2
Hal yang baru dalam penelitian ini yaitu dilakukannya analisis
stakeholder
dalammenentukan kriteria, indikator, dan skenario kebijakan pengelolaan peyangga dan kawasankonservasi dengan pendekatan sistem. Dalam proses pengambilan keputusan akanmenjamin keberlanjutan dan implementasi kebijakan yang telah disepakati bersama untuk mencegah konflik yang berkepanjangan.
METODE PENELITAN
Tempat Dan Waktu
Kegiatan penelitian direncanakan mulai pada Bulan Juli 2006 s/d Agustus 2007.Lokasi penelitian difokus pada Kecamatan-kecamatan yang berbatasan secara langsung dansebagai daerah penyangga kawasan CADBB; meliputi Kecamatan Gading Cempaka, Selebar,dan Teluk Segara yang berada di Kota Bengkulu, dan Kecamatan Talang Empat yang beradadi Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.
Rumusan Masalah
Pengelolaan dan pelestarian kawasan konservasi yang berkelanjutan akan sia-sia jikapersepsi dan pemahaman dan tidak disertai peningkatan kesadaran masyarakat dalammengelolanya. Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan tidak hanya dapatmemecahkan persoalan ekonomi dan sosial pada lingkup lokal, namun sekaligus dapatmenanggulangi potensi konflik.Pengelolaan yang banyak bertumpu pada pemerintah untuk meregulasi kebijakandan peraturan pada implementasinya memiliki banyak kelemahan dan menimbulkanperbedaan pandangan dan terjadinya gap yang tajam antara keinginan pemerintah denganmasyarakat. Hal ini bisa terlihat ketika tahun 1991 adanya kebijakan pemerintah Provinsimembangun jalan ring road yang memotong kawasan
catchment area
, yang menyebabkanmeningkatnya aksesibilitas ke dalam kawasan sehingga memicu perambahan dari 33 kk menjadi 159 KK. Kondisi ini menyebabkan hampir 50%
catchment area
rusak karena dirambah, dibakar dan dijadikan lahan pertanian. Pembangunan jalan juga menyebabkansemakin rusak sistem suplai air dari
catchmen area
menuju danau, yang akhirnya menyebabberkurangnya debit air danau, sehingga suplai air untuk irigasi persawahan seluas 700 hayang berada dihilirnya menjadi bermasalah. Munculnya konflik sosial yang mengarah padakonflik horizontal antara petani dengan perambah, adanya unjuk rasa ke pemda dan DRPDProvinsi, Pemda dan DPRD Kota, dan BKSDA (Usman, 2001; Bapedalda, 2001).Kebijakan pemerintah Kota Bengkulu pada tahun 1997 yang memberi izinpembangunan sekitar 1000 perumahan pada daerah yang secara ekologis adalah daerahgenangan air danau pada musim hujan, kembali memunculkan konflik baru karena tidak adanya kajian AMDAL dan antisipasi terhadap genangan di musim hujan. Hal inimenyebabkan pengembang membuat saluran darinase yang membuang air danau ke SungaiBengkulu untuk mencegah terjadi banjir musiman pada perumahan tersebut. Kondisi inikembali menyebabkan semakin parahnya penurunan debit air danau. Kejadian inimemunculkan konflik baru dan terjadi unjuk rasa besar-besaran. Kebijakan insedentil padasaat itu adalah pembuatan tanggul pembatas CADDB dengan kawasan perumahan.Dengan di damping oleh LSM, petani, nelayan tradisionil dan masyarakat akhirnya mendesak pemerintah untuk menutup jalan yang membelah kawasan
catchment area
untuk mengembalikan fungsi Cagar Alam seperti semula. Pemerintah Kota dan Provinsi akhirnyamengeluarkan keputusan untuk menutup jalan tersebut sebagai jalan ring road (Usman,2001; Bapedalda, 2001).Penguatan masyarakat merupakan bagian penting dalam upaya pengelolaanberkelanjutan. Masyarakat dapat menjadi pengontrol dalam upaya pelestarian karenasumber ekonominya sangat tergantung kelestarian kawasan, sehingga akan bersikap kritis
Add a Comment