Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
10. Keterlibatan Perempuan Dalam Bidang Politik Pada Masa Nabi SAW Dan Masa Khulafaur Rasyidin Suatu Kajian Hi

10. Keterlibatan Perempuan Dalam Bidang Politik Pada Masa Nabi SAW Dan Masa Khulafaur Rasyidin Suatu Kajian Hi

Ratings: (0)|Views: 216|Likes:
Published by Adit Fight

More info:

Published by: Adit Fight on Jun 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

06/27/2012

pdf

text

original

 
1
KETERLIBATAN PEREMPUAN DALAM BIDANG POLITIKPADA MASA NABI MUHAMMAD SAW. DANMASA KHULAFAUR RASYIDIN(SUATU KAJIAN HISTORIS)
 Marzuki, M.Ag.
Abstrak
Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran kedudukanperempuan pada masa Nabi Muhammad Saw. dan masa Khulafaur Rasyidin. Sedangmasalah yang kedua adalah sejauhmana keterlibatan perempuan dalam bidang politik pada masa Nabi Muhammad Saw. dan masa Khulafaur Rasyidin serta problem apa sajayang dihadapi perempuan pada waktu itu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap dan mencari jawaban atas kedua masalah tersebut.Penelitian ini merupakan penelitian merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang didasarkan pada kajian kepustakaan (
library research
). Data penelitian yang berisiinformasi-informasi tentang keterlibatan perempuan dalam bidang politik pada masaNabi Muhammad Saw. dan masa Khulafaur Rasyidin diperoleh dari literatur Islam yangberupa hadis-hadis Nabi Muhammad Saw. dan buku-buku sejarah Islam atau buku-bukupolitik Islam yang mengungkap permasalahan tersebut. Data yang terkumpul dianalisissecara kualitatif dengan teknik analisis induktif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi perempuan di tengah-tengahmasyarakat Arab jahiliyah sebelum kedatangan Islam secara umum suram. Perempuandihina, diperlakukan secara kasar, dan direndahkan martabatnya, bahkan perempuandipandang sebagai perwujudan dosa, kesialan, aib, dan hal-hal lain yang memalukan.Pada masa ini perempuan tidak memiliki hak politik sama sekali. Islam datangmembawa angin segar bagi kaum perempuan. Islam menempatkan kedudukanperempuan pada proporsinya dengan mengakui kemanusiaan perempuan dan mengikishabis kegelapan yang dialami perempuan sepanjang sejarah serta menjamin hak-hak perempuan. Pada masa Nabi Muhammad Saw. kaum perempuan sudah memainkanperan-peran politis dalam rangka menegakkan kalimat-kalimat Allah, seperti melakukandakwah Islam, ikut berhijrah bersama Nabi, berbai’at kepada Nabi Saw., dan melakukan jihad atau ikut serta dalam peperangan bersama-sama kaum laki-laki. Kaum perempuan juga aktif memainkan peran-peran politis pada masa Khulafaur Rasyidin.
Ummahat al- Mu’minin
menjadi motor penggerak kaum perempuan pada waktu itu untuk aktif dalamperan-peran politik tersebut. Di antara problem yang dihadapi perempuan dalammelakukan peran-peran politis pada masa Nabi adalah tekanan kaum kafir QuraisyMakkah di awal dakwah Islam, kelemahan fisik mengingat begitu beratnya aktivitasyang dilakukan untuk berhijrah dan berjihad misalnya, serta kehilangan keluarga danharta serta kampung halaman. Namun demikian, problem-problem seperti ini tidak menghalangi peran-peran perempuan di dunia politik. Problem besar yang dihadapipada masa Khulafaur Rasyidin adalah bahwa yang saling bertikai pada saat kekacauanadalah sesama Muslim dan juga ulah kaum munafik, seperti yang dimotori Abdullah binSaba’.
Latar Belakang Masalah
 
2Sebagai agama yang sempurna, Islam mengajarkan berbagai aspek yang terkaitdengan kehidupan manusia mulai dari aspek yang paling pokok hingga aspek-aspek lainsebagai pelengkap dari aspek pokok tersebut. Islam mengajarkan aspek keimanan,ibadah, dan akhlak yang merupakan inti dari ajarannya. Di samping itu, Islam jugamengajarkan persamaan di antara manusia, baik laki-laki maupun perempuan, dan diantara bangsa, suku, dan keturunan yang satu dengan yang lainnya. Yang menjadi titik perbedaan di antara manusia yang kemudian meninggikan atau merendahkannyahanyalah nilai iman dan takwanya kepada Allah Swt. Demikianlah yang ditegaskan olehAllah dalam QS. al-Hujurat (49) ayat 13. Ayat ini tidak membeda-bedakan manusia atasdasar jenis kelamin, suku bangsa, dan kelompok-kelompok tertentu, akan tetapi yangmenjadi ukuran perbedaan manusia di hadapan Allah hanyalah satu, yakni derajatketakwaannya kepada Allah Swt.Seorang pemikir feminis Muslim dari India, Asghar Ali Engineer, ketikameletakkan ayat-ayat al-Quran yang membicarakan hak-hak perempuan dan laki-laki,yakni QS. al-Nisa' (4): 34, al-Baqarah (2): 228, dan al-Ahzab (33): 35 secara bersama-sama dan melihatnya dalam konteks yang tepat, menjelaskan bahwa Allah tidak membeda-bedakan jenis kelamin atau kodrat yang dibawa sejak lahir. Asghar jugamelihat, adanya kontradiksi di dalam al-Quran merefleksikan kontradiksi dalam situasiyang kompleks pada waktu diturunkannya al-Quran (Engineer, 1999: 238).Dalam praktik dan penerapan ajaran Islam, tidak sedikit umat Islam justerumenunjukkan kenyataan yang berbeda dengan apa yang sudah digariskan oleh Allahdalam al-Quran. Kesetaraan yang dijunjung tinggi oleh al-Quran tidak dapatdirealisasikan dalam kehidupan nyata, terutama setelah otoritas pemerintahan danpemikiran didominasi oleh kaum lelaki. Pemerintahan Islam sejak zaman Nabi Saw.,Khulafaur Rasyidin, hingga zaman kerajaan-kerajaan Islam (dinasti) tidak banyak menempatkan perempuan pada posisi-posisi yang strategis atau posisi kunci dipemerintahan. Kehadiran perempuan dalam dunia politik hanyalah sebagai pelengkapdari kekurangan yang mungkin ada.Dalam hal berpolitik wanita juga memiliki hak untuk berpartisipasi di dalamnyasebagaimana laki-laki. Namun, terjadi perbedaan pendapat dalam hal apakah perempuanboleh menduduki jabatan tertinggi negara (presiden atau yang semacamnya) seperti laki-laki.
 
3Yang lebih penting untuk diperhatikan sebenarnya adalah bagaimana kondisi riilyang terjadi pada masa-masa awal pemerintahan Islam, yakni masa Nabi MuhammadSaw. dan masa Khulafaur Rasyidin, yang merupakan masa-masa penting untuk melihatbagaimana sebenarnya ajaran-ajaran Islam diterapkan dalam kehidupan nyata. Apakahpada masa-masa itu kaum perempuan ikut terlibat dalam dunia politik atau sebaliknyasama sekali tidak terlibat? Dari sinilah penulis ingin membahas lebih jauh dua masalahpokok, yaitu: 1) Bagaimana gambaran kedudukan perempuan pada masa NabiMuhammad Saw. dan masa Khulafaur Rasyidin, dan 2) Sejauhmana keterlibatanperempuan dalam bidang politik pada masa Nabi Muhammad Saw. dan masa KhulafaurRasyidin serta problem apa saja yang dihadapi perempuan pada waktu itu.Untuk mengkaji dua permasalahan di atas, penulis menggunakan dua poin pokok yang menjadi kajian pustaka dalam tulisan ini, yakni tentang Konsep Kesetaraan Genderdalam Islam dan Hak-hak Perempuan dalam Bidang Politik.
Konsep Kesetaraan Gender dalam Islam
Secara historis, telah terjadi perlakuan yang tidak seimbang, yang menempatkanperempuan pada posisi yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Sejarah peradabanmanusia banyak didominasi oleh kaum laki-laki, sehingga laki-laki mendominasi semuaperan di masyarakat sepanjang sejarah, kecuali dalam masyarakat yang matriarkal yang jumlahnya sangat sedikit. Jadi, sejak awal sudah terjadi ketidaksetaraan gender yangmenempatkan perempuan pada wilayah yang marginal. Peran-peran yang dimainkankaum perempuan hanyalah peran-peran di sekitar rumah tangga. Sementara itu, kaumlaki-laki dapat menguasai semua peran penting di tengah-tengah masyarakat. Dari sinimuncullah doktrin ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan dianggaptidak cocok memegang kekuasaan ataupun memiliki kemampuan seperti yang dimilikilaki-laki dan karenanya perempuan tidak setara dengan laki-laki. Laki-laki harusmemiliki dan mendominasi perempuan. Lalu pertanyaannya, bagaimana sebenarnyastatus perempuan menurut Islam?Menurut Asghar Ali, pertanyaan di atas sangat sulit untuk dijawab. Diamemberikan tiga alasan, yaitu: 1) Al-Quran merujuknya dalam pengertian normatif dansekaligus kontekstual. Ketika berbicara secara normatif al-Quran tampak memihak kepada kesetaraan status bagi kedua jenis kelamin, tetapi secara kontekstual al-Quran

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->