Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Asas Asas Hukum

Asas Asas Hukum

Ratings: (0)|Views: 448|Likes:
Published by Aby Maulana
asas hukum
asas hukum

More info:

Categories:Types, Letters
Published by: Aby Maulana on Jul 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

07/02/2012

pdf

text

original

 
1
ASAS-ASAS HUKUM
DR. H, Rantawan Djanim, SH., MH.
(
 Hukum bukan hanya sebuah dokumen perundang-undangan yang terdiri dari ribuan pasal,melainkan sebuah dokumen moral, yang menyimpan pesan-pesan moral untuk kehidupanbermasyarakat. Maka menjadi tugas kita untuk memahaminya sebagai demikian)
Pendahuluan
Sejak hukum modern itu lebih merupakan
legislated law
, maka perhatian lebihditujukan kepada pembacaan terhadap substansi peraturan, hukum, atau perundang-undangansecara rasional, Apa yang diatur?, Apa yang dilarang dan diperbolehkan? Bagaimana bunyiundang-undang, bagaimana prosedurnya? Kultur berhukum modern seperti itu mengabaikan pertanyaan
filosofis
tentang alasan dan tujuan moral undang-undang.
Jantung perundang-undangan
Asas-asas hukum itu merupakan bagian sangat penting dan mendasar dari hukum, bahkan bisa dinamakan jantung dari hukum. Namun demikian, ia belum mendapatkan perhatian yang memadai sesuai dengan sifat dan kedudukannya yang demikian itu. Dalam pelajaran dan pembelajaran di fakultas hukum, ia juga belum mendapatkan pengakuan yangsepadan. Ia masih lebih terselip dan diselipkan di mana-mana, daripada diangkat sebagai topik dan masalah tersendiri yang utuh.Apabila dikalangan akademis saja keadaan adalah seperti itu, maka janganlahdisalahkan manakala dalam praktek asas hukum masih sangat terabaikan. Itu berarti, bahwaorang masih lebih membaca pasal-pasal undang-undang daripada membaca, mengenali danmeresapkan asas-asas hukum terlebih dahulu.Pengabaian terhadap arti penting asas hukum menyebabkan, bahwa perbuataannya oleh badan legislatif juga tidak mendapatkan perhatian yang seksama. Dengan demikian maka badanlegislatif lebih pantas disebut sebagai produsen pasal-pasal daripada asas hukum. Masih terlalusering dijumpai asas-asas hukum yang hampir tidak memberikan panduan pada waktu hukumitu dilaksanakan. Pembuatan asas hukum masih sering dilakukan secara salah. Ini bisamengakibatkan hal-hal yang lebih fatal pada suatu undang-undang dilaksanakan.
Hukum sebagai rancangan kehidupan
Mendirikan Negara Hukum membuat hukum dan menjalankan hukum tidak bisadilepaskan dari
rancangan besa
mengenai bagaimana
kehidupan manusia
itu ingindibangun. Memang hukum mengatur lalu-lintas dijalan umum, perdagangan, kepailitan, pembangunan pemerintahan, pengadaan badan-badan publik, penghukuman orang yang
 
2
melakukan kejahatan, tetapi itu semua bertolak dari satu titik, yaitu merancang kehidupanmanusia.Bagaimana Negara Hukum Indonesia itu merancang kehidupan sekian ratus jutarakyatnya menjadi pintu masuk bagi legislasi di negeri ini. Para legislator pada berbagai tingkatmulai teratas sampai terbawah, sebaiknya melakukan pembelajaran diri terlebih dahulusebelum melaksanakan tugasnya. Yang dimaksud dengan pembelajaran diri disni adalah, bahwamereka perlu menyadari apa yang akan dan sedang mereka lakukan, yaitu merancang suatukehidupan manusia. Rancangan besar itulah yang perlu disadari dan diresapkan terlebih dahulu.Inilah hakekat pembelajaran yang dimaksud.Rasanya negara Hukum Indonesia ini didirikan untuk merancang kehidupan rakyatyang sejahtera dan bahagia; begitulah intisari pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD).Begitu kata UUD, begitu pula seharusnya
ruh
itu dijabarkan kedalam rancangan yanglebih
konkret
. Sifat konkret itu barang tentu tergantung pada posisi otoritas legislatoKonkretisasi tertinggi dilakukan melalui pembuatan
asas-asas-hukum
. Kendati berbeda dalamtingkat otoritas, tetapi sekalian legislator itu perlu benar-benar menyadari “
ke mana bangsa inimau dibawa
”.
Hukum berangkat dari titik pandang (
 point of view
 )
Hukum itu
memiliki titik pandang
dan akan
berangkat
dari situ pula. Hukum tanpatitik pandang bukan hukum namanya, tetapi hanya kumpulan pasal-pasal suruhan dan larangansaja. Titik pandang tersebut mengandung filsafat kehidupan dan memuat kearifan tentang “
watdenkt gij van de mens en samenleving?
” (bagaimana pendapat anda tentang manusia dankehidupan bersama manusia itu). Setiap bangsa akan memberi jawaban sendiri terhadap pernyataan filsafat tersebut.ditentukan oleh cara anggota-anggota dari bangsa itu berhubungansatu sama lain (
The way people behave toward eacvh other)
. Amerika serikat misalnya,menjawab dengan faham individualisme, sedang jepang dengan faham kolektivisme. Itulahyang menyebabkan praksis hukum kedua negara adikuasa itu berbeda. Posisi seseorang dalammasyarakat di Amerika dan Jepang berbeda. Di Amerika seseorang itu merdeka dan bebashampir total, sedang di Jepang seseorang itu merupakan bagian dari jaringan kolektif setempat.
 In The united States, the person tends to be perceived by self and others as an individual whoseidentity and sense of self stand apart from the group or the community: in Japan, the persontends to be perceived by self and others as a social participant whose identity is in large part defined by social relationships ( 
Hamiiton & Sanders, 1992 : 49 ). Dikatakan secara singkat, diAmerika ditemukan
individual actors,
sedang di Jepang
contextual actors.
Perbedaan tersebut menentukan bagaimana hukum diciptakan dan dijalankan di keduanegara itu. Dalam istilah yang kita gunakan diatas, perbedaan tersebut merupakan titik pandanghukum masing-masing negara.Pembuatan hukum yang akan bertolak dari titik pandang, oleh karena berangkat darititik pandang dan senantiasa menyadari kehadiran titik pandang tersebut, akan menjadi hukumitu benar-benar satu kesatuan pengaturan. Ciri asas hukum yang baik adalah, bahwa “
it should 
 
3
 give cohesion to a particular branch of the law by capably explaining the relevant cases : it must be suited to the practical needs and ethical requirements of that particular communityand be elastic enough to afford opportunities for development in the rules that are based uponit.”
(Paton, 1964 : 205)
Asas Hukum
Tititk pandang tersebut mendapatkan tempat dalam hukum dalam bentuk 
asas-asashukum
(“
Trought the medium of the principle, law can draw nourishment from the views of community”,
Paton
 ,
1964 : 204). Asas hukum itulah yang akan mewadahi titik pandangtersebut. Hukum itu mengatur dan berhubungan dengan kehidupan manusia dalam waktu dangeografi tertentu. Oleh sebab itu kita juga akan berbicara mengenai sistem hukum tertentu.Dalam legislasi akan dijumpai hal-hal yang oleh suatu bangsa atau komunitas dianggapsebagai ‘ sudah seharusnya‘, ‘
sudah dengan sendirinya’
(Bld.:
onmiddelijk evident,Scolten,
1954). Dalam konteks pembicaraan kita, pengertian-pengertian tersebut sebetulnya masih harusdiikuti oleh penjelasan ‘bagi suatu komunitas tertentu. Hal-hal seperti itu termasuk kategoriasas hukum. Misalnya hukum tidak perlu memberikan penjelasan mengapa orang yang berhutang berpendapat bahwa hutang dengan sendirinya akan membawa beban bagi yang berhutang untuk melunasi. Berangkat dari asas hukum tersebut lalu dapat dilanjutkan pengaturan lebih lanjut dalam hubungan hutang-piutang.Dari uraian diatas diketahui tantang betapa pentingnya kehadiran dan kedudukan asashukum dalam suatu sistem hukum. Asas hukum merupakan
kelengkapan
vital dalam legislasi.Ia bukan sekadar hiasan yang bisa dilepas begitu saja dari suatu undang-undang tanpa adaresiko apapun. Ia adalah bagian
integral
dari suatu undang-undang dan sistem hukum. Makasebaiknya kita mengutuhkan pemahaman kita, bahwa pengaturan oleh hukum itu dilakukan baik melaui pasal-pasal maupun asas hukum. Oleh sebab itu membaca dan memahami asasmerupakan aspek penting dari ikhwal membaca undang-undang. Implikasi yang muncul darisitu adalah, bahwa
legislator
tidak boleh sembarangan atau asal-asalan dalam mencantumkansuatu asas hukum.Sehubungan dengan hal tersebut diatas, sayangnya perlu diakui, bahwa masih banyak asas-asas hukum yang tidak pantas untuk disebut demikian. Tidak sedikit undang-undang yangmencantumkan suatu asas hukum, tetapi pada waktu dibaca, ia hampir tidak mempunyai
fungsi
dalam kaitan dengan undang-undang bersangkutan.UU Lalu-lintas Jalan (1992) merupakan contoh yang baik tentang percantuman asashukum yang tidak baik. UU tersebut mencantumkam asas-asas yang tidak memberitahu rakyattentang titik pandang dalam bagaimana berlalu-lintas. Menurut saya, yang disebut sebagai asasdisitu, lebih merupakan jargon-jargon P-4 ( Penataran Pancasila ), daripada asas hukum yang berlalu-lintas dalam artian sebenarnya. Pencantuman asas seperti itu hampir tidak memberi
tuntunan
sama sekali dalam hal berlalu-lintas di jalan di Indonesia. Asas yang lebih tepatadalah yang memberikan panduan moral dalam berlalu-lintas. Asas seperti itu bisa dirumuskansebagai berikut : (1) Dalam berkendaraan dijalan, hendaknya seorang pengendaramemperhatikan orang lain; (2) Dalam berkendaraan di jalan, hendaknya jangan menyusahkan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->