2
Seluruh tahap tersebut hingga kemerdekaan tercapai bahkan sampai pecahrevolusi untuk mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, adalahsebuah simponi yang melibatkan seluruh anak bangsa dari berbagai entnisitas, keturunan,agama, dan kepercayaan. Semua anak bangsa berpikir dan berbuat inklusif. Dalamperjalanan bangsa pasca revolusi, terasa berat memelihara momentum tersebut di atas,terlebih setelah kita memasuki erareformasi dimana sementara kalangan memahamainyasebagai kebolehan untuk berbuat apa saja. Maka tendensi ke arah eklusifisme menjadi- jadi, bahkan eksistensi Negara Kesatuan di Tawar-tawar. Ujung-ujungnya jika hal inidiperturutkan, bahkan di diamkan, akan mendorong kita pada jaman yang gelap.Tragedi Mei 1998 merupakan mimpi buruk bagi semua orang yang berpikir jernih danmempunyai kesadaran sejarah.Sejarah perjalanan bangsa mengajarkan kepada kita semua bahwa semua anakbangsa dan bernegara menyadarkan kita semua akan pentingnya pembauran danpersatuan bangsa demi Indonesia Raya.
1.2. Kerangka Berpikir
Proses pembauran akan sia-sia jika persepsi dan pemahaman tidak disertai peningkatankesadaran masyarakat untuk saling bertoleransi terhadap adat istiadat, agama dan budaya.Peran
stakeholder
kunci yang selama ini hanya bersifat insedentil atau saat terjadi gejolak menyebabkan pencegahan dan proses penyelesaian konflik belum berhasil secara optimal.Proses pembauran secara alami telah berlangsung pada level masyarakat tetapi kebijakanpemerintah yang semestinya dapat mengatur dan mendorong pembauran justru menyebabkanterjadinya kegagalan dalam proses tersebut (Goverment Failur). Kegagalan ini lebih disebabkanpada implementasi undang-undang dan peraturan, adanya perbedaan pandangan, adaperbedaan kepentingan antar stakeholder, dan terjadinya gap yang tajam antara keinginanpemerintah dengan masyarakat. Penguatan masyarakat merupakan bagian penting dalam upayaproses pembauran secara alami dan berkelanjutan. Masyarakat yang telah memiliki kesadarandapat menjadi katalisator dalam upaya pembauran. Selain itu masyarakat akan bersikap kritisterhadap kebijakan atau tindakan diskriminatif pemerintah atau pihak-pihak lain yang dapatmengancam harmonisasi hubungaan antar etnis, budaya dan agama. Dengan demikianpartisipasi masyarakat adalah salah satu faktor kunci dari upaya proses pembauran.Sebagai salah satu bentuk perbedaan persepsi dan ketimpangan pemahaman antarastakeholder, maka akan menghasil kondisi yang tidak sesuai dengan tujuan pembauran. Dalamupaya mencapai tujuan tersebut, maka sebagai bentuk evaluasi dan kontrol terhadap disainkebijakan yang akan dibuat, maka diperlukannya penilaian dan evaluasi terhadap kondisi kekinian.Peranan pemerintah, ormas, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan perguruan tinggi dapatmengupayakan dan memberikan dukungan sinergi sebagai upaya-upaya tersebut.Jika sebelumnya penyelesaikan konflik lebih banyak dilakukan secara sepihak, makadimasa yang akan datang upaya-upaya tersebut harus dilakukan dengan cara melibatkan semuastakholder melalui pendekatan Sistem. Sistem apakah yang cocok untuk mengupayakan prosespembauran dapat berlangsung secara alami? Bagaimana merumuskan dan mendisain kebijakanagar proses pembauran bangsa dapat berlangsung secara berkelanjutan?Berdasarkan kondisi saat ini serta adanya perbedaan kepentingan dari
stakeholder
dalamproses pembauran, maka permasalahan yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut:
1.
Siapa saja yang menjadi stakeholder dalam upaya pembauran bangsa? (identifikasi)
2.
Bagaimana persepsi, pemahaman dan keinginan stakeholder terhadap fungsi masing-masingstakeholder? (kepentingan)
3.
Apa saja kebijakan pemerintah yang ada terhadap upaya-upaya pembauran selama ini?
Add a Comment