Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
8Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Nasr Hamid Abu Zaid

Nasr Hamid Abu Zaid

Ratings: (0)|Views: 258 |Likes:
Published by Tirmidzi

More info:

Published by: Tirmidzi on Jun 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/13/2014

pdf

text

original

 
KONTROVERSI PEMIKIRAN NASR HAMID ABU ZAYD; AL-QUR’ANSEBAGAI PRODUK BUDAYAA.Pendahuluan
Fenomena pemikiran kontroversi Abu Zayd tidak lepas daripernyataannya bahwa al Qur’an merupakan produk dari budaya.Pernyataan tersebut banyak menyulut penentangan dan sanggahanyang dilakukan oleh para ulama setempat. Sebuah pemikiran yangdihasilkan oleh pendekatan yang kurang lazim dilakukan pada tradisikeislaman selama ini, yaitu melakukan studi keislaman tetapi denganpendekatan
tekstual
atau pendekatan yang berusaha mengkaji agamamelalui segi
nash
untuk menentukan arahan dogmatika dan keyakinan.
1
Pemikiran Abu Zayd tidak berbeda dengan pemikiran AminAbdullah yang menekankan studi keislaman sebagai studi keilmuan ataustudi yang meletakkan basis ilmu pengetahuan dalam melakukan kajiankeagamaan. Dalam studi keagamaan yang dilakukan oleh Abu Zayd,terutama ketika mengkaji permasalahan tema di seputar al-Qur’an, AbuZayd banyak mengeksplorasi melalui pendekatan semiotika ataupengkajian melalui bagaimana hubungan antara teks dan makna dalamsebuah kebudayaan manusia.Sebuah kata, dalam tinjauan keilmuan semiotika adalah sebuahrepresentasi dari sebuah idea, dan idea terbentuk dari bagaimanaseorang manusia berinteraksi dengan totalitas kebudayaannya. Idea,kata ataupun basis pemaknaan merupakan produk relasi manusia dalamruang lingkup budaya tertentu. Dalam istilah Saussure, istilah yangdapat dijadikan suatu konsep untuk hal ini adalah dalam hal pembedaanantara
langue
dan
 parole. Langue
berkaitan dengan bahasa yangdipakai secara umum dalam totalitas masyarakat. Tidak hanya bahasadalam artian secara lisan belaka, tetapi berupa sebuah sistem maknatindakan yang dilakukan dalam ruang lingkup budaya. Sedangkan
 parole
banyak berkaitan dengan tindakan personal secara nyata ketikamengekspresikan
langue
. Pembedaan dua hal ini juga perlu dipakaisebagai bentuk pengamatan terhadap pemikiran Abu Zayd, di satu sisimenyatakan bahwa agama merupakan
Muntijuts – tsaqofi
sedangkan disisi yang lain, agama merupakan
Muntajuts Tsaqofi
. Agama sebagaiproduk sekaligus sebagai produsen budaya. Agama islam tidak lepasdari ruang lingkup bangsa arab, tetapi disisi yang lain ia mampumenciptakan sebuah pemaknaan yang baru.
2
Pemikiran ini mengasumsikan bahwa suatu bentuk “kesadaran”merupakan bentuk konstruksi dari budaya setempat atau konstruksi dari
11 Amin Abdullah,
 Islamic Studies di Perguruan Tinggi
Islam
 , Pendekatan Integratif-Interkonektif 
,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), 161.2 Sahiron Syamsuddin, dkk,
 Hermeneutika Al Qur’an: Mazhab Yogya
, (Yogyakarta: Islamika, 2003), 118
1
 
interaksi atau relasi antar manusia yang membentuk budaya. Dalambudaya setempat, manusia menyadari dirinya, dan mengidentifikasikandirinya, menyatakan suatu “ide” berdasarkan pada bahasa yang dipakaioleh kaummnya, serta mengambil sikap
ethika
dan pandangan yangtidak lepas dari budaya dan bahasa setempat. Manusia memaknairealitasnya melalui pemikirannya, dan realitas tersebut bukan hasilpemikirannya tetapi juga ditentukan oleh pemahaman bersamabagaimana suatu realitas itu dalam pemaknaan dari suatu bangsatertentu. Tiap diri (personal) berekspresi terhadap bagaimana budayamembahasakan realitas dalam sebuah kata tutur/tulis ataupun denganmemakai bahasa tubuh yang empiris dinamakan sebagai bentuk
 parole.
Sehingga
 parole
tidak lepas dari langue, dan langue diekspresikansecara nyata dalam bentuk bahasa.Apa yang dilakukan oleh Abu Zayd merupakan sebuah studidengan penggunaan sarana burhani (dalam istilah epistemologykeislaman) dimana meletakkan agama sebagai obyek studi melaluisudut pandang keilmuan. Sudut pandang keilmuan tersebut diterapkanpada segala bidang, termasuk bidang yang selama ini dipandangsebagai bidang yang sakral (agama). Agama ditempatkan sebagai teks(tuturan/lisan/bahasa tubuh/ ungkapan ekspresionis) yang dapat dibacadan bagaimana sebuah teks tersebut disifatkan sebagaimana teks yanglain, serta bagaimana sebuah teks itu masuk dalam ruang lingkuppemahaman manusia. Termasuk bagaimana sebuah teks itu mempunyaipluralitas penafsiran, mengandung kemungkinan banyaknya maknayang keluar darinya.
3
Oleh karenanya, Pemikiran abu Zayd tidak lepas dari kajianhermeneutik.Dalam studi hermeneutika, segala teks merupakan suaturepresentasi dari idea atau konsep penulisnya dimana penulisnya tidakdapat lepas dari budaya setempat. Suatu budaya memberikan maknaterhadap realitas dan diinternalisasikan kepada setiap individu dalamsuatu ruang lingkup budaya setempat. Dan teks tersebut apabiladimaknai oleh seorang individu, maka teks itu bebas ditafsirkan olehindividu. Teks itu bersifat empiris, dan dapat diindrai dan darinya dapatdilakukan pemaknaan yang dilakukan oleh individu (
reader 
). Pemikiranini mengasumsikan adanya bentuk pemikiran hermeneutika klasik yangmengasumsikan bahwa “ada makna” dalam teks yang tergantung padakondisi
author 
, tetapi di sisi yang lain, setiap pembaca mempunyai“kebebasan” dan “eksistensi diri” dalam melakukan produksi maknadari teks tersebut.
4
3 Nasr Hamid Abu Zayd,
 Naqd al Khithab ad Diniy
, (Kairo: Sina Li an Nasr, 1993), 934 Edi Mulyono,
 Hermeneutika Linguistik-Dialektis Hans-Georg Gadamer 
, dalam
 Hermeneutikaransendental,
Ed. Nafisul Atho’ dan Arif Fahruddin, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2003), 142.
 
B.Latar Belakang Kehidupan Dan Pendidikan
Nasr Hamid Abu Zaid lahir di Tanta, Mesir, pada 10 Juli 1943 danbernama lengkapnya Nasr Hamid Abu Zaid, lahir dari keluarga yang taatberagama, dan karenanmya ia telah menerima pengajaran keagamansedari sejak kecil. Sebagaimana orang Arab lainnya, ia mempunyaikemampuan menghafal al Qur’an yang lebih mudah daripada orang Timur. Pada usia delapan tahun, ia sudah hafal al Qur’an. Beliau selainmempunyai basis keagamaan yang relatif kuat juga mempunyaikegemaran membaca karya sastra, yang pada akhirnya ia menekunibidang tersebut dalam karir akademisnya.
5
Sebagai seorang yang mempunyai kecerdasan di atas rata-ratapenelaahan terhadap literatur keagamaan maupun sastra relatif lebihdalam dan luas, sehingga karya maupun pemikiran keagamaan maupunsastra keagamaan yang dikembangkannya banyak menarik minatbanyak kalangan, terutama kalangan kritis islam liberal. Kecerdasannyadalam karir di dunia sastra ini selain mengantarkannya untuk memasukidunia akademis dengan mengambil program jurusan sastra, jugamengantarkan untuk menapaki jenjang akademis yang lebih tinggi lagi.Abu Zayd memasuki Universitas Kairo serta menyelesaikan programsarjananya pada tahun 1972 dengan menerima nilai yang sangatmemuaskan. Penghargaan sebagai seorang mahasiswa terbaik jugaberhasil dipertahankan oleh Abu Zayd ketika menerima tgelar mastermaupun pada jenjang doktoralnya, yang masing-masing diterimanyapada tahun 1977 dan pada tahun 1981, sehingga pendidikan Sarjanasampai berlanjut di tingkat doktoral ia selesaikan di Universitas Cairo.Selain mendapatkan gelar doktoral di Universitas Cairo, pada tahun1978-1980) ia mendapatkan beasiswa penelitian untuk memperolehgelar dari University of Pennsylvania, Philadelphia, Amerika Serikat.
6
C.Latar Belakang Pemikiran
Pemikrian yang dikembangkan oleh Abu Zayd mendekati denganpendekatan empiris kritis merupakan suatu hal yang jamak dalamdinamika pemikiran keislaman kontemporer. Pemikiran yangdikembangkan oleh Hassan Hanafi sebelumnya memakai sudutpendekatan fenomenologis dan Marxian dalam mengembangkan konsepteologisnya sehingga hasilnya tidak berbeda jauh dengan pemikrianyang dikembangkan oleh para teoritis kritis para teolog pembebasan diAmerika Latin.
7
5 Henry Shalahuddin,
 Al Qur’an dihujat 
, (Jakarta: Gema Insani Press, 2007), 26 Ibid. 1-4.7 Salah satu pemikiran Hassan Hanafi yang menonjol adalah pendekatan praxis yang memakai kevalidanteori pada tingkat pragmatis bagi dorongan suatu tindakan (pembebasan) daripada kebenaran obyektif atauteoritis. Hal yang sama juga ada pada pemikiran teologi pembebasan. Tentang pemakaian paradigma praxisini dapat dilihat dari metodologi tafsir yang dilakukannya terhadap ayat al-Qur’an (AH. Ridwan,
 Reformasi Intelektual Islam: Pemikiran Hassan Hanafi tentang Reaktualisasi Tradisi Keilmuan Islam
(Yogyakarta:
3

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Muhammad Aswar liked this
Arifin Al Sael liked this
Ulil Albab liked this
Che Toz liked this
Taufan Harimurti liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->