Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
IMD Dan ASI Eksklusif

IMD Dan ASI Eksklusif

Ratings: (0)|Views: 127 |Likes:
Published by dina_na

More info:

Published by: dina_na on Jun 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2012

pdf

text

original

 
Hubungan antara menyusui segera(
immediate breastfeeding)
dan pemberian ASI eksklusif sampai dengan empat bulan
Sandra Fikawati, Ahmad Syafiq
 Jurusan Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ABSTRACT 
 A cross-sectional study was done to investigate the relationship between immediate breastfeeding and exclusive breastfeeding for 4 months in 4 districts in West Java and 4 districts in East Java. Subjects wereselected through 30-cluster method of WHO and a number of 1,377 mothers with infants under one year old were interviewed. Data was collected in March-April 2002. The study found that mothers who gave immediatebreastfeeding was 21.16% and mother who exclusively breastfeed their infants until 4-5 months of age was9.2%. Mothers who did not give immediate breastfeeding had 1.8 to 5.3 times higher risk to provide pre-lacteal food/beverages compared to mothers who gave immediate breastfeeding. Another finding was mothers whogave immediate breastfeeding had 2 to 8 times higher possibility to exclusively breastfeed their infants compared to mothers who did not give immediate breastfeeding. The study showed that the failure to exclusively breastfeed had already occurred at the first three days after birth, when pre-lacteal food/beverages were given to theinfant. It was suspected that there were factors other than mother’s knowledge that contributed to the failure of exclusive breastfeeding practice.Key words: Exclusive breastfeeding, immediate breastfeeding, infant, mother, Indonesia
ABSTRAK
Studi potong-silang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara
immediate breastfeeding
dan pemberianASI secara eksklusif sampai dengan usia 4 bulan di 4 kabupaten di Propinsi Jawa Barat dan 4 kabupaten diPropinsi Jawa Timur. Subyek dipilih melalui metode 30-
cluster 
dari WHO dan sejumlah 1.377 ibu yang memilikibayi di bawah usia 1 tahun berhasil diwawancarai. Pengumpulan data dilakukan pada Maret-April 2002. Hasilpenelitian menunjukkan, Ibu yang memberikan
immediate breastfeeding
besarnya 21,16
%
dan pemberian ASIekslusif sampai 4 bulan besarnya 9,2%. Ditemukan bahwa ibu yang tidak memberikan
immediate breastfeeding
berisiko memberikan makanan/minuman pralakteal 1,8 kali sampai 5,3 kali lebih besar dibandingkan ibu yang
immediate breastfeeding
. Juga ditemukan bahwa Ibu yang memberikan
immediate breastfeeding
2 sampai 8 kalilebih besar kemungkinannya untuk memberikan ASI secara eksklusif sampai 4 bulan dibandingkan dengan ibuyang tidak 
immediate breastfeeding
. Di samping itu ditemukan bahwa kegagalan pelaksanaan ASI eksklusif telah dimulai sejak 3 hari pertama kelahiran yaitu pada saat makanan/minuman pralakteal diberikan dan didugaada faktor lain di luar pengetahuan ibu yang mempengaruhi kegagalan ASI eksklusif.Kata kunci: ASI eksklusif, menyusui segera, ibu, bayi, Indonesia
PENDAHULUAN
Pemberian ASI secara eksklusif adalahpemberian hanya ASI tanpa memberikan cairan ataumakanan padat lainnya kecuali vitamin, mineralatau obat dalam bentuk tetes atau sirup
(1)
sampaiusia 4-6 bulan. Berbagai penelitian telah mengkajimanfaat pemberian ASI eksklusif dalam halmenurunkan mortalitas bayi,
(2)
menurunkanmorbiditas bayi,
(2,3)
mengoptimalkan pertumbuhan
 J Kedokter Trisakti Mei-Agustus 2003, Vol.22 No.2
47
 
bayi,
(2,4)
membantu perkembangan kecerdasananak 
(4,5,6)
dan membantu memperpanjang jarak kehamilan bagi ibu.
(2,7,8)
Penyebab kematian bayi terbesar di Indonesiaadalah kematian neonatal dan dua pertiga darikematian neonatal adalah pada satu minggu pertamadimana daya imun bayi masih sangat rendah.
(9)
 
SubCommittee on
 
 Nutrition
(ACC/SCN) dalam edisilaporan tahun 2000
(10)
menyebutkan perlunyameningkatkan durasi pemberian ASI eksklusif karena perilaku menyusui sangat berhubungandengan kesehatan dan kelangsungan hidup anak.Pemberian ASI secara eksklusif kepada bayidianjurkan untuk diberikan selama 4-6 bulan. Padatahun 1999, UNICEF bersama dengan
World  Health Assembly
(WHA) merekomendasikanpemberian ASI eksklusif selama 6 bulan untuk keuntungan yang optimal bagi ibu dan bayinya.
(11)
Rekomendasi pemberian ASI eksklusif sampaiusia 6 bulan tampaknya masih terlalu sulit untuk dilaksanakan. Upaya agar ibu bisa menyusuibayinya secara eksklusif sampai usia 4 bulan sajamasih memiliki banyak kendala. Sasaran programperbaikan gizi masyarakat untuk meningkatkan ASIeksklusif menjadi 80% tampak terlalu tinggi.
(12)
Laporan dari berbagai studi memperlihatkanrendahnya prevalensi ASI eksklusif 4 bulan,misalnya hasil survey demografi dan kesehatanIndonesia tahun 1997 menunjukkan bahwapemberian ASI eksklusif untuk bayi 4-5 bulansebesar 23,9% sedang untuk bayi 6-7 bulan hanya7,9%.
(13)
Penelitian terhadap 900 ibu di Jabotabek tahun 1995 melaporkan ASI eksklusif 4 bulan hanyasekitar 5% padahal 98% ibu-ibu tersebutmenyusui.
(11)
Studi tentang pemberian makananpendamping ASI dini di kecamatan Pasar Rebo,Jakarta Timur
(14)
menunjukkan prevalensi ASIeksklusif 4 bulan hanya sebesar 9,7%.Pemberian makanan/minuman pralaktealadalah pemberian makanan atau minuman kepadabayi baru lahir sebelum ASI keluar (dengan katalain mendahului pemberian ASI), biasanya telahdilakukan dalam 3 hari pertama. Pemberianmakanan/minuman pralakteal adalah praktek yangsering dilakukan dan merupakan salah satu faktorutama kegagalan pelaksanaan ASI eksklusif.
(14,15)
Penelitian Nasir
(16)
terhadap ibu-ibu di kecamatanPasar Rebo menunjukkan pemberian makanan/ minuman pralakteal telah diberikan pada bayi oleh75,8% responden. Thaha
(17)
dalam penelitiannya diSulawesi Selatan menunjukkan hasil yang serupayaitu sebanyak 75% ibu memberikan makanan/ minuman pralakteal pada bayi yang umumnyaberupa air putih (48%) dan madu (33%).Selanjutnya, analisis data sekunder terhadap hasilsurvey demografi dan kesehatan Indonesia tahun1997 menyebutkan bahwa dari 52,7% bayi yangdisusui dalam 24 jam pertama setelah dilahirkanhanya 8,3% yang disusui <1 jam setelah lahir.
(18)
Menyusui segera (
immediate breastfeeding
)yaitu menyusui dalam waktu <30 menit setelahpersalinan merupakan salah satu alternatif yangdapat dilakukan untuk mencegah diberikannyamakanan/minuman pralakteal tersebut. Interaksisegera antara ibu dan bayi dalam beberapa menitsetelah kelahiran berhubungan erat dengankesuksesan menyusui
(19,20)
Studi ini bermaksuduntuk melihat seberapa jauh
immediatebreastfeeding
dapat memfasilitasi ibu untuk terusmemberikan ASI-nya sampai minimal usia 4 bulan.Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubunganantara
immediate breastfeeding
dan pemberian ASIsecara eksklusif sampai usia 4 bulan di 4 kabupatendi propinsi Jawa Barat dan 4 kabupaten di propinsiJawa Timur. Tujuan lainnya adalah untuk mengetahui distribusi pengetahuan dan praktek 
immediate breastfeeding
dan ASI eksklusif,distribusi responden yang tidak ASI eksklusif 4bulan, pemberian makanan/minuman pralakteal,hubungan praktek 
immediate breastfeeding
denganpemberian makanan/minuman pralakteal sertahubungan praktek 
immediate breastfeeding
denganpraktek pemberian ASI eksklusif sampai usia 4bulan di 8 kabupaten tersebut
METODEWaktu dan lokasi penelitian
Studi ini merupakan bagian dari Survei DataDasar (SDD) ASUH yang dilakukan oleh PusatPenelitian Keluarga Sejahtera Universitas Indonesia(PUSKA-UI) dan
Program for AppropriateTechnology in Health
(PATH) dengan bantuan danadari USAID (Nomor: 01.AID.1050-958-CRT).Pengumpulan data dilakukan di 4 kabupaten dipropinsi Jawa Barat (kabupaten Cirebon, Cianjur,
Fikawati, Syafiq Menyusui segera dan ASI eksklusif 
48
 
Ciamis dan Karawang) dan 4 kabupaten/kota dipropinsi Jawa Timur (kabupaten Kediri, Blitar,Mojokerto dan kota Pasuruan) pada bulan Maret-April 2002. Data yang dikumpulkan adalah datatahun 2001-2002.
(21)
Disain dan sampel
Disain dari studi ini adalah potong lintang(
cross sectional
) dengan pemilihan sampelmengikuti metode 30-
cluster 
WHO. Dalam studiini
cluster 
adalah desa dengan kriteria pembagian
cluster 
berdasarkan jumlah penduduk (
 probability proportionate to size
). Dengan menggunakan c-survey, diperoleh sejumlah desa yang tersebar dibeberapa kecamatan di setiap kabupaten/kota. Darilisting ibu di tingkat desa dipilih secara acak 15 ibuper
cluster 
sehingga memenuhi jumlah sampel 450untuk satu kabupaten/kota. Responden adalah ibuyang memiliki bayi berusia di bawah satu tahun.Jumlah seluruh responden yang berhasildiwawancara adalah sebanyak 1.377 orang.
(21)
Pengumpulan data
Data dikumpulkan melalui wawancara denganmenggunakan kuesioner yang telah dikembangkansecara intensif dan telah di uji coba beberapa kali.Pewawancara di Jawa Barat adalah alumni FakultasKesehatan Masyarakat Universitas Indonesia,Depok dan di Jawa Timur alumni FakultasKesehatan Masyarakat Universitas Airlangga,Surabaya yang telah dilatih khusus untuk pengumpulan data SDD ASUH selama 4 hari. Disetiap kabupaten pengumpul data terdiri atas 2peneliti, 1 koordinator lapangan, 1 pemasuk datadan 8 pewawancara.
(21)
Kualitas data
Untuk menjaga kualitas data di sampingstandarisasi kuesioner dan pelatihan pewawancaradilakukan wawancara ulang sebanyak 10%,
spot-check 
di lapangan,
cross-check 
terhadap kuesioneryang telah di isi, entri data dilakukan di lapangan,re-entri sebanyak 10%, dan tabulasi silang untuk memeriksa
error 
dan kemungkinan inkonsistensi.
(21)
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakanprogram Epi Info versi 6.
(22)
Analisis dilakukansecara bertahap, tahap awal dilakukan analisisunivariat, dan dilanjutkan dengan analisis bivariatuntuk mengukur besarnya odds ratio.
HASILASI eksklusif 4 bulan
Gambar 1 di bawah ini memperlihatkandistribusi pengetahuan dan praktek responden ditiap-tiap kabupaten mengenai ASI eksklusif 4 bulan
.
Jurang perbedaan antara pengetahuanresponden mengenai ASI eksklusif 4 bulan denganprakteknya terlihat sangat besar. Kurang dariseperempat responden yang tahu tentang ASIeksklusif yang memberikan ASI-nya secaraeksklusif selama 4 bulan. Perbedaan terbesar terlihatdi kabupaten Ciamis, responden yang mengetahuiASI eksklusif sebesar 79% sedangkan yangmemberikan hanya sebesar 12,6%.Gambar 1. Distribusi responden tentang pengetahuan dan praktek ASI eksklusif 4 bulan di8 kabupaten di Jawa Barat dan Jawa Timur tahun 2001
J Kedokter Trisakti Vol.22 No.2
49

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->