Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
3Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
100 Tahun Bung Hatta

100 Tahun Bung Hatta

Ratings: (0)|Views: 1,232|Likes:
Published by kigunungmenyan

More info:

Published by: kigunungmenyan on Jun 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/25/2013

pdf

text

original

 
 
100 tahun bung hatta (doc link : Jack West)
Saudaraku Jachrizal, Saudara yang lain,
Terima
 
kasih
 
untuk 
 
turut
 
men
gangkat
 
sejarah
salah
seorang nasionalis
 
sejati,
 
seorang
 
puritan,
 
seperti
 
yang
 
ditulis
 
Suryana
 
Sudrajat. Saya
 
terharu
 
menyaksikan tidak adanya tanggapan prihal mengenang 100 tahun Bung
 
Hatta.
 
Saya
 
akan
 
coba
 
cari
 
di
 
internet apakah ada tuli
san, peringatan
 
prihal
 
kehidupan
 
beliau
 
almarhum
 
di
 
koran
-
koran
 
Indonesia pada tgl 12
 
Agustus 2002.
Mungkin anda dapat membantu saya?
Bila
 
ada
 
 jiwa
-
 jiwa muda yang memiliki hasrat mengenal dan mengenang tokoh
 
(Bung)
 
Mohamad Hatta,
'Pak Des Alwi
(and I) telah membuat film dokumenter
 
prihal
 
kehidupan
 
beliau dari sejak pra '45 sampai usia lanjutnya, sebelum
 
beliau
 
meninggal. (Maaf 
 
saya tidak memiliki copy
-
nya).
 
Des Alwi adalah
 
"anak 
 
angkat"
 
keluarga
almarhum Sutan Sjahrir, dan sempat juga
"diangkat
 
anak", oleh keluarga almarhum Mohamad Hatta.
 
Bila
 
ada
 
yang
 
ingin
menghubungi Des Alwi: Banda's Culture and Heritage
Foundation
 
Jln.
Narada 36, Tanah Tinggi, Jakarta ph (021) 4240151 atau di
Banda Naira ph. 0910
- 21022.
Des Alwi himself is a remarkable person, who
 
has contributed significantly toward eg Indonesia's diplomatic, historical,
 
development,
 
tourism
 
film
making.
Julukan "Raja" Banda layak ia terima,
 
mengingat
 
akan
 
peran
beliau membangun Banda Naira. Konon kakeknya adalah
tokoh pembawa agama Islam ke daerah Maluku.
 Des Alwi,
paling
 
tidak,
 
akan
senantiasa
dikenang
 
oleh
 
para keluarga
 
pengungsi
dari
Ambon yang telah ia selamatkan dari usaha pembunuhan masal
 
di
Banda,
ketika
 
terjadinya
 
perang
 
saudara
 
di Maluku. Konon, Des Alwi
 menempatkan
dirinya di muka keluarga yang hendak dibunuh dengan keberanian
 
seorang
 
pahlawan: "Dorang trada salah. Dorang lari ke beta pung kakek pung
 
tanah.
 
Seh mau bunuh mereka, bunuh beta juga. Mari jo, sapa brani." Ketika
 Des Alwi menceritakan hal tersebut ia berkata: "Ik beef nog als ik er aan
denk"
 
meaning,
 
"beta
 
masih
 
gemetar inga' kejadian itu," so banyak orang
 
kristen Banda dorang bunuh maar ini (pengungsi dari Ambon JW), mereka hidup
 
sampai sekarang.
 Des Alwi
berhasil membawa damai di kepulauan Banda, dimana umat Islam dan
 
Kristen
 
telah
 
hidup bersaudara, bertetangga, berpela, sedarah
-
setanah
-
seair
-
salaut.
 
Kembali
 
kepada
 
Bung Hatta: marilah kita kenang bersama seorang nasionalis
 
 
sejati,
 
seorang ayah bangsa Indonesia, tokoh pejuang tanpa kekerasan, yang
 
sampai
 
akhir
 
hidupnya
 
mungkin
 
tidak ada tandingannya dalam tauladan dan
 
iman
 
percayanya.
 
Saya harap saya salah, maybe I am biased. Namun berilah,
 
umumkanlah
 
tokoh
-
tokoh
 
lain
 
yang
 
sebanding
 
dengan almar
hum Bung Hatta,
 rekan proklamator kemerdekaan R.I.
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
 
Jack 
 
Jachrizal Sumabrata wrote:
 
Temans,
 FYI, ada tulisan dari Indonesia,
Good luck,
 J
A. Suryana Sudrajat:
 
Tanggal 12 Agustus 2002 Bung Hatta yang telah meninggalkan kita 22
 
tahu
n yang silam, genap berusia satu abad. Salah satu yang menjadi
 
pusat perhatian proklamator itu adalah soal kemiskinan, baik ketika ia
 
masih menjabat wakil presiden, maupun sesudah mempesiunkan diri.
 
"Pada tahun 1970 memang sudah ada milyarder orang Indones
ia,
 
berpuluh
-
puluh milyuner, beratus
-
ratus perniagaan dengan hubungan luar
 negeri, dan tidak sedikit pedagang dalam negeri," kata Hatta ketika
menyampaikan pidato Sesudah 25 Tahun di Kampus Universitas Syiah
 
Kuala, Banda Aceh, 2 September 1970. "Tetapi bagi rakyat jelata yang
 
terbanyak, yang menjadi petani, buruh dan pegawai negeri serta yang
 
telah pensiun, mereka menderita kemunduran dibandingkan dengan keadaan
 mereka di masa Hindia Belanda." Bapak Koperasi ini menunjuk upah
minimum pada masa Hindia Beland
a senilai 5 kg beras/hari, yang pada
 
tahun itu tidak berlaku.
 
Tapi, apakah sesudah 57 tahun kita merdeka, keadaan rakyat jelata
 
sudah lebih baik di tengah para milyarder yang sekarang jumlahnya
 
mungkin sudah beratus
-
ratus? Jika suatu daerah masih ada yang
 
menerapkan upah minimum regional Rp235.000 per bulan atau Rp9400 per
 
hari, bukankah UMR itu lebih rendah ketimbang pada zaman kolonial,
 
 jika harga beras sekarang rata
-
rata Rp2.500 per kg?
 
Tahun lalu, ketika Wakil Presiden Hamzah Haz ketika meresmikan
 
sele
sainya renovasi makam Bung Hatta di Taman Pemakaman Umum (TPU)
 
Tanah Kusir, Jakarta Selatan, ia mengatakan, "Mungkin, krisis yang
 
melanda Indonesia tidak akan seburuk ini jika perekonomian kita
 
berbasis pada ekonomi rakyat, sehingga upaya pemulihan ekonomi
 dibanding negara tetangga kita agak tersendat."Menurutnya pula, upaya pemulihan juga cukup sulit karena sekitar 72%
dari total tenaga kerja Indonesia tingkat pendidikan rata
-
ratanya
 
hanya SD. "Persoalan ini yang menjadi perhatian Bung Hatta.
 
 
Mudah
-
mudaha
n setelah saya menjadi Wakil Presiden, saya dapat
 
melaksanakan apa yang menjadi cita
-
cita Bung Hatta," katanya. "Jadi,
 bukan soal balas jasa atau apa pun namanya, tetapi bagaimana kita bisamengimplementasikan ajaran beliau dalam kehidupan nyata rakyat Ind
onesia."
 
Persoalan ekonomi kita sekarang menjadi tambah runyam menyusul
 
gelombang pemulangan TKI ilegal oleh Malaysia, dan datangnya musim
 
kering yang panjang yang sudah menghancurkan beberapa sentra pertanian
 di Tanah Air.
Hatta sendiri, setelah mengundu
rkan diri dari wakil presiden pada
1956, sering menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan rumah
 
tangganya. Meski pendapatannya -- berasal dari honor tulisan, pensiun
 
pemerintah, dan kekayaan keluarga -- di atas rata
-
rata orang
 Indonesia, masih di bawah
penghasilan elite Indonesia. Maka, tidak 
 
aneh jika pada Februari 1966, Bung Hatta, misalnya, menolak membayar
 
rekening listrik dan gas yang jumlahnya Rp155,50, sedangkan pensiunnya
 hanya Rp149,22.
Dalam suratnya kepada Menteri Koordinator Suprajogi, Hatt
a mengatakan
 
bahwa "kita selalu mencela dasar l'exploitation de l'homme par l'homme
 
yang berlaku di zaman imperialisme klonial. tetapi jangan dasar yang
 
 jelek itu diganti dalam Republik Indonesia kita inidengan sistem yang
 
lebih jelek lagi, yaitu l'exploitation de l'homme par l'etat
 
(eksploitasi manusia untuk negara)."
 Untuk tarif listrik bungalownya di Megamendung yang jumlahnya 3/4 dari
pensiunnya, Hatta dalam suratnya kepada Wakil Perdana Menteri Bidang
 
Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Sultan Hamengku
Buwono IX, sebagai
 
tarif pemerasan yang tidak ada duanya dalam sejarah Indonesia sejak 
 
dari zaman kolonial, dan lebih jahat dari pemerasan fasis. "Saya kira
 negara kita tidak mestinya menjadi uitbuitende staat (negara
pengeksploitasi manusia)." Bagi golong
an kapitalis yang sedikit, yang
 
dapat menimbun kekayaan dalam waktu singkat, kata Hatta, tarif semacam
 
itu mudah dibayar. "Tapi buat pegaai negeri dan pensiunan, tarif itu
 
mencekek leher."
 
Mengapa Hatta tampak begitu cerewet mempersoalkan uang pensiunnya?
 
Hatta bukannya tidak bisa hidup secara lain yang secara materiil akan
 
 jauh sangat menyenangkan. Ia mengakui, hidupnya akan hebat, jika waktu
 
berhenti sebagai wakil presiden ia menerima tawaran perusahaan asing
 
dan nasional. "Tapi saya pandang itu sebagai
penghinaan untuk negara.
 
Adakah Hatta ingin dipandang sebagai negarawan yang bersih, dan untuk 
 
itu berpahit
-
pahit? Ataukah dia menyadari berbagai akibat jika seorang
 
pejabat (bisa melalui anggota keluarga, atau membentuk berbagai
 yayasan) terlibat dalam bi
snis?
 
Hatta memang dikenal sangat puritan. Juga termasuk dalam urusan
 

Activity (3)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Beno Mhy liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->