Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Dinamika sistem pendidikan pesantren : suatu kajian tentang unsur dan nilai sistem pendidikan pesantren / Mastuhu BAB-2

Dinamika sistem pendidikan pesantren : suatu kajian tentang unsur dan nilai sistem pendidikan pesantren / Mastuhu BAB-2

Ratings: (0)|Views: 346|Likes:
Published by nananurjanah
10

BAB II TINJAUN PUSTAKA Seperti disebutkan di awal Bab Pendahuluan, manusia adalah tokoh kunci dalam kehidupan. Ia bertanggung jawab akan baik-buruknya kehidupan di dunia ini, dan hal itu merupakan perwujudan pengabdiannya kepada Tuhan. Maka dalam tinjauan pustaka ini berturut-turut disajikan, konsepsi Manusia dan Kehidupan, Pendidikan, dan Pesantren (sebagai objek studi). 1. Manusia dan Kehidupan Pertanyaan “(Si) Apakah manusia itu”, telah menjadi tema sentral dan zaman ke zaman, dan tidak p
10

BAB II TINJAUN PUSTAKA Seperti disebutkan di awal Bab Pendahuluan, manusia adalah tokoh kunci dalam kehidupan. Ia bertanggung jawab akan baik-buruknya kehidupan di dunia ini, dan hal itu merupakan perwujudan pengabdiannya kepada Tuhan. Maka dalam tinjauan pustaka ini berturut-turut disajikan, konsepsi Manusia dan Kehidupan, Pendidikan, dan Pesantren (sebagai objek studi). 1. Manusia dan Kehidupan Pertanyaan “(Si) Apakah manusia itu”, telah menjadi tema sentral dan zaman ke zaman, dan tidak p

More info:

Published by: nananurjanah on Jun 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

04/15/2013

pdf

text

original

 
 10
BAB IITINJAUN PUSTAKA
Seperti disebutkan di awal Bab Pendahuluan, manusia adalah tokoh kunci dalam kehidupan. Iabertanggung jawab akan baik-buruknya kehidupan di dunia ini, dan hal itu merupakan perwujudanpengabdiannya kepada Tuhan. Maka dalam tinjauan pustaka ini berturut-turut disajikan, konsepsiManusia dan Kehidupan, Pendidikan, dan Pesantren (sebagai objek studi).
1.
 
Manusia dan Kehidupan
Pertanyaan “(Si) Apakah manusia itu”, telah menjadi tema sentral dan zaman ke zaman, dan tidakpernah dapat dijawab secara final. Kalau memang pertanyaan ini tidak pernah dapat dijawab secaratuntas, mengapa manusia tidak berhenti bertanya dan kemudian menyerahkan did kepada nasibsaja? Inilah suatu pertanda bahwa manusia itu penuh rahasia dan sesungguhnya mampumenciptakan dunia kehidupannya sendiri. Ada suatu pengibaratan terkenal yang mengatakan bahwa“keledai tidak mau tersandung dua kali pada batu yang sama, tetapi manusia sering man tersandungberulang kali pada batu yang sama tersebut.”
1
Apakah dengan demikian hal mi berarti manusia lebihbodoh daripada keledai? Tidak, justru sebaliknya, hal tersebut menunjukkan bahwa manusia lebihpandai daripada keledai.Hewan hidup sebatas pada insting atau naluri menyesuaikan din dengan lingkungan fisik yangmengitarinya, ia tidak mampu mengubah atau mengolah lingkungannya, tetapi Ia mampu dengansempurna menyesuaikan diri dengan lingkungan alamnya. Karena inilah maka Jacques Maritainmengatakan bahwa binatang adalah makhluk spesialis yang paling sempurna.
2
Daun kehidupanbinatang mantap, masa hidupnya kronologis dan hanya berorientasi kekinian. Ia tidak mampumengingat masa lalunya dan membayangkan masa depannya, karena itu ia disebut bukan makhluksejarah. Bagi hewan sejarah tidak berperan sama sekali, meskipun ia mampu meninggalkanpengalaman negatif dan mengulang pengalaman positif, akan tetapi kemampuannya itu tidakberperan untuk menjadikannya memiliki wawasan kesejarahan, karena hewan tidak mampu belajardan pengalaman.Sebaliknya, manusia hidup tidak sebatas insting atau nalurinya saja. Dengan akal, perasaan,kemauan, dan kemampuan-kemampuannya yang lain ia mampu mengubah dan mengolah lingkunganyang mengitarinya dan menciptakan kehidupan untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai cita-citanya. Jika ïa mau berulang kali tersandung pada batu yang sama, hal itu disebabkania ingin mengetahui dan meneliti mengapa ia sampai tersandung, dan kemudian memperbaiki danmengembangkan kehidupannya. Dalam konteks inilah dikatakan bahwa orientasi manusiamenjangkau tiga dimensi waktu: lampau, kini, dan mendatang, sehingga ia memiliki predikat sebagaimakhluk sejarah. Salah satu sifat kodrati manusia adalah selalu ingin menciptakan duniakehidupannya sendiri dan mengatasi dunia realitasnya. Sebagaimana dikatakan oleh A. Vloemans,salah satu sifat kodrati manusia adalah selalu berusaha melampaui din sendiri secara terus-menerus.
3
 Dengan kata lain, manusia di samping sebagai makhluk sejarah, ia juga dikuasai oleh sejarah. Olehkarena itu, ia tidak hanya berada dalam dunianya tetapi ia hidup bersama dan berdialog dengan
1
Fuad Hassan, “Respondeo Ergosum-Persepsi Filsafat tentang Manusia”, dalam
Islam dan PendidikanNasional,
Lembaga Penelitian IAIN Jakarta, 1983, hlm. 30-34.
 
2
Jacques Maritain,
Education at the Crossroads,
New Haven and London Yale University Press, 25 theprinting, 1975 hlm. 19.
3
Fuad Hassan,
Loc. Cit.
 
 
 11kehidupan.
4
Menurut Imam al-Ghazali, salah satu sifat kodrati manusia ialah: tidak pernah berhentibertanya dalam mencari kebenaran.
5
Manusia selalu ingin mengetahui rahasia alam. Makin jauhrahasia alam yang dapat diselidiki, makin banyak daerah misteri yang tidak diketahui, dan makintinggi kekagumannya kepada Penciptanya, sebagaimana dikatakan oleh Joachim Wach dalambukunya
Sociology of Religion
:
Mysterium, tre-mendum et fascinosum
.
6
Sadar akan kodratnya yangtidak mau berhenti mencari kebenaran, sedang selalu ada tabir rahasia yang tidak terungkap, makamanusia dalam mengembangkan kehidupannya selalu berada dalam dan modalitas: kebebasan untukmandiri dan ketergantungan dengan alam dan masyarakatnya; maka terjadilah pertentangan yangterus-menerus antara individu dan masyarakat.Tetapi bagaimanapun individu path akhirnya barns dapat menemukan identitas kepribadiannyasendiri, yang berbeda dengan orang lain. Ia harus menyadari dan mengetahui akan tugas dantanggung jawabnya dalam kehidupan, dan maksud Tuhan menciptakan makhluk atau semua yang adaini.Dalam konsep Islam, manusia terdiri atas 3 unsur: tubuh, hayat, dan jiwa.
7
Tubuh bersifat materi,tidak kekal dan dapat hancur. Hayat artinya hidup, dan jika tubuh mad, kehidupan berakhir. Tetapitidak demikian halnya dengan jiwa. Jiwa adalah kekal. Pada binatang dan tumbuh-tumbuhanmenurut para filsuf Islam juga ada jiwa, tetapi eksistensi jiwa di sini terikat dengan tubuh yangbersifat materi. Oleh karena itu, jika makhluk yang bersangkutan mati, jiwa pun ikut serta hancur.
8
 Sebaliknya eksistensi jiwa pada manusia tidak terikat path materi, karena itu ia tidak ikut matibersama-sama dengan tubuh. Dalam Islam, istilah mad, berbeda dengan konsep mati dan pahammaterialisme atau paham kebendaan lain. Dalam paham tersebut mati berarti hilangnya eksistensimanusia secara total, sedang dalam Islam mati berarti tubuh manusia akan hancur, tetapi jiwanyaakan tetap mempunyai wujud yang abadi.Dalam Islam, orang dapat dikatakan mati, meskipun tubuhnya masih hidup, masih bergerak danberhubungan dengan orang lain sebagaimana layaknya orang yang masih hidup, manakala dalamhidupnya itu ia tidak mau beribadah atau sujud kepada Tuhan, menolak semua perintah-Nya, danmelanggar semua larangan-Nya. Sebaliknya, orang tetap dikatakan hidup sekalipun tubuhnya mati,manakala sewaktu hidupnya ia selalu taat menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi semualarangan-Nya, misalnya para Syuhada, yaitu mereka yang berjuang di jalan Allah sewaktu hidup didunia, dan sebagainya.
9
 Inilah sebabnya, maka pendidikan Islam berorientasi kepada duniawi dan ukhrawi, tetapi dalampraktiknya banyak lembaga-lembaga pendidikan Islam yang cenderung lebih mementingkanpendidikan yang berorientasi keakhiratan daripada keduniawian, karena kehidupan ukhrawidipandang sebagai kehidupan yang sesungguhnya dan terakhir, sedang kehidupan duniawi dipandangsebagai sementara dan bukan terakhir.Berbeda dengan konsep
tabularansa
dari John Locke (1632-1704) yang memandang jiwa manusiadilahirkan sebagaimana kertas putih bersih yang kemudian sepenuhnya tergantung pada tulisan yang
4
Paulo Freire,
Cultural Action For Freedom,
Penguin Education, USA, 1971, hlm. 76-77.
5
Lihat buku mengenai Imm al-Ghazali, antara lain:
Minhajul Abidin
(Darul Ulum Press Jakarta,1986),
Bimbingan Mu’minin dalam mencari ridha rabbil alamin.
Pustaka Nasional, Singapura, 1976, dan
O Anak 
(TintaMas, Jakarta, 1983).
6
Joachim Wach,
Sociology of Religion
, The University of Chicago Press, USA, 1971, hlm. 14.
7
Harun Nasution, “Manusia Menurut Konsep Islam”, dalam
Islam dan Pendidikan Nasional,
LembagaPenelitian IAIN Jakarta, 1983, hlm. 59-79.
 
8
Jiwa yang dimaksud oleh filsuf Islam di sini adalah hayat.
9
Moh. Quraish Shihab,
Konsep al Qur’an tentang Hidup Manusia
, disampaikan dalam saresehan ilmiahyang diadakan oleh Yayasan Pondok Pesantren Al Kamal, Jakarta, 1987.
 
 12mengisinya ke mana jiwa itu akan dibentuk dan dikembangkan, atau dengan kata lain, kepribadianmacam apa yang ingin dikembangkan oleh pendidik dan masyarkat. Dalam filsafat agama Islam,manusia adalah zat
theomorfis
dalam persaingannya, artinya merupakan kombinasi dari dua hal yangsaling berlawanan. Ia berorientasi untuk menjadi pribadi yang bergerak di antara dua titik ekstrem
 Allah – Syaithan
”.
Tuhan menciptakan potensi atau daya-daya dalam diri manusia, perkembanganselanjutnya terserah pada manusia sendiri. Manusia mempunyai kehendak bebas, ia berpelunaguntuk menjadi orang jahat bagaikan setan, dan ia juga berpeluang untuk menjadi orang saleh yangtaat dekat kepada Tuhan, sebagaimana disebutkan dalam al –Qur’an, surah al-An’am: 164, yangterjemahnya:“....Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinyasendiri, dan seseorang yang berbuat dosa tidak akan memikul dosa orang lain, kemudian kepadaTuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukan-Nya kepadamu apa yang kamuperselisihkan.”Sebagai zat
theomorfis
, manusia mampu menyadari bahwa alam semesta adalah suatu kesatuanyang utuh, semua fenomena alam semesta bersifat
kausal 
, utuh dan
kontinum
, di mana setiapsesuatu mempunyai posisi dan peran masing-masing secara otonom, tetapi ia menjadi bermaknahanya karena kaitannya dengan keseluruhan, inilah sebabnya maka agar dapat diperoleh kebenaranyang utuh kita tidak boleh melihat sesuatu secara sepotong-sepotong, terlepas dari ikatannya dengankeseluruhan. Bagi orang yang benar-benar pasrah kepad Tuhan, ia mampu menerima setiap peristiwabetapa tragis dan menyakitkan sebagia suatu hal yang tidak final, karen hal itu merupakan bagian darikeseluruhan, yang pada akhirnya kembali kepada Penciptanya, dan oleh karena itu diyakini akanberakhir pada tujuan yang baik, yang pada saat itu belum diketahui tetapi telah diyakinikebenarannya.
 Itulah sebabnya mengapa salah satu prinsip dari sistem pendidikan Islam adalah menggunakanmetode pendekatan yang menyeluruh terhadap manusia meliputi dimensi jasmani dan rohani, dansesuai dengan fitrahnya meliputi semua aspek kemanusiaan dan kehidupan, baik yang dapatdijangkau oleh akal maupun yang hanya dapat diimani melalui kalbu. Semuanya dikembangkansecara menyeluruh dan seimbang; bukan hanya akalnya, tetapi juga kalbunya; bukan hanyalahiriahnya, tetapi juga batiniahnya.
 
2. Sistem Pendidikan2.1. Aliran-aliran Pendidikan
Dalam literatur ilmu pendidikan umum terdapat tiga aliran pendidikan: Empirisme, Nativisme, danKonvergensi. Dalam kesempatan ini ditambahkan uraian mengenai Pendidikan Islam, sebagai alirankeempat.
a. Empirisme
 
Aliran ini dipelopori oleh John Locke ( 1632 – 1704), dan terkenal dengan teori
tabularasa
. Aliran iniberpendapat bahwa anak dilahirkan dalam keadaan putih bersih, bagaikan kertas kosong, dan
10
Ali Syari’ati,
Tentang Sosiologi Islam
, terjemahan Drs. Syaefullah Maryudin MA, Ananda, Yogyakarta,1982, hlm. 125.
11
Ismail R. Faruki,
Islamisasi Ilmu Pengetahuan
, Terjemahan Anas Mahyuddin, Pustaka Bandung, 1984, hlm.56-64.
12
Muhamad Qutub,
Sistem Pendidikan Islam
, Terjemahan Drs. Salman Harun, Al Ma’arif-Bandung, 1984,hlm. 27-28.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->