/  14
 
RELUNG INOVASI DALAM MEMBANGUN BENGKULU
(MENUJU DAERAH YANG MEMILIKI DAYA TARIK INVESTASI) 
Oleh:
Ir. Usman Yassin, M.Si
Dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu
PENDAHULUAN
Sesuai dengan amanat UUD 1945, pemerintah daerah berwenang mengatur danmengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.Pemberian otonomi bertujuan mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakatmelalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat. Otonomidaerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsipdemokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan serta potensi dankeanekaragaman daerah dalam sistem NKRI.Prinsip otonomi seluas-luasnya adalah daerah diberikan kewenangan danmengatur urusan pemerintahan diluar urusan Pemerintah pusat yang diatur dalam UU.Seiring dengan itu penyelenggaraan otonomi daerah harus selalu berorientasi padapeningkatan kesejahteraan masyarakat dengan selalu memperhatikan kepentingan danaspirasi yang tumbuh dalam masyarakat (Bukan nafsu dan keingianan sang penguasasaja). Selain itu juga harus menjamin keserasian hubungan antara Daerah denganDaerah lainnya, artinya mampu membangun kerjasama antar Daerah untuk meningkatkan kesejahteraan bersama dan mencegah ketimpangan antar Daerah, agartidak terjadi
backwash effect 
. Ada dua tujuan utama yang ingin dicapai melalui kebijakan desentralisasi yaitutujuan politik dan tujuan administratif. Tujuan politik akan memposisikan Pemda sebagaimedium pendidikan politik bagi masyarakat di tingkat lokal dan secara agregat akanberkontribusi pada pendidikan politik secara nasional untuk mempercepat terwujudnya
civil society 
. Sedangkan tujuan administratif akan memposisikan Pemda sebagai unitpemerintahan di tingkat lokal yang berfungsi untuk menyediakan pelayanan masyarakatsecara efektif, efisien dan ekonomis. Agar Daerah dapat menentukan isi otonomi yang sesuai dengan kebutuhanwarganya, maka diperlukan adanya assessment atau penilaian atas isi otonomi Daerahuntuk melaksanakan pelayanan kebutuhan dasar (
basic services 
) dan kewenangan untuk pengembangan usaha ekonomi masyarakat. Dengan demikian Daerah akan terhindaruntuk melakukan urusan-urusan yang kurang relevan dengan kebutuhan warganya dantidak terperangkap untuk melakukan urusan-urusan atas pertimbangan pendapatansemata.
KONDISI UMUM PROVINSI BENGKULU
Provinsi Bengkulu terdiri atas 8 kabupaten dan 1 kota, setelah pemekaran terdiridari 93 kecamatan, 119 Kelurahan dan 1.120 desa, dengan luas wilayah 1.978.870 ha, jumlah penduduk akhir tahun 2005 sebanyak 1.598.177 jiwa, dengan tingkat kepadatansebesar 81 jiwa /km
2
.Dalam hal kependudukan dan kemiskinan, diperoleh gambaran bahwa rata-ratatingkat pertumbuhan penduduk tahun 2000-2005 adalah sebesar 0,46%/tahun dengansebaran penduduk tidak merata. Kepadatan penduduk tertinggi ada di Kota Bengkuluyang mencapai 1.905 jiwa/km2 dan terendah di Kabupaten Mukomuko, yaitu 32 jiwa/km2. Sedangkan, tingkat pengganguran cenderung tidak berkurang yang padatahun 2005 mencapai 6,15%. Begitu pula dengan tingkat kemiskinan yang meningkat
 
menjadi 24,72% pada tahun 2006 dibandingkan dengan tahun 2005 yang sebesar22,39%.Salah satu indikator yang menunjukan struktur perekonomian suatu daerah adalahProduk Domestik Regional Bruto (PDRB). Pemahaman terhadap karakteristik dan polapertumbuhan PDRB akan dapat menjelaskan stuktur perekonomian daerah. Dari hasilkajian oleh Bank Indonesia Bengkulu dan LP2EM FE UNIB diketahui bahwa untuk bidangekonomi, dalam kurun waktu 2000-2006 Provinsi Bengkulu masih bertumpu pada sektorpertanian yang berkontribusi rata-rata 39,7% terhadap total PDRB. Terbesar keduaadalah kontribusi oleh sektor sektor perdagangan-hotel dan restoran, yaitu 20,16%,sektor jasa-jasa 16,15%.Struktur perekonomian menunjukkan bahwa sektor pertanian masih mendominasiperekonomian Bengkulu dan sebagai
Leading 
 
Sector 
diantara sektor-sektor yang lainnya.Sejalan dengan perekonomian yang masih bertumpu pada sektor pertanian, penduduk yang bekerja pada umumnya juga terserap pada usaha pertanian. Hal ini terlihat dariproporsinya yang cukup sigfikan dari tahun ke tahun.Tahun 2000 penduduk yangbekerja di sektor pertanian sebesar 69,20% dan pada tahun 2001 sebesar 69,07% darihasil penduduk yang bekerja.Menurut perkiraan BPS Pusat, pada tahun 2006 luas area sawah di ProvinsiBengkulu hanya sekitar 108.864 hektar dengan produksi mencapai 408.887 ton. Luasarea tersebut hanya 0,92% dari luas area persawahan di Indonesia sedangkan dariangka produksi hanya merupakan 0,75% dari total produksi beras Indonesia yangmencapai 54.663.594 ton. Sehingga baik dilihat dari luasan sawah maupun produksibelum mendominasi angka secara nasional.Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa struktur ekonomi Provinsi Bengkulumasih bertopang pada sektor pertanian. Perbankan juga telah menjadikan sektor inisebagai sektor utama untuk dibiayai melalui penyaluran kredit. Meski menurut luasanlahan, perkebunan lebih mendominasi dibanding tanaman bahan makanan namunsecara PDRB justru sebaliknya. Hal ini dikarenakan, untuk Provinsi Bengkulu, nilaitambah yang diberikan hasil tanaman bahan makanan lebih banyak dibandingperkebunan.Terkait dengan hal tersebut, Pemerintah Daerah tetap perlu memberikan prioritaskepada sektor pertanian yang saat ini menjadi penggerak utama perekomian di ProvinsiBengkulu. Terhadap subsektor perkebunan, Pemerintah Daerah diharapkan mampumendorong terbentuknya industri pengolahan hasil perkebunan agar nilai tambah darikegiatan ini tidak berpindah ke daerah lain. Subsektor tanaman pangan jugamembutuhkan kebijakan yang mendukung peningkatan produktifitas seperti penyediaanbibit unggul, ketersediaan pupuk, irigasi, serta bimbingan dan teknologi pertanian yangtepat guna. Prioritas ini semakin perlu dengan melihat ironi saat ini dimanaperekonomian Provinsi Bengkulu yang didominasi oleh pertanian tanaman pangan,namun untuk memenuhi kebutuhan beras harus mendatangkan dari daerah lain.
 
Dari segi UMKM diperoleh gambaran bahwa UMKM dianggap menjadi salah satusektor yang memainkan peranan penting dalam pembangunan ekonomi daerah. Daridata statistik, terdapat 141.379 unit usaha di Provinsi Bengkulu, 123.862 unitdikategorikan mikro, 16.671 unit dikategorikan mikro, 632 unit dikategorikan menengahdan hanya 154 unit dikategorikan usaha besar, sisanya tidak teridentifikasi. Pada tahun2006 sektor UMKM berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 9.378 orang.Diketahui pula bahwa terjadi pergeseran pada struktur ekonomi UMKM, yaituterjadinya tendensi penurunan kontribusi sektor pertanian terhadap keseluruhan UMKM.Sedangkan sektor non-pertanian dan aneka usaha sebaliknya mengalami peningkatan.Walapun tendensi perubahan tersebut tergolong masih kecil, namun tetap perlumendapatkan perhatian dari pemerintah daerah karena hal tersebut tidak sesuai dengan
 
perencanaan jangka menengah (RPJMD) maupun yang berjangka panjang (RPJPD) yangmenjadikan sektor pertanian sebagai
leading sector 
.PDRB per kapita dapat digunakan sebagai indikator untuk menggambarkan tingkatkemakmuran penduduk suatu wilayah atau daerah. Pendapatan perkapita di Bengkuludibandingkan secara nasional masih tergolong rendah, hal ini juga dipengaruhipertumbuhan penduduk Bengkulu relatif lebih tinggi dibandingkan dengan rata-ratanasional. PDRB perkapita Propinsi Bengkulu tahun 2006 hanya sebesar Rp 7,27 juta/tahun, jauh dibandingkan PDB perkapita Indonesia sebesar Rp15,24 juta/tahun.Hal ini menggambarkan bahwa Provinsi Bengkulu masih termasuk daerah tertinggal ataudaerah miskin.Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa baik dari sisi kebijakan ekonomi,kebijakan ketenagakerjaan dan bidang UMKM persepsi masyarakat bermuara pada duamasalah utama yaitukemiskinan yang dan tingkat penggangguran. Berdasarkan kajianitu, maka kebijakan pembangunan ekonomi Provinsi Bengkulu ke depan disarankan agardiprioritaskan pada program-program dan kegiatan-kegiatan yang mengarah kepadapeningkatan pendapatan dan pengurangan pengangguran.
Peningkatan pendapatan
 masyarakat diprioritaskan pada komunitas masyarakat miskin dan pengangguran.Salah satu kebijakan jangka pendek yang dapat diambil oleh PEMDA yaitu melaluikebijakan fiskal dengan intervensi pengalokasian keuangan daerah. Karena dalam eraotonomi, daerah mempunyai keleluasaan untuk mengambil kebijakan fiskalnya yangberpihak kepada komunitas masyarakat miskin serta kegiatan-kegiatan yangbersentuhan langsung dengan pengurangan penganguran baik melalui pendidikan danlatihan untuk meningkatkan kualitas SDM penganggur maupun meningkatkan jiwakewirausahaan yang diikuti oleh penyertaan modal pemerintah serta pendampinganyang terus-menerus.Provinsi Bengkulu mengalami penurunan nilai IPM (Indeks Pembangunan Manusia)dari 68,4 point pada tahun 1996 menjadi 59,3 poin pada tahun 1999, 66.2 pada tahunpada tahun 2002 (Mubyarto, 2005). IPM Provinsi Bengkulu berada pada pada peringkat15 tahun 2002.
TANTANGAN DAN PELUANG SUBSEKTOR PERKEBUNANUNTUK MENINGKATKAN PDRB PROVINSI BENGKULU
Secara sekilas orang akan beranggapan bahwa dalam hal perekonomian ProvinsiBengkulu disumbang oleh sektor Pertanian subsektor Perkebunan, sebagaimana secaraumum terjadi di Pulau Sumatera. Namun anggapan tersebut ternyata kurang tepat,karena di Provinsi Bengkulu sektor yang dominan dalam pembentukan PDRB bukansubsektor perkebunan tetapi subsektor tanaman pangan.Masih rendahnya sumbangan subsektor perkebunan dalam pembentukan PDRBdi Provinsi Bengkulu ditengarai disebabkan masih belum banyaknya aktivitas ekonomilanjutan yang memanfaatkan hasil perkebunan sehingga nilai tambah dari aktivitassubsektor ini relatif kecil. Pabrik pengolahan minyak kelapa sawit misalnya, jumlah dankapasitas mesinnya masih terbatas dibandingkan dengan hasil produksi petani.Keterbatasan ini selanjutnya berdampak pada nilai jual di tingkat petani menjadi rendahdan akhirnya pendapatan petani juga rendah.Contoh lain kopi yang banyak dibudidayakan di Provinsi Bengkulu, namun belumada eksportir kopi di Bengkulu, sehingga ekspor dilakukan oleh daerah lain sepertiLampung dan Padang.Rendahnya produktivitas hasil perkebunan juga masih menjadi masalah dalamsubsektor perkebunan. Rendahnya produktivitas ini disebabkan beberapa hal, untuk pohon karet misalnya banyak tanaman produksi yang telah berumur. Cara penyadapankaret yang salah, juga dapat berpengaruh terhadap produktivitas tanaman karet.

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...