Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Teori Kemiskinan

Teori Kemiskinan

Ratings: (0)|Views: 442|Likes:
Published by Annisa Wibowo

More info:

Published by: Annisa Wibowo on Jun 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/07/2014

pdf

text

original

 
Nama : ANNISA AYU S.NIM : 0810210003Kelas : AC
 
The Place of “Place” in
Theories of Poverty: Mobility,Social Capital and Well-being
Jurnal ini mengkaji tentang teori kemiskinan yang berkaitan dengan mobilitas,budaya, modal sosial, pembangunan lingkungan/infrastruktur, kesejahteraan dan bagaimanasuatu tempat/daerah berpengaruh besar terhadap fenomena kemiskinan yang terjadi terus-menerus. Teori kemiskinan selalu dihubungkan dengan berbagai aspek tersebut sejak PerangDunia II. Penulis menyoroti fenomena di AS, Inggris, dan di negara-negara Eropa.Kebanyakan pemerintah negara-negara tersebut mendasarkan teori kemiskinan pada aspek-aspek ekonomi politik. Sementara Penulis berpendapat bahwa kemiskinan lebih dipengaruhioleh modal sosial dan kesejahteraan.Pembangunan lingkungan/infrastruktur menjadi fokus utama setelah Perang Dunia II.Sebab daerah-daerah kumuh dimana masyarakat miskin tinggal, dapat menjadi sarangkriminalitas, seperti konflik antar geng dan kerusuhan lainnya. Selain karena dampak perang,daerah kumuh ini timbul juga karena adanya mobilitas penduduk dari daerah lain. Sebuahinstitut di Chicago membuktikan bahwa kemiskinan di daerah kota disebabkan oleh adanyapemukiman kumuh yang disebabkan oleh mobilitas penduduk. Hal ini mengingatkan pada
 buku karya Richard Sennett yang berjudul
 Respect 
”, dimana ia menjelaskan secara rinci
masa kecilnya hal yang serupa di Chicago. Hal seperti ini banyak terjadi di Inggris danEropa. Maka dari itu, pemerintah mengambil kebijakan untuk membangun berbagaiinfrastruktur, salah satunya adalah perumahan baru yang menyediakan fasilitas yang lebihbaik. Diharapkan dengan adanya program tersebut, masyarakat miskin dapat merasakanlingkungan sehat dan kualitas hidup yang lebih baik. Di Inggris, antara tahun 1924 dan 1936,dua pertiga dari rumah baru dibangun oleh otoritas lokal. Serupa dengan di AS,dikembangkan juga proyek perumahan sosial, seperti yang dikemukakan oleh Sennett.Dalam karya Pigou, terdapat kombinasi analisis mikro dari segi produk marjinal danbiaya, serta analisis makro, dimana pemerintah menggunakan berbagai instrumen regulasi,redistribusi dan intervensi (termasuk langkah-langkah untuk menetapkan upah minimum)
 
untuk menengahi masalah kemiskinan dan PDB. Pendapat serupa juga dikemukan olehMarshall, bahwa pada dasarnya kebijakan pemerintah untuk mengatasi kemiskinan pascaPerang Dunia II sama dengan kebijakan sebelum terjadinya perang, yaitu mengenai subsidi,pinjaman berbunga rendah, dan tunjangan sewa. Hal yang membedakan adalah kebijakanpemerintah Inggris mengenai perumahan baru telah tercampuri dengan kepentingan partaipolitik, undang-undang dan administrasi perumahan yang rumit, tidak seperti kebijakanperumahan di negara-negara Eropa yang relatif lebih sederhana.Pemerintah seharusnya tidak hanya mengambil kebijakan untuk membenahilingkungan dan membangun infrastruktur perumahan, karena terdapat aspek lain yang perludiperhatikan, yaitu budaya kemiskinan. Budaya kemiskinan menyebabkan masyarakat miskindi daerah kumuh merasa telah terpinggirkan dan tidak berdaya untuk keluar dari lingkarankemiskinan. Jika hal ini dibiarkan maka mereka akan mengalami frustasi sosial yang bisaberubah menjadi agresi dan kemarahan yang meluap, sehingga banyak menimbulkankriminalitas. Tentunya hal tersebut berpengaruh pada kualitas diri mereka sebagai sumberdaya manusia/tenaga kerja. Seperti yang dijelaskan oleh Keith Joseph, hal ini berkaitandengan pendekatan sisi penawaran untuk masalah pengangguran, maka diperlukan kebijakanperbaikan karakter dan pengembangan sumber daya manusia agar tercipta tenaga kerja yangberkualitas.Saat ini AS dan Inggris sepertinya tidak lagi fokus terhadap kebijakan pembangunanperumahan, infrastruktur dan lingkungan, namun beralih pada kajian tentang pengukurankemiskinan dan program mengenai pendapatan, seperti yang dilakukan oleh Harrington(1962) di AS dan Townsend dan Abel-Smith (1965) di Inggris. Begitu juga di Eropa, studitentang kemiskinan bergeser ke arah pendapatan, pajak dan manfaat, serta jauh dari faktorsosial dan lingkungan. Kemiskinan yang terjadi pada saat itu juga disebabkan oleh kebijakandan sistem ekonomi yang diterapkan oleh pemerintah tidak mampu menyediakan ataumendorong terciptanya lapangan kerja yang layak dan memadai, jadi gejala kemiskinannyabersifat struktural. Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang diderita oleh suatugolongan masyarakat yang karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat ikutmenggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka.Pemerintahan seperti itu menganut prinsip ekonomi liberal yang menghapus konsep barangpublik dan terjadi privatisasi.Gagasan privatisasi lahir bersamaan dengan ide neoliberalisme yang diusung pada eratahun 80-an. Pemikiran ini dicetuskan oleh Milton Freedman, penasehat ekonomi PresidenAS saat itu, Ronald Reagan, dan Frederick High, penasehat ekonomi PM Inggris waktu itu,
 
Margaret Thatcher. Cikal bakalnya berawal pada tahun 1975, di Amerika Serikat, Robert
 Nozick mengeluarkan tulisan berjudul
 Anarchy, State, and Utopia
“, yang menyatakan
kembali posisi kaum ultra minimalis, ultra libertarian sebagai retorika dari lembagapengkajian universitas, yang kemudian disebut dengan istilah
“Reaganomics”. Reaganomics
atau Reaganisme menyebarkan retorika kebebasan yang dikaitkan dengan pemikiran Locke.
Sedangkan di Inggris, Keith Joseph menjadi arsitek “Thatcherisme”. Thatcherisme
mengaitkannya dengan pemikiran liberal klasik Mill dan Smith. Walaupun sedikit berbeda,tetapi kesimpulan akhirnya sama menghilangkan peran negara.Gagasan ini kemudian tersebar luas ke berbagai negara, khususnya Amerika Serikatdan Eropa Barat. Sebagaimana penelitian World Bank pada tahun 1992, tercatat semenjak tahun 1980 sudah lebih dari 80 negara yang telah melaksanakan privatisasi dan melibatkan 6.800 badan usaha milik negara yang terjadi di seluruh dunia. Usaha-usaha yang sebelumnyadikelola oleh negara banyak dijual dan dikelola oleh perusahaan-perusahaan swasta danmemakai kerangka perjanjian-perjanjian tertentu. Hal tersebut tentunya sangat merugikanmasyarakat, karena pelaksanaan sistem ekonomi liberal berarti membebaskan perusahaan-perusahaan swasta dari setiap keterikatan yang dipaksakan pemerintah, sehingga perusahaanbisa sewenang-wenang mengurangi upah buruh melalui pelemahan serikat buruh danpenghapusan hak-hak buruh. Tidak ada lagi kontrol harga dari pemerintah dan timbulpengurangan anggaran untuk infrastruktur publik, seperti jalan, jembatan, air bersih, ini jugaguna mengurangi peran pemerintah. Tingkat kemiskinan pun semakin tinggi karenamasyarakat miskin tidak mendapatkan fasilitas jaminan sosial, kesehatan, dan pendidikanyang terjangkau.Presiden AS dan perdana menteri pada saat itu, Bill Clinton dan Tony Blair adalahpenganut ekonomi Jalan Ketiga atau yang biasa disebut
The Third Way
. Menurut Giddens,
 politik “Jalan Ketiga” mencoba mencari sebuah hubungan yang baru antara individu dengan
masyarakat. Ia merupakan definisi ulang dari hak dan k 
ewajiban. Perhatian utama “JalanKetiga” adalah keadilan sosial. Ia mendorong adanya keterlibatan sosial yang inklusif dan
membangun sebuah masyarakat madani yang aktif di mana kelompok-kelompok masyarakatdan negara saling bekerja sama sebagai mitra. Poli
tik “Jalan Ketiga” diperlukan karena
masalah-masalah yang berkaitan dengan perbedaan antara garis kiri dan garis kanan dalampolitik sudah begitu besar. Saat ini pandangan (mengenai dunia) dari aliran kiri yang lamasudah tidak bisa digunakan lagi. Sementara pandangan kanan yang baru juga tidak memadai
karena mengandung banyak kontradiksi. Adapun “Jalan Ketiga” itu berupaya untuk 
menghidupkan kembali budaya madani, mengusahakan sinergi antara sektor publik dengan

Activity (3)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Amin Sudarsono liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->