Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Falsafah India

Falsafah India

Ratings: (0)|Views: 188|Likes:
Published by itngfaisol

More info:

Published by: itngfaisol on Jun 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

09/11/2013

pdf

text

original

 
 FALSAFAH INDIAI. SEJARAHPersoalan penting yang dihadapi para pengkaji falsafah India, khususnya perkembangan falsafah Hindu,ialah bagaimana menjelaskan periode-periode perkembangannya. Sejarah falsafah Hindu berbeda darisejarah falsafah Yunani atau Cina, yang babakan sejarahnya dapat dijelaskan lebih mudah disebabkantersedianya sumber-sumber mengenai kronologi perkembangannya, termasuk riwayat hidup tokoh-tokohnya, secara rinci. Salah Satu sebabnya ialah banyaknya dokumen yang hilang, termasuk catatantentang kehidupan tokoh-tokohnya. Kita hanya dapat membuat garis besar perkembangannya sebagaiberikut:1.Babakan Veda, berlangsung pada tahun 1500
 –
600 SM. Meskipunkabur , namun dapat dikatakan bahwa babakan ini bermula semenjak orang-orang Arya tinggal di Indiadan mengembangkan kebudayaan dan tradisi keagamaannya dengan mantapnya. Babakan ini agaksukar disebut babakan pemikiran falsafah dalam arti yang sebenarnya. Alasannya karena agama,falsafah, sastra, legenda dan masalah-masalah lain seperti mitos dan adat istiadat bercampur baur dansaling dikaitkan satu dengan yang lain. Pada babakan ini 4 Veda (Rg Veda, Yajur Veda, Sama Veda danAtharva Veda), kitab Brahmana, Aranyaka dan Upanishad telah tersusun secara lengkap. Rg Vedamerupakan sumber paling awal falsafah India, berisi nyanyian pujaan kepada dewa-dewa orang Aryayang kelihatannya merupakan penjelmaan dari kekuatan-kekuatan alam. Corak ketuhananya bersifatpolytheistis. Ini berbeda dengan kandungan Upanishad yang mengajarkan faham monisme pantheistis(advaita).Kitab Brahmana lebih merupakan dokumen keagamaan, khususnya tafsirtentang upacara keagamaan dan makna dari upacara-upacara yang diselenggarakan, terutama upacarakorban. Tetapi sekalipun tidak bercorak filosofis seperti Upanishad, uraian-uraian dalam kitab Brahmanamerangsang bagi timbulnya renungan filosofis. Aranyaka mengajarkan praktek meditasi dan tapabarata,ditulis oleh ahli-ahli yoga. Sedangkan nyanyian-nyanyian dalam kitab itu ditulis oleh para penyair. Jikakitab Brahmana merupakan karya para pendeta dan merupakan pedoman bagi pemimpin upacarakeagamaan, Upanishad ditulis oleh para spiritualis yang memiliki kecenderungan filosofis. Pada masaakhir periode in muncul aliran-aliran pemikiran yang menolak otoritas Veda sebagai sumber kearifan(darsana), yaitu Carvaka (materialisme), Jainisme dan Buddhisme. Kecuali Carvaka, Jainisme danBuddhisme kemudian tumbuh menjadi agama tersendiri yang berbeda dari agama Hindu.2.Babakan Viracarita atau Epos, berlangsung sekitar tahun 500 hingga200 SM. Pada kurun ini perkembangan falsafah India ditandai dengan penyajian gagasan secara tidaklangsung melalui karya sastra seperti fable dan viracarita (cerita kepahlawanan). Viracarita palingmasyhur yang syarat dengan ajaran falsafah dan moral ialah Mahabharata karangan Rsi Vyasa danRamayana karangan Rsi Valmiki. Suburnya viracarita menandakan kian besarnya peranan golonganKsatrya dalam masyarakat mendampingi peranan golongan Brahmana. Pada masa inilah Bhagavad Gita(Nyanyian Ketuhanan) muncul. Pada mulanya ia merupakan bagian dari kitab Mahabharata, namunkemudian dikembangkan menjadi renungan filosofis tersendiri dan dianggap sebagai salah satu kitabsuci orang Hindu. Aliran-aliran falsafah yang menolak otoritas Veda mencapai perumusan yang kitanmantap.Aliran-aliran falsafah ortodoks India yang jumlahnya enam (Sad DarsanaSamgraha) seperti Nyaya, Vaishesika, Samkhya, Yoga, Purva Mimamsa dan Vedantara dirumuskan padaabad ke-4 dan 3 SM, disusul dengan penyusunan Bhagavad Gita sebagai kitab yang benar-benar terpisahdari Mahabharata. Pada babakan kedua ini falsafah berkembang dengan suburnya di India sebagaimanadi Yunani, Cina dan Persia. Pada kurun ini mulai muncul aliran-aliran seperti materialisme, skeptisisme,naturalisme. Aliran-aliran ini berkembang bersama berkembangnya sistem-sistem heteredoks dariBuddhisme dan Jainisme. Pada masa ini pula banyak sekali muncul kitab-kitab yang menguraikanmasalah etika dan kemasyarakatan yang disebut Dharmasastra.3. Babakan Sutra, berlangsung abad ke-2
 –
12 M. Uraian mengenai berbagai mazab falsafah mulai
 
disusun secara lebih sistematik dan giat diperdebatkan sehingga dari masing-masing mazab tumbuhaliran-aliran pemikiran yang lebh kecil yang merupakan cabang-cabang dari mazab besar. Tidak jarangterjadi sinthesa antara aliran yang satu dengan yang lain, mazab yang satu dengan nmazab yang lain.Pada umumnya uraian-uraian falsafah ortodoks seperti Nyaya (realisme logis), Vaishesika (pluralismeralistis), Samkhya (dualisme evolusioner), Yoya (disiplin meditasi), Purva Mimamsa (penelitian terhadapVeda secara interpretatif, khususnya berkenaan dengan amal perbuiatan) dan Vedanta (penelitian lebihmendalam tentang ajaran dalam kitab Veda) disajikan dalam bentuk sutra atau ungkapan-ungkapanringkas (aforisme). Tidak jarang sutra juga berperan untuk mengingatkan pembaca pada rincian falsafahyang menjadi induk sebuah aliran. Karena dinyatakan dalam bentuk sutra, maka kitab-kitab falsafah ituperlu ditafsirkan secara hermeneutik. Masing-masing sistem falsafah ortodoks memiliki sutra yangberbeda. Pada abad ke-12 M falsafah India mengalami kemunduran.3.Babakan Kaum Terpelajar, berlangsung pada akhir abad ke-13
 –
19 M.Pada kurun ini kita temui kaum terpelajar yang giat menulis tafsir terhadap kitab sutra. Muncul paraflosof besar seperti Sridharta, Ramanuja, Madhva, Sankara, Vacaspati, Udayana, Bhaskara, Jayanta,Kumarila Batta, Vijnanabhiksu, Taghunata dan lain-lain. Tiga aliran utama dari Vedanta dirumuskan olehfilosof besar seperti Samkara, Ramanuja dan Madhva. Pada masa ini Islam telah berkembang di Indiadan mengembangkan tradisi pemikiran tersendiri.Pada abad ke-19 Inggris menguasai India dan menyebabkan tertanamnya pengaruh pemikiran Barat dikalangan sarjana dan kaum intelektual India. Pada akhir abad ke-19 muncul gerakan pembaruanpemikiran Hindu yang dianjurkan Brahma Samoj dan Arya Samoj, dua gerakan pembaru yang pentingdan berpengaruh hingga abad ke-20. Dari gerakan iini lahir para filosof terkemuka abad ke-20 sepertiTagore, Sri Aurobindo, Svami Vivekananda, Radhakrishnan, A. K. Komaraswamy dan lain-lain. PemikiranIslam juga mengalami pembaruan pada masa ini. Pemikiran pembaruan dalam Islam itu tampak dalamkarya para filosof dan pemikir pembaru seperti Mir Damad, Sayyid Ahmad Khan, Muhammad Iqbal danlain-lain.II. SEMANGAT DAN KECENDERUNGANPemikiran falsafah di India berkembang mengikuti arah perkembangan agama, Tidak seperti falsafahYunani yang berkembang disebabkan pemikiran rasional dan adu argumentasi yang sengit, para filosof India mengembangkan tradisi falsafahnya dengan menafsirkan kitab suci. Tentu saja mereka mengenalbentuk-bentuk pemikiran rasional dan kegiatan adu argumentasi, sebagaimana diperlihatkan olehfalsafah Nyaya dan Vaishesika. Tetapi intuisi memainkan peranan penting dalam pencarian kebenaran.Di India falsafah disebut darsana, artinya lebih kurang sama dengan sophia dalam bahasa Yunani atau al-hikmah dalam bahasa Islam, yang artinya lebih kurang adalah kearifan hidup. Dilandasi kearifan bahwakebenaran merupakan pancaran dari alam ketuhanan yang bersifat transendental, upaya akal budidipandang tidak cukup untuk membangun sistem kearifan. Walaupun cenderung memusatkan perhatianpada kehidupan spiritual, tidak berarti bahwa falsafah merupakan sesuatu yang asing dari kehidupanpraktis. Sebaliknya orang India yakin bahwa terdapat hubungan yang erat antara falsafah dan kehidupanpraktis. Menurut filosof-filosof India India, orang yang mengenal kebenaran dan mencapai kearifan akanmembuat seseorang bahagia, tidak merasa asing dalam kehidupan, memiliki kebebasan dalam arti yangsebenarnya dan tidak mengalami kesukaran dalam menghadapi persoalan-persoalan. Jelas di sini bahwafalsafah dipandang bukan semata-mata sebagai kegiatan akademis, tetapi lebih sebagai kegiatan sehari-hari yang melibatkan semua kalangan dalam masyarakat.Ciri lain yang membedakan falsafah India dari Yunani ialah metodenya. Dalam upayanya mencapaikebenaran para filosof India juga mengggunakan metode penyelidikan diri (instrospektif). Dengan carapemeriksaan diri mereka berusaha menjawab persoalan apa hakikat kehidupan, apa hakikat ilmupengetahuan dan apa arti keberadaan manusia dalam hidupnya yang singkat di dunia. Falsafah Indiamencoba dengan metode introspeksi merumuskan sistem kearifaan menyangkut Tuhan, hubunganTuhan dengan dunia, dan juga hubungan manusia dengan Tuhan serta sesamanya.Karena menggunakan pendekatan yang berbeda, falsafah India mempunyai kecenderungan yang kuat
 
terhadap idealisme. Ini nampak terutama pada faham advaita (monisme idealistis) seperti diajarkanSankara. Di samping itu ada kecenderungan umum di kalangan filosof India, yaitu memadukanpenalaran akliah dan intuitif. Tetapi di atas segala-galanya karena berpegang pada kitab yangdiwahyukan (sruti) mencakup Veda, Kama-kanda, yaitu Samhita dan Bahmana (Tafsir atas Veda), danJnana-kanda yaitu Upanishad, maka falsafah selalu berkaitan erat dengan agama seperti halnya di Eropapada Abad Pertengahan dan dalam tradisi Islam sejak abad ke-8 M hingga sekarang.Dengan perkataan lain malahan dapat dikatakan bahwa falsafah berkembang sebagai tafsir yangberanekara ragam terhada Veda-sruti, Upanishad dan kitab suci lainnya. Dalam upaya menafsirkan kitabsruti dengan metode, pendekatan dan penekanan yang berbeda-beda itu, maka muncullahkecenderungan pemikiran yang berbeda-beda pula.Dalam kenyataan semua sistem falsafah India sendiri selalu dimulai dengan mengemukakan persoalanberkenaan dengan segi-segi praktis dan tragis dari kehidupan manusia. Pemecahan problemdiutamakan, sehingga falsafah dapat dijadikan pedoman untuk menjawab persoalan-persoalankehidupan. Lagi pula tidaklah cukup mengetahui kebenaran apabila tidak bisa dihayati dan tidakdihidupkan.Berdasarkan anggapan dan sikap ini, pemurnian moral merupakan tujuan utama falsafah India.Pemurnian moral dapat dicapai antara lain melalui pengendalian diri, renunsiasi, kedamaian jiwa,peningkatan iman dan moksa, yaitu pembebasan jiwa dari kungkungan kehidupan serba jasmani dankebendaan.Telah pula dikatakan bahwa dalam memahami realitas dan hakikat kehidupan, filosof Indiamenggunakan metode penyelidikan diri. Di sini falsafah digambarkan sebagai atmavidya, pengetahuantentang diri atau hakikat diri. Pemikiran falsafah memang bisa dimulai dari dunia luar, obyek-obyek diluar diri manusia, tetapi juga bisa dimulai dari dalam diri manusia, dari kehidupan subyektif batinnya.Tetapi ujung-ungnya kebenaran akan dapat disaksikan dalam diri. Karena itu tujuan falsafah bukanuntuk mencari kebenaran obyektif semata-mata, tetapi terlebih-lebih kearifan dalam melihat hakikatdiri serta pemahaman mendalam tentang kedudukan manusia di alam semesta, hubungannya denganTuhan dan sesamanya.Walaupun terdapat kecenderungan yang berbeda-beda dalam melihat hakikat kebenaran tertinggi,namun semua aliran falsafah India memiliki kecenderungan yang kuat terhadap monisme idealistik,yaitu faham bahwa hakikat segala sesuatu itu bermuara pada wujud tunggal yang meresapi alam dankehidupan, namun sekaligus mengatasi segala sesuatu. Doktrin falsafah yang berbeda-beda tidakdipertentengkan karena dianggap sebagai kepelbagaian ungkapan dari kebenaran yang sama, hanya sajapenafsiran dan penyampaiannya yang beranekaragam.Kaa-kata yang digunakan untuk falsafah di India ialah darsana. Kata-kata ini berasal dari akar kata drs,yang artinya melihat atau menyaksikan secara langsung melalui mata kalbu. Penalaran akal dipandangtidak cukup karena pengetahuan yang diperoleh melaluinya bukan merupakan penyaksian langsung,melainkan melalui perantaraan logika yang dapat saja menjadi tirai penghalang bagi penyaksianterhadap kebenaran hakiki dan sejati.. Karena itu falsafah india memeri jalan bagi berkembangnyametode intuitif yang dapat dilakukan dengan meditasi dan samadi.KecenderunganPertama, ritualisme. Aliran ini berusaha memperdalam dan mempertajam ajaran Veda tentang upacarakeagamaan. Ajaran ritualisme diambil terutama dari Kalpa Sutra dan sangat keras berpegang pada Veda.Tokoh-tokoh aliran falsafah ini banyak membicarakan aturan membaca sendiri kitab Veda (svadhyaaya).Mengaji kitab suci dipandang sebagai bentuk pengurbanan dan wujudnya yang tertinggi ialah tapas(disiplin diri). Untuk keperluan pelaksanaan tapas mereka mendirikan lembaga asramas, yang terdiri dariempat kelas atau jenjang pendidikan. Di lembaga ini kitab Veda dipelajari secara mendalam. Pemikiranritualis tampak dalam sistem falsafah Purva Mimamsa, yang merupakan salah satu dari enam sistemfalsafah ortodoks/klasik tepenting dalam falsafah India. Salah satu ajaran ritualis yang penting ialah

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->