Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
etika profesi

etika profesi

Ratings: (0)|Views: 164 |Likes:
Published by widemade
etika profesi notaris
etika profesi notaris

More info:

Published by: widemade on Jun 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2012

pdf

text

original

 
BAB IPENDAHULUANI.1. Latar Belakang
Membuat akta otentik yang merupakan salah satu kewenangan umum notarisyang ditur dalam pasal 15 ayat (1) UU No.30 tahun 2004 (selanjutnya disingkat “UUJN”).Disamping itu, notaris juga memiliki beberapa kewenangan khusus yang diatur dalampasal 15 ayat (2) UUJN yang berkaitan dengan akta (surat) di bawah tangan.Keotentikan suatu akta berdasarkan pada pengaturan dalam pasal 1868 KUH Perdata,yang menentukan bahwa “suatu akta otentik ialah suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan undang-undang oleh atau dihadapan pejabat umum yang berwenanguntuk itu di tempat akta itu dibuat. Dengan demikian akta notaris adalah akta otentik,karena notaris adalah pejabat umum yang berwenang membuat akta otentik, bentuknyatelah ditentukan dalam pasal 38 UUJN, dan kewenangan notaris membuat aktaditentukan juga oleh tempat kedudukan dan wilayah jabatannya.Dengan peran notaris yang sangat penting tersebut, maka seharusnya notarismenjalankan tugas jabatannya selalu berpedoman pada pertauran perundang-undangan,kode etik, dan moral. Pelanggaran maupun kesalahan yang dilakukan notaris akansangat merugikan kepentingan masyarakat, khusunya para pihak. Pelanggaran yangdilakukan oleh notaris baik sengaja maupun tidak sengaja dalam menjalankan tugas jabatannya akan berakibat sanksi bagi notaris yang bersangkutan. Dalam UUJN diaturbahwa ketika notaris dalam menjalankan tugas jabatannya terbukti melakukanpelanggaran, maka notaris dapat dikenai atau dijatuhi sanksi, berupa sanksi perdata,administrasi, dan kode etik jabatan notaris.
Sanksi terhadap notaris menunjukkan
1
 
notaris bukan sebagai subjek yang kebal terhadap hukum.
Sanksi-sanksi tersebut telahdiatur sedemikian rupa, baik sebelumnya dalam Peraturan Jabatan Notaris (PJN)maupun sekarang dalam UUJN dan Kode Etik Jabatan Notaris, namun peraturan-peraturan itu tidak mengatur adanya sanksi pidana terhadap notaris. Selain berakibatsanksi terhadap notaris yang melakukan pelanggaran, pelanggaran juga akan berakibatterhadap akta yang menjadi produk dari notaris yang bersangkutan.Walaupun dalam UUJN tidak mengatur mengenai sanksi pidana terhadap notaris,namun dalam praktik ditemukan kenyataan bahwa suatu tindakan hukum ataupelanggaran yang dilakukan notaris sebenarnya dapat dijatuhi sanksi administrasi atauperdata atau kode etik jabatan notaris, tapi kemudian ditarik atau dikualifikasikansebagai suatu tindak pidana yang dilakukan oleh notaris. Bahkan beberapa orang notaristelah dijadikan tersangka, yang berdasarkan penyidik, akta yang dibuat di hadapannotaris yang bersangkutan telah memenuhi unsur-unsur pidana, misalnya dalam kategoriturut serta melakukan atau membantu melakukan pemalsuan surat atau akta,setidaknya pada notaris yang bersangkutan. Memang suatu hal yang lucu, jika pada tiapawal dan akhir akta tercantum nama notaris, jika terjadi permasalahan notaris dianggapturut serta atau membantu melakukan suatu tindak pidana.
1
Di sisi lain banyak pulakalangan berpendapat bahwa notaris tidak dapat dijatuhi sanksi pidana sepanjangnotaris menjalankan tugas jabatannya sesuai dengan aturan UUJN dan kode etik. Halinilah yang dikenal sebagai hak imunitas sebagai seorang notaris.Seperti uraian diatas, bahwa peran notaris sangat penting dalam hal membuatakta tentang perbuatan hukum dalam hal pembuktian. Pelanggaran yang dilakukan olehnotaris dalam menjalankan tugas jabatannya yang berakibat notaris yang bersangkutan
1
Habib Adjie,
Sekilas Dunia Notaris & PPAT Indonesia 
, Mandar Maju, Bandung, 2009, h.107
2
 
dijatuhi sanksi administrasi, perdata, maupun sanksi kode etik. Sanksi-sanksi tersebutdapat berupa teguran lisan, teguran tertulis, pemberhentian sementara, pemberhentiandengan hormat maupun tidak hormat, mengganti biaya, ganti rugi, dan bunga kepadapihak yang menderita kerugian, serta sanksi-sanksi lainnya. Sanksi-sanksi administrasiseperti itu sangat berpengaruh terhadap kewenangan notaris menjalan tugas jabatannya. Pasal 1869 KUH Perdata menentukan batasan akta notaris yangmempunyyai kekuatan pembuktian sebagai akta dibawah tangan dapat terjadi jika tidak memenuhi ketentuan karena tidak berwenangnya pejabat umum yang bersangkutan,atau tidak mampunya pejabat umum yang bersangkutan, atau cacat dalam bentuknya.Kewenangan notaris tentu akan berakibat pula pada akta yang dibuat, disahkan, danditetapkannya, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kekuatan pembuktian aktatersebut.
I.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka ada 2 (dua)rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini, yaitu :
1.Bagaimanakah kewenangan notaris yang menjadi tersangka dalammenjalankan tugas jabatannya ?
2.
Bagaimanakah kekuatan pembuktian akta yang dibuat dihadapan notarisberstatus tersangka ?
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->