Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Illegal Loging Dalam Prespektif Islam

Illegal Loging Dalam Prespektif Islam

Ratings: (0)|Views: 376 |Likes:
Published by muhammad dagna

More info:

Published by: muhammad dagna on Jun 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2013

pdf

text

original

 
1
BAB IPendahaluanLatar BelakangLINGKUNGAN DALAM PANDANGAN ISLAMMasalah lingkungan adalah berbicara tentang kelangsungan hidup (manusia dan alam).Melestarikan lingkungan sama maknanya dengan menjamin kelangsungan hidup manusia dansegala yang ada di alam dan sekitarnya. Sebaliknya, merusak lingkungan hidup, apapunbentuknya, merupakan ancaman serius bagi kelangsungan hidup alam dan segala isinya, tidak terkecuali manusia.Islam sebagai agama paripurna, memiliki kebenaran universal dan absolut -karena berasaldari zat yang maha absolut (Allah; Rabb al-Jalil), sejak 14 abad lalu telah memiliki perhatiankhusus terhadap persoalan lingkungan, lewat warning (memberi peringatan) akibat kerusakanlingkungan, antara lain dinyatakan dalam Alquran, surat Ar-Ruum: 41. Dalam ayat itudikatakan, kerusakan lingkungan akibat ulah tangan manusia yang fasid (destroyer/perusak akan ditimpakan kepada manusia itu sendiri (baik mereka yang merusak mapun yang tidak 
terlibat) supaya mereka kembali ke jalan yang benar (la„allahum yarji„un).
 Sayangnya manusia tidak pernah jera dan mau mengambil pelajaran di balik bencana alamyang terjadi. Mereka bebal dan buta tuli terhadap tanda-tanda yang dihadirkan oleh alamsebagai bentuk perlawanan mereka terhadap prilaku manusia yang rakus dan pongah dalam
mengesploitasi alam. Sepertinya syair Ebiet G.Ade “mungkin alam sudah enggan bersahabatdengan kita” semakin menunjukkan kebenaran faktualnya. Bahkan bukan lagi sekedar ‟mungkin„ tapi sudah benar 
-benar benci dan marah terhadap prilaku dekonstruktif manusiaterhadap alam sekitarnya. Buktinya hampir tiap hari bencana alam akrab mengancam hidupmanusia.Ancamam pemanasan global menjadi salah satu akibat stubborn (keras kepala)nya manusia.Padahal pemanasan global ini telah menjadi isu internasional, namun penghancuranlingkungan khususnya di Indonesia terus terjadi. Perambahan hutan dan perusakan ekosistempesisir terus berlanjut, sementara reboisasi yang dilakukan berjalan sangat lambat, kalau tidak dikatakan hampir tidak ada.Cuma butuh waktu kurang dari satu jam untuk menebang kayu-kayu besar di rimba, tapibutuh ratusan tahun untuk membesarkan kayu-kayu itu kembali. Demikian juga dalam halpelestarian hutan. Hutan dapat dihanguskan dan dirusak dalam hitungan jam, baik dengansatu biji korek api atau pembalakan liar yang dilakukan dengan menggunakan teknologimodern dan lain-lain, tapi butuh waktu puluhan, bahkan ratusan tahun untuk mengembalikannya ke kondisi semula.Melestarikan lingkungan hidup, ditempu pendekatan prventif, di antaranya melaluipemahaman ajaran agama secara komprehensif dan integratif. Dalam kontek lingkungan
sering disebut istilah “Fiqh Lingkungan”. Istilah ini dilihat dalam ajaran Islam (content/isi
dan spirit) berdasarkan nash agama (lquran dan hadis), bukanlah hal yang baru. Perlu
 
2
dipertegas bahwa ketika kata “Fiqh” itu disebutkan, tidak serta
-merta ia merefleksikan kitabkuning, bahasa Arab Jawi ataupun bahasa Arab, dan lainnya.Fiqh dalam konteks lingkungan adalah hasil bacaan dan pemahaman manusia terhadap dalilnaqli, baik yang maktubah (tertulis) maupun yang kauniyyah (tidak tertulis) yang tersebar dialam jagad raya. Jadi, Fiqh Lingkungan berarti pemahaman manusia tentang lingkunganhidup melalui pendekatan-pendekatan holy scriptures (teks-teks suci) dan natural signs(tanda-tanda alam) yang pada akhirnya akan melahirkan suatu konsep dan sikap marekaterhadap alam semesta, khususnya menyangkut pelestariannya. Karenanya pemahaman umatterhadap ajaran Islam perlu dikembangkan dan diperdalam agar Islam bisa dilihatcomprehensif.Perlu pemahaman yang cerdas dan arif, bahwa memasukkan isu-isu pelestarian lingkungandalam kurikulum pendidikan pesantren dan dayah, materi khutbah, sebagai suatu hal pentingdaripada membicarakan masalah ruknun min arkan al-Islam (rukun dari rukun Islam yanglima itu). Karena menjaga lingkungan hidup dan alam semesta ini adalah konsekuensi darikepercayaan Tuhan kepada manusia yang telah Dia angkat menjadi khalifah (pengganti-Nya)di muka bumi ini. Tanggungjawab ini harus dipegang teguh semua orang.Selama ini umat Islam sering berdebat dan berbeda pendapat tentang persoalan fiqh Islamdalam konteks yang terbatas semisal fiqh ibadah, mengenai tatacara sholat, wudhu, haji, dll.Maka kini, sudah saatnya umat Islam diarahkan untuk bisa berdebat, memahami, dan
mengamalkan “Fiqh Lingkungan”. Wacana “Fiqh Lingkungan” ini patut digulirkan bukan
semata-mata latah ikut gerakan para aktivis pencinta lingkungan, tetapi tentu saja berdasarkanliteratur yang sangat sahih yang terdapat pada Kitab Suci Al-Quran sebagai pedoman utamaumat Islam, dan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW sebagai penjelas dari kitab sucitersebut.Bagaimana sebetulnya Al-Quran dan Al-hadits berbicara tentang lingkungan sehingga kita
 perlu berwacana dan bahkan mengamalkan “Fiqh Lingkungan”?
 
Landasan Teologis
 Ketika Allah SWT bermaksud menciptkan makhluk bernama manusia, Allah SWT berujar:
“Aku akan menciptakan di muka bumi ini seorang Khalifah (manusia)”. Setelah itu makamuncul apatisme dari Malaikat, yang mempertanyakan: “Apakah Engkau m
enciptakan
makhluk yang akan melakukan kerusakan di muka bumi dan mengalirkan darah?” MakaTuhan pun menjawab: “Sesungguhnya Aku lebih tahu apa yang tidak kamu ketahui”. (Q.S.
2:30)Tuhan menyebut manusia dengan sebutan Khalifah. Karakter Khalifah itu sendiridigambarkan dalam Al-
Quran Surat Shaad ayat 26: “Hai Dawud, sesungguhnya Kami
menjadikanmu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) diantara
manusia dengan adil dan janganlah mengikuti hawa nafsu”. Seorang khalifah yang adil d
alampandangan Tuhan bukanlah seorang yang mengurung diri berzikir di dalam masjid, tanpamau melihat dan menyelesaikan perosalan masyarakat. Khalifah yang adil adalah manusiayang yang mau dan mampu melaksanakan amal shalih, mereka itulah yang akan mendapatgelar taqwa yang akan diberikan kebahagiaan di akhirat. Salah satu karakter utama dari taqwa
adalah tidak melakukan perusakan lingkungan. Perhatikan firman Tuhan berikut ini: “Negeri
akhirat itu, kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan
 
3
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang
yang bertaqwa”. (Q.S. Al
-Qashsash: 83)Jadi, seseorang yang melakukan perusakan lingkungan dalam bentuk pencurian pohon, illegallogging, perambahan, pembalakan liar, dsb, bukan termasuk kelompok orang yang bertaqwayang akan mendapatkan surga-Nya. Secara sederhana, ini bisa menjadi sebuah landasanteologis bahwa penyelamatan lingkungan adalah bagian penting dari ajaran Islam.
Landasan Yuridis
 Lantas apa hukumannya bagi orang-orang yang melakukan kerusakan tersebut? mereka layak mendapat sanksi berat berupa hukum mati, disalib, dipotong tangannya, bahkan diasingkan.Sebagaimana Al-Quran Surat Al-
Maidah ayat 33: “Sesungguhnya pembalasan terhadap
orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, dan membuat kerusakan di muka bumi,hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka denganbertimbal balik atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai)suatu penghi
naan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.”
 Dalam kajian ushul fiqh, dikenal sebuah kaidah bahwa diantara tujuan disyariatkannya ajaranIslam diantaranya jalb al-mashalih (mengutamakan perbaikan dan kedamaian), dan juga ada
istilah dar‟ul mafaasid (menghilangkan kerusakan dan perusakan). Bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda: “Laa dharaara walaa dhiraara” (Tidak ada kesulitan dan menyulitkan).
 Secara yuridis, agama Islam menilai bahwa pelaku perusakan lingkungan sama denganpelaku kejahatan yang layak mendapat hukuman seberat-beratnya. Oleh karena itu,
memelihara alam, menanam tumbuhan dan menjaganya, adalah merupakan kewajiban syar‟i
karena akan berimplikasi terhadap pelaksanaan Islam secara kaaffah (menyeluruh).Pernyataa
n ini bisa mendapat pembenaran dengan kaidah ushul fiqh: “Maa Laayatimmulwaajib Illaa bihi, fahuwa waajib” (Suatu kewajiban yang tidak akan bisa
dilaksanakan sempurna kecuali dengan suatu media, maka penyediaan media itu pun menjadiwajib hukjumnya). Lingkungan hidup ini adalah media untuk pelaksanaan kewajiban syariat,maka memelihara lingkungan dalam konteks ini merupakan suatu kewajiban yang jikadilaksanakan akan mendapat pahala (reward) dan jika diabaikan akan mendapat siksa(punishment).
Landasan Etis
 Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia untuk menyempurnakan etika moral manusia. Etikamoral ini menjadi bagian integral dalam keseluruhan ajaran Islam itu sendiri. Banyak sekalituntunan Rasulullah yang menyiratkan wajibnya menjaga perdamaian, kebaikan, danpemeliharaan terhadap keseimbangan alam, sekalipun dalam kondisi peperangan. Perhatikan
sabda Rasulullah berikut: “Apabila engkau membunuh (dalam suatu peperangan), maka
bunuhlah dengan cara yang baik dan apabila engkau menyembelih pun harus dengan caraya
ng baik pula.” Berperang dan menyembelih saja, harus dengan cara yang baik, maka
menebang pohon, memanfaatkan hasil hutan, menggunakan sumber mata air, tentu harusdengan cara yang sangat sangat baik. Lebih tegas lagi, Islam mengajarkan bahwa memeliharatanaman saja diserupakan nilainya dengan ibadah shadaqah / zakat yang memiliki posisi
 penting dalam ajaran Islam. Rasulullah juga pernah bersabda: “Barangsiapa memiliki
kelebihan air bekas minum, terus air tersebut dituangkan pada pohon, maka itu termasuk sh
adaqah.”
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->