Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
8Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Permentan No 42 - 2008 Tentang Kebutuhan dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi

Permentan No 42 - 2008 Tentang Kebutuhan dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi

Ratings:

4.69

(29)
|Views: 10,122|Likes:
Published by Indonesia
PERATURAN MENTERI PERTANIAN
Nomor : 42/Permentan/OT.140/09/2008
Tentang
Kebutuhan dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi
Untuk Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2009
PERATURAN MENTERI PERTANIAN
Nomor : 42/Permentan/OT.140/09/2008
Tentang
Kebutuhan dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi
Untuk Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2009

More info:

Published by: Indonesia on Jan 06, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See More
See less

11/26/2012

 
 
MENTERI PERTANIANREPUBLIK INDONESIAPERATURAN MENTERI PERTANIANNOMOR : 42/Permentan/OT.140/09/2008TENTANGKEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDIUNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2009DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESAMENTERI PERTANIAN,Menimbang : a. bahwa peranan pupuk sangat penting dalam peningkatanproduktivitas dan produksi komoditas pertanian dalam rangkamewujudkan Ketahanan Pangan Nasional;b. bahwa untuk meningkatkan kemampuan petani dalampenerapan pemupukan berimbang diperlukan adanya subsidipupuk;c. bahwa atas dasar hal-hal tersebut di atas, pemerintah perlumenetapkan Kebutuhan dan Harga Eceran Tertinggi (HET)Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2009;Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan (LembaranNegara Tahun 1967 Nomor 10, Tambahan Lembaran NegaraNomor 2824);2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang SistemBudidaya Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478);3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang PerlindunganKonsumen (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 42,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3821);4. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan UsahaMilik Negara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 70,Tambahan Lembaran Negara Nomor 4297);5. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 85, Tambahan LembaranNegara Nomor 4411);6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang PemerintahanDaerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, TambahanLembaran Negara Nomor 4437);7. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2008 tentang PerubahanUndang-Undang Nomor 45 Tahun 2007 tentang AnggaranPendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2008
 
2
 
(Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 63, Tambahan LembaranNegara Nomor 4848);8. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2001 tentang PupukBudidaya Tanaman (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 14,Tambahan Lembaran Negara Nomor 4079);9. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentangPembagian Urusan Antara Pemerintah, Pemerintahan DaerahProvinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota (LembaranNegara Tahun 2007 nomor 82, Tambahan Berita Negara nomor4737;10. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tentangPembentukan Kabinet Indonesia Bersatu;11. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan,Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja KementerianNegara Republik Indonesia juncto Peraturan Presiden Nomor 62Tahun 2005;12. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang UnitOrganisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara RepublikIndonesia;13. Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2005 tentang PenetapanPupuk Bersubsidi Sebagai Barang Dalam Pengawasan;14. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor634/MPP/Kep/9/2002 tentang Ketentuan dan Tata CaraPengawasan Barang dan atau Jasa yang Beredar di Pasar;15. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 08/P/TP.260/1/2003tentang Syarat dan Tata Cara Pendaftaran Pupuk An-Organik;16. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 237/Kpts/OT. 210/4/2003tentang Pedoman Pengawasan Pengadaan, Peredaran danPenggunaan Pupuk An-Organik;17. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 239/Kpts/OT. 210/4/2003tentang Pengawasan Formula Pupuk An-Organik;18. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 299/Kpts/OT. 140/7/2005tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pertanian;19. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 341/Kpts/OT. 210/9/2005tentang Kelengkapan Organisasi dan Tata Kerja DepartemenPertanian;20. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 01/Kpts/SR.130/1/2006tentang Rekomendasi Pemupukan N, P dan K Pada Padi SawahSpesifik Lokasi;21. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 02/Pert/HK.060/2/2/2006tentang Pupuk Organik dan Pembenah Tanah22. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 456/Kpts/OT. 160/7/2006tentang Pembentukan Kelompok Kerja Khusus PengkajianKebijakan Pupuk Dalam Mendukung Ketahanan Pangan;23. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 465/Kpts/OT. 160/7/2006tentang Pembentukan Tim Pengawas Pupuk Bersubsidi TingkatPusat;
 
3
 
24. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor21/M-DAG/PER/6/2008 tentang Pengadaan dan PenyaluranPupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian;Memperhatikan : Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan BelanjaNegara Tahun 2009.MEMUTUSKAN:Menetapkan : KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUKBERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN2009BAB IKETENTUAN UMUMPasal 1Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:1. Pupuk adalah bahan kimia atau organisme yang berperan dalam penyediaan unsurhara bagi keperluan tanaman secara langsung atau tidak langsung.2. Pupuk an-organik adalah pupuk hasil proses rekayasa secara kimia, fisika dan ataubiologi, dan merupakan hasil industri atau pabrik pembuat pupuk.3. Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahanorganik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui prosesrekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahanorganik, memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.4. Pemupukan berimbang adalah pemberian pupuk bagi tanaman sesuai dengan statushara tanah dan kebutuhan tanaman untuk mencapai produktivitas yang optimal danberkelanjutan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor40/Permentan/OT.140/4/2007.5. Pupuk bersubsidi adalah pupuk yang pengadaan dan penyalurannya ditataniagakandengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan di penyalur resmi di Lini IV.6. Sektor Pertanian adalah sektor yang berkaitan dengan budidaya tanaman pangan,hortikultura, perkebunan, hijauan pakan ternak dan budidaya ikan dan atau udang.7. Petani adalah perorangan warga negara Indonesia yang mengusahakan lahan miliksendiri atau bukan, untuk budidaya tanaman pangan atau hortikultura.8. Pekebun adalah perorangan warga negara Indonesia yang mengusahakan lahanmilik sendiri atau bukan, untuk budidaya tanaman perkebunan rakyat.9. Peternak adalah perorangan warga negara Indonesia yang mengusahakan lahan,milik sendiri atau bukan, untuk budidaya tanaman hijauan pakan ternak yang tidakmemiliki izin usaha.10. Pembudidaya ikan atau udang adalah perorangan warga negara Indonesia yangmengusahakan lahan, milik sendiri atau bukan, untuk budidaya ikan dan atau udangyang tidak memiliki izin usaha.

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Ema Mucharromah liked this
Dara Saifullah liked this
Reno Keng Dvc liked this
Eko Aris liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->