Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
19Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Bahan Biokim Urin,Salifa

Bahan Biokim Urin,Salifa

Ratings: (0)|Views: 1,518|Likes:
Published by Kaka Vhee

More info:

Published by: Kaka Vhee on Jun 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2013

pdf

text

original

 
Enzim adalah biomolekul yang berfungsi sebagai katalis (senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia.Amilase merupakan enzim pencernaan yang terdapat didalam air liur, yang dapat memecah karbohidrat kompleks seperti patimenjadi gula sedrhana seperti glukosa (The Nuttall Encyclopedia ).Menurut Guyton & Hall dalam Textbook of Medical Physiology, air liur atau salivamengandung dua tipe pengeluaran atau sekresi cairan yang utama yakni sekresi serus yangmengandung ptyalin (suatu alfa amylase) yang merupakan enzim untuk mencernakankarbohidrat dan sekresi mucus yang mengandung musin untuk tujuan pelumasan atauperlindungan permukaan yang sebagian besar dihasilkan oleh kelenjar parotis.Faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas enzim antara lain konsentrasi enzim dan substrat,suhu, pH, dan indikator. Aktivitas enzim meningkat bersamaan dengan peningkatan suhuhingga mencapai suhu optimum, laju berbagai proses metabolisme akan naik sampai batasansuhu maksimal. Prinsip biologis utama adalah homeostatis, yaitu keadaan dalam tubuh yangselalu mempertahankan keadaan normalnya. Perubahan relatif kecil saja dapat mempengaruhiaktivitas banyak enzim. Selain itu, adanya inhibitor non kompetitif irreversibel dan antiseptik dapat menurunkan aktivitas enzim (Suwandi M
et al.
1989).Spesifisitas enzim sangat tinggi terhadap substratnya, dan enzim mempercepat reaksi kimiaspesifik tanpa pembentukan produk samping. Enzim ini bekerja dalam cairan larutan encer,suhu, dan pH yang sesuai dengan kondisi fisiologis biologis. Melalui aktivitasnya, sistemenzim terkoordinasi dengan baik sehingga menghasilkan hubungan yang harmonis di antarasejumlah aktivitas metabolik yang berbeda, semuanya mengacu untuk menunjang kehidupan.Enzim merupakan suatu protein, maka sintesisnya dalam tubuh diatur dan dikendalikan olehsistem genetik, seperti halnya dengan sintesis protein pada umumnya (Panil & Zulbadar2004).Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan di Jepang pada tahun 2001 seperti yangdikutip dari air ludah mengandung 40 sampai 50 protein. Tiap protein punya fungsi yangberbeda-beda. Satu protein untuk menangkal debu, sinar, dan bahan kimia. Dari 50 protein itudi dalamnya ada 3 protein yang khusus untuk mikroorganisme
.
air liur mengandung beberapafaktor yang menghancurkan bakteri salah satunya adalah ion tiosianat dan beberapa cairanproteolitik terutama lisosim yang menghancurkan bakteri,membantu ion tiosianat membunuhbakteri,mencerna partikel makanan dan air liur mengandung antibody protein yangmenghancurkan bakteri.Atas khasiat itulah, diyakini air liurnya bisa bermanfaat bagigangguan mata, seperti katarak, rabun jauh dan dekat, atau gangguan mata karena cederaseperti terbentur, terkena benda tumpul maupun benda tajam(http://republika.co.id/berita/24296.html). Air liur atau saliva sebagian besar diproduksi oleh tiga kelenjar utama yakni kelenjar parotis,kelenjar sublingual dan kelenjar submandibula. Volume air liur yang diproduksi bervariasiyaitu 0,5
 – 
1,5 liter setiap hari tergantung pada tingkat perangsangannya. Keberadaan salivasangat penting bagi rongga mulut, di mana ia memiliki efek buffer yaitu menjagakeseimbangan cairan, dan menjaga rongga mulut dalam keadaan moist. penurunan produksisaliva mengakibatkan mulut menjadi terasa kering. Bakteri juga berkembang lebih pesat.Bakteri yang memetabolisme karbohidrat akan menghasilkan senyawa sulfur atau yang biasadisebut VSC (Volatile Sulfur Compound), gas inilah yang menyebabkan bau mulut (Anonim2008).
 
Enzim yang diuji adalah enzim amilase saliva. Pengujian enzim meliputi uji sifat dan susunanair liur, pengaruh suhu dan pH terhadap aktivitas amilase air liur, dan hidrolisis pati matangdan pati mentah oleh amilase air liur.Sifat dan susunan air liur diuji melalui beberapa pengujian yakni untuk bobot jenis air liurdiukur melalui urinometer, derajat keasaman air liur melalui uji reaksi lakmus PP dan MO,keberadaan ikatan peptidaterkandung melalui uji biuret, kandungan protein melalui uji milon,kandungan karbohidrat melalui uji molisch, kandungan mineral melalui uji klorida, sulfat,dan uji fosfat, dan uji musin untuk mengetahui kandungan enzim musin dalam air liur.Urinometer adalah hidrometer untuk menentukan bobot jenis dari urin dan ditera khususuntuk penentuan tersebut. Namun kali ini urinometer digunakan untuk mengukur bobot jenisair liur. Urinometer memiliki skala 1.000-1.060 (tiga desimal) dan umumnya dipergunakanpada temperatur 60
o
F atau 15,55
o
C. Jika temperatur cairan yang akan diukur bukan 15,55
o
C,maka harus diadakan koreksi. Koreksi tersebut dilakukan dengan cara menambah angka satupada angka ketiga di belakang koma untuk setiap 3
o
di atas temperatur peneraan ataumengurangi 1 angka pada angka ketiga di belakang koma untuk setiap 3
o
di bawahtemperatur peneraan. Setelah melakukan pengujian dengan urinometer, diperoleh nilai bobot jenis air liur terukur sebesar 1.002 g/ml dengan suhu alat 20
o
 
C dan suhu air liur 28’C,
sehingga setelah melalui perhitungan didapat bobot jenis air liur terkoreksi sebesar 1.005g/ml.Uji reaksi lakmus PP dan MO digunakan untuk menentukan derajat keasaman air liur. PPmerupakan pereaksi yang tak berwarna pada pH asam, sedangkan MO merupakan pereaksiyang berwarna orange pada pH asam. Fenolftalein (PP) memiliki rentang pH 8.0
 – 
9.3dengan perubahan warna dari tak berwarna menjadi merah muda. Sementara itu, metil orange(MO) memiliki rentang pH 3.1
 – 
4.4 dengan perubahan warna dari merah menjadi kuning(Harjadi 1086).Air liur yang telah ditetesi pereaksi PP dan MO masing-masing menghasilkan tak berwarnadan warna orange. Tidak berubahnya warna pereaksi setelah dicampur air liur menunjukkanbahwa air liur memiliki pH asam. Kisaran pH air liur antara 6.2 hingga 7.6 dengan rata-rata6.7 (Girindra 1988).Air liur menghasilkan reaksi positif melalui uji biuret yakni dengan menimbulkan warnaungu. Reaksi positif ini akibat pembentukan senyawa kompleks Cu
2+
, gugus
 – 
CO dan
 – 
NHdari rantai peptida dalam suasana basa. Hal ini menunjukkan ikatan peptida dalam air liurmasih ada dan belum rusak akibat aktivitas enzim amilase saliva. Jika ikatan peptida yangterkandung dalam air liur telah rusak maka warna ungu tidak akan terbentuk melainkan akanterbentuknya endapan.Prinsip dari uji millon adalah pembentukan garam merkuri dari tirosin yang ternitrasi. Tirosinmerupakan asam amino yang mempunyai molekul fenol pada gugus R-nya, yang akanmembentuk garam merkuri dengan pereaksi millon. Air liur yang telah mengalami uji millonmenghasilkan reaksi positif yakni membentuk endapan. Hal ini menunjukkan air liurmengandung tirosin sebagai asam amino.Uji molisch dilakukan untuk menentukan karbohidrat secara umum yang ada di dalamlarutan. Karbohidrat dalam suatu larutan ditandai dengan warna ungu setelah larutan diberipereaksi Molisch. Selain diberi pereaksi molisch, larutan juga diberi asam sulfat pekat guna
 
menghidrasi senyawa larutan menjadi senyawa furtural atau senyawa furtural yang tersubsidiseperti hidroksimetil furtural. Air liur yang telah melalui uji molisch menunjukkan reaksipositif yaitu menimbulkan cincin ungu. Hasil ini menunjukkan air liur yang direaksikanmengandung karbohidrat karena praktikan yang menjadi probandus telah sarapan sebelum ujidilakukan. Uji musin yang dilakukan menyebabkan timbulnya endapan berwarna putih akibatpenambahan asam asetat. Endapan tersebut berupa lendir atau musin yang dapat dipisahkanmelalui kertas saring. Pengendapan musin diperkirakan terjadi akibat denaturasi protein(Kleiner & Dotti 1958).Pengujian mineral yang dikandung air liur dilakukan melalui uji klorida, sulfat dan fosfat. Airliur ditambahkan HNO
3
10% dalam uji klorida. HNO
3
10% berfungsi untuk mengikat kloridayang terkandung dalam air liur. Setelah itu pH air liur diukur dan menghasilkan pH asam.Larutan air liur kembali ditambahkan AgNO
3
yang berfungsi membentuk endapan garamAgCl. Hasil yang ditunjukkan oleh air liur setelah penambahan HNO
3
10% dan AgNO
3
 adalah terbentuknya larutan keruh dengan endapan di dalamnya. Hal ini menunjukkan air liurmengandung mineral klorida dan dapat membentuk endapan garam pada pH asam.Uji sulfat yang dilakukan pada air liur menghasilkan reaksi positif yakni menjadikan larutanyang semula tak berwarna menjadi putih keruh. Hal ini terjadi setelah air liur ditambahkanHCl 10 % yang berfungsi mengikat sulfat yang terkandung di dalam air liur. Reaksi positif yang ditimbulkan ini menunjukkan air liur mengandung mineral sulfat.Uji fosfat dilakukan dengan menambahkan air liur dengan urea 1% dan molibdat. Setelahdilakukan pengocokan, larutan ditambahkan ferosulfat. Hasil yang ditunjukkan adalah positif yakni terbentuknya endapan. Hal ini membuktikan air liur mengandung mineral fosfat. Salivaterdiri atas air sebesar 99.5% dan benda padat sebesar 0.5%. Benda padat yang terdapat didalam saliva berupa bahan organik dan ion anorganik, yaitu SO
42-
, PO
43-
, HCO
32-
, Cl
-
, Ca
2+
,Mg
2+
, Na
+
, dan K
+
(Girindra 1988).Uji iod dilakukan untuk menentukan pati yang terkandung di dalam air liur. Reaksi positif (warna biru) hanya spesifik dengan pati . Hal ini disebabkan karena dalam larutan pati,terdapat unit-unit glukosa yang membentuk rantai heliks karena adanya ikatan dengankonfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk ini menyebabkan pati dapat membentuk kompleks dengan molekul iodium yang dapat masuk ke dalam spiralnya, sehinggamenyebabkan warna biru tua pada kompleks tersebut (Hart, Harold. 1983.
Kimia Organik 
.Jakarta. Erlangga). Hasil yang ditunjukkan oleh air liur yang telah ditambahkan pereaksi iod
 pada suhu 10’C, 25’C dan 37’C adalah negatif, sedangkan pada suhu 80’C positif atau
membentuk warna biru. Hal ini menunjukkan bahwa pada saliva yang dikondisikan pada
suhu 80˚C masih mengandung pati. Hal ini disebabkan enzim α
-amilase dalam saliva mampumenghidrolisis pati menjadi unit-unit monosakaridanya.Uji benedict dilakukan untuk menentukan karbohidrat lebih spesifik yaitu gula pereduksi.
Hasil uji positif ditunjukkan pada air liur yang diberi pereaksi benedict pada suhu 10’C, 25’Cdan 37’C, sedangkan pada suhu 80’C negatif. Hal ini menunjukkan di dalam saliva masih
mengandung gula pereduksi yakni karbohidrat. Hal ini dikarenakan aldosa atau ketosa yangmerupakan golongan karbohidrat positif berada dalam kesetimbangan dengan sedikit rantaiterbuka, sehingga gugus aldosa atau ketosa dapat mereduksi berbagai macam reduktor (Hart,Harold. 1983.
Kimia Organik 
. Jakarta. Erlangga). Persamaan reaksi uji benedict dapat dilihatdi bawah ini :

Activity (19)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Dewi Yanti liked this
Ulul Musyhidah liked this
Eska Marbun liked this
Merry Ulfah liked this
Aida Fitriani liked this
Ganis Andriani liked this
Zani Umami liked this
Bastian Manroe liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->