Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Simulasi Limpasan Permukaan Dan Kehilangan Tanah

Simulasi Limpasan Permukaan Dan Kehilangan Tanah

Ratings: (0)|Views: 40 |Likes:
Published by saffi na

More info:

Published by: saffi na on Jun 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/24/2012

pdf

text

original

 
81
SIMULASI LIMPASAN PERMUKAAN DAN KEHILANGAN TANAH PADABERBAGAI UMUR KEBUN KOPI: STUDI KASUS DI SUMBERJAYA,LAMPUNG BARAT
Ni’matul Khasanah, Betha Lusiana, Farida dan Meine van Noordwijk
World Agroforestry Centre, ICRAF SE Asia, PO Box 161, Bogor 160011
ABSTRACT
Conversion of forest to agriculture on sloping land raisesconcern over the degradation of watershed functions. Onsloping land, a considerable amount of rainfall can be lostas surface run off, reducing water availability to crops andcarrying soil particles leading to soil erosion. Simulationwith the WaNuLCAS (Water, Nutrient and Light Capture inAgroforestry Systems) model was used to explore changesof surface run off and soil loss as a result of changes in soilstructure in response to land use changes in coffee gardensin Sumberjaya, Lampung. Runoff and soil loss are, accordingto the model, specifically influenced by 4 main parametersrelated to rain intensity (Rain_IntensMean – RIM), surfaceinfiltration (S_SurfInfiltInit – SSI), decay rate of macroporesper day (S_KstrucDecay – SKD) and ease with which soilis carried by surface run off (E_EntrainmentCoefBarePlot –ECB).By adjusting values for these four parameters andusing defaults as well as measured inputs (e.g. rainfall), thesimulation shows that the surface run off and soil loss forall land uses qualitatively agreed with run off and soil lossmeasured in the field. Rain_IntensMean (RIM) 50 andS_SurfInfiltInit (SSI) 1000 mm day
-1
are the valuesrepresenting rainfall and soil conditions in Sumberjaya,Lampung. The pattern of increase and subsequent decreaseof runoff with increasing age of the coffee can be accountedfor through a simple representation of the dynamics of soilstructure. A S_KStrucDecay (SKD) of 0.0005 day
-1
reproduced the pattern for surface run off, while soil lossprediction was best for an E_EntrainmentCoefBarePlot(ECB) of 0.002 m
2
kg
-1
soil mm
-1
m
2
. Model simulation withWaNuLCAS after this ‘calibration’ can be used to explorethe changes of surface run off and soil loss as a result of land use changes and rainfall distribution.
 Key words
:simulation, surface run off, erosion, modelWaNuLCAS
ABSTRAK
Konversi hutan menjadi lahan pertanian khususnya padalahan miring merupakan kegiatan yang beresiko tinggiditinjau dari sudut pandang pengelolaan daerah air sungai.Pada lahan miring, hujan akan mengalir di permukaan tanahsebagai limpasan permukaan, jumlah air yang tersedia untuk tanaman berkurang dan sebagian lapisan tanah atas akanhilang bersama-sama dengan limpasan permukaan (erosi).Model simulasi seperti WaNuLCAS (Water, Nutrient andLight Capture in Agroforestry Systems) dapat digunakanuntuk mempelajari perubahan limpasan permukaan dan erosiakibat perubahan kualitas struktur tanah. Perubahankualitas struktur tanah terjadi sebagai akibat dari kegiatanalih guna lahan dari hutan menjadi kebun kopi sebagaimanayang banyak dijumpai Sumberjaya, Lampung. Pada modelWaNuLCAS, empat parameter utama yang mempengaruhilimpasan permukaan dan kehilangan tanah adalah intensitashujan (Rain_IntensMean – RIM), infiltrasi permukaan(S_SurfInfiltInit – SSI), laju penurunan pori makro tanahper hari (S_KstrucDecay – SKD) dan mudah tidaknya tanahterkikis air (E_EntrainmentCoefBarePlot – ECB).Dengan melakukan parameterisasi pada keempatparameter tersebut, limpasan permukaan dan kehilangantanah hasil simulasi model WaNuLCAS pada skenarioperubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi kebunkopi cenderung mempunyai pola yang sama dengan hasilpengukuran di lapangan. Nilai parameter RIM sebesar 50dan S_SurfInfiltInit (SSI) sebesar 1000 mm hari
-1
merupakannilai yang dapat mewakili kondisi hujan dan tanah di daerahSumberjaya, Lampung. Pola perubahan limpasan permukaanpada berbagai umur kebun kopi (cenderung naik sampaiumur tertentu, selanjutnya turun) dapat dijelaskan melaluidinamika struktur tanah. Pola limpasan permukaan yangsama dengan hasil pengukuran di lapangan diperoleh padanilai S_KStrucDecay (SKD) sebesar 0.0005 hari
-1
,sementara kehilangan tanah diperoleh pada nilaiE_EntrainmentCoefBarePlot (ECB) 0.002 kg
-1
tanah mm
-1
m
2
.Simulasi model WaNuLCAS dapat digunakan untuk mengeksplorasi limpasan permukaan dan kehilangan tanahpada berbagai skenario perubahan penggunaan lahan yangberkaitan dengan perubahan sifat-sifat tanah dan berbagaidistribusi curah hujan.
 Kata kunci:
erosi, limpasan permukaan, model simulasi,model WaNuLCAS, Sumberjaya
PENDAHULUAN
Konversi hutan menjadi lahan pertanian khususnyapada lahan miring merupakan kegiatan yang beresikotinggi ditinjau dari sudut pandang pengelolaan daerahaliran sungai (DAS). Masalah utama yang dihadapiakibat adanya perubahan tutupan lahan pada lahanmiring adalah berubahnya fungsi hidrologi DAS.Limpasan permukaan dan kehilangan tanah merupakansalah satu aspek yang dapat dikaji dalam mempelajariperubahan fungsi hidrologi DAS sebagai akibat dariperubahan kerapatan vegetasi penutup tanah dan
 AGRIVITA VOL. 26 NO.1 MARET 2004 ISSN : 0126 - 0537 
 
82
kualitas struktur tanah. Perubahan kualitas strukturtanah diduga sebagai akibat dari kegiatan alih gunalahan, misalnya dari hutan menjadi kebun kopi diSumberjaya (Verbist dan Pasya, 2004).Affandi (2002) melakukan pengukuran limpasanpermukaan di Desa Bodong, Sumberjaya pada skalaplot dengan berbagai tipe pengelolaan lahan yaitu, plotkopi dengan rumput kerbau (
Paspalum conjugatum
)sebagai tanaman penutup tanah, plot kopi denganpenyiangan dan plot kopi tanpa penyiangan. Padaplot kopi dengan penyiangan, limpasan permukaanmencapai 7 – 16 %, jumlah ini menurun pada tahunkedua seiring dengan tumbuhnya tanaman kopi.Kehilangan tanah yang terbesar dijumpai pada plot kopidengan penyiangan yaitu sebesar 23 Mg ha
-1
padatahun kedua. Adanya
P. conjugatum
dapatmenurunkan limpasan permukaan dan kehilangan tanahsampai hingga 0 % setelah tahun ke tiga, sedang padaplot kopi tanpa penyiangan limpasan permukaan dankehilangan tanah menurun sampai hingga 0 % setelahtahun ke empat. Pada kecamatan yang sama, namunstruktur tanah berbeda di desa Tepus dan Laksana,Agus
et al
. (2002) menyatakan bahwa besarnyalimpasan permukaan pada plot kopi monokultur sebesar48 mm dan kehilangan tanah hanya sebesar 1.3 Mgha
-1
dalam periode 8 bulan pengamatan dengan curahhujan sebesar 2347 mm.Untuk memahami perubahan limpasan permukaandan kehilangan tanah, dibutuhkan pengukuran secaralangsung di lapangan. Pengukuran limpasanpermukaan dan kehilangan tanah di lapangan secaralangsung membutuhkan biaya, waktu dan percobaanyang tidak sedikit. Salah satu upaya yang dapatdilakukan untuk menekan biaya, waktu dan percobaanadalah menggunakan pendekatan model simulasi yangmampu memperhitungkan faktor-faktor yangmempengaruhi limpasan permukaan dan kehilangantanah sehingga menghasilkan nilai yang mendekatidengan hasil pengukuran di lapangan. Tulisan inimengkaji pemanfaatan model simulasi WaNuLCASdalam memahami perubahan limpasan permukaan dankehilangan tanah pada kebun kopi di Sumberjaya,Lampung. Dalam proses pengkajian ini hasil simulasidibandingkan dengan hasil pengamatan di lapanganyang merupakan bagian dari validasi dalammenggunakan model simulasi. Nantinya diharapkanmodel mampu menggambarkan fenomena perubahanlimpasan permukaan dan kehilangan tanah akibat alihguna lahan.Model simulasi WaNuLCAS (Water, Nutrient andLight Capture in Agroforestry System) adalah modelsimulasi yang dapat digunakan untuk mensintesisproses-proses penyerapan air, hara dan cahaya olehtanaman pada berbagai macam pola tanam dalamsistem agroforestri dalam skala plot dan waktu harian.Proses-proses tersebut sangat dipengaruhi olehkesuburan tanah dan iklim. Sistem agroforestri dalammodel ini meliputi sistem budidaya lorong pada lahandatar atau lahan berlereng, sistem pekarangan sertasistem bera dan tanaman pagar pada lahan berlerengyang ditanam mengikuti garis kontur (Sunaryo
et al
.,2002). Prinsip dan proses dasar penyerapan air, haradan cahaya oleh tanaman diterjemahkan modelWaNuLCAS melalui beberapa modul antara lain iklim,erosi tanah dan sedimentasi, penyerapan air, hara dancahaya oleh tanaman, pertumbuhan tanaman (tajuk dan akar), bahan organik tanah serta keseimbanganhara, air dan tanah. Penjelasan lebih rinci mengenaiproses penyerapan air, hara dan cahaya dapat dilihatpada van Noordwijk dan Lusiana (2000) dan Hariah
et al.
(2002).Modul iklim, erosi tanah dan sedimentasimemodelkan bagaimana hujan pada lahan miring akanmengalir di permukaan tanah sebagai limpasanpermukaan. Semakin banyak air yang mengalir dalambentuk limpasan permukaan, maka semakin berkurangresapan air ke dalam tanah dan semakin tinggi resikoterjadinya kekeringan. Meningkatnya limpasanpermukaan juga meningkatkan kehilangan lapisantanah atas (erosi), bahan organik dan hara. Denganberjalannya waktu dampak in situ yang dirasakanadalah menurunnya produksi tanaman dan dampak exsitu adalah sedimentasi di daerah hilir.
METODOLOGI
Gambaran umum daerah Sumberjaya
Kecamatan Sumberjaya, Lampung Barat, merupakandaerah yang berbatasan dengan pegunungan yangbersambungan dan terletak di hulu DAS TulangBawang dengan luas lebih dari 478 km2 dan ketinggianantara 700 – 1700 m dpl (Agus
et al
., 2002). Kondisitopografi wilayah ini bervariasi mulai dari datar,bergelombang, berbukit sampai bergunung. Wilayahdatar hingga bergelombang mencapai 15%,bergelombang hingga berbukit 65% dan wilayahberbukit hingga bergunung mencapai 20% (Sihite,2001).Jenis tanah yang dominan pada daerah ini adalahInceptisol yang dicirikan dengan tingkat perkembanganyang relatif muda (Agus
et al
., 2002). Tekstur tanahdi daerah Sumberjaya didominasi oleh lempung liatpada lapisan atas dan liat pada lapisan bawah(Widianto, 2002) dengan kisaran laju infiltrasi padakondisi jenuh berkisar antara 24-240 mm hari
-1
(Tabel 1).Curah hujan rata-rata di daerah Sumberjaya 2614mm tahun
-1
dan memiliki intensitas yang tinggi dengandurasi hujan yang singkat dan tidak meratapenyebarannya (Sinukaban
et al
., 2000). Musim hujanyang ditandai dengan tingginya curah hujan terjadi mulaibulan November hingga Mei, sedang curah hujan
Khasanah et al., Simulasi Limpasan Permukaan Dan Kehilangan Tanah Pada Berbagai Umur Kebun Kopi
 
83
terendah terjadi pada bulan Juni – September setiaptahunnya (Farida, 2001). Limpasan permukaan akanmeningkat seiring dengan meningkatnya intensitashujan. Seiring dengan waktu dan terjadinya prosespenjenuhan tanah, intensitas hujan yang konstan jugadapat meningkatkan limpasan permukaan (Kinoshitadan Nakane, 2002).
Penggunaan model WaNuLCAS
Dalam proses pengkajian perubahan limpasanpermukaan dan kehilangan tanah menggunakan modelsimulasi WaNuLCAS, terlebih dahulu dilakukanvalidasi terhadap model. Validasi dilakukan dengan caramembandingkan hasil pemodelan dengan datapengamatan di lapangan untuk kondisi kebun kopimonokultur 1, 3, 7 dan 10 tahun serta hutan sebagaikontrol. Data limpasan permukaan dan kehilangantanah yang digunakan adalah data pengamatan dalamperiode 18 Mei – 21 Juli 2001 (Widianto
et al
., 2004).Nantinya diharapkan model mampu menggambarkanfenomena perubahan limpasan permukaan dan erosiakibat dari perubahan alih guna lahan.
Proses limpasan permukaan dan kehilangantanah dalam model WaNuLCAS
Siklus air dalam tanah (Suprayogo
et al
., 2002)merupakan peristiwa yang melibatkan prosesmasuknya air ke dalam lapisan tanah dan keluarnyaair dari lapisan tanah. Proses masuknya air hujan kedalam lapisan tanah melalui suatu proses yangdinamakan infiltrasi. Dalam model WaNuLCAS,apabila curah hujan telah melebihi maximum lajuinfiltrasi tanah dan curah hujan telah melebihi kapasitastanah menyimpan air (jumlah ruang pori tanah)limpasan permukaan mulai terjadi (Gambar 1).Laju infiltrasi tanah sangat dipengaruhi oleh macampenggunaan lahan atau kerapatan vegetasi penutuptanah yang berhubungan dengan ketebalan lapisanseresah tanah, intensitas hujan, intersepsi hujan olehcanopi tanaman dan dinamika struktur tanah.Dinamika struktur tanah merupakan prosespembentukan dan penurunan pori makro yang sangattergantung pada tersedianya makanan (bahan organik)bagi cacing tanah berupa lapisan seresah tanah danakar yang mati. Kapasitas tanah dalam menyimpanair tergantung pada konduktifitas hidraulik jenuh danaliran lateral. Konduktifitas hidraulik jenuh dihitungmelalui rumus Van Genuchten yang merupakan fungsidari tekstur tanah, bahan organik tanah dan kerapatantanah (Woesten
et al
., 1998).Kehilangan tanah dimodelkan sebagai fungsi darilimpasan permukaan, kemiringan lahan, kerapatanvegetasi penutup tanah dan koefisien entrainment/ erodibilitas tanah atau mudah tidaknya tanah terkikisoleh hujan dan limpasan permukaan (Rose, 1985):
100**)1(**2700
QCover S E 
λ 
=
dengan,E=kehilangan tanah (Mg ha
-1
)S=sinus(kemiringan lahan)Cover=fraksi penutupan lahan (0 = terbuka – 1 =tertutup)Q=limpasan permukaan , mml=entrailment efisiensi.Selanjutnya Rose (1985) memodifikasi l menjadi
COV bare
15.0
=
λ λ 
dengan:
bare
λ 
=entrailment efisiensi dari plot terbuka,COV=persen penutupan lahan.
Parameterisasi sistem kopi dan hujan diSumberjaya dalam model WaNuLCAS
Parameterisasi merupakan tahapan penting dalammemodelkan suatu sistem. Simulasi sistem kopi diSumberjaya dilakukan berdasarkan data hasilpengukuran di lapangan dan dengan bantuan ujisensitivitas untuk parameter-parameter yang sulitdiukur.
 Parameterisasi tanaman kopi dan kondisi tanah
Dalam model WaNuLCAS, pertumbuhan kopidimodelkan berdasarkan konsep percabangan fraktalyang mengacu pada Analisis Cabang Fungsional (FBA= Functional Branch Analysis) yang dikembangkanoleh van Noordwijk dan Mulia (2002). Untuk keperluansimulasi sistem kopi ini, konsep Analisis CabangFungsional dipadukan dengan persamaan allometrik kopi yang diperoleh Arifin (2001). Parameter tanamankopi lainnya dan parameter kondisi tanah diperoleh dariFarida (2001). Kurva pertumbuhan kopi berdasarkanestimasi allometrik dari Arifin (2001) disajikan dalamGambar 2.
 Parameterisasi intensitas hujan dan lajuinfiltrasi tanah
Dalam model WaNuLCAS, parameter yang mewakilifaktor intensitas adalah Rain_IntensMean (RIM),sedang parameter yang mewakili faktor laju infiltrasitanah (mm hari
-1
) adalah S_SurfInfiltInit (SSI) dan
Khasanah et al., Simulasi Limpasan Permukaan Dan Kehilangan Tanah Pada Berbagai Umur Kebun Kopi
Tekstur tanahLaju infiltrasi, mmLaju infiltrasi, mmjam
-1
hari
-1
Pasir > 30>720Lempung20 - 30480 720berpasirLempung10 - 20240 480Lempung liat 5 - 10120 240Liat 1 - 5 24 120
Sumber: Brouwer
et al
. (1999).
Tabel 1.
Laju infiltrasi tanah sesudah mencapaikeadaan stabil (mendekati konduktivitashidrolik jenuh).

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->