Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
KONSEP TEKNOLOGI PERTANIAN

KONSEP TEKNOLOGI PERTANIAN

Ratings: (0)|Views: 39 |Likes:
Published by Erigas Ekaputra

More info:

Published by: Erigas Ekaputra on Jun 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2012

pdf

text

original

 
KONSEP TEKNOLOGI PERTANIAN
Sistem usaha pertanian modern yang lebih dikenal sebagai agribisnis merupakan suatu alternatif dalam perubahan usaha pertanian yang tradisional kearah pertanian yang bukan hanya mengelolalahan dengan memanfaatkan teknologi budidaya untuk mendapatkan produksi yang maksimal,akan tetapi sudah menyertakan pula masukan teknologi untuk mendapatkan produk olahandengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang seoptimal mungkin.Sampai saat ini banyak usaha pertanian dengan berbagai skala usaha masih terlalumengeksploitasi lahan untuk tujuan komersil sehingga lahan yang sebelumnya cukup baik menjadi lahan yang marjinal. Hal ini tentu tidak boleh terjadi terus menerus karena lahanpertanian akan terdegradasi secara berangsur-angsur yang berarti kita akan meninggalkan lahanbermasalah untuk generasi masa datang. Apalagi dalam kerangka ekonomi kerakyatan segalausaha termasuk dalammya usaha pertanian haruslah mempertimbangkan kelestarian dankeberlanjutan sumberdaya yang dimiliki. Oleh sebab itu perlu ditingkatkan pemahamansumberdaya petani tentang teknologi di bidang pertanian sehingga pemanfaatan lahan dapatdilakukan dengan baik.Di Provinsi Riau, sumberdaya ekonomi yang siap didayagunakan untuk pembangunan ekonomidaerah adalah sumberdaya pertanian yang terdiri dari sumberdaya alam (lahan, air, sumberkeragaman hayati dan agroklimat), sumberdaya manusia yang bekerja di sektor agribisnis,teknologi pertanian dan lain-lain. Walaupun tenaga kerja yang terserap di sektor Pertanian dansektor terkait cukup besar yaitu mendekati angka 50% dari total tenaga kerja di Daerah Riau,tetapi sumbangan sektor pertanian ini hanya kurang dari 19 % terhadap PDRB daerah Riau(BPS, 2001). Hal ini disebabkab berbagai kendala antara lain teknologi spesifik yang terbatas,pembinaan pasar kurang baik dan adanya persaingan dari produk sejenis.Aplikasi teknologi di sektor pertanian mempunyai kendala yang cukup beragam mulai darirendahnya tingkat pendidikan sebahagian besar petani dan pelaku agribisnis sampai kepadateknologi lokalita yang kurang tersedia. Kedaan ini lebih diperburuk lagi oleh keterbatasanmodal sehingga petani tidak sepenuhnya dapat membeli dan memanfaatkan teknologi yangsudah ada. Usaha kearah perbaikan sebenarnya sudah mulai dilaksanakan melalui berbagaipembinaan yang masih bersifat parsial, sehingga belum dapat berhasil dengan baik. Komitmenyang tidak jelas serta koordinasi antar pihak terkait yang kurang berjalan sesuai denganperencanaan dan kadang-kadang adanya saling ketidakpercayaan antar pihak merupakan salahsatu sebab tidak berhasilnya peningkatan kecakapan petani dan pelaku agribisnis dalammemanfaatkan teknologi.Terbatasnya teknologi yang tepat lokasi ini sangat berpengaruh kepada produktifitas komoditaspertanian pada umumnya, sehingga belum tercapai optimalisasi pemanfaatan sumberdaya lahanyang sebenarnya berpotensi untuk memberikan hasil yang lebih banyak. Rendahnya produktifitaslahan ini ditandai oleh besarnya senjang hasil yang diperoleh ditingkat petani dengan hasil ditingkat penelitian. Ada tiga komponen teknologi yang menyebabkan rendahnya produktifitasyaitu aplikasi teknologi budidaya yang masih rendah, penggunaan varitas yang kurang sesuaidengan kondisi lokalita, serta masih besarnya kehilangan hasil setelah panen. Rendahnya tingkatpendidikan dan terbatasnya kecakapan petani merupakan penyebab rendahnya penerapanteknologi oleh petani tersebut. Sedangkan terbatasnya teknologi berupa varitas lokalita danbesarnya kehilangan saat panen dan pasca panen merupakan indikator masih lemahnyapembinaan kepada petani serta minimmya peran daerah dalam menghasilkan teknologi. Olehsebab itu pengembangan sumberdaya di sektor pertanian sangat perlu untuk dilaksanakan karena
 
kedepan sektor ini masih menjadi salah satu andalan ekonomi daerah Riau yang cukup penting.Minimal ada tiga alasan pokok untuk mengembangkan teknologi bagi pelaku usaha pertaniansebagai pemikul beban untuk peningkatan produksi, penyerap dan penyedia lapangan kerja danuntuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Sektor ini harus pula siap menghadapitantangan global yang untuk Riau sangat terbuka dengan posisi yang berdekatan dengan negarapenghasil bahan pertanian terkemuka di Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, Vietnam danFilipina. Tantangan yang dihadapi sektor pertanian tersebut meliputi berbagai hal. Pertama,kesenjangan yang cukup lebar antara hasil di tingkat petani dengan hasil di tingkat penelitian. Initerjadi pada sebahagian besar tanaman pangan, hortikultura dan tanaman perkebunan.Kedua, ketersediaan teknologi spesifik lokasi yang sesuai dengan agroecosystem, sosial ekonomidan budaya tempatan terbatas. Ketiga, penyediaan varitas dan benih berkualitas dengan hargayang terjangkau masih terkendala. Keempat, kemampuan produk andalan untuk bersaing secaraglobal masih sangat lemah. Kelima, efisiensi penggunaan sarana produksi (Saprodi) tidak dapatmeningkatkan pendapatan petani.Hal ini karena harga Saprodi selalu meningkat sehingga perlu dikembangkan pendekatanbudidaya dengan input rendah yang dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.Untuk mendukung pengembangan agribisnis seutuhnya di Riau maka masa yang akan datangdiperlukan usaha pengembangan teknologi pertanian secara terus menerus. Disampingpengembangan teknologi untuk proses produksi tanaman pertanian juga harus diikuti denganinovasi produk dan proses produksi industri pertanian baik teknologi yang akan dimanfaatkanoleh sektor publik atau teknologi untuk rakyat banyak. Berikut adalah beberapa alternatif teknologi yang pantas dikembangkan di Riau dalam rangka pemberdayaan ekonomi kerakyatan.Diversifikasi komoditasDari berbagai pengalaman ternyata usahatani dengan mengandalkan monokultur kurangmenguntungkan kepada petani apalagi cara ini sering membutuhkan input tinggi, bahkan kadang-kadang cenderung dapat mempunyai dampak yang kurang baik. Diversifikasi komoditas dalamusahatani yang meliputi tanaman pertanian baik tanaman tahunan maupun tanaman muda denganhewan ternak bahkan dengan ikan dapat menjadi andalan dalam usahatani masa depan. Pertama,karena komoditas yang satu dapat memanfaatkan hasil samping dari komoditas lain sepertikotoran ayam atau sapi yang dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman atau tambahan makananikan sebaliknya bahagian tanaman tertentu juga dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak.Kedua, dengan diversifikasi komoditas akan mengurangi resiko kegagalan usaha atauterdapatnya saling subsidi keuntungan jika salah satu komoditas harganya kurang baik. Ketiga,akan dapat menjaga kelestarian lingkungan, menjaga kemungkinan serangan penyakit malaria.Diversifikasi produk olahan dari satu jenis hasil pertanian perlu dikembangkan kepada petani.Namun hal ini harus diikuti dengan pembinaan pasar dari produk baru tersebut agar menjadiproduk yang dapat dipasarkan dengan mudah. Pada saat ini tanaman nenas misalnya dapatdipasarkan sebagai nenas segar atau diolah menjadi keripik nenas, dodol nenas atau jus nenasyang semuanya dapat dilakukan pada skala kecil oleh petani atau pengrajin. Dibalik itu kulitnenas yang biasanya akan menjadi limbah saat ini dapat diolah lebih lanjut menjadi bahanminiman yang disebut Nata De Pina yang pembuatannya sangat mudah ditiru oleh petani.Teknologi Pertanian dengan lingkungan dimodifikasiSalah satu trend dalam usaha pertanian masa depan adalah pertanian rumah kaca (Greenhousefarming) dan pertanian rumah kasa (Screenhouse farming). Teknologi seperti ini selain
 
merupakan upaya untuk melestarikan lingkungan juga dapat menghasilkan tanaman dengankualitas dan kuantitas yang lebih tinggi dan hasilnya mencapai delapan sampai sepuluh kalidibanding dilapangan terbuka. Tanaman tomat cheri yang ditanam di rumah kaca di Palestinadan Israel dapat menghasilkan 400 ton sekali tanam sedangkan jika ditanam di tempat terbukahanya 15 sampai 20 ton per hektarnya. Awalnya penggunaan rumah kaca lebih banyak di negaratemperate zone yang mempunyai empat musim agar dapat bertanam pada musim dingin.Dalam rumah kaca ini tanaman yang populer ditanam adalah sayur-sayuran dan ditanam di tanahatau bisa juga dalam air sebagai hidroponik. Tapi saat ini sistem pertanian rumah kaca sudahberkembang di berbagai negara lain seperti di Israel dan negara timur tengah lainnya. Pada saatini sistem pertanian rumah kaca ini sudah mulai diintrodusir ke Indonesia. Minimal di tigadaerah seperti Sumatera Utara, Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat telah digunakan sistempertanian rumah kaca dengan hasil yang sangat menakjubkan malah tanaman bisa hidup lebihpanjang. Teknologi ini juga sangat berpotensi dikembangkan di Riau karena lokasi wilayah Riauyang berada dekat dengan pasar produk pertanian bermutu tinggi yang hanya mungkin dihasilkandari rumah kaca.Penggunaan teknologi pertanian dengan rumah kasa juga sudah banyak berkembang dan dapatmenghasilkan produk pertanian yang bebas hama tanpa menggunakan pestisida. Tanaman yangbiasa diusahakan dalam rumah kasa adalah sayur-sayuran dan buah-buahan tertentu sepertitomat, ketimun dan strawberry. Malah teknik ini sudah diintrodusirkan oleh Singapura ke petanisayur di Pekanbaru untuk menghasilkan berbagai sayuran dengan kriteria tertentu seperti bebaspestisida, penggunaan bahan pupuk kimia yang minimal sehingga aman untuk dikonsumsi.Memang kedua sistem pertanian yang diuraikan ini sangat membutuhkan modal yang besar, akantetapi secara komersial usaha pertanian ini sangat berpotensi untuk dikembangkan olehperusahaan sawsta dengan modal yang cukup disamping dapat menyerap tenaga kerja yangrelatif banyak.Mengurangi senjang hasil untuk meningkatan produktifitasAda dua upaya yang dapat meningkatkan produktifitas pertanian, Pertama adalah mengurangisenjang hasil antara penelitian dengan hasil petani. Untuk tanaman padi saja masih terdapatperbedaan hasil yang dilaporkan oleh Litbang Pertanian dengan hasil yang didapatkan petanisekitar 2,5 sampai 4 ton per hektar dari varitas yang sama. Jika dibandingkan dengan berbagaiHibrida padi yang banyak didatangkan dari Luar negeri maka senjang hasil menjadi semakinbesar bisa mencapai 4 sampai 5 ton per hektar sekali tanam. Untuk itu perlu dikurangi senjanghasil ini seminimal mungkin dengan jalan memperkenalkan dan membimbing petanimenggunakan teknologi seperti yang dilaksanakan oleh peneliti.Selanjutnya upaya yang kedua adalah meningkatkan indeks panen atau meningkatkanpenanaman dari satu kali setahun menjadi dua atau tiga kali setahun. Upaya ini tentumemerlukan penyempurnaan sarana dan prasarana pertanian di lapangan seperti perbaikan sistempengairan pada areal tertentu. Pencarian varitas-varitas baru yang cocok untuk kondisi lahanlokalita misalnya padi toleran air pengairan yang mengandung garam, varitas palawija tahansalin sehingga berpotensi ditanam di lahan pasang surut.Reorientasi program PenelitianApapun bentuk teknologi baik yang sangat sederhana sampai yang sangat rumit selalu berasaldari hasil penelitian. Kegiatan penelitian dapat dilakukan oleh lembaga penelitian di perguruan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->