Mudah
-
mudaha
n setelah saya menjadi Wakil Presiden, saya dapat
melaksanakan apa yang menjadi cita
-
cita Bung Hatta," katanya. "Jadi,
bukan soal balas jasa atau apa pun namanya, tetapi bagaimana kita bisamengimplementasikan ajaran beliau dalam kehidupan nyata rakyat Ind
onesia."
Persoalan ekonomi kita sekarang menjadi tambah runyam menyusul
gelombang pemulangan TKI ilegal oleh Malaysia, dan datangnya musim
kering yang panjang yang sudah menghancurkan beberapa sentra pertanian
di Tanah Air.
Hatta sendiri, setelah mengundu
rkan diri dari wakil presiden pada
1956, sering menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan rumah
tangganya. Meski pendapatannya -- berasal dari honor tulisan, pensiun
pemerintah, dan kekayaan keluarga -- di atas rata
-
rata orang
Indonesia, masih di bawah
penghasilan elite Indonesia. Maka, tidak
aneh jika pada Februari 1966, Bung Hatta, misalnya, menolak membayar
rekening listrik dan gas yang jumlahnya Rp155,50, sedangkan pensiunnya
hanya Rp149,22.
Dalam suratnya kepada Menteri Koordinator Suprajogi, Hatt
a mengatakan
bahwa "kita selalu mencela dasar l'exploitation de l'homme par l'homme
yang berlaku di zaman imperialisme klonial. tetapi jangan dasar yang
jelek itu diganti dalam Republik Indonesia kita inidengan sistem yang
lebih jelek lagi, yaitu l'exploitation de l'homme par l'etat
(eksploitasi manusia untuk negara)."
Untuk tarif listrik bungalownya di Megamendung yang jumlahnya 3/4 dari
pensiunnya, Hatta dalam suratnya kepada Wakil Perdana Menteri Bidang
Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Sultan Hamengku
Buwono IX, sebagai
tarif pemerasan yang tidak ada duanya dalam sejarah Indonesia sejak
dari zaman kolonial, dan lebih jahat dari pemerasan fasis. "Saya kira
negara kita tidak mestinya menjadi uitbuitende staat (negara
pengeksploitasi manusia)." Bagi golong
an kapitalis yang sedikit, yang
dapat menimbun kekayaan dalam waktu singkat, kata Hatta, tarif semacam
itu mudah dibayar. "Tapi buat pegaai negeri dan pensiunan, tarif itu
mencekek leher."
Mengapa Hatta tampak begitu cerewet mempersoalkan uang pensiunnya?
Hatta bukannya tidak bisa hidup secara lain yang secara materiil akan
jauh sangat menyenangkan. Ia mengakui, hidupnya akan hebat, jika waktu
berhenti sebagai wakil presiden ia menerima tawaran perusahaan asing
dan nasional. "Tapi saya pandang itu sebagai
penghinaan untuk negara.
Adakah Hatta ingin dipandang sebagai negarawan yang bersih, dan untuk
itu berpahit
-
pahit? Ataukah dia menyadari berbagai akibat jika seorang
pejabat (bisa melalui anggota keluarga, atau membentuk berbagai
yayasan) terlibat dalam bi
snis?
Hatta memang dikenal sangat puritan. Juga termasuk dalam urusan