Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pendidikan Dan Masyarakat

Pendidikan Dan Masyarakat

Ratings: (0)|Views: 18 |Likes:
Published by Zakariya Ahmad

More info:

Published by: Zakariya Ahmad on Jun 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/13/2013

pdf

text

original

 
PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT
 
2.
 
FUNGSI DAN PERANAN PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT
PENGEMBANGAN MASYARAKAT MELALUI PENDIDIKAN SECARA SISTEMIK
 
Pendekatan sistemik terbadap pengembangan melalui pendidikan adalah pendekatan di manamasyarakat tradisional sebagai input dan pendidikan sebagai suatu lembaga pendidikan masyarakatsebagai pelaksana proses pengembangan dan masyarakat yang dicita-citakan sebagai outputnya yangdicita-citakan.
 
Menurut Ki Hajar Dewantoro ada tiga lingkungan pendidikan yaitu lingkungan keluarga, lingkungansekolah, dan lingkungan masyarakat.
 
Dari ketetapan MPR No. 1!/MPR/1988 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara kita mengetahui bahwapendidikan itu merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, pemerintah dan masyarakat.
 
Dari dua penjelasan tersebut di atas maka bentuk pendidikan dibagi menjadi tiga bentuk yaitu pendidikanformal, pendidikan informal dan pendidikan non formal (Undang-Undang nomor 2/1989 tentang SistemPendidikan Nasional).
 
Pelaksanaan ketiga bentuk pendidikan adalah lembaga pemerintah, lembaga keluarga, lembagakeagamaan dan lembaga pendidikan lain. Lembaga keluarga menyelenggarakan pendidikan informal,lembaga pemerintah, lembaga keagamaan, lembaga pendidikan yang lain menyelenggarakan pendidikanformal maupun pendidikan nonfonnal. Bentuk-bentuk pendidikan nonformal cukup banyak jenisnya,seperti berbagai macam kursus kcterampilan yang mempersiapkan tenaga terampil. Seperti kursusmenjahit, kursus komputer, kursus montir, kursus bahasa-bahasa asing dan sebagainya. Bentukpendidikan formal yang beçjalan ini terdiri dari empat jenjang yaitu SD, SLTP, SLTA dan PerguruanTinggi. Menurut Undang Undang Nomor : 2/1989, tentang jenjang pendidikan dibagi menjadi tiga jenjangyaitu Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah dan Pendidikan Tinggi. Pendidikan Dasar terdiri dariSekolah Dasar dan Sekolab Menengah Tingkat Pertama.
 
Proses pendidikan dari tiga bentuk pendidikan itu dipengaruhi oleh sistem politik dan ekonomi.(Muhammad Dimyati, 1988 p, 163). Dengan adanya bermacam-macam jenis politik dan bermacam-macam kondisi ekonomi maka arah proses pendidikan akan bermacam-macam untuk masing-masingbentuk pendidikan yang diselenggarakan oleh keluarga, pemerintah, lembaga keagamaan dan lembaga-lembaga non-agama.
 
PERANAN PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT
 
Sebagian besar masyarakat modern memandang lembaga-lembaga pendidikan sebagai peranan kuncidalam mencapai tujuan sosial Pemerintah bersama orang tua telah menyediakan anggaran pendidikanyang diperlukan sceara besar-besaran untuk kemajuan sosial dan pembangunan bangsa, untukmempertahankan nilai-nilai tradisional yang berupa nilai-nilai luhur yang harus dilestarikan seperti rasahormat kepada orang tua, kepada pemimpin kewajiban untuk mematuhi hukum-hukum dan norma-normayang berlaku, jiwa patriotisme dan sebagainya. Pendidikan juga diharapkan untuk memupuk rasa takwakepada Tuhan Yang Maha Esa, meningkatkan kemajuan-kemajuan dan pembangunan politik, ekonomi,sosial dan pertahanan keamanan. Pendek kata pendidikan dapat diharapkan untuk mengembangkanwawasan anak terhadap ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan secaratepat dan benar, sehingga membawa kemajuan pada individu masyarakat dan negara untuk mencapaitujuan pembangunan nasional.
 
Berbicara tentang fungsi dan peranan pendidikan dalam masyarakat ada bermacam-macam pendapat, dibawah ini disajikan tiga pendapat tentang fungsi pendidikan dalam masyarakat.
 
 
 Wuradji (1988) menyatakan bahwa pendidikan sebagai lembaga konservatif mempunyai fungsi-fungsisebagai berikut: (1) Fungsi sosialisasi, (2) Fungsi kontrol sosial, (3) Fungsi pelestarian budayaMasyarakat, (4) Fungsi latihan dan pengembangan tenaga kerja, (5) Fungsi seleksi dan alokasi, (6)Fungsi pendidikan dan perubahan sosial, (7) Fungsi reproduksi budaya, (8) Fungsi difusi kultural, (9)Fungsi peningkatan sosial, dan (10) Fungsi modifikasi sosial. ( Wuradji, 1988, p. 31-42).
 
Jeane H. Ballantine (1983) menyatakan bahwa fungsi pendidikan dalam masyarakat itu sebagai berikut:(1) fungsi sosialisasi, (2) fungsi seleksi, latihan dan alokasi, (3) fungsi inovasi dan perubahan sosial, (4)fungsi pengembangan pribadi dan sosial (Jeanne H. Ballantine, 1983, p. 5-7).
 
Meta Spencer dan Alec Inkeles (1982) menyatakan bahwa fungsi pendidikan dalam masyarakat itusebagai berikut: (1) memindahkan nilai-nilai budaya, (2) nilai-nilai pengajaran, (3) peningkatan mobilitassosial, (4) fungsi stratifikasi, (5) latihan jabatan, (6) mengembangkan dan memantapkan hubunganhubungan sosial (7) membentuk semangat kebangsaan, (8) pengasuh bayi.
 
Dari tiga pendapat tersebut di atas, tidak ada perbedaan tetapi saling melengkapi antara pendapat yangsatu dengan pendapat yang lain.
 
1) Fungsi Sosialisasi.
 
Di dalam masyarakat pra industri, generasi baru belajar mengikuti pola perilaku generasi sebelumnyatidak melalui lembaga-lembaga sekolah seperti sekarang ini. Pada masyarakat pra industri tersebut anakbelajar dengan jalan mengikuti atau melibatkan diri dalam aktivitas orang-orang yang telah lebih dewasa.Anak-anak mengamati apa yang mereka lakukan, kemudian menirunya dan anak-anak belajar denganberbuat atau melakukan sesuatu sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang telah dewasa. Untukkeperluan tersebut anak-anak belajar bahasa atau simbol-simbol yang berlaku pada generasi tua,menyesuai kan diri dengan nilai-nilai yang berlaku, mengikuti pandangannya dan memperolehketerampilan-keterampilan tertentu yang semuanya diperoleh lewat budaya masyarakatnya. Di dalamsituasi seperti itu semua orang dewasa adalah guru, tempat di mana anak-anak meniru, mengikuti danberbuat seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang yang lebih dewasa. Mulai dari permulaan, anak-anak telah dibiasakan berbuat sebagaimana dilakukan oleh generasi yang lebih tua. Hal itu merupakanbagian dari perjuangan hidupnya. Segala sesuatu yang dipelajari adalah berguna dan berefek langsungbagi kehidupannya sehari-hari. Hal ini semua bisa terjadi oleh karena budaya yang berlaku di dalammasyarakat, di mana anak menjadi anggotanya, adalah bersifat stabil, tidak berubah dan waktu ke waktu,dan statis.
 
Dengan semakin majunya masyarakat, pola budaya menjadi lebih kompleks dan memiliki diferensiasiantara kelompok masyarakat yang satu dengan yang lain, antara yang dianut oleh individu yang satudengan individu yang lain. Dengan perkataan lain masyarakat tersebut telah mengalami perubahan-perubahan sosial. Ketentuan-ketentuan untuk berubah ini sebagaimana telah disinggung di halaman-halaman situs web ini sebelumnya, mengakibatkan terjadinya setiap transmisi budaya dan satu generasike generasi berikutnya selalu menjumpai permasalahan-permasalahan. Di dalam suatu masyarakatsekolah telah melembaga demikian kuat, maka sekolah menjadi sangat diperlukan bagi upayamenciptakan/melahirkan nilai-nilai budaya baru
(cultural reproduction).
 Dengan berdasarkan pada proses reproduksi budaya tersebut, upaya mendidik anak-anak untukmencintai dan menghormati tatanan lembaga sosial dan tradisi yang sudah mapan adalah menjadi tugasdari sekolah. Termasuk di dalam lembaga-lembaga sosial tersebut diantaranya adalah keluarga, lembagakeagamaan, lembaga pemerintahan dan lembaga-lembaga ekonomi. Di dalam permulaan masa-masapendidikannya, merupakan masa yang sangat penting bagi pembentukan dan pengembanganpengadopsian nilai-nilai ini. Masa-rnasa pembentukan dan pembangunan upaya pengadopsian inidilakukan sebelum anak-anak mampu memiliki kemampuan kritik dan evaluasi secara rasional.
 
Sekolah-sekolah menjanjikan kepada anak-anak gambaran tentang apa yang dicita-citakan olehlembaga-lembaga sosialnya. Anak-anak didorong, dibimbing dan diarahkan untuk mengikuti pola-pola
 
prilaku orang-orang dewasa melalui cara-cara ritual tertentu, melalui drama, tarian, nyanyian dansebagainya, yang semuanya itu merupakan ujud nyata dari budaya masyarakat yang berlaku. Melaluicara-cara seperti itu anak. anak dibiasakan untuk berlaku sopan terhadap orang tua, hormat dan patuhterhadap norma-norma yang berlaku. Lembaga-lembaga agama mengajarkan bagaimana penganutnyaberbakti kepada Tuhannya berdasarkan tata cara tertentu.
 
Lembaga-lembaga pemerintahan mengajarkan bagaimana anak kelak apabila telah menjadi warganegara penuh, memenuhi kewajiban-kewajiban negara, memiliki jiwa patriotik dan memiliki kesadaranberwarga negara. Semua ajaran dan pembiasaan tersebut pada permulaannya berlangsung melaluiproses emosional, bukan proses kognitif.
 
Dalam proses belajar untuk mengikuti pola acuan bagi tatanan masyarakat yang telah mapan danmelembaga, anak-anak belajar untuk menyesuaikan dengan nilai-nilai tradisional di mana institusitradisional tersebut dibangun. Keseluruhan proses di mana anak-anak belajar mengikuti pola-pola dannilai-nilai budaya yang berlaku tersebut dinamakan proses sosialisasi. Proses sosialisasi tersebut harusbeijalan dengan wajar dan mulus oleh karena kita semua mengetahui betapa pentingnya masa-masapermulaan proses sosialisasi. Orang tua dan keluarga berharap sekolah dapat melaksanakan prosessosialisasi tersebut dengan baik. Dalam lembaga-lembaga ini guru-guru di sekolah dipandang sebagaimodel dan dianggap dapat mengemban amanat orang tua (keluarga dan masyarakat) agar anak-anak-memahami dan kemudian mengadopsi nilai-nilai budaya masyarakatnya. Willard Waller dalam hubunganini menganggap sekolah, terutama di daerah-daerah pedesaan sebagai museum yang menyimpantentang nilai-nilai kebajikan
(mnuseum of virture)
(Pardius and Parelius, 1978; p. 24). Dengan anggapantersebut, masyarakat menginginkan sekolah beserta staf pengajarnya harus mampu mengajarkan nilai-nilai kebajikan dari masyarakatnya
(the old viture),
atau keseluruhan nilai-nilai yang diyakini dan menjadianutan dan pandangan masyarakatnya. Untuk memberikan pendidikan mengenai kedisiplinan, rasahormat dan patuh kepada pemimpin, kemauan kerja keras, kehidupan bernegara dan kehidupandemokrasi, menghormati, nilai-nilai perjuangan bangsa, rasa keadilan dan persamaan, aturan-aturanhukum dan perundang-undangan dan sebagainya, kiranya lembaga utama yang paling berkompetenadalah lembaga pendidikan.
 
Sekolah mengemban tugas untuk melaksanakan upaya-upaya mengalihkan nilai-nilai budayamasyarakat dengan mengajarkan nilai-nilai yang menjadi
way of life 
masyarakat dan bangsanya. Untukmemenuhi fungsi dan tugasnya tersebut sekolah menetapkan program dan kurikulum pendidikan,beserta metode dan tekniknya secara paedagogis, agar proses transmisi nilai-nilai tersebut berjalanlancar dan mulus.
 
Dalam hubungannya dengan transmisi nilai-nilai, terdapat beragam budaya antara masyarakat yang satudengan masyarakat yang lain, dan antara negara yang satu dengan negara yang lain. Sebagai contohsekolah-sekolah keguruan di Uni Soviet dan Amerika. Di Uni Soviet guru-guru harus mengajarkan rasasolidaritas dan rasa tanggung jawab untuk menyatu dengan kelompoknya dengan mengembangkansistem kompetisi di antara mereka. Sementara di Amerika Serikat guru harus mengembangkankemampuan untuk hidup mandiri dan kemampuan bersaing dengan melakukan upaya-upaya kompetisipenuh di antara siswa-siswa.
 
2) Fungsi kontrol sosial
 
Sekolah dalam menanamkan nilai-nilai dan loyalitas terhadap tatanan tradisional masyarakat harus jugaberfungsi sebagai lembaga pelayanan sekolah untuk melakukan mekanisme kontrol sosial. Durheimmenjelaskan bahwa petididikan moral dapat dipergunakan untuk menahan atau mengurangi sifat-sifategoisme pada anak-anak menjadi pribadi yang merupakan bagian masyarakat yang integral di manaanak harus memiliki kesadaran dan tanggung jawab sosial. (Jeane H. Bellatine, 1983, p.8). Melaluipendidikan semacam ini individu mengadopsi nilai-nilai sosial dan melakukan interaksi nilai-niiai tersebutdalam kehidupannya sehari-hari Selanjutnya sebagai individu sebagai anggota masyarakat ia jugadituntut untuk memberi dukungan dan berusaha untuk mempertahankan tatanan sosial yang berlaku.
 
Sekolah sebagai lembaga yang berfungsi untuk mempertahankan dan mengembangkan tatanan-tatanan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->