Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Konsumerisme Dalam Persfektif Islam

Konsumerisme Dalam Persfektif Islam

Ratings: (0)|Views: 309|Likes:
Published by Lutfi Gozali

More info:

Published by: Lutfi Gozali on Jun 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/26/2012

pdf

text

original

 
Senin, 31 Agustus 2009http://hermaninbismillah.blogspot.com/2009/08/konsumerisme-dalam-persfektif-islam.html
Dalam dunia modern, gaya hidup selalu mendefinisikan sikap, niali-nilai, kelas dan stratifikasisocial seseorang. Segalanya melulu dilihat tampak luar. Sebab, image yang ditampilkan atau citrayang direfleksikan selalu dianggap mendefinisikan eksistensi kita. Maka, pada saat ideology gayahidup semacam ini menjadi terasa lazim dan normal, imagologi bukan lagi suatu yang jauh darisekedar wacana. Ia telah benar-benar berada di sekeliling kita, bahkan lebih dekat, menjadi suatuyang diam-diam kita anut.
 
Disinilah embrio dari konsumerisme tersebut terlahir, sebagai anak haram dari popularitasculture yang kian hegemonic dan industry gaya hidup yang mendidik masyarakat menjadi pesolek.Konsumerisme terjadi saat konsumsi tidak lagi diterjemahkan sebagai semata-mata lalu lintaskebudayaan benda, dimana benda itu dinilai berdasarkan nilai dan fungsinya. Tetapi lebihmemandang sebagai panggung social yang didalamnya nilai-nilai diperebutkan, makna yangtersembunyi di balik sekedar nilai kebendaan dan perang posisi yang tak henti-henti. Misalnya ketikaseseorang hendak berbelanja, dia harus ke mall, padahal dipasar-pasar tradisional mereka lebihbebas dan lebih murah harganya. Ini karena ada sesuatu yang diinginkan diluar barangkebutuhannya, yakni status modernitas dalam image-nya.
 
Jadi fungsi dari sesuatu itu tidak lagi dijadikan tolak ukur lalu lintas kebudayaan benda, namuntelah dipengaruhi oleh nilai-nilai yang lainnya, seperti gengsi, posisi ataupun yang lainnya makasecara sengaja atau tidak orang tersebut sudah terjangkit virus konsumerisme. Dari fenomena inimaka akan terbetik dalam pikiran kita bagaimana hal ini bias terjadi, siapa actor intelektualnya danbagaimana melepaskan diri dari paham ini yang sudah membudaya? Bagaimana peran nilai dalamislam dalam menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks ini?
1. Pengertian
 
Konsumerisme adalah suatu paham atau aliran atau ideology dimana seseorang atau kelompokmelakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksisecara berlebihan atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan. Jadi ketikaseseorang berlaku konsumtif dan menjadikan kekonsumtifan itu sebagai gaya hidup maka sudahtergolong penganut konsumerisme.[1]
2. Proses Terjadinya Konsumerisme
 
Secara pasti kapan waktu mulainya paham ini dilounching oleh actor intelektualnya tidak jelas,tapi asl mulanya dari persaingan poemasaran diantara para produsen barang suatu industryyang ingin memasarkan produknya dengan membentuk image masyarakat/konsumen terhadapbarang hasil produksinya. Jadi disini terjadi proses pencitraan terhadap suatu produk yangdipromosikan, yang dijadikan sebagai stimuli dalam menentukan pola konsumsi. Dalam hal inipraktisi periklanan yang menyerang aspek-aspek psikologis konsumen, dalam strategiperiklanan para desainer periklanan menyerang tiga insting manusia yakni[2] memainkan nafsu kepemilikan, memainkan insting previlage dan status, dan memainkan daya tarik romantisme-sensualitas.
 
3. Teori Konsumsi
 
 
Kalangan para penulis banyak memandang ini dalam pengertian keabsahan hokumbarang-barang konsumen dan jasa-jasa. Hanya sedikit pencetus teori yang beranimenanggulangi issu-issu pokok mengenai teori perilaku konsumen tersebut, namunrasionalisme konsumen dan konsep barang-barang konsumen. Para penulis yang menggunakankerangka acuan islami tidak menerima formulasi kontemporer mengenai teori perilaku konsumendengan alas an bahwa ia diselewengkan oleh nilai-nilai ideology dan social bukan muslimdimana ia dikembangkan. Namun mereka biasanya tidak memberikan penggantinya. Keberatanmereka terutama ditujukan pada nilai-nilai konsumen bukan pada alat-alat yang berbeda.[3]
Teori perilaku konsumen dikembangkan dibarat setelah timbulnya kapitalisme terjadi
dualitas, yakni “rasionalisme ekonomi” dan “utilitarianisme”. Rasionalisme ekonomi menafsirkan
perilaku manusia sebagai suatu yang dilandasi dengan perhitungan cermat, yang diarahkandengan pandangan kedepan dan persiapan terhadap keberhasilan ekonomi. Keberhasilanekonomi secara ketat d
idefinisikan sebagai “membuat uang dari manusia”, memperoleh harta,
baik dalam pengertian uang atau berbagai komuditas, adalah tujuan hidup yang terakhir, padasaat yang sama merupakan tongkat pengukuran ekonomik.
 
Para penulis muslim memandang perkembangan rasionalisasi dan teori konsumen yangada selama ini dengan penuh kecurigaan dan menuduhnya sebagai aspek perilaku atas
“perhitungan
-perhitungan cermat yang diarahkan untuk melihat kedepan dan pengawas
terhadap keberhasilan ekonomi” sebagaimana yang diung
kapkan oleh Max Weber. Namun
mereka tidak setuju dengan Max Weber bahwa alternative menuju kepada “tradisionalismeekonomi” adalah “keberadaan petani yang sangat menderita” atau mengikuti pandangan Max
Weber yang menyatakan bahwa rasionalisme merupakan konsep cultural, rasionalisme islamdinyatakan sebagai alternative yang konsisten dengan nilai-nilai islam.
 
Konsep keberhasilan islam senantiasa dikaitkan dengan nilai-nilai moral. M.N. Siddiqi
menyatakan “keberhasilan terletak dalam kebaikan. Dengan perilaku
manusia yang semakinsesuai dengan pembakuan-pembakuan moral dan semakin tinggi kebaikannya, maka dia
semakin berhasil….selama hidupnya, pada setiap fase keberadaan, pada setiap langkah,
individu muslim berusaha berbuat selaras mungkin dengan nilai-nilai
moral”
 
Kebaikan dalam peristilahan islam, berarti sikap positif terhadap kehidupan dan oranglain. Hal paling buruk yang bias dilakukan orang adalah meninggalkan kehidupan danmasyarakat atau melakukan negativism terhadapnya. Hal itu merupakan konsep halus yangditampilkan secara tidak benar oleh tradisi-tradisi sufi yang ada dalam masyarakat muslimselama enam abad yang lampau maupun dari orang-orang non muslim dari kalangan Kristenyang melihat islam melalui lensa prakonsepsi Kristen sepanjang hidupnya.
 
Islam mengaitkan kepercayaan terhadap adanya kehidupan akhirat secara ketat dengankepercayaan terhadap adanya allah. Hal ini memperluas cakrawala setiap muslim mengenaiwaktu setelah terlampaunya kematian. Kehidupan sebelum kematian dan kehidupan setelahkematian terkait satu sama lain dengan erat sekali dalam urutannya. Hal ini menyangkut duaaspek sejauh menyangkut perilaku konsumen. Pertama, akibat dari pemilihan pembuatan ituterdiri dari dua bagian, yakni efek langsung dari kehidupan didunia sekarang dan efeknyakemudian dalam kehidupan (akhirat) yang akan dating. Beberapa contoh dari manfaatalternative semacam itu adalah pinjaman tanpa bunga (al qordhul hasan), pemberian kepadaorang miskin dan terlantar, memelihara binatang-binatang, menyisihkan sebagian harta untukkesejahteraan generasi-generasi yang akan dating, peningkatan kehidupan masyarakatmeskipun pada saat tidak memiliki manfaat langsung bagi individu yang bersangkutan,penyiaran ajaran (dakwah) islam dan peningkatan amal saleh, dan sebagainya. Manfaat-manfaat penghasilan semacam itu tidak dimasukkan dalam rasionalisme Max Weber bilamanfaat itu (dianggap) tidak memiliki manfaat langsung. Jadi banyak manfaat alternative daripenghasilan seseorang memiliki kegunaan positif dalam kerangka acuan islam, meskipunmanfaat-manfaatnya dalam kerangka acuan kapitalis dan komunis bias tidak ada atau bahkannegative.
 
4. Teori Konsumsi Perspektif Islam
 
 
Didalam islam telah ditegaskan bagaimana pola konsumsi yang mencerminkan nilai yangsesuai dengan yang dicontohkan nabi, seperti yang tercantum di dalam hadis nabi yang
diriwayatkan oleh Muslim “jika suatu suap diantara kamu sekalian jatuh, maka hendaklah ia
membersihkan kotorannya dan (setelah itu) hendaklah memakannya dan tidak membiarkannya
untuk setan” Anas berkata “dan beliau memerintahkan kita untuk menghabiskan makanan daripiring” beliau SAW juga bersabda “sesungguhnya kamu tidak mengetahui dimakanan manakahadanya berkah
Makna dari hadis ini adalah pelarangan terhadap konsumsi yang berlebihan, apalagimenghamburkan harta pada hal yang tidak jelas sasarannya. Jadi hanya dibenarkan berbelanjapada hal-hal yang dibutuhkan.Monzer Kahf (1981) berusaha mengembangkan pemikiran tentang hal ini, denganmemulai membuat asumsi sebagai berikut yakni: islam dilkaksanakan oleh masyarakat, zakathukumnya wajib, tidak ada riba dalam perekonomian, mudharabah wujud dalam perekonomian,pelaku ekonomi mempunyai perilaku memaksimalkan. Dalam ekonomi konvensionalpendapatan adalah penjumlahan konsumsi dan tabungan, atau secara matematis ditulis Y=C+Sdimana Y adalah pendapatan, C adalah konsumsi dan S adalah tabungan.
 
Dalam konsep islam yang dijelaskan oleh hadis Rasulullah saw yang maknanya adalah
“yang kamu miliki adalah apa yang telah kamu makan dan apa yang kamu infakkan”. Oleh
karena itu persamaan pendapatan menjadi Y=(C+infak) + S, persamaan ini disederhanakanmenjadi Y=FS+S dimana FS=C + infak dan FS adalah final spending.
 
Penyederhanaan ini memungkinkan kita untuk menggunakan alat analisis grafis yangbiasa digunakan dalam teori konsumsi, yakni memaksimalkan fungsi (utility function) dengangaris pendapatan tertentu (budget line) atau meminimalkan budget line dengan utility functiontertentu.
 
Dalam pola konsumsi satu periode sumbe X dan Y menunjukkan jumlah barang X danbarang Y, sedangkan dalam pola konsumsi intertemporal (dua periode) sumbe X menunjukkan jumlah pendapatan, konsumsi dan tabungan pada periode pertama. Secara matematis inidisimbolkan sebagai Yt, Ct, St, maka symbol yang digunakan adalah FSt. Pada sumbu Ymenunjukkan julah tabungan periode pertama (St) yang digunakan sebagai konsumsi periodekedua (Ct + 1), atau dengan kata lain St = Ct + 1, dalam konsep islam symbol yang digunakanadalah FSt + 1 atau persamaannya menjadi St = FSt + 1.
 
5. Batasan Islam tentang Pembelanjaan Harta
 
Dalam pembelanjaan harta, islam meberi batasan, batasan yang terkait dengan criteria sesuatuyang dibelanjakan yakni batasan yang terkait dengan sesuatu yang dibelanjakan, cara dansifatnya dan batasan yang terkait dengan kuantitas dan ukurannya.
 
6. Akhir Kata
Budaya konsumerisme merupakan budaya kapitalis global yang sudah mengakardikalangan masyarakat dunia, khususnya masyarakat dunia ketiga yang notabene adalahNegara-negara miskin, memang merupakan pekerjaan yang teramat sulit Negara kita yangtermasuk salah satu Negara yang menjadi korban telah menimbulkan berbagai dampak yangteramat kronis.
 
Berangkat dari akar masalha yang menyebabkan masuknya paham ini, yakni krisis hargadiri, dimana rata-rata penganutnya berpola konsumsi tidak didasarkan pada kebutuhan semata

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->