/  3
 
Keutamaan Puasa di Hari Asyura (10 Muharram)
Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
[Di dalam kitab beliau Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakantiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hariAsyura / Asyuro (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram)]Hadits yang Pertamaُّلا ىّَص ِّلا وُسَر نأ ُهَع ُّلا َيِضَر بع ا عِهََع قفّتُم .هم مأ ءاروشع و ص ّَسَ ِهََع Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).Hadits yang Keduaُّلا ىّَص ِّلا وُسَر نأ ُهَع ُّلا َيِضَر ةدت يأ عضا ا فك)) : ءاروشع و ص ع ئس ّَسَ ِهََع(( ٌِُم ُاََر. Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanyatentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahunyang lalu”. (HR. Muslim)Hadits yang Ketigaىّَص ِّلا وُسَر  ، ُَع ُّلا َيِضَر بع ا ع ُاََر ((ستا موص  ىإ  ئ)) :ّَسَ ِهََع ُّلاٌِُم. Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari)kesembilan” (HR. Muslim)“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura, beliaumenjawab, ‘Menghapuskan dosa setahun yang lalu’, ini pahalanya lebih sedikit daripada puasaArafah (yakni menghapuskan dosa setahun sebelum serta sesudahnya –pent). Bersamaan denganhal tersebut, selayaknya seorang berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) disertai dengan (sebelumnya,ed.) Tasu’a (9 Muharram). Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apabila(usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada yang kesembilan’, maksudnya berpuasa pula pada hari Tasu’a.
Penjelasan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari sebelummaupun setelah ‘Asyura [1] dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi karena hari ‘Asyura – yaitu 10 Muharram- adalah hari di mana Allah selamatkan Musa dan kaumnya, danmenenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu orang-orang Yahudi berpuasa pada haritersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telahmemenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkanMusa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmatyang besar.Oleh karena itu, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura [2]. Beliau pun bertanya kepada merekatentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari di manaAllah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Makadari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,اَذََ ُوُَبّا َِذّَ َِاَْِِ ِّا ىَْَأ ّنِإَِِمْؤُْا يِَ ُّلاَ اوُَمَآ َِذّاَ يِبّا
 
“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yangmengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berhak terhadap NabiMusa daripada orang-orang Yahudi tersebut, dikarenakan mereka kafir terhadap Nabi Musa, NabiIsa dan Muhammad. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ‘Asyura danmemerintahkan manusia untuk berpuasa pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkanuntuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura, dengan berpuasa pada harikesembilan atau hari kesebelas beriringan dengan puasa pada hari kesepuluh (’Asyura), atauketiga-tiganya. [3]Oleh karena itu sebagian ulama seperti Ibnul Qayyim dan yang selain beliau menyebutkan bahwa puasa ‘Asyura terbagi menjadi tiga keadaan:1. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan Tasu’ah (9 Muharram), ini yang paling afdhal.2. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan tanggal 11 Muharram, ini kurang pahalanya daripada yang pertama. [4]3. Berpuasa pada hari ‘Asyura saja, sebagian ulama memakruhkannya karena Nabi shallallahu‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lainmemberi keringanan (tidak menganggapnya makhruh). [5]Wallahu a’lam bish shawab.(Sumber: Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terbitanDarus Salam – Mesir, diterjemahkan Abu Umar Urwah Al-Bankawy, muraja’ah dan catatan kaki:Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Rifai)CATATAN KAKI:[1] Adapun hadits yang menyebutkan perintah untuk berpuasa setelahnya (11 Asyura’) adalahdha’if (lemah). Hadits tersebut berbunyi:مو   مو هب اوموص دوا ه اوفخ  ءاروشع و اوموص . -“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang yahudi padanya (maka) puasalah seharisebelumnya dan sehari setelahnya. (HR. Ahmad dan Al Baihaqy. Didhaifkan oleh As Syaikh Al-Albany di Dha’iful Jami’ hadits no. 3506)Dan berkata As Syaikh Al Albany – Rahimahullah- di Silsilah Ad Dha’ifah Wal Maudhu’ahIX/288 No. Hadits 4297: Penyebutan sehari setelahnya (hari ke sebelas. pent) adalah mungkar,menyelisihi hadits Ibnu Abbas yang shahih dengan lafadz:“ستا موص  ىإ  ئ” .“Jika aku hidup sampai tahun depan tentu aku akan puasa hari kesembilan”Lihat juga kitab Zaadul Ma’ad 2/66 cet. Muassasah Ar-Risalah Th. 1423 H. dengan tahqiqSyu’aib Al Arnauth dan Abdul Qadir Al Arna’uth.ءاروشع و .  و أ هب و  نم  ئ) .-“Kalau aku masih hidup niscaya aku perintahkan puasa sehari sebelumnya (hari Asyura) atausehari sesudahnya” ((HR. Al Baihaqy, Berkata Al Albany di As-Silsilah Ad-Dha’ifah WalMaudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Ini adalah hadits mungkar dengan lafadz lengkap tersebut.))[2] Padanya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa penetapan waktu pada umat terdahulu punmenggunakan bulan-bulan qamariyyah (Muharram s/d Dzulhijjah, Pent.) bukan dengan bulan- bulan ala Eropa (Jan s/d Des). Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...