Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
8Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
FAKTOR vertikal

FAKTOR vertikal

Ratings: (0)|Views: 1,214|Likes:
Published by Chicha Cigalinggink

More info:

Published by: Chicha Cigalinggink on Jun 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/11/2013

pdf

text

original

 
FAKTOR-FAKTOR VERTIKAL SEBAGAI POTENSI KONFLIK MASYARAKAT MAJEMUK 
I. PENDAHULUANPluralitas masyarakat Indonesia adalah realitas yang tidak bisa dipungkirikarena sudah memiliki akar historis yang panjang. Masyarakat majemuk adalah merupakanmasyarakat yang terbagi-bagi kedalam sub-sub sistem yang kurang lebih berdiri sendiri-sendiri,dalam mana masing-masing sub sistem terikat kedalam oleh ikatan-ikatan yang bersifat primordial.Furnivall sendiri sudah mensinyalir bahwa konflik pada masyarakat majemuk Indonesia menemukansifatnya yang sangat tajam, karena di samping berbeda secara horisontal, kelompok-kelompok itu juga berbeda secara vertikal,menunjukkan adanya polarisasi. Artinya bahwa disamping terdiferensiasisecara kelompok etnik agama dan ras juga ada ketimpangan dalam penguasaandan pemilikan sarana produksi dan kekayaan. Tetapi, dalam pembahasan ini, penulis hanyamenyinggung masalah konflik masyarakat majemuk dari faktor-faktor vertikal. Lebih lanjutnya, akandibahas pada bagian kedua makalah ini.
Istilah konflik berasal dari bahasa Latin, “Com” yang berarti “bersama” dan “Fligere” yang berarti
melanggar, menabrak, menemukan, membentur. Dengan demikian, konflik merupakan ekspresipertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain, karena beberapa
alasan. Dalam pandangan ini, “pertikaian” menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih
individu, yang diekspresikan, diingat dan dialami (Pace & Faules, 1994:249).Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salahsatu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak  berdaya.Konflik dapat dirasakan, diketahui, diekspresikan melalui perilaku-perilaku komunikasi (Folger &Poole: 1984). Konflik senantiasa berpusat pada beberapa sebab utama: tujuan yang ingin dicapat,alokasi sumber-sumber yang dibagikan, keputusan yang diambil, maupun perilaku setiap pihak yangterlibat (Myers, 1982:234-237; Kreps, 1986:185;Stewart, 1993:341).Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi.perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan,adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalaminteraksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satumasyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan integrasi berjalan sebagai sebuah siklus dimasyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 4 macam, yaitu:1. konflik antara atau dalam peran social (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalamkeluarga atau profesi,2. konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank),3. konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa), dan4. konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara).II. PEMBAHASAN1. KONFLIK PENGHASILANMasalah keuangan dalam keluarga bisa menjadi konflik. Pemicunya tak sekadar penghasilan yangkurang. Perkara asal-usul penghasilan bisa mendatangkan persoalan besar juga.Pada zaman sekarang ini masalah keuangan dalam keluarga bukan monopoli suami. Dalam satukeluarga, suami-istri sama-sama mencari nafkah untuk menutupi kebutuhan rumah sudah lumrah. Artinya, suami dan istri bisa sama-sama memiliki penghasilan. Bahkan tidak tertutup kemungkinan,adakalanya penghasilan istri lebih tinggi dari penghasilan suaminya. Persoalannya, benarkah jikapenghasilan istri lebih tinggi ketimbang suami akan selalu membuahkan konflik? Sebut saja Diana, 36tahun, manajer sebuah perusahaan farmasi terkenal di Medan.Penghasilannya jauh lebih besar dibanding suaminya yang bekerja seprofesi. Mulai dari cicilanrumah, mobil hingga keperluan rumah tangga dibayar oleh Diana. Sedangkan uang suami untuk  belanja sehari-hari. "Hampir semua kebutuhan rumah tangga, pakai uang saya, makanya saya nggak punya tabungan. Tapi harus bagaimana lagi, karena mengharapkan gaji suami tidak cukup,''ungkapnya.Kalau mengikuti kata hati, begitu perempuan lulusan S2 Farmasi ini melanjutkan komentarnya, ia
 
mengaku sangat kesal dengan keadaan ini. ''Bayangkan saja, saya berangkat kantor jam enam pagi,menyetir sendiri, pulang jam sembilan malam. Tapi gaji saya habis untuk kebutuhan di rumah. Kalau bukan karena keimanan, saya mungkin sudah tidak kuat dengan kondisi rumah tangga seperti ini,''papar Diana yang sudah menikah selama lima tahun.Diana cuma sekadar mengomel. Pada beberapa kasus sering kita temukan, suami-isteri berceraihanya karena isteri merasa jadi 'sapi perah' akibat gaji sang suami lebih kecil.Menurut Henny E Wirawan, seorang psikolog dari Universitas Tarumanegara, karier dan penghasilanistri yang lebih besar seharusnya tidak menjadi sebuah masalah. Ada beberapa hal yang harusdiperhatikan oleh pasangan suami istri agar tidak menuai konflik saat hal itu terjadi.Menurut Henny E Wirawan, seorang psikolog dari Universitas Tarumanegara, karier dan penghasilanistri yang lebih besar seharusnya tidak menjadi sebuah masalah. Ada beberapa hal yang harusdiperhatikan oleh pasangan suami istri agar tidak menuai konflik saat hal itu terjadi, yaitu:Pertama, ubah pola pikir. Selama ini pola pikir dalam masyarakat cenderung menempatkan wanitadalam wilayah domestik yang bertanggung jawab terhadap urusan pengasuhan anak dan dapur.Sementara lelaki berperan sebagai pencari nafkah dan tulang punggung keluarga. Nah, konflik akanmuncul bila yang terjadi justru sebaliknya.Oleh sebab itu, suami jangan langsung merasa tertekan saat mengetahui istrinya membawa lebih banyak uang ke rumah. Sebaliknya, syukuri keadaan ini sebagai sebuah berkah. Sebab, pemasukan yang lebih besar berarti kualitas hidup pun jadi lebih baik.Kedua, pandai menempatkan diri. Pengertian yang dicapai akan membuat segalanya lebih mudah.Selain itu, suami-istri harus bisa menempatkan dirinya dengan baik. Semisal, di luar rumah istri berprofesi sebagai seorang Direktur. Tapi, ketika kembali ke rumah ia harus ingat perannya sebagaiseorang istri. "Ini yang seringkali terlupakan. Seorang istri jangan sampai membawa kebiasaannya dikantor ke rumah. Ketika kembali ke rumah, ia harus kembali pula pada perannya sebagai pendampingsuami," ungkap Henny.Ketiga, berbagi tanggung jawab. Karier istri semakin cemerlang dengan promosi yang barudidapatkannya tahun ini. Ini juga berarti tuntutan tanggung jawab yang lebih besar di kantornya.Konsekuensinya, waktu untuk keluarga pun jadi berkurang. Lalu, siapa yang bertugas mengurusrumah dan anak-anak? Untuk masalah satu ini, pasangan suami-istri harus memutuskannya berdasarkan apa yang terbaik untuk anak-anak. Lupakan dulu ego masing-masing!Hilangkan pemikiran bahwa tinggal di rumah sama dengan tidak bekerja. "Hilangkan konsep masalalu bahwa stay at home berarti tidak melakukan apa-apa. Jangan pernah menganggap remehpekerjaan rumah tangga. Sebab itu adalah pekerjaan yang sangat berat, semuanya dilakukan sejak matahari terbit hingga tenggelam. Pekerjaan rumah tangga itu sangat bernilai tinggi. Tak adasalahnya dengan menjadi bapak rumah tangga, kok." ujar Henny.Keempat, pengaturan finansial. Saat posisi pekerjaan berada dalam satu level, pengaturan masalahkeuangan mungkin tak ada masalah. Tapi, kadangkala konflik muncul ketika gaji istri lebih besar. Tak  jarang istri yang merasa penghasilannya lebih besar merasa punya kuasa lebih dalam mengaturkeuangan. Nah, hal inilah yang biasanya membuat suami mudah tersinggung.Untuk mengatasi masalah ini, Henny menyarankan agar masing-masing pasangan membuatpengaturan finansial yang lebih fleksibel. Artinya, aturan ini merupakan hasil kesepakatan bersama.Misalnya, penghasilan keduanya disatukan baru kemudian dibagi sesuai dengan pos-pos pengeluaran yang telah ditentukan.Kelima, abaikan saja. Karier istri yang lebih cemerlang dari suami, tak jarang menimbulkan suarasumbang dari lingkungan. Lingkungan di sini bisa berarti lingkungan keluarga maupun lingkunganpekerjaan. Apalagi bila suami ternyata lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.Di mata Konsultan Perencanaan Keuangan, Safir Senduk, tidak ada masalah jika penghasilan suamilebih rendah dari istri. Justru mereka bisa saling membantu meringankan biaya rumah tangga. Parasuami jangan minder, sebaliknya para istri pun jangan mentang-
mentang. Semuanya “low profile”
saja. Karena kalau istri mulai semena-mena, sikap itu salah dan bisa menjadi masalah.''Ingat, status kaya atau tidaknya seseorang tidak ditentukan oleh penghasilan, gaji atau kekayaan.Tapi bagaimana mereka bisa menyimpan (menabung) dari penghasilannya,'' kata penulis buku SeriPerencanaan Keuangan Keluarga ini.2. KONFLIK PENDIDIKANPendidikan multikultural sangat penting diterapkan guna meminimalisasi dan mencegah terjadinyakonflik di beberapa daerah. Melalui pendidikan berbasis multikultural, sikap dan mindset(pemikiran) siswa akan lebih terbuka untuk memahami dan menghargai keberagaman.Dengan pengembangan model pendidikan berbasis multikultural diharapkan mampu menjadi salahsatu metode efektif meredam konflik. Selain itu, pendidikan multikultural bisa menanamkansekaligus mengubah pemikiran peserta didik untuk benar-benar tulus menghargai keberagaman
 
etnis, agama, ras, dan antargolongan.Dengan perintisan model pengajaran multikultural yang dikembangkan oleh Pusat kajianPembangunan Masyarakat (PKPM) Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, diharapkan siswa akanlebih mengetahui pluralitas dan menghargai keberagaman tersebut.Hapus Diskriminasi. Sikap menghargai keberagaman, juga harus ditanamkan di sekolah. Sebenarnya,sekolah adalah tempat menghapuskan berbagai jenis prasangka yang bertujuan membuat siswaterkotak-kotak. Sekolah harus bebas diskriminasi.Untuk menghindari konflik seperti kasus yang pernah terjadi di beberapa daerah di Indonesia, sudahsaatnya dicarikan solusi preventif yang tepat dan efektif. Salah satunya adalah melalui pendidikanmultikultural.Pada model pendidikan ini, pengenalan dan sosialisasi program pengembangan model pendidikanmultikultural dapat dilakukan dengan menggunakan film semi dokumenter. Mengapa? Karenapembelajaran ini menawarkan metodologi dan pendekatan yang berbeda dari model-modelpembelajaran konvensional yang selama ini dicekoki ke siswa.Beberapa pencapaian indikator pembelajaran. Di antaranya, adanya pemahaman dan afeksi siswatentang nilai-nilai multikultural yang dikembangkan. Misalnya; toleransi, solidaritas, musyawarah,dan pengungkapan diri.Selain itu, melalui model pembelajaran berbasis multikultural, siswa diperkenalkan dan diajak mengembangkan nilai-nilai dan sikap toleransi, solidaritas, empati, musyawarah, dan egaliter. Danini bisa menghambat terjadinya konflik.Model pembelajaran multikultural ini bisa berhasil, jika kepala sekolah mendukung program ini.Selain itu, para pengajar juga mau menerima pembaruan dan sekolah sudah terbiasamengembangkan kurikulum sendiri di samping kurikulum dari Departemen Pendidikan Nasional.Sementara, alat lain yang mendukung adalah adanya audio-visual karena ini menjadi penting untuk menyaksikan film-film bertema multikultural.3. KONFLIK PEMUKIMANMenilik kasus-kasus konflik etnis di Kalimantan Barat, ini bukanlah kasus perselisihan warga berbuahkekerasan komunal etnis yang pertama. Jika melihat kebelakang kasus-kasus konflik etnis di Kalbar,kita akan melihat pola kasus etnis yang serupa dan berulang. Meskipun dengan variasi keterlibatanetnis yang berbeda. Tercatat misalnya pada masa Hindia-Belanda ada beberapa kasus konflik yangmelibatkan etnis Tionghoa, Dayak, dan Melayu. Kemudian pada masa setelah kemerdekaan pada
tahun 1950’an yang melibatkan etnis Tionghoa dan Melayu. Dan puncaknya memang kasus konflik 
etnis tahun 1997-1999 yang melibatkan etnis Madura, Melayu, dan Dayak. Konflik etnis yang menelan jiwa hingga ribuan nyawa melayang dan jutaan orang kehilangan tempat tinggal dan hartanya. Sedikit banyak fakta ini menunjukkan bahwa Kalbar memang rawan terhadap potensi-potensi konflik yang bersifat keetnisan.Dalam konteks Kalbar, pemerintah menganggap konflik telah selesai ketika para pengungsi akibatkonflik telah dipindah lokasi pemukiman baru Tebang Kacang. Mereka tidak melihat bahwaperasaan-perasaan curiga, stereotype, dan prasangka antara etnis masih berkembang ditingkatmasyarakat Kalbar. Masih adanya penolakan oleh kelompok etnis tertentu kepada kelompok etnis yang lain di Kalbar untuk kembali ke asalnya hingga kini masih terjadi. Permasalahan-permasalahankejelasan hak para pengungsi dan korban konflik etnis, terutama bagi etnis yang kalah, hingga kinimasih buram. Pemerintah daerah tidak mau secara terbuka membicarakan kasus-kasus tersebutsecara terbuka. Dilain sisi muncul dugaan bahwa pemerintah daerah mencoba untuk membatasiruang dialog antar etnis pada isu-isu tertentu karena alasan sensitivitas isu yang ditakutkan akanmenganggu stabilitas keamanan.Salah satu dampak yang timbul ditingkat publik adalah adanya penolakan-penolakan dan keengganansebagian masyarakat di Kalbar untuk membicarakan isu-isu etnis secara terbuka untuk mencaripenyelesaiannya. Atau misalnya penolakan masyarakat Melayu di Sambas yang hingga kini menolak kembalinya masyarakat Madura di wilayah Sambas. Oleh pemerintah sendiri kasus konflik antarsukubangsa ini dinyatakan telah selesai dengan dipindahkannya para pengungsi ke tempatpemukiman baru (Tebang Kacang). Namun, permasalahannya tidak sesederhana itu. Banyak persoalan dilapangan yang belum terselesaikan hingga saat ini. Seperti misalnya bagaimana hak-hak milik para pengungsi di daerah asal (Sambas) yang telah ditinggalkan dan pemulihan kehidupanmereka dilokasi pengungsian yang menurut mereka lebih menyerupai lokasi pengucilan darikelompok masyarakat lainnya.Salah satu kunci membina perdamaian yang berkesinambungan adalah bagaimana membangunkepercayaan yang ada ditingkat grassroot. Dengan membangun kepercayaan yang ada ditingkatgrassroot, permasalahan-permasalahan sepele akan dapat segera diselesaikan ditingkat lokal tanpamelibatkan pihak yang diatasnya, masyarakat dapat segera mandiri dapat menyelesaikan konfliknya

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Nam Kir liked this
Yu'n Yunita liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->