/  8
 
 1
PERAN BAKOM PKB DALAM PENYELESAIAN KONFLIK DANPEMBAURAN BANGSA 
1
 
Oleh:
Ir. Usman Yasin, M.Si
2
 A. Pendahuluan1.1.
 
Latar Belakang
Pelaut Arab sudah menyingGahi pesisir Jakarta pada Abad ke-2 M (Ptelomeus,Geographia, 162 M), pedagang tiongkok sudah berniaga ke salangka nagara/Holotansejak 132 M. Dus, pergaulan antar bangsa-bangsa, yang sangat mungkin diiringi denganpembauran dalam makna fisik, sudah puluhan abad berlangsung di Nusantra. Sementaramandala tanah air beroleh nama Hindia Belanda pada Abad 17, sedangkan kataIndonesia diperkenalkan oleh antropolog Jerman pada pertengahan abad 19. Bangsatidak dibentuk satu kali untuk selamanya, kebangsaan itu berproses.Kedatangan bangsa-bangsa Tiongkok, India, Asia Tenggara, Arab ke Nusantarabukan di dorong kepentingan berniaga semata-mata, tetapi langsung atau tidak langsungagama dan kebudayaan yang dianutnya terbawa pula. Diantara bangsa-bangsa yangdatang itu, Tiongkok yang menarik karena keterlibatan mereka bukan pada penyebaranagama budha saja tetapi juga Islam. Jumpa agama dan budaya, dalam banyak kasus,sering diikuti dengan perkawinan silang. Lantas kapan ke-Indonesiaan sebagai bangsaitu tercipta? Mungkin penggunaan parameter politik lebih mudah untuk melakukanpelacakan walau parameter kebudayaan jauh lebih awal daripada itu. KedatanganBangsa Belanda yang dilanjutkan dengan kolonialisme 1619 memformula kebangsaandalam format Jawa tatkala Mataram melancarkan seri kampanye meliter, yang gagalpada tahun 1628 dan 1629. Kemudian kita mengenal format-format lokal/regionaltentang kebangsaan ketika secara sporadis kerajaan-kerajaan di Nusantara melakukanperlawanan terhadap kolonialisme. Ke-Indonesiaan yang dipaksakan Gubernur Generalvan Heutz ketika pada tahun 1904 ia mengeluarkan korte verklaaring kepada penguasa-penguasa lokal di Nusantara.
Taatlah kepada kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda atau kau kutembak.
Sejak itu (hampir) seluruh mandala Nusantara tertakluk dibawah keuasaantunggal Ratu Belanda. Per definisi teretorial, mungkin ini awal ke Indonesiaan. Tetapikebangsaan itu bukan soal teritorial saja. Kebangsaan adalah soal wawasan, kebangsaanadalah soal cita-cita, kebangsaan adalah soal kebersamaan, kebangsaan adalah soalmewujudkan impian yang sama menjadi kenyataan, Dalam alam realitia dua orangdapat saja tidur pada bantal yang sama tetapi mempunyai impian yang berbeda.Sumpah pemuda yang dicetuskan 28 Oktober 1928 adalah tahap penting yangdicapai oleh bangsa Indonesia untuk membangun kesamaan wawasan. LahirnyaPancasila 1 Juni 1945 adalah tahap berikut yang berhasil dicapai bangsa Indonesia dalamupaya membangun landasan kebersamaan. Tetapi acapkali ikatan kebersamaan ituterlalu ketat dan tidak pas, malah terbit keinginan sementara kalangan untuk untukmelonggarkannya untuk hingga melepaskannya samasekali.
1
Makalah disampaikan pada diskusi Forum Pemantapan Wawasan Kebangsaan Dalam Kota Bengkulu
2
Ketua Umum Bakom PKB Provinsi Bengkulu, Dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu; Sedang menempuhpendidikan Program Doktor (S3) di IPB Bogor pada Bidang Permasalahan Lingkungan, Sosial, Ekonomi danKebijakan
 
 2
Seluruh tahap tersebut hingga kemerdekaan tercapai bahkan sampai pecahrevolusi untuk mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, adalahsebuah simponi yang melibatkan seluruh anak bangsa dari berbagai entnisitas, keturunan,agama, dan kepercayaan. Semua anak bangsa berpikir dan berbuat inklusif. Dalamperjalanan bangsa pasca revolusi, terasa berat memelihara momentum tersebut di atas,terlebih setelah kita memasuki erareformasi dimana sementara kalangan memahamainyasebagai kebolehan untuk berbuat apa saja. Maka tendensi ke arah eklusifisme menjadi- jadi, bahkan eksistensi Negara Kesatuan di Tawar-tawar. Ujung-ujungnya jika hal inidiperturutkan, bahkan di diamkan, akan mendorong kita pada jaman yang gelap.Tragedi Mei 1998 merupakan mimpi buruk bagi semua orang yang berpikir jernih danmempunyai kesadaran sejarah.Sejarah perjalanan bangsa mengajarkan kepada kita semua bahwa semua anakbangsa dan bernegara menyadarkan kita semua akan pentingnya pembauran danpersatuan bangsa demi Indonesia Raya.
1.2. Kerangka Berpikir
Proses pembauran akan sia-sia jika persepsi dan pemahaman tidak disertai peningkatankesadaran masyarakat untuk saling bertoleransi terhadap adat istiadat, agama dan budaya.Peran
stakeholder 
kunci yang selama ini hanya bersifat insedentil atau saat terjadi gejolak menyebabkan pencegahan dan proses penyelesaian konflik belum berhasil secara optimal.Proses pembauran secara alami telah berlangsung pada level masyarakat tetapi kebijakanpemerintah yang semestinya dapat mengatur dan mendorong pembauran justru menyebabkanterjadinya kegagalan dalam proses tersebut (Goverment Failur). Kegagalan ini lebih disebabkanpada implementasi undang-undang dan peraturan, adanya perbedaan pandangan, adaperbedaan kepentingan antar stakeholder, dan terjadinya gap yang tajam antara keinginanpemerintah dengan masyarakat. Penguatan masyarakat merupakan bagian penting dalam upayaproses pembauran secara alami dan berkelanjutan. Masyarakat yang telah memiliki kesadarandapat menjadi katalisator dalam upaya pembauran. Selain itu masyarakat akan bersikap kritisterhadap kebijakan atau tindakan diskriminatif pemerintah atau pihak-pihak lain yang dapatmengancam harmonisasi hubungaan antar etnis, budaya dan agama. Dengan demikianpartisipasi masyarakat adalah salah satu faktor kunci dari upaya proses pembauran.Sebagai salah satu bentuk perbedaan persepsi dan ketimpangan pemahaman antarastakeholder, maka akan menghasil kondisi yang tidak sesuai dengan tujuan pembauran. Dalamupaya mencapai tujuan tersebut, maka sebagai bentuk evaluasi dan kontrol terhadap disainkebijakan yang akan dibuat, maka diperlukannya penilaian dan evaluasi terhadap kondisi kekinian.Peranan pemerintah, ormas, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan perguruan tinggi dapatmengupayakan dan memberikan dukungan sinergi sebagai upaya-upaya tersebut.Jika sebelumnya penyelesaikan konflik lebih banyak dilakukan secara sepihak, makadimasa yang akan datang upaya-upaya tersebut harus dilakukan dengan cara melibatkan semuastakholder melalui pendekatan Sistem. Sistem apakah yang cocok untuk mengupayakan prosespembauran dapat berlangsung secara alami? Bagaimana merumuskan dan mendisain kebijakanagar proses pembauran bangsa dapat berlangsung secara berkelanjutan?Berdasarkan kondisi saat ini serta adanya perbedaan kepentingan dari
stakeholder 
dalamproses pembauran, maka permasalahan yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut:
1.
 
Siapa saja yang menjadi stakeholder dalam upaya pembauran bangsa? (identifikasi)
2.
 
Bagaimana persepsi, pemahaman dan keinginan stakeholder terhadap fungsi masing-masingstakeholder? (kepentingan)
3.
 
 Apa saja kebijakan pemerintah yang ada terhadap upaya-upaya pembauran selama ini?
 
 3
4.
 
Bagaimana kondisi eksisting pembauran saat ini? (Analisis situasi)
5.
 
Bagaimana menentukan prioritas alternatif kebijakan pada masa yang akan datang?
6.
 
Bagiamana skenario kebijakan pada masa yang akan datang?
1.3. Peran Bakom PKB
Untuk merumuskan disain kebijakan digunakan sebuah pendekatan sistem yangmelibatkan semua stakeholder dalam menentukan semua kriteria, atribut dan kondisi masa depanterhadap pembauran bangsa yang diinginkan. Secara rinci disajikan pada Gambar berikut ini.Gambar 1. Kerangka pemikiran peran Bakom PKBDisain kebijakan adalah sebuah proses sehingga untuk membuat kebijakan yang baik adalah di awali dengan menetukan stakeholder yang berpengaruh terhadap pembauran,kemudian dikaji persepsi semua stakholder. Persepsi dan pemahan stakeholder masa lalu telahmenghasil kondisi eksisting saat ini, kebijakan saat ini akan menghasil kondisi pada masa yangakan datang. Untuk melakukan suatu bentuk evaluasi dan sebagai upaya untuk menyusunkebijakan agar tujuan yang ingin dicapai terpenuhi maka perlu dilakukan penilaian terhadapkondisi saat ini. Kondisi eksisting dapat dinilai melalui persepsi masyarakat, aspek sosial budaya,
HARMONISASIHUBUNGAN ETNIK &
KONFLIK AGAMAKONFLIK BUDAYA KONFLIK ETNIS
KEBIJAKAN PEMBAURAN
PENEGAKAN HUKUMBKSDA, POLISI, JAKSA
 ADVOKASIPT, LSM, INDIVIDUAL
 U m p  a  b  a l  i  
PERANBADAN KOMUNIKASIPENGHAYAT KESATUANBANGSA
KEBIJAKANPEMERINTAHUU, PP, KEPMENPERDA DLL
Kelompok EtnisMASYARAKAT LOKALLembaga Adat,
EXISTING
ANALISIS PROSFEKTIFAHP
KERUSUHAN
TIDAK ADA HARMONISASI KERUSUHAN
PRESEPSISTAKE HOLDER
SKENARIORAKAYASA SISTEM

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...