Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Http

Http

Ratings: (0)|Views: 61 |Likes:

More info:

Published by: Icha Putryne Paknembokne on Jun 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/21/2012

pdf

text

original

 
Artikel TIK tentang Budi Pekerti
PENERAPAN PENDIDIKAN BUDI PEKERTIOleh:I Putu Wijana(0811031383)Sebelum kita peduli pendidikan karakter, sebaiknya kita tahu dulu apa dan bagaimanasebetulnya pendidikan karakter dan apa bedanya dengan pendidikan budi pekerti. Salah satu tujuanpendidikan nasional adalah membentuk manusia cerdas yang berbudi pekerti luhur dan berakhlakmulia. Tapi mengapa pada era atau pada jaman imperialisme budaya saat ini, tingkat kriminalitasanak-anak dan remaja sangat tinggi dan jumlah mereka yang masuk penjara lebih dari satu jutaorang (Harry Hikmat, Direktur Anak Depsos, Waspada, 11 Maret 2009). Mengapa pula banyak anakremaja kita tidak merasa bersalah jika berbohong, rendah rasa hormat kepada ortu dan guru,pecandu narkoba dan minuman keras, sering bolos sekolah, tidak mengerjakan PR , memalak temansekelas dan sebagainya. Dan lebih jauh lagi mengapa pendidikan yang kini tumbuh berkembangdengan pesat, justru berefek melahirkan banyaknya koruptor. Memang tidak semua koruptor, tetapimereka-mereka para pelaku korupsi justru orang-orang yang pada umumnya sudah menyandangberbagai gelar pendidikan.Banyak kalangan yang mengkritik dan menilai bahwa pendidikan nasional telah gagal dalammembentuk watak/karakter dan moral anak bangsa. Mereka menganggap lembaga pendidikan baikformal maupun nonformallah yang seharusnya paling bertanggung jawab dalam hal membentuk,membimbing dan mendidik SDM yang tangguh dan unggul sekaligus punya karakter yang kuat.
 
Betulkah lembaga pendidikan di Indonesia secara umum gagal dalam membentuk budi pekerti yangluhur, gagal dalam melahirkan anak bangsa yang berkepribadian atau bermoral? Selama ini upayauntuk membentuk budi pekerti yang luhur di sekolah-sekolah bukannya tidak dilakukan. Hanya sajametodeloginya masih belum effektif. Pendidikan moral dan budi pekerti baru bersifat knowing. Budipekerti yang luhur, moral ataupun kepribadian yang baik baru bersifat pengetahuan dan belummenjadi karakter yang melekat pada diri siswa.Sebagai orang awam, terkadang kita sulit membedakan pendidikan budi pekerti yangselama ini diterapkan di sekolah-sekolah dengan pendidikan karakter yang sekarang sedangdigalakkan oleh ibu Ratna Megawangi, sang pelopor pendidikan holistik berbasis karakter. Olehkarena itu, sebaiknya kita melihat dulu apa yang disebut pendidikan budi pekerti.
Menurut Dr. Syarkawi, M.Pd. dalam bukunya “Pembentukan kepribadian Anak “menyatakan
bahwa pendidikan budi pekerti adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkannilai, sikap, dan perilaku yang memancarkan akhlak mulia atau budi pekerti luhur. Nilai-nilai positif dan yang seharusnya dimiliki seseorang menurut ajaran budi pekerti yang luhur adalah amal saleh,amanah, antisipatif, baik sangka, bekerja keras, beradab, berani berbuat benar, berani memikulresiko, berdisiplin, berhati lapang, berhati lembut, beriman dan bertkwa, berinisiatif, berkemauankeras, berkepribadian, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersifat konstruktif,bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdas, cermat, demokratis, dinamis,efisien, empati, gigih, hemat, ikhlas, jujur, kesatria, komitmen, kooperatif, kosmopolitan(mendunia), kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, manusiawi, mawas diri, mencintai ilmu, menghargaikarya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai pendapat orang lain, menghargai waktu,patriotik, pemaaf, pemurah, pengabdian, berpengendalian diri, produktif, rajin, ramah, rasa indah,rasa kasih sayang,rasa keterikatan, rasa malu, rasa memiliki, rasa percaya diri, rela berkorban,rendah hati, sabar, semangat kebersamaan, setia, siap mental, sikap adil, sikap hormat, sikap nalar,sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, taat asas, takut bersalah, tangguh, tawakal, tegar, tegas,tekun, tepat janji, terbuka, ulet, dan sejenisnya. Budi pekerti erat hubungannya dengan kepribadian.Dengan kepribadian yang baik, seseorang dapat mengapresiasi nilai-nilai yang terkandung pada budipekerti dalam kehidupan sehari-hari. Atau sebaliknya, dengan menanamkan nilai-nilai pendidikanbudi pekerti yang baik sejak dini, akan membantu pembentukan kepribadian yang berbudi pekertiluhur.Setelah pendidikan nasional dianggap gagal dalam membentuk budi pekerti yang luhur ataulebih tepatnya sekolah-sekolah belum seluruhnya berhasil melahirkan anak-anak yang berbudipekerti luhur dengan nilai-nilai yang berderet-deret di atas, maka harus ada yang perlu diubah yaitu
 
bagaimana pendekatan, metode dan strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan mulia tersebut.Karena hal inilah yang sesungguhanya menentukan efektivitas dan efisiensi pembentukankepribadian anak manusia. Seorang perempuan Indonesia yang cerdas dan berkarakter kuat, Ibu Dr.Ir Ratna Megawangi M.Sc, telah melakukan sebuah perubahan besar dalam proses pembelajaranbudi pekerti di sekolah dengan melahirkan konsep pendidikan holistik berbasis karakter. Seluruhnilai-
nilai budi pekerti di atas dirangkum dalam “Sembilan pilar karakter emas“
- nya melaluipendekatan, metodelogi dan strategi
“knowing the good, feeling the good/loving the good, actingthe good”. Pendiri dan direktur Eksekutif Indonesia Heritage Foundation yang mengelola hampir 100
sekolah karakter di berbagai penjuru tanah air ini menyatakan bahwa pendidikan karakter adalahsebuah proses/usaha untuk mengembangkan semua potensi anak menjadi manusia seutuhnya.Perkembangan anak harus seimbang, baik dari segi akademiknya maupun segi sosial dan emosinya.Ilmu pengetahuan dapat diperoleh dari aktivitas belajar dengan cara membaca, menulis, menghafaldan lain-lain sedangkan perbuatan/sikap/perilaku yang baik dapat diraih dengan selaluberlatih/aktion dan selalu membiasakannya dalam setiap kegiatan/aktivitas sehari-hari. Ringkasnyamenurut si Ibu, pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkanaspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Tanpa ketiga aspek ini,maka pendidikan karakter tidak akan effektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secarasistematis dan berkel
anjutan”. Pendidikan karakter menjadi berbeda dengan pendidikan moral/budi
pekerti karena pendidikan budi pekerti hanya terfokus pada pengetahuan tentang moral/nilai-nilailuhur (hanya menekankan aspek kognisi). Kurikulum pendidikan karakter adalah pendidikan untukmembentuk kepribadian siswa yaitu pribadi yang bijaksana, terhormat, dan bertanggung jawab yanghasilnya terlihat dalam tindakan nyata. Lewat Yayasan Warisan Luhur Budi (Indonesia HeritageFoundation) yang didirikan tahun 2001, Ratna Megawangi dan suaminya Dr. SofyanDjalil,S.H.,M.A.,MALD bersama teman-temannya menuangkan sebuah idealisme, mimpi dan harapanbesar bahwa suatu saat Bangsa Indonesia akan berjaya sebagai bangsa yang berkarakter kuat. Kitaberharap agar mimpi Ibu Ratna, mimpi kita dan teman-teman pendidik dapat terwujud. SemogaPemerintah era 2009-2014 mampu mengembalikan fungsi pendidikan, yaitu tidak untukmembangun kecerdasan intelektual saja, tetapi juga untuk menjadikan manusia Indonesiaberkarakter mulia dan menjadikan pendidikan karakter sebagai prioritas utama dalam pembangunanbangsa. Idealnya substansi pendidikan karakter bangsa termuat dalam UU Diknas.Daftar Pustaka

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->