Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
3Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
DVI

DVI

Ratings: (0)|Views: 326|Likes:
Published by Muhammad Abrar

More info:

Published by: Muhammad Abrar on Jun 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/18/2012

pdf

text

original

 
 
Majalah Kedokteran Nusantara Volume 41
No. 4
Desember 2008
 
254
Surjit Singh
Instalasi/SMF Kedokteran Forensik dan Medicolegal Rumah Sakit UmumDr. Pirngadi Medan/FK-USU Medan
Abstrak:
DVI atau Disaster Victim Identification adalah suatu defenisi yang diberikan sebagai  prosedur untuk mengidentifikasi korban mati akibat bencana massal secara ilmiah yang dapat dipertanggung-jawabkan dan mangacu pada standar baku Interpol. Dalam melakukan proses identifikasi terdapat bermacam-macam metode dan teknik identifkasi yang dapat digunakan.Namun demikian Interpol menentukan Primary Identifiers yang terdiri dari Fingerprints, Dental Records dan DNA serta Secondary Indentifiers yang terdiri dari Medical, Property dan Photography.
Kata kunci:
identifikasi, bencana massal, primary identifiers 
Abstract:
DVI or Disaster Victim Identification is defined as a standard procedure for the identification of mass disaster victims scientifically and based on the Interpol Standard. In the  process of identification there are various different methods available. Interpol has formulated Primary Identifiers consisting of Fingerprints, Dental Records and DNA and secondary identifiers comprising of Medical, Property And Photography.
Keywords:
identification, mass disaster, primary identifiers 
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara kepulauanyang terdiri dari 13.667 pulau dengan batasluasnya sebesar 2.027.087 km
2
mempunyaikurang lebih 129 gunung merapi. Secarageologis Indonesia terletak di pertemuan diantara 3 plat tektonik utama (Eurasia, Indo-Australia dan Mediterania) dan secarademografi terdiri dari bermacam-macametnik, agama, latar belakang sosial dan budaya,dimana keadaan tersebut memberikanpetunjuk bahwa Indonesia berisiko tinggisebagai negara yang rawan dari bencana alamterjadinya gempa bumi, Tsunami, longsor,banjir maupun kecelakaan baik darat, laut maupun udara.
1,2
 Bencana massal didefinisikan sebagaisuatu peristiwa yang disebabkan oleh alamatau karena ulah manusia, yang dapat terjadisecara tiba-tiba atau perlahan-lahan, yangmenyebabkan hilangnya jiwa manusia,kerusakan harta benda dan lingkungan, sertamelampaui kemampuan dan sumber dayamasyarakat untuk menanggulanginya.Umumnya korban yang hidup telah banyak dapat diatasi oleh tim medis, para medis dantim pendukung lainnya. Namun berbeda bagikorban yang sudah mati yang perlu ditanganisecara khusus dengan membentuk tim khususpula. Dalam penggolongannya bencana massaldibedakan menjadi 2 tipe. Pertama,
Natural Disaster 
, seperti Tsunami, gempa bumi,banjir, tanah longsor dan sejenisnya.Sedangkan yang kedua, dikenal sebagai ‘
Man Made Disaster 
’ yang dapat berupa kelalaianmanusia itu sendiri seperti: kecelakaan udara,laut, darat, kebakaran hutan dan sejenisnyaserta akibat ulah manusia yang telahdirencanakannya seperti pada kasusterorisme.
2,3
 DVI (
Disaster Victim Identification 
)adalah suatu definisi yang diberikan sebagaisebuah prosedur untuk mengidentifikasikorban mati akibat bencana massal secarailmiah yang dapat dipertanggung-jawabkandan mengacu kepada standar baku Interpol.Adapun proses DVI meliputi 5 fase, dimanasetiap fasenya mempunyai keterkaitan satudengan yang lainnya, yang terdiri dari
‘The Scene’, ‘The Mortuary’, ‘Ante Mortem Information Retrieval’, ‘Reconciliation’ and ‘Debriefing’ 
.
2,3,4
 Dalam melakukan proses tersebut terdapat bermacam-macam metode dan
 
Surjit Singh Penatalaksanaan Identifikasi Korban...
Majalah Kedokteran Nusantara Volume 41
No. 4
Desember 2008
 
255
tehnik identifikasi yang dapat digunakan.Namun demikian Interpol menentukan
Primary Indentifiers 
yang terdiri dari
Fingerprints, Dental Records 
dan DNA serta
Secondary Indentifiers 
yang terdiri dari
Medical, Property 
dan
Photography 
. Prinsipdari proses identifikasi ini adalah denganmembandingkan data
Ante Mortem 
dan
Post Mortem 
, semakin banyak yang cocok makaakan semakin baik. Primary Identifiersmempunyai nilai yang sangat tinggi biladibandingkan dengan Secondary Identifiers.
4
 
IDENTIFIKASI KORBAN
Pengetahuan mengenai identifikasi(pengenalan jati diri seseorang) pada awalnyaberkembang karena kebutuhan dalam prosespenyidikan suatu tindak pidana khususnyauntuk menandai ciri pelaku tindak kriminal,dengan adanya perkembangan masalah-masalah sosial dan perkembangan ilmupengetahuan maka identifikasi dimanfaatkan juga untuk keperluan-keperluan yangberhubungan dengan kesejahteraan umat manusia.Pengetahuan identifikasi secara ilmiahdiperkenalkan pertama kali oleh dokterPerancis pada awal abad ke 19 bernamaAlfonsus Bertillon tahun 1853-1914 denganmemanfaatkan ciri umum seseorang sepertiukuran anthropometri, warna rambut, matadan lain-lain. Kenyataan cara ini banyak kendala-kendalanya oleh karena perubahan-perubahan yang terjadi secara biologis padaseseorang dengan bertambahnya usia selainkesulitan dalam menyimpan data secarasistematis.
2,5,6
 Sistem yang berkembang kemudianadalah pendeteksian melalui sidik jari(Daktiloskopi) yang awalnya diperkenalkanoleh Nehemiah Grew tahun 1614-1712,kemudian oleh Mercello Malphigi tahun1628-1694 dan dikembangkan secara ilmiaholeh dokter Henry Fauld tahun 1880 danFrancis Dalton tahun 1892 keduanya berasaldari Inggris. Berdasarkan perhitunganmatematis penggunaan sidik jari sebagaisarana identifikasi mempunyai ketepatan yangcukup tinggi karena kemungkinan adanya 2orang yang memiliki sidik jari yang samaadalah 64 x 10
9
: 1, kendala dari sistem iniadalah diperlukan data dasar sidik jari dariseluruh penduduk untuk pembanding.Adanya perkembangan ilmu pengetahun,saat ini berbagai disiplin ilmu pengetahuandapat dimanfaatkan untuk meng-identifikasiseseorang, namun yang paling berperan adalahberbagai disiplin ilmu kedokteran mengingat yang dikenali adalah manusia. Identifikasimelalui sarana ilmu kedokteran dikenalsebagai Identifikasi Medik.Manfaat identifikasi semula hanya untuk kepentingan dalam bidang kriminal (mengenalkorban atau pelaku kejahatan), saat ini telahberkembang untuk kepentingan non kriminalseperti asuransi, penentuan keturunan, ahliwaris dan menelusuri sebab dan akibat kecelakaan, bahkan identifikasi dapat dimanfaatkan untuk pencegahan cedera ataukematian akibat kecelakaan.
2,7
 
METODOLOGI IDENTIFIKASI
Prinsipnya adalah pemeriksaan identitasseseorang memerlukan berbagai metode dariyang sederhana sampai yang rumit.
8,9
 a.
 
Metode sederhana1)
 
Cara visual, dapat bermanfaat bilakondisi mayat masih baik, cara inimudah karena identitas dikenalmelalui penampakan luar baik berupaprofil tubuh atau muka. Cara ini tidak dapat diterapkan bila mayat telahbusuk, terbakar, mutilasi serta harusmempertimbangkan faktor psikologikeluarga korban (sedang berduka,stress, sedih, dll)2)
 
Melalui kepemilikan (property)identititas cukup dapat dipercayaterutama bila kepemilikan tersebut (pakaian, perhiasan, surat jati diri)masih melekat pada tubuh korban.3)
 
Dokumentasi, foto diri, foto keluarga,foto sekolah, KTP atau SIM dan lainsebagainya.b.
 
Metode ilmiah, antara lain: 1) Sidik jari, 2)Serologi, 3) Odontologi, 4) Antropologidan 5) Biologi.Cara-cara ini sekarang berkembangdengan pesat berbagai disiplin ilmu ternyatadapat dimanfaatkan untuk identifikasi korbantidak dikenal. Dengan metode ilmiah ini
 
Tinjauan Pustaka
Majalah Kedokteran Nusantara Volume 41
No. 4
Desember 2008
 
256
didapatkan akurasi yang sangat tinggi dan jugadapat dipertanggung-jawabkan secara hukum.Metode ilmiah yang paling mutakhir saat ini adalah DNA Profiling (Sidik DNA). Caraini mempunyai banyak keunggulan tetapimemerlukan pengetahuan dan sarana yangcanggih dan mahal. Dalam melakukanidentifikasi selalu diusahakan cara-cara yangmudah dan tidak rumit. Apabila dengan carayang mudah tidak bisa, baru meningkat kecara yang lebih rumit.Selanjutnya dalam identifikasi tidak hanya menggunakan satu cara saja, segala carayang mungkin harus dilakukan, hal ini pentingoleh karena semakin banyak kesamaan yangditemukan akan semakin akurat. Identifikasitersebut minimal harus menggunakan 2 carayang digunakan memberikan hasil yang positif (tidak meragukan).Prinsip dari proses identifikasi adalahmudah yaitu dengan membandingkan data-data tersangka korban dengan data dari korbanyang tak dikenal, semakin banyak kecocokansemakin tinggi nilainya. Data gigi, sidik jari,atau DNA secara tersendiri sudah dapat digunakan sebagai faktor determinan primer,sedangkan data medis, property dan ciri fisik harus dikombinasikan setidaknya dua jenisuntuk dianggap sebagai ciri identitas yangpasti.
3,4
 Gigi merupakan suatu cara identifikasiyang dapat dipercaya, khususnya bila rekamdan foto gigi pada waktu masih hidup yangpernah dibuat masih tersimpan dengan baik.Pemeriksaan gigi ini menjadi amat pentingapabila mayat sudah dalam keadaanmembusuk atau rusak, seperti halnyakebakaran.Adapun dalam melaksanakan identifikasimanusia melalui gigi, kita dapatkan 2kemungkinan:1)
 
Memperoleh informasi melalui data gigidan mulut untuk membatasi ataumenyempitkan identifikasi.Informasi ini dapat diperoleh antara lainmengenai:a.
 
umurb.
 
 jenis kelaminc.
 
rasd.
 
golongan darahe.
 
bentuk wajahf.
 
DNADengan adanya informasi mengenaiperkiraan batas-batas umur korbanmisalnya, maka pencarian dapat dibatasipada data-data orang hilang yang berada disekitar umur korban. Dengan demikianpenyidikan akan menjadi lebih terarah.
3,8
 2)
 
Mencari ciri-ciri yang merupakan tandakhusus pada korban tersebut.Di sini dicatat ciri-ciri yang diharapkandapat menentukan identifikasi secara lebihakurat dari pada sekedar mencariinformasi tentang umur atau jeniskelamin. Ciri-ciri demikian antara lain:misalnya adanya gigi yang dibungkuslogam, gigi yang ompong atau patah,lubang pada bagian depan biasanya dapat lebih mudah dikenali oleh kenalan atauteman dekat atau keluarga korban. Disamping ciri-ciri di atas, juga dapat dilakukan pencocokan antara tengkorak korban dengan foto korban semasahidupnya. Metode yang digunakan dikenalsebagai
Superimposed Technique 
yaituuntuk membandingkan antara tengkorak korban dengan foto semasa hidupnya.
3,6,8
 c.
 
Identifikasi dengan Teknik Superimposisi
2,6
 Superimposisi adalah suatu sistempemeriksaan untuk menentukan identitasseseorang dengan membandingkan korbansemasa hidupnya dengan tengkorak yangditemukan. Kesulitan dalam menggunakantehnik ini adalah:1)
 
Korban tidak pernah membuat fotosemasa hidupnya.2)
 
Foto korban harus baik posisinyamaupun kwalitasnya.3)
 
Tengkorak yang ditemukan sudahhancur dan tidak berbentuk lagi.4)
 
Membutuhkan kamar gelap yang perlubiaya tersendiri.Khusus pada korban bencana massal, telahditentukan metode identifikasi yangdipakai yaitu:a.
 
Primer/utama1)
 
gigi geligi2)
 
sidik jari3)
 
DNAb.
 
Sekunder/pendukung1)
 
visual2)
 
properti3)
 
medik 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->