Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
0Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Eramuslim- Diponegoro2

Eramuslim- Diponegoro2

Ratings: (0)|Views: 275|Likes:
Published by ian111980

More info:

Published by: ian111980 on Jun 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/18/2012

pdf

text

original

 
Tahun 1647, Amangkurat I memancung kepala 6.000 ulama Jawa beserta keluarganya dialun-alun Kraton Plered, Yogyakarta. Syiar Islam di Tanah Jawa, paska era Wali Songo, punmandeg. VOC, sekutu utama Raja Mataram itu, bergembira.Lebih satu abad kemudian, Diponegoro mengobarkan jihad fi sabilillah untuk mengusirkaum kafir Belanda dan menegakkan panji syahadat di Tanah Jawa, dalam bentuk sebuahnegara merdeka berasaskan Islam. Jihad fi sabilillah ini oleh sejarawan Belanda direduksihanya sebagai perang sakit hati, yang hanya disebabkan perebutan tahta dan persoalantanah makam leluhur.Sejarah selalu berulang. Dan hari ini, episode Amangkurat I, Pangeran Diponegoro, SentotAlibasyah, Kiai Modjo, dan Patih Danuredjo pun kembali terjadi. Dalam bentuk yang lebihcanggih, tapi lakonnya tetaplah sama. Persis sama...Dengan penuh hormat dan kebanggaan, kupersembahkan kepada anak keturunan dankeluarga besar Pangeran Diponegoro, semoga kemuliaan perjuangan Beliaumenginspirasi hidup kita semua...
 
PROLOG
Plered, Jawa Tengah, 1647 
APA YANG SEKARANG DILIHAT DENGAN mata dan kepalanya sendiri sungguh-sungguhmembuat Dyah Jayengsari ingin muntah. Dua jam lalu, kepala juru masak kratonmenyuruhnya membakar panci besi tebal. Bentuknya seperti topi. Dyah Jayengsari tidakberani bertanya untuk apa panci besi itu dibakar. Sebagai orang baru di kraton, dia harustahu diri. Walau diliputi tanda tanya besar, namun gadis dari Krapyak ini tidak beranibertanya macam-macam.Setelah panci itu membara, berubah jadi pijar panas yang mengerikan, dua prajuritMataram menggotongnya dengan sebuah gerobak kayu ke bagian selatan alun-alun yangtidak jauh dari tempat Dyah Jayengsari berdiri. Di sana berkerumun banyak orang. Paraprajurit juga berjaga-jaga Menurut kabar burung, seorang pemberontak pengikut PangeranAlit tertangkap. Dia akan segera dihukum. Gadis itu tidak tahu apa hubungannya denganpanci panas itu.Didorong penasaran, dia berjalan mendekati kerumunan. Dengan susah payah DyahJayengsari menyibak kerumunan orang, hingga akhirnya dia berdiri dekat dengan seoranglelaki paruh baya, bertelanjang dada, yang sedang duduk bersimpuh dengan tangan terikat.Kedua matanya ditutup secarik kain hitam. Satu tombak di depan lelaki itu, terdapat sebuahlubang seukuran badan orang dewasa. Lima prajurit kraton berjaga di sampingnya.Tanda tanya besar masih memenuhi kepala gadis itu.Tiba-tiba seorang prajurit Mataram yang bertindak selaku algojo memerintahkan agar sangpesakitan dipendam di lubang yang ada di depannya. Lima orang prajurit bertubuh besaryang berjaga di sekeliling lelaki itu bergegas mengangkatnya. Dengan kasar merekamengubur tubuh lelaki itu dari leher ke bawah.Anehnya, lelaki itu tidak meronta-ronta. Ketika kain hitam dibuka, kedua matanya tidakmenunjukkan rasa takut sedikit pun. Sorot matanya begitu tenang, menyiratkan kepasrahanyang total pada kehendak Yang Maha Kuasa. Mulutnya terlihat komat-kamit membaca doa-doa dalam bahasa Arab.Dari belakang, dua prajurit yang tadi ikut mengubur lelaki itu menggotong panci yang masihmembara dan kemudian segera menangkupkan panci itu ke kepala sang pesakitan.
“Allahu Akbar!!!”
 Lelaki itu melolong kesakitan. Begitu keras dan memilukan. Tak kuat menahan sengatan
sakit yang luar biasa, lelaki itu langsung pingsan. ‘Topi besi panas’
itu melumerkan batokkepalanya. Suara gemerisik terdengar, seiring desis daging terbakar. Semua yang menonton
 
menjerit ketakutan. Termasuk Dyah Jayengsari. Badan gadis itu menggigil hebat. Perutnyamual. Pandangan matanya berkunang-kunang. Kesadarannya mulai hilang. Dyah Jayengsariakhirnya jatuh tak sadarkan diri.Gadis itu tiba-tiba tersadar. Dia menengok ke sekeliling ruangan. Tidak ada kerumunanorang. Dia ternyata sendirian di bilik tidurnya. Mimpi itu ternyata terulang kembali. Mimpinyata yang pernah dilihatnya beberapa pekan lalu.Dari atap rumbia yang bolong di sana-sini hingga menyisakan ruang bagi sorot matahariyang menerobos ke dalam, Dyah Jayengsari tahu bahwa hari masih siang. Arah sinarnya ketimur menandakan Sang Surya telah mulai tergelincir ke barat.Entah mengapa, perasaan gadis itu tidak enak. Keringatnya mengucur deras membasahibajunya. Jantungnya berdegup keras menggedor-gedor relung dadanya. Baru saja diahendak berdiri, sebuah teriakan keras mengagetkan dirinya.
“Keluar! Atas nama Paduka Yang Mulia, semua yang ada di dalam rumah ini keluar!”
 Dyah Jayengsari menggigil ketakutan. Gadis itu tahu, teriakan itu berasal dari prajuritkraton.Gerangan apa yang membuat mereka ke sini?
“Cepat keluar! Atau kami dobrak!”
 Sambil berjalan, Dyah Jayengsari merenggut kerudung yang tersampir di bilik bambu dindingkamar dan menutupi kepala sekadarnya. Gadis itu bergegas keluar. Rumah sepi. Hanya adadirinya. Benar saja, di depan pintu telah berdiri tiga orang prajurit kraton lengkap denganpedang dan tombak. Yang membuatnya kaget, ayahnya dan Wulung Ludhira
adik satu-satunya yang masih berusia sepuluh tahun
sudah berada di antara pasukan itu denganpengawalan ketat.
“Siapa lagi yang ada di dalam!” hardik salah seorang prajurit. Tangan kananny
amenggenggam tombak dengan ujung besi mirip trisula.
“Tidak ada lagi, Tuan. Saya sendirian...,” jawab Dyah pelan. Ketakutan segera menyergap
dirinya. Tapi prajurit-prajurit kraton itu tidak percaya. Mereka mendobrak gubuk itu lalumenerabas ke dalam. Sesaat kemudian mereka keluar tanpa membawa siapa pun. Nihil.
“Dia benar. Tak ada lagi orang...”
 Seorang prajurit yang sepertinya bertindak sebagai kepala regu memerintahkan semuanyapergi ke alun-alun. Dyah Jayengsari, ayah, serta adiknya hanya bisa mengikuti pasukanpenjemputnya dengan menaiki seekor kuda yang telah diikat tali. Untunglah gubuk merekatidak begitu jauh dengan alun-alun, sehingga dalam waktu singkat mereka sudah tiba di

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->