Oh My God, Audra! Tari yang semula cemberut langsung bersinar-sinar ketika Audramenghampiri dan perhatian kepadanya.
“Aku nggak apa
-
apa kok Dra! Aku cuma cuma……..”
“Cuma ngelamunin kamu Dra.” Bejo menyela perkata
an Tari namun Yanti membela sobatnya.
“Bejo! kowe ojo ngono.”
“Nggak nggak, aku lagi pusing aja, kamu nggak pulang Dra ?” Tari mengalihkan suasana dan itu
berhasil.
“Ya uda, aku pulang dulu ya.” Audra melirik Tari dengan senyumnya yang bisa membuat Tari
mabuk kepayang. Bejo pun mengikutinya dari belakang.
“Tar, kowe bener
-
bener pusing ta ?”
“Ehmm, nggak sih, aku tadi lagi mikirin Audra tapi gara
-gara Bejo tukang usil itu, aku jadi
dicereweti Bu Tartik deh.”
“Ooo, emang kowe tuh!”
“Eeemang!!!” Tari menggoda
sobatnya itu dan merangkulnya agar Yanti segera pulangdengannya. Lalu mereka harus masih menunggu kendaraan warna biru berlabelkan
“AMG”(Arjosari
-Gadang) itu.
Jam 7 malam …………
Bapak sedang menonton TV dan bapak memanggil Tari. Tak biasanya bapak mau bicara denganTari. Tari, sini!Bapak mau ngomong. Besok akan ada keluarga teman Bapak yang maumelamarmu, jadi besok kamu harus langsung pulang setelah jam sekolah selesai.
“Tapi Pak, saya masih sekolah, masak mau dilamar.”
“Kamu bisa tunangan dulu dan setelah lulus dari kuliah, kamu baru menikah dengannya!”
Bapak tidak mau mendengar alasan apapun dari Tari. Jika Bapak sudah bicara A, maka Tariharus mengikutinya. Tari tak tahu harus bagaimana, tak harus berbuat apa. Tari bingung! Tariharus bagaimana ya Allah ? Bunda mengetuk pintu kamar Tari dan setelah bunda masuk,mereka terlibat dalam pembicaraan.
“Sabar ya anakku, Bunda selalu disini menemanimu.” Mereka menangis berdua. Keesokan
harinya Tari tak masuk sekolah karena untuk masuk, ia terlalu capek. Capek menangissemalaman. Ini merupakan takdir atau hanya kebetulan saja, Audra juga tak masuk. Entah apaalasannya. Di sebuah rumah di jalan araya itu, ada perbincangan antar keluarga.
“Papa, Audra tak mau dijodohkan!”
“Nak, dia baik buat kamu! Terserah alasan kamu
apa, yang penting sekarang kamu siap-siap
untuk sore nanti!”
“Pa!!!”
Jam di kamar Tari sudah menunjukkan pukul 15.00 dan sebentar lagi ia akan dilamar. Bun! Akunggak mau pake kebaya ini, ia melempar kebaya berwarna putih jika dipakenya akan pas dibadannya yang ramping itu. Bunda, aku mau dengan perjodohan ini hanya karena agar Bundatak disakiti Bapak! Tari memperjelas alasannya kepada Bundanya. Mendadak sebuah sedan hijau