Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kelainan Dan Penyakit Pada Alat Indra

Kelainan Dan Penyakit Pada Alat Indra

Ratings: (0)|Views: 53 |Likes:

More info:

Published by: Riria Hendarto Putri on Jun 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/26/2012

pdf

text

original

 
Kelainan Dan Penyakit Pada Alat Indra
 Created by:1.Abdi Marang Gusti A (01)2.Luthfi Rahman3.Reyhan HD4.Widifermadhana Asrah (40)9C
 
Kelainan dan penyakit pada alat indra dapat mengganggu manusia ketika berinteraksi terhadaplingkungannya. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan, sebagian kelainan dan gangguan tersebutdapat diatasi. Beberapa kelainan dan penyakit yang menyerang alat-alat indra antara lain sebagai berikut.
Mata
1. Astigmatis
Astigmatis (mata silindris) adalah kelainan pada mafa yang menyebabkan penglihatan menjadikabur. Hal ini terjadi karena penderita tidak mampu melihat garis-garis horizontal dan vertikalsecara bersama-sama. Mata tidak mampu memfokuskan pandangan karena kornea mata tidak  berbentuk bola. Kelainan ini dapat diatasi dengan memakai kacamata silindris.
Etiologi
Astigmatisma terjadi akibat kelainan kelengkungan permukaan kornea. Bayi yang barulahir biasanya mempunyai kornea yang bulat atau sferis yang di dalam perkembangannya terjadikeadaan apa yang disebut astigmatisme with the rule (astigmat lazim) yang berarti kelengkungankornea pada bidang vertikal bertambah atau lebih kuat atau jari-jarinya lebih pendek dibanding jari-jari kelengkungan kornea di bidang horizontal.Astigmatisma juga sering disebabkan oleh adanya selaput bening yang tidak teratur dan lengkungkornea yang terlalu besar pada salah satu bidangnya. Permukaan lensa yang berbentuk bulat telur  pada sisi datangnya cahaya, merupakan contoh dari lensa astigmatis. Derajat kelengkungan bidangyang melalui sumbu panjang telur tidak sama dengan derajat kelengkungan pada bidang yangmelalui sumbu pendek. Karena lengkung lensa astigmatis pada suatu bidang lebih kecil daripadalengkung pada bidang yang lain, cahaya yang mengenai bagian perifer lensa pada suatu sisi tidak dibelokkan sama kuatnya dengan cahaya yang mengenai bagian perifer pada bidang yang lain.Selain itu daya akomodasi mata tidak dapat mengkompensasi kelainan astigmatisma karena padaakomodasi, lengkung lensa mata tidak berubah sama kuatnya di semua bidang. Dengan kata lain,kedua bidang memerlukan koreksi derajat akomodasi yang berbeda, sehingga tidak dapatdikoreksi pada saat bersamaan tanpa dibantu kacamata. (3) Adapaun bentuk-bentuk astigmatadalah sebagai berikut: 1.Astigmat Reguler yaitu astigmat yang memperlihatkan kekuatan pembiasan bertambah atau berkurang perlahan-lahan secara teratur dari satu meridian meridian berikutnya.
2
 
Cara mengatasi astigmat regular : memberikan kacamata silinder dengan ukuran yang akanmengimbangi atau berlawanan dengan kelengkungan selaput beningan yang mengakibatkansilinder.Astigmat ireguler : astigmat yang terjadi tidak mempunyai dua meridian yang saling tegak lurus.Astigmat ireguler dapat terjadi akibat kelengkungan kornea pada meridian yang sama berbedasehingga bayangan menjadi ireguler. Astigmatisma ireguler terjadi akibat infeksi kornea,traumadan distrofi atau akibat selaput bening.Cara mengatasi astigmat ireguler: dengan menggunakan lensa kontak sehingga sinar akan dapatdibiaskan pada permukaan lensa kontak dan masuk ke dalam bola mata dengan teratur.Kadang-kadang perlu dilakukan pencangkokan selaput bening atau keratoplasti untuk menghilangkan jaringan parut yang mengganggu penglihatan.
Terapi
Astigmat bisa diperiksa dengan cara pengaburan (fogging technique of refraction) yangmenggunakan kartu snellen, bingkai percobaan, sebuah set lensa coba, dan kipas astigmat.Pemeriksaan astigmat ini menggunakan teknik sebagai berikut yaitu:1.Pasien duduk menghadap kartu Snellen pada jarak 6 meter,2.Pada mata dipasang bingkai percobaan,3.Satu mata ditutup,4.Dengan mata yang terbuka pada pasien dilakukan terlebih dahulu pemeriksaan denganlensa (+) atau (-) sampai tercapai ketajaman penglihatan terbaik,5.Pada mata tersebut dipasang lensa (+) yang cukup besar (misal S + 3.00) untuk membuat pasien mempunyai kelainan refreksi astigmat miopikus,6.Pasien diminta melihat kartu kipas astigmat,7.Pasien ditanya tentang garis pada kipas yang paling jelas terlihat,8.Bila belum terlihat perbedaan tebal garis kipas astigmat maka lensa S( + 3.00) diperlemahsedikit demi sedikit hingga pasien dapat menentukan garis mana yang terjelas dan terkabur,9.Lensa silinder (-) diperkuat sedikit demi sedikit dengan sumbu tersebut hingga tampak garis yang tadi mula-mula terkabur menjadi sama jelasnya dengan garis yang terjelassebelumnya,10.Bila sudah dapat melihat garis-garis pada kipas astigmat dengan jelas,lakukan tes dengankartu Snellen,11.Bila penglihatan belum 6/6 sesuai kartu Snellen, maka mungkin lensa (+) yang diberikanterlalu berat,sehingga perlu mengurangi lensa (+) atau menambah lensa (-),12.Pasien diminta membaca kartu Snellen pada saat lensa (-) ditambah perlahan-lahan hinggaketajaman penglihatan menjadi 6/6.Sedangkan nilainya : Derajat astigmat sama dengan ukuran lensa silinder (-) yang dipakai sehinggagambar kipas astigmat tampak sama jelas.Sedangkan untuk mengoreksi astigmat dapat dilakukan dengan “trial and error” untuk menemukanlensa sferis yang cocok untuk mengoreksi pembiasan pada salah satu bidang. Setelah itu lensa
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->