Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
7Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Revisi Ke-3 Proposal Skripsi Rizal

Revisi Ke-3 Proposal Skripsi Rizal

Ratings: (0)|Views: 896|Likes:
Published by RiZal's Akhmad

More info:

Published by: RiZal's Akhmad on Jun 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/21/2012

pdf

text

original

 
1
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONALUNIVERSITAS NEGERI SEMARANGFAKULTAS ILMU SOSIALPROPOSAL SKRIPSI (REVISI)Disusun untuk memenuhi tugas Seminar Proposal Skripsi
Dosen Pengampu : Drs. Slamet Sumarto, M.Pd.Diajukan Oleh:Nama : Rizal Akhmad PrasetyoNIM : 3301409100Jurusan : Hukum dan KewarganegaraanProdi : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
I.
 
JUDUL
POLA ASUH ORANGTUA DALAM MENANAMKAN NILAI MORALPADA ANAK RETARDASI MENTAL (STUDI KASUS DI KEC. KOTAKABUPATEN KUDUS)
II.
 
LATAR BELAKANG
Tidak semua individu dilahirkan dalam kondisi yang “normal”.
Beberapa di antaranya memiliki keterbatasan baik secara fisik maupun psikis,yang telah dialami sejak awal masa perkembangan. Keterbelakangan mentaladalah salah satu bentuk gangguan yang dapat ditemui di berbagai tempat,dengan karakteristik penderitanya yang memiliki tingkat kecerdasan di bawahrata-rata (IQ di bawah 75), dan mengalami kesulitan dalam beradaptasimaupun melakukan berbagai aktivitas sosial di lingkungan. Individu denganketerbelakangan mental memiliki fungsi intelektual umum yang secarasignifikan berada di bawah rata-rata, dan lebih lanjut kondisi tersebut akanberkaitan serta memberikan pengaruh terhadap terjadinya gangguan perilakuselama periode perkembangan (Hallahan & Kauffman, 1988). Prevalensipenderita keterbelakangan mental di Indonesia saat ini diperkirakan telah
 
2
mencapai satu sampai dengan tiga persen dari jumlah penduduk seluruhnya,dan jumlah tersebut dimungkinkan akan terus bertambah dari tahun ke tahun.
 
Terlepas dari bagaimanapun kondisi yang dialami, pada dasarnyasetiap manusia memiliki hak yang sama untuk memperoleh kebahagiaandalam hidupnya. Setiap orang berhak untuk tumbuh dan berkembang dalamlingkungan yang kondusif dan suportif, termasuk bagi mereka yangmengalami keterbelakangan mental. Akan tetapi realita yang terjadi tidaklahselalu demikian. Di banyak tempat, baik secara langsung maupun tidak,
individu berkebutuhan khusus ini cenderung „disisihkan‟ dari lingkungannya.
Penolakan terhadap mereka tidak hanya dilakukan oleh individu lain disekitar tempat tinggalnya, namun beberapa bahkan tidak diterima dalamkeluarganya sendiri. Beragam perlakuan pun dirasakan oleh mereka. Mulaidari penghindaran secara halus, penolakan secara langsung, sampai dengansikap-sikap dan perlakuan yang cenderung kurang manusiawi. Padahal apayang sebenarnya terjadi dalam diri mereka hanyalah hambatan padaperkembangan intelektualnya.Anak dan remaja yang mengalami keterbelakangan mental tetapmemiliki kemampuan lain yang masih dapat dikembangkan dan dioptimalkanuntuk membantunya beraktivitas seperti orang normal, dan memberikan perantertentu di masyarakat meskipun terbatas. Anak yang memilikiketerbelakangan mental atau
down syndrome
seharusnya diperlakukan samadengan anak normal lainnya. Jika diberi kesempatan, mereka bisa percaya diridan berprestasi. Individu yang mengalami keterbelakangan mental masihdapat mempelajari berbagai ketrampilan hidup apabila orang-orang disekitarnya memberikan kesempatan dan dukungan yang dibutuhkan. Hal inisejalan dengan pernyataan Ismed Yusuf dalam Majalah Psikiatri Jiwa(Sembiring, 2002) bahwa masih ada bagian intelektual anak denganketerbelakangan mental yang dapat dikembangkan dengan suatu tindakanatau penanganan khusus. Penanganan khusus yang dimaksud ditujukan untuk mengembangkan kemampuan intelektualnya agar dapat mencapaikemampuan adaptasi yang juga optimal.
 
3
Banyak wilayah di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang jauhdari pusat kota, di mana sebagian besar penduduknya mungkin belummengetahui banyak informasi mengenai Down Syndrome dan retardasimental, para penderita gangguan ini mendapat perlakuan yang tidak selayaknya. Perlakuan yang tidak layak dalam konteks ini adalah mungkindianggap gila oleh masyarakat atau tidak mendapat perawatan yang tepat. Halini lah yang menghambat proses pengoptimalisasian potensi yang dimilikianak-anak dengan gangguan mental dan Down Syndrome.Keluarga dalam hal ini adalah lingkungan terdekat dan utama dalamkehidupan mereka. Heward (2003) menyatakan bahwa efektivitas berbagaiprogram penanganan dan peningkatan kemampuan hidup anak dan remajayang mengalami keterbelakangan mental akan sangat tergantung pada peranserta dan dukungan penuh dari keluarga, sebab pada dasarnya keberhasilanprogram tersebut bukan hanya merupakan tanggung jawab dari lembagapendidikan yang terkait saja. Di samping itu, dukungan dan penerimaan darisetiap anggota keluarga terutama orang tua
akan memberikan „energi‟ dan
kepercayaan dalam diri anak dan remaja yang terbelakang mental untuk lebihberusaha meningkatkan setiap kemampuan yang dimiliki, sehingga hal iniakan membantunya untuk dapat hidup mandiri, lepas dari ketergantunganpada bantuan orang lain. Sebaliknya, penolakan yang diterima dari orang-orang terdekat dalam keluarganya akan membuat mereka semakin rendah diridan menarik diri dari lingkungan, selalu diliputi oleh ketakutan ketikaberhadapan dengan orang lain maupun untuk melakukan sesuatu, dan padaakhirnya mereka benar-benar menjadi orang yang tidak dapat berfungsisecara sosial serta tergantung pada orang lain, termasuk dalam merawat dirisendiri.Jamaris (2005) berpendapat bahwa karakter dan integritasperkembangan anak terbentuk pertama-tama di lingkungan keluarga. Dilingkungan kecil itulah individu mengenal dan belajar tentang berbagai tatanilai melalui pendidikan yang diberikan, tata nilai akan ditumbuhkembangkanagar yang bersangkutan siap memasuki dunia nyata di luar kehidupankeluarga. Wall (1993) berpendapat bahwa anak atau individu yang

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->