Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Putusnya Sekolah Bagi Anak

Putusnya Sekolah Bagi Anak

Ratings: (0)|Views: 415|Likes:
Published by Salim Rabbani

More info:

Published by: Salim Rabbani on Jun 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

06/19/2012

pdf

text

original

 
PUTUSNYA SEKOLAH BAGI ANAK-ANAK A.Putus Sekolah Menjadi Masalah
Pencanangan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun oleh pemerintahsejak tahun 1994 menunjukkan keberhasilan jika dilihat dari angka partisipasi sekolahdi semua tingkatan. Angka partisipasi murni SD saat ini sudah mencapai 90 persenlebih, sedangkan SMP di angka 60-an persen dengan tren membaik setiap tahun. Namun, keterbatasan kemampuan sebagian masyarakat mengelola pendidikantampak dari masih relatif tingginya angka putus sekolah. Di tingkat pendidikan dasar, putus sekolah masih menjadi ”momok” upaya penuntasan wajib belajar sembilan tahun.Angka putus sekolah seluruh jenjang pendidikan di Indonesia empat tahunterakhir masih di atas satu juta siswa per tahun. Dari jumlah itu, sebagian besar (80 persen) adalah mereka yang masih duduk di jenjang pendidikan dasar (SD-SMP).Dilihat secara persentase, jumlah total siswa yang putus sekolah dari SD atauSMP memang hanya berkisar 2 hingga 3 persen dari total jumlah siswa. Namun, persentase yang kecil tersebut menjadi besar jika dilihat angka sebenarnya. Jumlah anak  putus sekolah SD setiap tahun rata-rata berjumlah 600.000 hingga 700.000 siswa.Sementara itu, jumlah mereka yang tidak menyelesaikan sekolahnya di SMP sekitar 150.000 sampai 200.000 orang.
1
 
1.Kemiskinan daerah
Pada era otonomi daerah ini asumsi awal melihat besarnya angka putus sekolah adalahsituasi kemiskinan yang melilit kemampuan penduduk ataupun pemerintah suatuwilayah dalam memenuhi kebutuhan pendidikan.Fakta menunjukkan, provinsi dengan tingkat pendapatan rendah cenderung memilikiangka putus sekolah yang juga tinggi. Papua Barat, Sulawesi Barat, Maluku, Gorontalo,dan Maluku Utara pada tahun 2007 termasuk dalam lima provinsi yang memiliki nilai produk domestik regional bruto (PDRB) terendah di antara 28 provinsi yang lain.Kecuali Maluku yang mencatat angka 1,45 persen, putus sekolah SD di empat wilayahlain mencapai 3-5 persen. Di tingkat SMP angkanya lebih tinggi lagi, yaitu 2-7 persen.Kekurangberdayaan secara ekonomi di provinsi-provinsi tersebut memengaruhikelangsungan pendidikan di wilayahnya. Dengan pendapatan per kapita per tahun Rp 3 juta hingga Rp 5 juta, total anak putus sekolah SMP di lima provinsi tersebut hampir mencapai 10.000 anak, sementara lebih dari 31.00 siswa SD juga mengalami putussekolah. Namun, kemiskinan rupanya tidak selalu menjadi satu-satunya penyebab.Paling tidak, jika mencermati nilai PDRB setiap provinsi di Indonesia, tampak jikawilayah yang ”kaya” belum tentu lebih unggul dalam angka putus sekolah. Ambilcontoh DKI Jakarta yang merupakan provinsi ”terkaya” dengan nilai PDRB mencapaiRp 563,8 triliun pada tahun 2007. Jakarta berada di atas rata-rata nilai PDRB nasionalyang sebesar Rp 96 triliun. Namun, sayang, penuhnya pundi uang yang dimiliki Jakarta belum berhasilmenurunkan angka putus sekolah di provinsi yang juga menjadi ibu kota negara ini.Pada tahun ajaran 2005/2006 hingga 2006/2007 angka putus sekolah SD di Jakartamasih menyentuh angka 1,78 persen. Persentase ini bahkan lebih tinggi dari beberapa provinsi lain dengan pendapatan regional jauh di bawah Jakarta, seperti SulawesiTenggara (1,37 persen) dan DI Yogyakarta (1,21 persen).
2
 
2.Akses sekolah
Selain masalah ekonomi wilayah yang menjadi pendorong tak tertanganinya kasus-kasus putus sekolah, kendala teknis yang bersifat mikro juga menjadi penyebabterhentinya anak bersekolah.Lokasi yang jauh, hilangnya tulang punggung ekonomi keluarga, serta pandangantentang penting atau tidaknya pendidikan juga menjadi penyebab anak enggan berangkat hingga akhirnya putus sekolah.Di wilayah-wilayah yang secara geografis sangat luas dan aksesnya terbatas, sepertiwilayah-wilayah pedalaman, untuk mencapai sekolah yang berjarak puluhan kilometer tentu bukan perkara mudah. Jika kondisi transportasi wilayah memang sulit danmemakan biaya besar, bisa dipastikan putus sekolah bagi si anak tinggal menungguwaktu.Data menunjukkan bahwa sebagian kasus putus sekolah banyak terjadi di wilayah-wilayah yang secara geografis masih kesulitan sarana transportasi. Beberapa provinsiyang wilayahnya luas seperti yang ada di Indonesia bagian timur dan beberapa di bagian barat masih memiliki kendala transportasi seperti ini.Misalnya, Maluku dan Papua yang memiliki luas wilayah kabupaten dan kota rata-rataribuan hingga puluhan ribu kilometer persegi. Meski wilayahnya sangat luas, jumlahsekolah yang ada terbatas. Dampaknya, persebaran pun tidak merata.Setelah faktor ekonomi dan faktor teknis, pandangan sosiokultural keluarga danmasyarakat tentang penting atau tidaknya sekolah juga kerap kali menentukankeberlangsungan nasib siswa dalam melanjutkan pendidikan.Di beberapa wilayah masih ditemukan adanya anggapan bahwa perempuan sebaiknyatidak bersekolah terlalu tinggi. Dari angka statistik tahun 2006, hal ini dibuktikan olehangka partisipasi sekolah di kelompok usia di atas 16 tahun.
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->