3
Di dalam Pilkada, partai politik yang seharusnya berperan, acapkali dalammenetapkan pasangan calon kadang tidak berbanding lurus dengan kehendak parakonstituennya. Dalam beberapa kasus, yang dicalonkan oleh partai bukan saja tokohyang selama ini dekat partai, melainkan orang-orang yang membangun patronasedengan
imbalan materi
kepada pucuk-pucuk pimpinan partai. Di sini, mekanisme tidak jalan. Implikasinya, pasangan calon yang diajukan partai politik tidak selalu selarasdengan keinginan konstituen. Munculnya demonstrasi di sejumlah daerah yangmenolak pasangan calon dari partai tertentu merupakan refpleksi dari realitas ini.Adanya otoritas partai politik yang besar di dalam memutuskan pasangancalon sebagai salah satu potensi yang menyulut konflik, akan lebih tajam manakala didalam partai politik itu juga terdapat konflik internal berkepanjangan. Di dalammenghadapi masalah seperti ini yang menjadi rujukan adalah kepengurusan partaiyang sudah terdaftar di KPU Provinsi atau Kabupaten/Kota. Hanya saja, masalahnyakonflik internal partai di daerah acapkali berkaitan dengan konflik internal di DPP.Kadang, pengelola partai yang terlibat di dalam konflik itu, dalam banyakkasus, sama-sama memiliki relasi kuat dengan akar rumput. Di dalam kondisidemikian, masing-masing elite politik yang berkonflik berusaha
menggeret
massapendukungnya, sebagai upaya
show of forces
bahwa mereka memiliki pendukungyang kuat. Implikasinya, konflik menjadi lebih terbuka lalu lebih sulit dihindarkan,karena sama-sama
memperalat
massa akar rumput yang tidak kecil. Dalam hal inipara elit justru menjadi penstimulasi konflik.Di samping itu, kondisi masyarakat Indonesia, termasuk di daerah yangmajemuk, baik secara vertikal maupun horisontal. Sejarah mencatat bahwa konflik-konflik sosial dan politik yang pernah terjadi, tidak lepas dari kemajemukan seperti ini.Undang-undang nomor 22/ 2007 tentang penyelenggara pemilu telah berusahamereduksi semua kelemahan yang terdapat pada pelaksanaan pemilu, akan tetapipotensi konflik-konflik masih tetap muncul. Hal ni menggambarkan betapasesungguhnya peluang konflik masih saja akan terjadi, untuk itu independensi,kompetensi, integritas, dan profesionalisme penyelenggara pemilu menjadi kunciutama berhasilnya pelaksanaan pemilihan umum secara demokratis.
PEMBAHASAN
Berangkat dari realitas diatas paling tidak terdapat lima sumber potensial yangdapat memicu konflik di dalam Pilkada.
Pertama
adalah konflik yang bersumber darimobilisasi atas nama etnik, agama, daerah, dan darah.
Kedua
, konflik bersumber dari
black campaign
antar pasangan calon.
Ketiga
, konflik bersumber dari premanismepolitik dan pemaksaan kehendak.
Keempat
, konflik bersumber pada manipulasi dankecurangan penghitungan suara hasil Pilkada.
Terakhir
adalah konflik bersumber dariperbedaan penafsiran terhadap aturan main penyelenggaraan Pilkada.Secara politik, munculnya konflik memang wajar saja terjadi. Di setiap usahamemperebutkan dan mempertahankan kekuasaan tidak lepas dari konflik. Adanyapilkada secara langsung merupakan mekanisme untuk mengelola konflik agar tidakmenjurus kepada aksi kekerasan. Karena itu, masih menguatnya intensitas konflikyang disertai aksi kekerasan, memperlihatkan masih
belum kuatnya kelembagaan
didalam penyelenggaraan pemilu secara langsung. Terdapatnya konflik yang menjuruspada munculnya aksi kekerasan itu juga tidak lepas dari adanya budaya politikmasyarakat yang masih bernuansa konfliktual daripada integratif. Dalam situasiseperti ini, intensitas perilaku konflik itu cenderung meningkat bukan semata-matakarena aspek kelembagaan, melainkan karena pilihan-pilihan yang berbeda.Manakala pilihan itu didasarkan pada
kutub
‘kita’ dan ‘mereka’, dan disertai
ketidakpercayaan kepada lembaga-lembaga penengah, benturan-benturan antarakelompok tidak bisa lagi dielakkan. Hanya saja, arus massa yang mengarah pada aksikekerasan itu juga tidak lepas dari elite politik yang memiliki kepentingan langsung di
Add a Comment
Nouna Nabilleft a comment