil yang melibatkanorang miskin akan selalu dihadapkan pada dilema yang sulit dicarikan jalan keluarnya. Di satusisi, pencurian adalah perbuatan pidana yang menimbulkan korban dan hukum positif denganancaman pelanggaran Pasal 362 yang pelakunya dapat dikenakan pidana. Namun, di sisi lain,rakyat miskin yang melakukan perbuatan itu mungkin karena hanya faktor ketidaktahuan sematabahwa perbuatan tersebut adalah termasuk tindak pidana ataupun karena faktor keterpaksaanuntuk menyambung hidup.
 
Pembelaan publik terhadap kasus pencurian kecil macam itu dapat diidentifikasi menjadi duaisu mendasar. Pertama, mengenai proses penanganan perkara bagi kaum miskin oleh aparatpenegak hukum yang tidak profesional dan diduga melanggar norma penanganan perkara pidana.Kedua, publik mempersoalkan kenapa pencurian kecil oleh kaum miskin harus dimejahijaukan?Dalam konteks dukungan publik, pada isu pertama, aparat harus selalu bertindak profesianalberdasarkan norma hukum yang ada. Namun, dalam konteks yang kedua, penulis kurangsependapat, jika aparat penegak hukum dipersoalkan apabila memproses tindak pidana pencuriankecil yang dilakukan oleh kaum miskin. Di sini perlu dibedakan mengenai kasus pencurian dankasus pelanggaran hukum lainnya yang dilakukan oleh aparat dalam menangani perkara.Tentunya apabila ditemukan pelanggaran hukum, dua-duanya harus sama-sama ditegakkan.Aparat penegak hukum pada kasus pencurian, dalam menjalankan fungsinya sangat terikatdengan ketentuan norma Pasal 362 KUHP dan dipaksa membunyikan dan menegakkanketentuan itu. Jika tidak, aparat penegak hukum bisa kesalahan, dan dikira tidak profesionaldalam menjalankan tugasnya. Di sinilah dilema yang dihadapi oleh aparat penegak hukumterutama polisi sebagai garda terdepan dalam proses penegakan hukum di Indonesia. Rumusanpencurian sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 362 KUHP sangat jelas. Jika polisi beranimenangani perkara pencurian maka harus dapat memenuhi 4 unsur utama yang harus dibuktikansesuai dengan rumusan delik pencurian.Pertama, ada perbuatan mengambil. Kedua, yang diambil harus sesuatu barang. Ketiga, barangitu harus seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain. Dan, keempat, pengambilan itu harusdilakukan dengan maksud untuk memiliki barang itu dengan melawan hukum (melawan hak).Jika aparat penegak hukum menyakini 4 unsur itu terpenuhi maka sah untuk diproses sampai dipengadilan. Apabila sampai akhirnya hakim meyakini unsur itu terbukti dan memvonis bersalah,tentunya publik harus bisa menerima. Jika sekiranya putusan tersebut tidak adil tentunya harusdisalurkan dalam mekanisme hukum yang benar, yaitu melalui banding dan kasasi.Dalam konteks ini publik juga harus dipahamkan, bahwa sistem hukum pidana kita terutamarumusan pencurian sebagaimana diatur dalam Pasal 362 KUHP tidak membedakan pelakupencurian untuk orang miskin atau orang kaya dan besar kecilnya barang atau uang yang dicuritidak bisa menghapuskan perkara pidananya. Dilemanya pencurian sepintas dilihat angka rupiahyang dicuri, keadilan normatif tidak bisa dihitung seperti itu saja. Yang namanya pencurianunsur-unsurnya jelas tidak ada sedikit pun mengenai jumlah atau angka-angka itu, tetapi opini

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->