Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hilanglah Sudah Jati (Diri) P. Muna

Hilanglah Sudah Jati (Diri) P. Muna

Ratings: (0)|Views: 37 |Likes:
Published by kigunungmenyan

More info:

Published by: kigunungmenyan on Jun 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/20/2012

pdf

text

original

 
1
Hilanglah Sudah Jati Diri Pulau Muna Kompas,6sept2002 
 
DALAM tahun 2001, seorang wartawan diKendari menerima telepon dari Raha, ibu kotaKabupaten Muna. Sang penelepon memintawartawan tersebut melaporkan kepada KepalaKejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara (Sultra)tentang adanya pengapalan ribuan meter kubikkayu jati di Pelabuhan Raha atau di suatutempat di Pulau Muna, dengan maksud agarpejabat itu menggagalkan pemuatan kayu ilegaltersebut. Sebab, aparat penegak hukum didaerah itu dianggap sudah terkontaminasidengan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme(KKN) yang sudah sangat kronis dalampengelolaan kayu jati Muna. Akan tetapi, JaksaTinggi Sultra saat itu tak berada di tempat.Maka, pengiriman kayu jati hasil tebangan liartadi ke Surabaya berjalan mulus. Tindakankriminal itu terus berulang. Dan, penadah kayu jati curian bukan hanya pengusaha asalSurabaya melainkan juga dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.Boleh jadi tindakan penjarahan kayu jati di Munaterjadi sepanjang masa, sejak munculnya komoditaskayu mewah (
fancy wood 
) itu di pulau tersebut ratusantahun lalu. Besar kecilnya skala penjarahantergantung kesempatan dan permintaan pasar. Dalambeberapa dekade terakhir, penjarahan terbesar terjadipada tahun 1970-an dan awal tahun 2000-an ini.Penjarahan yang terjadi pada awal tahun 2000-an ini jauh lebih brutal. Jika pada tahun 1970-an para pelakumasih berlindung dengan izin tebang yang dikeluarkanPemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra, makapenjarahan belakangan ini bersifat membabi buta,meskipun masih tetap dengan cara sembunyi-sembunyi. Sasarannya bukan hanya kayu jati alam,tetapi kayu jati tanaman pun dijarah habis-habisan.Tidak heran jika daratan Pulau Muna, yang umumnyaberbatu-batu bertambah gersang di musim kemarausaat ini. Sebab, hutan jati yang pernah menutupsebagian pulau itu, kini tak ada lagi. Hutan jati alamdan hutan jati tanaman, semuanya tinggal kenangan.Amat sangat disayangkan karena keadaan itutampaknya tidak menimbulkan keprihatinan hampirsemua pihak yang terkait dengan keberadaan hutan jati di Muna, baik pemerintah provinsi, kabupaten,maupun rakyat Muna sendiri. Buktinya, kegiatan penjarahan masih terjadi dan akan terusKompas/Yamin Indas
 
2
berlangsung sampai pada tahap perebutan sisa-sisa ranting dan akar jati oleh semua pihakterkait tadi.Di tengah maraknya penjarahan kayu jati, pemerintah provinsi dan kabupaten saling mengklaimmenyangkut kewenangan pengelolaan negeri kayu jati Muna. Pemerintah Kabupaten (Pemkab)Muna yang dipimpin Bupati Ridwan mengklaim bahwa pengelolaan kayu jati itu mestinyaditangani kabupaten. Sementara Pemprov Sultra tetap tidak mau melepaskan kayu jati sebagaisumber penerimaan provinsi. Perlawanan kepada pemerintah provinsi tersebut tentu saja dipicusemangat otonomi daerah.
***
KAYU jati bagi masyarakat Muna merupakan kebanggaan. Bahkan, kayu jati merupakan jati diriKabupaten Muna. Potensi hutan jati menjadi kewenangan pangkal pemekaran KawedanaanMuna menjadi kabupaten daerah tingkat IIpada tahun 1960. Dalam rangka pembentukan ProvinsiSultra tahun 1964, potensi hutan jati di Muna juga dijadikan salah satu sumber perekonomianyang diandalkan.Di zaman itu pasaran kayu jati belum meluas, hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhanmasyarakat golongan atas, baik di dalam maupun luar negeri. Masyarakat juga belummaterialistik. Bagi masyarakat Muna, kayu jati paling digunakan untuk kebutuhan penting sepertibahan bangunan rumah, perabot rumah tangga, perahu, pagar halaman dan kebun, dan lain-lain.Kayu jati belum dipandang sebagai barang komersial yang dapat mendatangkan kekayaan.Oleh karena itu, hutan jati belum terusik. Seperti dituturkan Kepala Dinas Kehutanan Muna LaOde Aty Arif Malefu, pada tahun 1968 potensi hutan jati di Pulau Muna masih tercatat sekitar45.000 hektar. Hamparan ini kemudian makin menyusut setelah dilakukan penebangan besar-besaran selama dekade tahun 1970-an.Pada tahun 1972, misalnya, Dinas Kehutanan Sultra mengeluarkan izin tebang dengan kuota190.000 m3 kayu bulat. Namun, pelaksanaan izin tersebut tidak diawasi sebagaimana mestinyasehingga terjadi penyimpangan. Produksi kayu bulat sampai dengan tahun 1978 mencapai304.500 m3. Jadi, terdapat kelebihan sebanyak 214.500 m3 yang dikategorikan sebagai hasiltebangan liar.Akibat penjarahan berlebihan itu, maka pengolahan kayu jati kemudian dilarang Pemprov Sultra.Semua izin tebang dicabut. Larangan penebangan kayu jati dituangkan dalam Surat Keputusan(SK) Gubernur Sultra Nomor 569 Tahun 1978. SK tersebut sampai sekarang belum dicabut.Artinya, larangan menebang dan mengangkut kayu jati di Muna itu masih tetap berlaku.Akan tetapi, larangan tinggal larangan. Kegiatan penebangan liar dan pengangkutan kayu jatiilegal masih terus berlangsung sampai saat ini. Pemprov Sultra sebagai pengelola hutan jati diMuna tidak pernah mampu menghentikan kegiatan penebangan liar. Karena itu, areal hutantersebut terus menyempit. Pada tahun 1980-an, areal itu tinggal sekitar 28.000 hektar, yangterdiri dari 22.000 hektar hutan jati alam dan 6.000 hektar jati tanaman (jati kultur). Areal jatikultur tersebut ditanam sejak tahun 1911 hingga tahun 1970.Dalam tahun 1980-an, Pemprov Sultra membentuk perusahaan daerah yang disebut badanotorita dan kemudian berganti baju dengan nama PD Perhutanda. BUMD (Badan Usaha MilikDaerah) tersebut bertugas mengelola kayu jati Muna dan masih beroperasi sampai sekarang.
***
 
3
SESUNGGUHNYA, pembentukan BUMD tersebut sangat kontroversial. Sebab, kehadiranperusahaan itu justru memprovokasi kegiatan penebangan liar. Secara resmi Pemprov Sultramemang tidak mengeluarkan izin tebang karena SK No 569/1978 masih berlaku. Tetapi, melaluiPerhutanda, pemprov berperan sebagai "penadah" kayu jati hasil tebangan liar (jarahan).Caranya pemprov membentuk tim-tim penertiban. Pembentukan tim dilakukan hampir setiaptahun.Tim tersebut mengumpulkan kayu hasil jarahan lalu diserahkan kepada Perhutanda untukdipasarkan. Rebahan kayu jati yang dikumpulkan itu diberi status kayu sitaan dan kayu temuan.Bila petugas (tim) berhasil memergoki pelaku penebang liar, maka pelaku itu diproses hukum dankayunya disita sebagai barang bukti. Sedangkan kayu temuan adalah rebahan jati yang ditinggallari oleh penebangnya dan tidak akan pernah dapat disentuh petugas.Dalam kenyataannya, Pemprov Sultra lebih banyak mendapatkan kayu temuan. Kayu inidiangkut ke berbagai TPK (tempat penimbunan kayu) dan selanjutnya diserahkan kepadaPerhutanda untuk dijual. Kayu temuan tersebut baik yang masih rebah di hutan maupun yangsudah diangkut ke TPK tidak diawasi sebagaimana mestinya, sehingga penebangnya atau pihaklain mendapat peluang untuk mencurinya.Begitulah, para penebang liar/pencuri kayu dan petugas saling berpacu dengan waktu untukmerebut dan menguasai kayu jati Muna. Para penjarah "bertugas" menebang, lantas disusuldengan kegiatan pengumpulan dan pengangkutan oleh petugas kehutanan. Tidak jarang parapenjarah dan oknum petugas bekerja sama. Untuk itu, pengawasan dikendorkan agar penjarahmemiliki peluang untuk menebang dan mengangkut kayu sampai ke tangan penadah.Lebih celaka lagi, PD Perhutanda juga sering ikut terlibat penjarahan kayu. BUMD tersebutmenyediakan modal penebangan kepada para penjarah. Bila para penebang liar ini tertangkapoleh petugas, maka mereka menyebut Perhutanda sebagai dalang. Pengakuan tersebut tentusaja dibantah dengan sengit oleh pejabat Perhutanda.Maka, banyak pihak menyebutkan bahwa keberadaan Perhutanda sebetulnya merupakan buktiterjadinya mismanajemen kayu jati Muna. BUMD itu tidak lebih dari alat pemerintah provinsiuntuk menjarah kayu jati, baik secara legal maupun ilegal.Hasil penjualan kayu jati jarahan itu juga tidak memberikan kontribusi yang signifikan kepadaPAD (pendapatan asli daerah). Sebab, sebagian dana kayu jati tersebut dikuras untuk honor parapejabat yang menjadi anggota dewan komisaris, pengurus Perhutanda sendiri, dan biayaoperasional perusahaan.Dengan demikian, kehadiran Perhutanda sudah sangat jelas tidak bermanfaat. Selainmemprovokasi penjarahan kayu jati-kemudian menjadi penadah hasil penjarahan tersebut-BUMDtersebut juga menjadi pintu bocornya dana yang bersumber dari hasil penjualan kayu jati. Karenaitu, demi efisiensi Perhutanda harus dibekukan, dan perannya diambil kembali Dinas KehutananProvinsi Sultra.
***
HUTAN jati di Muna adalah masa lalu. Kayu jati sebagai jati diri kabupaten itu, kini hilanglahsudah. Seperti dituturkan Bupati Ridwan, tegakan pohon jati di pulau itu saat ini tinggal kuranglebih 2.000 hektar. Perkiraan tersebut sudah mencakup tegakan pohon jati alam dan jati kultur.Luar biasa memprihatinkan! Dari 45.000 hektar pada tahun 1968 menjadi 2.000 hektar tahun2002! Bencana apa gerangan yang telah melanda negeri ini? Anehnya, para pejabat terkait dan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->