Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Study Kasus Strategi Bersaing Pada Pt Sosro

Study Kasus Strategi Bersaing Pada Pt Sosro

Ratings: (0)|Views: 431|Likes:
Published by Wahyu Setyorini

More info:

Published by: Wahyu Setyorini on Jun 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

06/21/2012

pdf

text

original

 
STUDY KASUS STRATEGI BERSAING PADA PT. SOSRO
1.FAKTA
Masyarakat Indonesia sangat doyan minuman teh. Hasil survei oleh berbagai lembaga riset antara lainAC Nielsen, MARS dan SWA, sejak tahun 1999 hingga kini menunjukkan, tingkat penetrasi pasar untukteh mencapai lebih dari 95 persen. Itu artinya, minuman teh nyaris telah atau pernah dikonsumsi olehsetiap anggota masyarakat. Bahkan riset dari MARS di lima kota besar di Indonesia yakni Jakarta,Medan, Surabaya, Bandung, dan Semarang, menunjukkan, penetrasi pasar oleh minuman teh lebihtinggi dari minuman kopi yang hanya dikonsumsi oleh 79 persen penduduk Indonesia khususnya diperkotaan.Meski belum ada data atau statistik yang pasti, namun persentase terbesar dari penjualan tehmasih dipegang oleh teh bubuk, lalu disusul oleh teh dalam kemasan botol dan selanjutnya teh dalamkemasan lain seperti teh celup, tehinstan,danlain-lain. Membicarakan produk teh dalam kemasan botol,selama hampir satu dekade hanya ada satu nama yang melekat, yaitu Sosro. Boleh percaya, boleh tidak, jika untuk produsen teh seperti PT Duta Serpack Inti (DSI) kontribusi terbesar bagi pemasukanperusahaan berasal dari produk teh bubuk dan sebagian kecildaritehcelup. Namun pada Sosro justrukontribusi terbesar datang dari penjualan teh botol. Sulit mendapatkan statistik yang pasti, namundengan fakta di lapangan di mana hampir setiap toko, kantin, warung pinggir jalan, semuanya menjualproduk teh botol, diperkirakan lebih dari 90 persen pemasukan Sosro adalahdaritehbotol. DistribusiSosro mencakup hampir seluruh wilayah nasional mulai dari Batam, Jabotabek, Jabar, Jatim, hinggaKalimantan dan Sulawesi. Bahkan teh dalam kemasan botol Sosro diekspor ke Australia, Vietnam, BruneiDarussalamdanAmerikaSerikat. Ditilik dari siklus hidupnya, produk teh botol Sosro telah berada padafase mature. Menyadari ini, Sosro pun mengantisipasi dengan meluncurkan Fruit Tea, minuman tehdalam kemasan botol dengan campuranrasadanaromanonjasmine. Sejak diluncurkan 2-3 tahun silam,tampaknya respons masyarakat terhadap produk Fruit Tea, semakin baik. Pengamatan SH selama ini, jika dulunya belum banyak warung yang menjual produk Fruit Tea, namun kini di mana ada teh botolSosro, di situ pula dijual Fruit Tea. Freshtea Belakangan, dalam kurun waktu satu setengah tahun
terakhir, dominasi Sosro mulai “digoyang” oleh masuknya pemain baru di bisnis minuman teh dengan
nama besar bahkan mendunia. PT Coca Cola Amatil Indonesia meluncurkan produk teh dalam kemasanbotol dengan nama Freshtea. Belakangan, untuk menjangkau segmen konsumen yang lebih besar lagi, diakhir tahun 2002 Coca-Cola menyediakan Freshtea dalam kemasan kotak yang diistilahkan sebagaikemasan santai. Mengutip ucapan dari Sanjay Guha, Managing Director PT Coca-Cola Indonesia, pasarminuman siap saji khususnya teh di Indonesia belum berkembang. Pihaknya melihat ini merupakanpotensi besar yang dapat dikemban
gkan. “Teh adalah minuman yang sangat populer dan sudah menjadi
tradisi bagi bangsa Indonesia. Kami memiliki komitmen untuk mempersembahkan kepada konsumen
minuman teh siap saji yang berkualitas dengan cita rasa terbaik,” katanya. Apalagi sebutnya, konsums
iproduk Coca-Cola di Indonesia baru mencapai jumlah 19 porsi saji per kapita per tahun dan termasukyang paling rendah di Asia. Dia berharap, kehadiran Freshtea dapat meningkatkan konsumsi tersebutdan pada gilirannyameningkatkanrevenueperusahaan. Di tempat terpisah, Bambang Chriswanto,
 
National Corporate Affairs Manager PT Coca-Cola Amatil Indonesia mengatakan, tujuan pihaknyamenyediakan Freshtea dalam kemasan santai tak lain ingin memberikan alternatif pilihan bagikonsumen terutama konsumen yang memiliki karakteristik aktif dan kerap melakukan
perjalanan.“Awalnya kita memang hanya menyediakan Freshtea dalam kemasan isi ulang atau botol.
Namun seiring dinamika kebutuhan konsumen yang memiliki karakteristik seperti disebutkan di atas,kami melihat bahwa k
onsumen perlu diberialternatif,”katanya. Ditambahkan, gaya hidup konsumen
dalam menikmati teh ternyata telah berubah. Di sela-sela kegiatan aktifnya seperti berwisata konsumenmasih ingin menikmati teh. Oleh karena itu Freshtea melihat ini sebagai peluang yang tidak cocokdimasuki Freshtea kemasan isi ulang yang relatif ada kekurangannya dari segi kepraktisan.Dari 10 pabrikyang memproduksi Freshtea, baru pabrik di Cibitung, Bekasi, yang menghasilkan kemasan santai dengankapasitas produksi 1000 kemasan per menit. Bambang mengatakan, respon konsumen terhadapFreshtea dalam kemasan santai cukup baik, yang terefleksi pada pertumbuhan penjualan yang cukuptinggi kendati belum bisa menyamai penjualan Freshtea dalam kemasan isi ulang. Namun ini katanyasemata-mat
a hanya masalah timing. “Soalnya, kemasan isi ulang lebih dulu hadir ketimbang kemasansantai. Ke depan, bukan tidak mungkin keduanya akan sama besarnya,” kata Bambang.Boleh dikata, kini
Coca Cola bersaing head to head dengan Sosro yang mengusung teh botol dan Fruit Tea. Distribusi atauketersediaan (availability) menjadi kunci sukses pemasaran. Sosro dikenal memiliki jaringan distribusiyang sangatmengakar. Survei AC Nielsen beberapa waktu lalu menemukan availability Sosro mencapai100 persen. Namun Coca-Cola juga tidak kalah kuat dalam saluran distribusi. Database Coca-Coladiketahui memiliki ratusan ribu warung pinggir jalan yang siap menjajakan produk Coca-Cola termasukFreshtea. Maka menarik melihat persaingan di antara kedua pemain besar ini. Tinggal siapa yangmenang dan siapa yang terjungkal.
2.ANALISA KASUS
Subsektor agroindustri memenuhi syarat sebagai industri yang memiliki daya saing yang kuat dalam jangka panjang dan dapat menyerap tenaga kerja baik secara langsung maupun tidak langsung.Subsektor agroindustri merupakan jembatan yang kokoh untuk menghubungkan sektor pertanian yangtangguh dan sektor industri yang maju. Potensi sumber daya alam Indonesia, luas lahan yang ada,kondisi alam, serta letak Indonesia yang berada di kawasan tropis merupakan keunggulan bagi negarakita untuk mengembangkan agroindustri.Keadaan tersebut memungkinkan untuk menghasilkan berbagai jenis komoditas pertanian yang dapatdigunakan sebagai bahan-bahan agroindustri, dari sekian banyak perusahaan terutama yang bergerakdibidang agroindustri, PT. Sinar Sosro merupakan salah satu contoh perusahaan terbaik yang suksesmengolah minuman ringan (Soft drink) teh, salah satu produk yang dihasilkan ialah teh dalam kemasanbotol dengan merk Teh Botol Sosro.Sejak terjadinya krisis ekonomi moneter sejak bulan Juli 1997 yang menimbulkan berbagai perubahandalam lingkungan perusahaan. Pada masa kondisi ini Sosro terpaksa menaikkan harga produk Teh BotolSosro karena sebagian komponen Teh Botol Sosro masih menggunakan bahan baku impor, selain itupada kondisi ini Sosro menghadapi suatu masalah baru yaitu menurunnya daya beli konsumen dan
 
munculnya ancaman dari perusahaan pesaing yaitu Teh Hi-Ci, Teh Kita, Teh Bintang, Teh Giju, dan Teh 2Tang yang mengancam pangsa pasar Sosro dengan cara mencoba masuk pada jalur distribusi Sosro.Berdasarkan permasalahan tersebut diatas maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampaklangsung situasi krisis terhadap volume penjualan Teh Botol Sosro kemudian juga untuk mengetahuistrategi dan taktik pemasaran yang dilakukan oleh pihak Sosro di PT. Saranasangga Mekarluhur-JawaBarat. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel secara sengaja (purposive) kepada narasumber yang bergerak pada bidang pemasaran di PT. Saranasangga Mekarluhur-Jawa Barat, sertamelalui observasi langsung di wilayah Bandung, selain itu untuk gambaran penjualan Teh Botol Sosropada periode sebelum masa krisis (tahun 1995-1997) dan pada masa krisis (tahun 1997-2001) digunakananalisis Trend dengan menggunakan analisis Trend debgab persamaan Y = a bx.Periode sebelum krisis (tahun 1995-1997) menghasilkan persamaan dan pada periode masa krisis (tahun1998-2001) menghasilkan persamaan garis . Jika dilihat nilai b pada kedua periode tersebut terdapatperbedaan yang tidak terlalu jauh dan tidak terlalu mencolok, hal ini membuktikan bahwa perusahaanSosro mampu mempertahankan pertumbuhan penjualannya walaupun pada masa krisis. Dari hasilpenelitian di PT. Saranasangga Mekarluhur sebagai perwakilan Sosro di Bandung, tetap memilihbertahan, menitikberatkan aktivitas pemasaran pada sasaran yang telah dikuasai (pelanggan), begitupula dengan strategi dan taktik pemasaran Sosro dalam situasi krisis juga ditekankan pada upayamempertahankan pelanggan yang sudah ada. Selain itu pihak Sosro juga selalu memantau otlet-otletSosro dari pengaruh pesaing (competitor) yang berniat menggantikan Teh Botol Sosro.DeskripsiAlternatif : Subsektor agroindustri memenuhi syarat sebagai industri yang memiliki daya saingyang kuat dalam jangka panjang dan dapat menyerap tenaga kerja baik secara langsung maupun tidaklangsung. Subsektor agroindustri merupakan jembatan yang kokoh untuk menghubungkan sektorpertanian yang tangguh dan sektor industri yang maju. Potensi sumber daya alam Indonesia, luas lahanyang ada, kondisi alam, serta letak Indonesia yang berada di kawasan tropis merupakan keunggulan baginegara kita untuk mengembangkan agroindustri. Keadaan tersebut memungkinkan untuk menghasilkanberbagai jenis komoditas pertanian yang dapat digunakan sebagai bahan-bahan agroindustri, dari sekianbanyak perusahaan terutama yang bergerak dibidang agroindustri, PT. Sinar Sosro merupakan salah satucontoh perusahaan terbaik yang sukses mengolah minuman ringan (Soft drink) teh, salah satu produkyang dihasilkan ialah teh dalam kemasan botol dengan merk Teh Botol Sosro.Sejak terjadinya krisis ekonomi moneter sejak bulan Juli 1997 yang menimbulkan berbagai perubahandalam lingkungan perusahaan. Pada masa kondisi ini Sosro terpaksa menaikkan harga produk Teh BotolSosro karena sebagian komponen Teh Botol Sosro masih menggunakan bahan baku impor, selain itupada kondisi ini Sosro menghadapi suatu masalah baru yaitu menurunnya daya beli konsumen danmunculnya ancaman dari perusahaan pesaing yaitu Teh Hi-Ci, Teh Kita, Teh Bintang, Teh Giju, dan Teh 2Tang yang mengancam pangsa pasar Sosro dengan cara mencoba masuk pada jalur distribusi Sosro.Berdasarkan permasalahan tersebut diatas maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampaklangsung situasi krisis terhadap volume penjualan Teh Botol Sosro kemudian juga untuk mengetahuistrategi dan taktik pemasaran yang dilakukan oleh pihak Sosro di PT. Saranasangga Mekarluhur-JawaBarat.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->