/  11
 
0
DISAIN KEBIJAKAN PENGELOLAAN KAWASANKONSERVASI BERKELANJUTAN
1
(Studi Kasus Cagar Alam Danau Dusun Besar Provinsi Bengkulu)
Usman (P 062050111)
2
PENDAHULUAN
Latar Belakang
 Awal tahun 1970, merupakan awal kebangkitan kesadaran manusia bahwa dunia inisarat dengan kemiskinan dan kerusakan lingkungan. Konperensi lingkungan hidup diStockholm 1972 diprakarsai oleh PBB, menjadikan lingkungan sebagai isu politik global.Kesepakatan ini dijadikan landasan melaksanakan KTT Bumi di Rio de Janeiro 1992. Untumempersiapkan KTT Bumi, PBB membentuk World Comission on Environment andDevelopment (WCED). Komisi ini, berhasil menyusun konsep pembangunan terpadu denganlingkungan dalam laporan berjudul Our Common Future (WCED, 1987). Konsep ini dikenalpembangunan berkelanjutan (
Sustainable Development 
), yang menjamin agar pembangunandapat memenuhi kebutuhan pada saat ini tanpa mengurangi hak generasi yang akan datang(Djajadiningrat, 2001).Menindak lanjuti KTT Bumi, Pemerintah Indonesia telah meratifikasi konvensiperubahan iklim dengan UU No. 6/1994, dan konvensi keanekaragaman hayati dengan UUNo. 5/1994. Bahkan, Pemerintah Indoensia hampir bersamaan menetapkan banyakawasan konservasi termasuk Cagar Alam. Cagar alam adalah kawasan suaka alam yangkarena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistem tertentuyang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami (UU No. 5/1990).Penetapan kawasan konservasi bertujuan melindungi ekosistem dan sumberdayaalam, serta proses-proses ekologi di dalamnya (Hardjasoemantri, 1993; UU No. 5/1990).Upaya memadukan pelestarian dan pengelolaan sumber daya alam dengan kebijakanpembangunan yang bertumpu pada larangan bermukim di sekitar atau di dalam kawasan,terbukti tidak berhasil. Karena itu diperlukan upaya untuk memadukan pelestarian kawasandengan kebutuhan dan kegiatan ekonomi masyarakat setempat. Upaya pengelolaan danpelestarian harus disertai peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengelola sumber dayaalam. Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan dapat memecahkan persoalan ekonomidan sekaligus menanggulangi potensi konflik yang sering terjadi.Peran
stakeholder 
yang bertumpu pada pemerintah, pada implementasinya seringmemiliki banyak kelemahan dan tentangan karena perbedaan persepsi dan pemahamantentang kawasan konservasi. Penguatan masyarakat merupakan bagian terpenting dalamupaya pelestarian sumber daya alam. Adanya kesadaran dan kepedulian masyarakat ikutmenjaga kawasan, karena sumber ekonominya tergantung dengan kawasan tersebut. Halini mendorong sikap kritis masyarakat terhadap kebijakan pemerintah atau pihak lain yangdapat mengancam sumber daya alam yang menjadi sumber utama ekonomi mereka.Penelitian ini bertujuan untuk mendisain kebijakan pengelolaan daerah penyanggadan kawasan konservasi Cagar Alam Danau Dusun Besar (CADDB) Propinsi Bengkulu.Secara khusus tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi stakeholder dan kemudianmengidentifikasi persepsinya terhadap pengelolaan kawasan, (2) mengindentifikasi kebijakanterhadap pengelolaan daerah peyangga dan kawasan, (3) memetakan kepentingan dan
1
Makalah Disampaikan pada presentasi Metodologi Penelitian dan Teknik Penulisan Disertasi di Puncak Bogor,14 Agustus 2006
2
Mahasiswa Program Studi PS PSL-SPS IPB Tahun 2005
 
1
pengaruh
stakeholder 
dalam mendisain kebijakan, (4) menilai kondisi eksisting ekonomi,biofisik dan potensi konflik pada daerah penyangga dan kawasan, (5) mengidentifikasifaktor-faktor yang berpengaruh dalam pengelolaan daerah peyangga dan kawasan, (6)menyusun perioritas pengelolaan penyangga dan kawasan, dan (7) membuat skenariopengelolaan daerah peyangga dan kawasan CADDB di masa yang akan datang
Kerangka Pemikiran
Cagar Alam Danau Dusun Besar (CADDB) Propinsi Bengkulu merupakan kawasankonservasi yang mendapat prioritas karena terdapat tanaman endemik 
Anggrek pinsil 
(
Vanda hookeriana 
). Disamping itu juga memiliki keunikan karena merupakan
Cagar ala
yangterdapat di dalam kota, sumber irigasi lahan persawahan seluas 700 hektar, salah satutujuan wisata, sebagai daerah ruang terbuka hijau, sebagai daerah
recharge 
air bawah tanahyang berfungsi melawan intrusi air laut karena terletak 3 km dari pantai, sebagai salah satusistem pengendalian banjir, sumber air permukaan yang potensial, dan sebagai sumberekonomi bagi masyarakat disekitar kawasan tersebut.Berdasarkan kondisi biofisik lingkungan, keadaan sosial ekonomi masyarakat,peningkatan ekonomi masyarakat lokal, serta mencegah terjadinya konflik sosial di sekitarkawasan, maka pendekatan sistem akan digunakan dalam mendisain kebijakan untuk pengelolaan secara berkelanjutan. Pengelolaan dapat dilakukan dengan keterlibatan nyata
stakeholder,
pembagian peran dan wewenang serta tanggungjawab yang jelas, persepsi danpemahaman yang sama terhadap masalah konservasi serta adanya komitmen dalampengelolaan sumberdaya alam. Pengelolaan berkelanjutan dengan disain kebijakan yangbertumpu pada
stakeholder 
dan dukungan kelembagaan (pemerintah, masyarakat danswasta) sesuai dengan kemampuan dan sumberdaya yang diperlukan. Gambar 1memberikan kerangka pemikiran rencana penelitian ini.
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
 
2
Hal yang baru dalam penelitian ini yaitu dilakukannya analisis
stakeholder 
dalammenentukan kriteria, indikator, dan skenario kebijakan pengelolaan peyangga dan kawasankonservasi dengan pendekatan sistem. Dalam proses pengambilan keputusan akanmenjamin keberlanjutan dan implementasi kebijakan yang telah disepakati bersama untumencegah konflik yang berkepanjangan.
METODE PENELITAN
Tempat Dan Waktu
Kegiatan penelitian direncanakan mulai pada Bulan Juli 2006 s/d Agustus 2007.Lokasi penelitian difokus pada Kecamatan-kecamatan yang berbatasan secara langsung dansebagai daerah penyangga kawasan CADBB; meliputi Kecamatan Gading Cempaka, Selebar,dan Teluk Segara yang berada di Kota Bengkulu, dan Kecamatan Talang Empat yang beradadi Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.
Rumusan Masalah
Pengelolaan dan pelestarian kawasan konservasi yang berkelanjutan akan sia-sia jikapersepsi dan pemahaman dan tidak disertai peningkatan kesadaran masyarakat dalammengelolanya. Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan tidak hanya dapatmemecahkan persoalan ekonomi dan sosial pada lingkup lokal, namun sekaligus dapatmenanggulangi potensi konflik.Pengelolaan yang banyak bertumpu pada pemerintah untuk meregulasi kebijakandan peraturan pada implementasinya memiliki banyak kelemahan dan menimbulkanperbedaan pandangan dan terjadinya gap yang tajam antara keinginan pemerintah denganmasyarakat. Hal ini bisa terlihat ketika tahun 1991 adanya kebijakan pemerintah Provinsimembangun jalan ring road yang memotong kawasan
catchment area 
, yang menyebabkanmeningkatnya aksesibilitas ke dalam kawasan sehingga memicu perambahan dari 33 kk menjadi 159 KK. Kondisi ini menyebabkan hampir 50%
catchment area 
rusak karena dirambah, dibakar dan dijadikan lahan pertanian. Pembangunan jalan juga menyebabkansemakin rusak sistem suplai air dari
catchmen area 
menuju danau, yang akhirnya menyebabberkurangnya debit air danau, sehingga suplai air untuk irigasi persawahan seluas 700 hayang berada dihilirnya menjadi bermasalah. Munculnya konflik sosial yang mengarah padakonflik horizontal antara petani dengan perambah, adanya unjuk rasa ke pemda dan DRPDProvinsi, Pemda dan DPRD Kota, dan BKSDA (Usman, 2001; Bapedalda, 2001).Kebijakan pemerintah Kota Bengkulu pada tahun 1997 yang memberi izinpembangunan sekitar 1000 perumahan pada daerah yang secara ekologis adalah daerahgenangan air danau pada musim hujan, kembali memunculkan konflik baru karena tidak adanya kajian AMDAL dan antisipasi terhadap genangan di musim hujan. Hal inimenyebabkan pengembang membuat saluran darinase yang membuang air danau ke SungaiBengkulu untuk mencegah terjadi banjir musiman pada perumahan tersebut. Kondisi inikembali menyebabkan semakin parahnya penurunan debit air danau. Kejadian inimemunculkan konflik baru dan terjadi unjuk rasa besar-besaran. Kebijakan insedentil padasaat itu adalah pembuatan tanggul pembatas CADDB dengan kawasan perumahan.Dengan di damping oleh LSM, petani, nelayan tradisionil dan masyarakat akhirnya mendesak pemerintah untuk menutup jalan yang membelah kawasan
catchment area 
untuk mengembalikan fungsi Cagar Alam seperti semula. Pemerintah Kota dan Provinsi akhirnyamengeluarkan keputusan untuk menutup jalan tersebut sebagai jalan ring road (Usman,2001; Bapedalda, 2001).Penguatan masyarakat merupakan bagian penting dalam upaya pengelolaanberkelanjutan. Masyarakat dapat menjadi pengontrol dalam upaya pelestarian karenasumber ekonominya sangat tergantung kelestarian kawasan, sehingga akan bersikap kritis

Share & Embed

More from this user

Recent Readcasters

Add a Comment

Characters: ...