Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Terapi ABA

Terapi ABA

Ratings: (0)|Views: 84 |Likes:
Published by diannovaafif

More info:

Published by: diannovaafif on Jun 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/15/2013

pdf

text

original

 
Terapi ABA (
 Applied Behavior Analysis
)
Terapi Applied Behavior Analysis atau ABA sering digunakan untuk penanganan anak autistik.Terapi ini sangat representatif bagi penanggulangan anak spesial dengan gejala autisme. Sebab, memiliki prinsip yang terukur, terarah dan sistematis; juga variasi yang diajarkan luas; sehingga dapatmeningkatkan keterampilan komunikasi, sosial dan motorik halus maupun kasar. Terapi ABA adalahmetode tatalaksana perilaku yang berkembang sejak puluhan tahun, ditemukan psikolog Amerika,Universitas California Los Angeles, Amerika Serikat, Ivar O. Lovaas (Handojo, 2003:50).Sekitar tahun1970, ia memulai eksperimen dengan cara mengaplikasikan teori B.F. Skinner, Operant Conditioning. Didalam teori ini disebutkan suatu pola perilaku akan menjadi mantap jika perilaku itu diperoleh si pelaku(penguat positif) karena mengakibatkan hilangnya hal-hal yang tidak diinginkan (penguat negatif).Sementara suatu perilaku tertentu akan hilang bila perilaku itu diulang terus-menerus dan mengalamisesuatu yang tidak menyenangkan (hukuman) atau hilangnya hal-hal yang menyenangkan si pelaku(penghapusan).Lovaas melakukan eksperimen, dengan meminjam teori psikologi B.F. Skinner dengan sejumlahtreatment pada anak autistik. Hasil eksperimen itu dipublikasikan dalam buku Behavioral Treatment and Normal Educational dan Intellectual Functioning in Young Autistic Children sekitar tahun 1987. Modelterapi dengan menggunakan metode Lovaas, disebut juga Applied Behavior Analysis (ABA). Di manasecara aplikatif, terapi ini berpegang pada psikologi yang menuntut perubahan perilaku.
Perubahan perilaku
Dikarenakan anak autistik mengalami gangguan perilaku, maka harus digantikan dengan perilaku- perilaku wajar. Terapi ini adalah aplikasi ilmu pengetahuan mengenai perilaku yang bertujuanmeningkatkan atau menurunkan perilaku tertentu, meningkatkan kualitasnya, menghentikan perilakuyang tidak sesuai, dan mengajarkan perilaku-perilaku baru. Terapi ABA mendasarkan proses pengajaran pada pemberian stimulus (intruksi), respon individu (perilaku) dan konsekuensi (akibat perilaku) menjadisasaran proses pengajaran dan bimbingan.Secara prinsip, terapi ABA meliputi 3 langkah memecah keterampilan anak autistik menjadi beberapa bagian atau langkah-langkah kecil.Pertama, terstruktur, yakni pengajaran menggunakan teknik yang jelas. Kedua, terarah, yakni adakurikulum jelas untuk membantu mengarahkan terapi. Ketiga, terukur, yakni keberhasilan dan kegagalanmenghasilkan perilaku yang diharapkan, diukur dengan berbagai cara, tergantung kebutuhan.Pada tataran praktis, menurut Ing Darta R Wijaya, dalam makalah Kesimpulan Mengenai ABA(2005:57), terapi Applied Behavior Analysis (ABA) menggunakan teknik “discrete trials”, yaitu seluruh
 
tugas (target-target perilaku) dipecah dalam tahap kecil. Belajar “diskret” berarti memerinci keterampilanke dalam komponen kecil, mengajarnya sampai terkuasai, memberi pengulangan, menyediakan prompt(bantuan), menghilangkan ketergantungan dan pemberian pujian (reinforcerment).
Penanganan khusus
Materi pengajaran pada anak autistik harus sesuai dengan perkembangan. Misalnya, keterampilanyang lebih mudah diajarkan lebih dulu. Sedangkan, keterampilan rumit jangan dulu diajarkan sebelumanak menguasai syaratnya. Beberapa ahli terapi anak autis, mengelompokkan keterampilan dankemampuan anak autistik untuk menyusun kurikulum khusus, diantaranya:Pertama, kemampuan untuk memperhatikan. Ini adalah sikap belajar yang diperlukan untu bersekolah dan bekerja. Apabila seorang anak tidak mampu memperhatikan dalam rentang waktu beberapa menit, ia akan mengalami kesulitan mencerna pelajaran atau mendengarkan instruksi.Kedua, meniru atau imitasi. Pada saat anak diminta meniru, tidak muncul perkataan apapun dariseorang terapis kecuali hanya kata “tiru”, “lakukan” atau “coba”. Pada posisi ini, anak autistik dituntutmelakukannya seperti yang dicontohkan. Materi imitasi dibagi ke dalam beberapa tahap, yaitu: imitasimotorik kasar, imitasi motorik halus, imitasi aksi dengan benda, imitasi suara (sehingga anak belajar  berbicara karena diarahkan meniru kata-kata orang lain), imitasi pola balok (untuk mempersiapkan anak  belajar menulis), sampai imitasi perilaku bermain.Ketiga, memasangkan. Anak autistik dituntut mengenali sesuatu yang dikelompokkan atas ciri-ciritertentu. Kemampuan ini meliputi kemampuan men-sortir dan mengerjakan worksheet. Misalnya, piring pasangannya gelas, pena merupakan alat tulis, stasiun, hotel, kolam renang adalah tempat. Instruksi yangdiberikan, “pasangkan”, “cari yang sama”, “mana yang sama” atau kata-kata lain yang bermakna sama,sehingga anak mencari pasangan yang diperlihatkan.Keempat, identifikasi. Anak autistik diminta menetapkan pilihan dengan memegang, mengambil,atau menunjuk satu dari beberapa hal. Teknik ini memungkinkan kita memeriksa apakah anak paham berbagai konsep (reseptive languange) tanpa bergantung pada kemampuan bicara mereka. Identifikasitidak terlalu berbeda dengan labeling, tapi identifikasi anak autistik tidak dituntut secara ekspresif. Pada proses identifikasi, perintah yang diberikan, “pegang”, “tunjuk”, “ambil”, “kasihkan” dan anak dimintamemilih satu dari beberapa stimulus.Kelima, labeling atau ekspresi (bahasa pengungkapan). Kemampuan ini memang cukup sulitkarena mengandalkan kemampuan pengungkapan bahasa (expressive languange). Biasanya anak dimintamenjawab pertanyaan-pertanyaan, seperti “apa ini?”, “siapa ini?”, dan “dimana…?”.
 
Terapi Applied Behavior Analysis (ABA) anak autistik, mesti mendasarkan proses pengajaran pada pemberian stimulus (intruksi), respon individu (perilaku) dan konsekuensi (akibat perilaku). Ketikamelaksanakan teknik ini, seorang terapis atau helper mesti konsisten memberikan stimulus, respon dankonsekuensi yang diberikan. Selain itu, dibutuhkan juga kemampuan (skill), pengetahuan memadaitentang autisme dan teknik ABA (knowledge). Terakhir, bersikap baik, optimis dan memiliki minat perasaan (sense) terhadap anak spesial autistik sangat menentukan proses terapi yang berkelanjutan----Terapi ABA (APPLIED BEHAVIOR ANALYSIS)Dikembangkan oleh seorang psikolog Amerika Ivar Lovaas. Terapi ABA merupakan terapi yangdidasarkan pada pendekatan behavioristik, melibatkan peran aktif orang tua dirumah. Terapi ini dapatdiberikan sejak anak usia dini, 30-40 jam/ minggu, one-on-one. Tujuannya untuk membentuk tinglah lakuyang dapat diterima dan menghilangkan tingkah laku bermasalah seperti agresi. A –antecedent : hal yangmendahului tingkah laku. B- tingkah laku. C – akibat setelah bertingkah laku. Terapi ABA menggunakanteknik modifikasi tingkahlaku yang jelas(DTT, shaping, reward). Ada kurikulum yang jelas dengan cara pelaksanaan yang detil. Serta ada patokan tentang keberhasilan /kegagalan anak.Kurikulum ABA :Kemampuan memperhatikan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->