Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Otonomi Daerah Di Indonesia

Otonomi Daerah Di Indonesia

Ratings: (0)|Views: 32 |Likes:
Published by Isno Isname

More info:

Published by: Isno Isname on Jun 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/19/2012

pdf

text

original

 
Otonomi daerah di Indonesia
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebasLangsung ke: navigasi, cari 
Gaya penulisan artikel atau bagian ini tidak atau kurang cocok untuk Wikipedia.
 
 
Otonomi daerah di Indonesia
adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempatsesuai dengan peraturan perundang-
undangan.”
 Terdapat dua nilai dasar yang dikembangkan dalam UUD 1945 berkenaan dengan pelaksanaandesentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia, yaitu:1.
 
Nilai Unitaris
, yang diwujudkan dalam pandangan bahwa Indonesia tidak mempunyaikesatuan pemerintahan lain di dalamnya yang bersifat negara ("Eenheidstaat"), yangberarti kedaulatan yang melekat pada rakyat, bangsa dan negara Republik Indonesia tidak akan terbagi di antara kesatuan-kesatuan pemerintahan; dan2.
 
Nilai dasar Desentralisasi Teritorial
, dari isi dan jiwa pasal 18 Undang-undang Dasar1945 beserta penjelasannya sebagaimana tersebut di atas maka jelaslah bahwaPemerintah diwajibkan untuk melaksanakan politik desentralisasi dan dekonsentrasi dibidang ketatanegaraan. 
 Dikaitkan dengan dua nilai dasar tersebut di atas, penyelenggaraan desentralisasi di Indonesiaberpusat pada pembentukan daerah-daerah otonom dan penyerahan/pelimpahan sebagiankekuasaan dan kewenangan pemerintah pusat ke pemerintah daerah untuk mengatur danmengurus sebagian sebagian kekuasaan dan kewenangan tersebut. Adapun titik beratpelaksanaan otonomi daerah adalah pada Daerah Tingkat II (Dati II)
dengan beberapa dasarpertimbangan
: 1.
 
 Dimensi Politik 
, Dati II dipandang kurang mempunyai fanatisme kedaerahan sehinggarisiko gerakan separatisme dan peluang berkembangnya aspirasi federalis relatif minim;2.
 
 Dimensi Administratif 
, penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakatrelatif dapat lebih efektif;3.
 
Dati II adalah daerah "ujung tombak" pelaksanaan pembangunan sehingga Dati II-lahyang lebih tahu kebutuhan dan potensi rakyat di daerahnya.Atas dasar itulah, prinsip otonomi yang dianut adalah:1.
 
 Nyata
, otonomi secara nyata diperlukan sesuai dengan situasi dan kondisi obyektif didaerah;2.
 
 Bertanggung jawab
, pemberian otonomi diselaraskan/diupayakan untuk memperlancarpembangunan di seluruh pelosok tanah air; dan
 
3.
 
 Dinamis
, pelaksanaan otonomi selalu menjadi sarana dan dorongan untuk lebih baik danmaju
Daftar isi
 
 
 
 
 
Aturan Perundang-undangan
Beberapa aturan perundang-undangan yang berhubungan dengan pelaksanaan Otonomi Daerah:1.
 
Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah2.
 
Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah3.
 
Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara PemerintahPusat dan Daerah4.
 
Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah5.
 
Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara PemerintahPusat dan Pemerintahan Daerah6.
 
Perpu No. 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 32 Tahun 2004tentang Pemerintahan Daerah7.
 
Undang-Undang No. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
Pelaksanaan Otonomi Daerah di Masa Orde Baru
Sejak tahun 1966, pemerintah Orde Baru berhasil membangun suatu pemerintahan nasional yangkuat dengan menempatkan stabilitas politik sebagai landasan untuk mempercepat pembangunanekonomi Indonesia. Politik yang pada masa pemerintahan Orde Lama dijadikan panglima,digantikan dengan ekonomi sebagai panglimanya, dan mobilisasi massa atas dasar partai secaraperlahan digeser oleh birokrasi dan politik teknokratis. Banyak prestasi dan hasil yang telahdicapai oleh pemerintahan Orde Baru, terutama keberhasilan di bidang ekonomi yang ditopangsepenuhnya oleh kontrol dan inisiatif program-program pembangunan dari pusat. Dalamkerangka struktur sentralisasi kekuasaan politik dan otoritas administrasi inilah, dibentuklahUndang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. Mengacu padaUU ini,
Otonomi Daerah
adalah hak, wewenang, dan kewajiban Daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
 Selanjutnya yang dimaksud dengan
Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah
, adalahkesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas wilayah tertentu yang berhak, berwenangdan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam ikatan NegaraKesatuan Republik Indonesia, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
 
Undang-undang No. 5 Tahun 1974 ini juga meletakkan dasar-dasar sistem hubungan pusat-daerah yang dirangkum dalam tiga prinsip:1.
 
 Desentralisasi
, penyerahan urusan pemerintah dari Pemerintah atau Daerah tingkatatasnya kepada Daerah menjadi urusan rumah tangganya;
 2.
 
 Dekonsentrasi
, pelimpahan wewenang dari Pemerintah atau Kepala Wilayah atau KepalaInstansi Vertikal tingkat atasnya kepada Pejabat-pejabat di daerah;
 dan3.
 
Tugas Pembantuan (medebewind)
, tugas untuk turut serta dalam melaksanakan urusanpemerintahan yang ditugaskan kepada Pemerintah Daerah oleh Pemerintah olehPemerintah Daerah atau Pemerintah Daerah tingkat atasnya dengan kewajibanmempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya.
 Dalam kaitannya dengan Kepala Daerah baik untuk Dati I (Propinsi) maupun Dati II(Kabupaten/Kotamadya), dicalonkan dan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah darisedikit-dikitnya 3 (tiga) orang dan sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang calon yang telahdimusyawarahkan dan disepakati bersama antara Pimpinan Dewan Perwakilan RakyatDaerah/Pimpinan Fraksi-fraksi dengan Menteri Dalam Negeri,
 untuk masa jabatan 5 (lima)tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya,
 dengan hak,wewenang dan kewajiban sebagai pimpinan pemerintah Daerah yang berkewajiban memberikanketerangan pertanggungjawaban kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sekurang-kurangnyasekali setahun, atau jika dipandang perlu olehnya, atau apabila diminta oleh Dewan PerwakilanRakyat Daerah, serta mewakili Daerahnya di dalam dan di luar Pengadilan.
 Berkaitan dengan susunan, fungsi dan kedudukan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah,diatur dalam Pasal 27, 28, dan 29 dengan hak seperti hak yang dimiliki oleh anggota DewanPerwakilan Rakyat (hak anggaran; mengajukan pertanyaan bagi masing-masing Anggota;meminta keterangan; mengadakan perubahan; mengajukan pernyataan pendapat; prakarsa; danpenyelidikan),
 dan kewajiban seperti a) mempertahankan, mengamankan serta mengamalkanPANCASILA dan UUD 1945; b)menjunjung tinggi dan melaksanakan secara konsekuen Garis-garis Besar Haluan Negara, Ketetapan-ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat serta mentaatisegala peraturan perundang-undangan yang berlaku; c) bersama-sama Kepala Daerah menyusunAnggaran Pendapatan dan Belanja daerah dan peraturan-peraturan Daerah untuk kepentinganDaerah dalam batas-batas wewenang yang diserahkan kepada Daerah atau untuk melaksanakanperaturan perundangundangan yang pelaksanaannya ditugaskan kepada Daerah; dan d)memperhatikan aspirasi dan memajukan tingkat kehidupan rakyat dengan berpegang padaprogram pembangunan Pemerintah.
 Dari dua bagian tersebut di atas, nampak bahwa meskipun harus diakui bahwa UU No. 5 Tahun1974 adalah suatu komitmen politik, namun dalam prakteknya yang terjadi adalah sentralisasi(baca: kontrol dari pusat) yang dominan dalam perencanaan maupun implementasi pembangunanIndonesia. Salah satu fenomena paling menonjol dari pelaksanaan UU No. 5 Tahun 1974 iniadalah ketergantungan Pemda yang relatif tinggi terhadap pemerintah pusat.
Pelaksanaan Otonomi Daerah setelah Masa Orde Baru

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->