Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Laporan

Laporan

Ratings: (0)|Views: 71 |Likes:
Published by Lhya Lia

More info:

Published by: Lhya Lia on Jun 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2012

pdf

text

original

 
1
BLOK KEDOKTERAN KOMUNITAS DAN KEDOKTERAN KELUARGA
MODUL 1MASALAH KESEHATAN KOMUNITAS
KELOMPOK 11
ANGGOTA :
Henry Liemer Wijaya C11109006Alvin A. Jiwono C11109115Dian Utami C11109314Fatimah Yuni Kartika C11109252Astari Pratiwi N C11109270Rizky Amalia Ramadhani C11109290Ilham Djamaluddin C11109308Hj. Harfana Alwi C11109328Raissa Safitry C11109346Kasmaliana C11109365Misbah C11109384Fadlia. N C11109406
FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS HASANUDDINMAKASSAR2012
 
2
BAB IPENDAHULUAN1. 1 Latar Belakang Masalah
Keadaan gizi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kesehatandan usia harapan hidup masyarakat. Kekurangan gizi menyebabkan gangguanpertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental, mengurangi tingkat kecerdasan,kreativitas, serta produktivitas penduduk (Depkes 2000). Masalah gizi kurang, terutamaKurang Energi Protein (KEP), Kurang Vitamin A (KVA), Anemi Gizi Besi (AGB), danGangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) merupakan masalah serius di Indonesiasaat ini. Menurut Departemen Kesehatan (2004), pada tahun 2003 terdapat sekitar 23,5 juta anak (19,2%) mengalami gizi kurang, dan 1,5 juta anak mengalami gizi buruk (8,3%) di Indonesia.Terdapat tiga faktor utama yang saling terkait mempengaruhi besarnya masalahgizi dan kesehatan masyarakat. Pertama, ketersediaan pangan di tingkat rumah tanggayaitu kemampuan keluarga untuk menyediakan makanan yang berkaitan dengan dayabeli keluarga. Kedua, pola asuh gizi keluarga yaitu kemampuan keluarga untuk memberikan makanan kepada bayi dan anak, khususnya menyusui secara eksklusif danpemberian makanan pendamping ASI. Ketiga, akses terhadap pelayanan kesehatanberkualitas, yaitu pemanfaatan fasilitas kesehatan dan upaya kesehatan berbasismasyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif, preventif,kuratif dan rehabilitatif seperti penimbangan balita di posyandu, pemeriksaankehamilan, pemeriksaan kesehatan bayi dan balita, suplementasi vitamin A dan MP ASI,imunisasi, dan sebagainya (Anonim 2007)Masalah gizi kurang umumnya banyak diderita oleh kelompok balita usia 1-5tahun karena pada masa tersebut mereka balita belum mampu memilih danmengkonsumsi makanan sesuai kebutuhan tubuh (Soekirman 2001). Balita gizi kurang,khususnya gizi buruk rentan terhadap infeksi, pengurusan otot, pembengkakan hati, danberbagai gangguan lain seperti peradangan kulit, infeksi, serta kelainan bentuk dan
 
3
fungsi organ akibat pengecilan organ. Kondisi gizi kurang akan mempengaruhi banyak organ dan sistemnya karena sering disertai dengan defisiensi asupan gizi mikro danmakro yang sangat diperlukan bagi tubuh. Kondisi kekurangan gizi yang tidak ditanganilebih lanjut akan berdampak buruk terhadap perkembangan maupun pertumbuhan balitatersebut.Mengingat dampak jangka panjang yang akan terjadi pada balita gizi buruk,maka perhatian khusus perlu diberikan untuk menghindari terjadinya
loss generation
.Peran Posyandu dan Puskesmas sebagai garda terdepan dalam perawatan dan pemulihansangat diperlukan. Sayangnya, sumber daya Posyandu dan Puskesmas seringkali kurangmemadai sehingga pemulihan balita gizi buruk menjadi sulit dilakukan.Berbagai langkah yang dilakukan oleh pihak Puskesmas setempat dalammembantu pemulihan balita gizi buruk selama ini belum menunjukkan hasil yangsignifikan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya: bantuan hanya sebatasbantuan fisik berupa susu dan makanan tambahan tanpa memperhatikan aspek pendidikan gizi ibu balita gizi buruk, ketidakberlanjutan program pemulihan gizi buruk seperti pengadaan pos gizi karena keterbatasan dana, dan kurangnya tenaga medis dannon-medis di Puskesmas setempat untuk melakukan
home care
ke rumah balita.Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membantu peningkatan kesadarandan pengetahuan gizi ibu adalah melalui kegiatan konseling gizi. Konseling gizi adalahsuatu proses komunikasi dua arah antara konselor dan klien untuk membantu klienmengenali dan mengatasi masalah gizi. Dalam hal ini, klien adalah ibu dari balita giziburuk yang terdapat di kelurahan Pengasinan sedangkan konselor adalah mahasiswa jurusan Ilmu Gizi dan Ilmu Keluarga dan Konsumen. Melalui kegiatan konselingdiharapkan ibu dapat menyadari permasalahan gizi kurang pada balita sehinggapenyampaian materi konseling lebih mudah disampaikan. Luaran yang diharapkanadalah peningkatan pengetahuan gizi ibu dan peningkatan berat badan balita gizi buruk.Mengingat banyaknya dampak merugikan yang diakibatkan oleh gzi kurang,maka diperlukan suatu Plan of Action. Akan tetapi, untuk mengatasi kasus kurang gizi

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->