Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
0Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Migrasi, Gaya Hidup, Dan Perang Wacana

Migrasi, Gaya Hidup, Dan Perang Wacana

Ratings: (0)|Views: 0|Likes:

More info:

Published by: Dian Lintang Sudibyo on Jul 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/03/2012

pdf

text

original

 
Migrasi, Gaya Hidup, dan Perang Wacana
1
-
Dian Lintang Sudibyo-
“Sepanjang penduduk memahami diri mereka sendiri sebagai “terpinggir” ( atau orang-orangtersingkir ), atau sekedar orang local, atau “orang daerah”, mereka setidak-tidaknya menerimaotoritas yang membuat tempat lain –ibu kota, bangsa, pemerintahan, perekonomian global- sebagaisuatu titik acuan yang benar, tepat, dan bahkan mendasar.” – Webb Keane – 
Pengantar
Dua orang bocah lari ketakutan ketika melihat saya dan teman penelitian saya yang sedang berjalan menelusuri jalan kearah dusun tempat tinggal mereka. Mungkin penampilan kami yangterlihat garang, rambut gondrong, kulit hitam serta membawa tas ransel menambah ketakutankedua bocah itu. Setelah beberapa hari kami tinggal dan mulai akrab dengan warga, saya tahualasannya mengapa anak kecil itu lari melihat kami. Usut punya usut ternyata kami dianggapsebagai penculik. ‘Disini keadaannya memang sepi mas, kebanyakan para warga yang pergi kekota jadi mungkin mereka takut ketika ada orang yang tak dikenal masuk’ kata salah seorang wargasambil bercanda.Suasana dusun memang sepi hanya ada beberapa kaum muda, warga yang telah berkeluarga, anak-anak, dan juga lansia. Para generasi muda baik itu laki-laki atau perempuanlebih banyak memilih hidup dan bekerja di luar kota. Tujuannya adalah kota-kota besar berbasisindustri seperti Tegal, Semarang, Bekasi, Tanggerang, dan Jakarta. Dari pilihan kota itu, bisaditebak mereka yang bermigrasi lebih memilih untuk bekerja diluar sector pertanian. Semakinderasnya arus migrasi dari desa ke kota
2
, menurut beberapa para ahli sosial merupakan dampak 
1
Laporan Tim Penelitian Lapangan 2010, Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada.
2
Terjadinya migrasi sebenarnya telah berlangsung sejak lama, bahakan jauh sebelum masacolonial. Dampak Revolusi HIjau adalah semakin mempercepat poses migrasi.
 
dari adanya progam revolusi hijau yang membuat para petani kelas bawah kehilangan tanahsebagai akses ekonomi mereka.Bila mengikuti alur pemikiran para ahli tersebut, semua bermula pada kurun waktu akhir 1960 hingga awal 1970-an. Ketika itu Pemerintah Orde Baru menggalang program revolusi hijaudengan tujuan agar produksi pertanian meningkat drastis. Apa yang diharapan tercapai. Programrevolusi hijau telah meningkatkan hasil panen yang luar biasa besar. Keberhasilan ini mejadikanIndonesia sebagai Negara dengan ketahanan pangan yang kuat. Pengaruhnya tak hanya berhenti pada tahap ini, keberhasilan revolusi hijau membawa perekonomian Indonesia menjadi lebih baik. Namun ternyata dibalik kisah sukses tersebut, revolusi hijau juga berperan aktif dalam perubahankondisi sosial ekonomi para petani.Hasil penelitian para ilmuan sosial membuktikan bahwa revolusi hijau memang telahmenyelamatkan keterpurukan ekonomi Indonesia; namun keberhasilan itu tidak dibarengi denganmeningkatnya lowongan kerja pertanian di desa, dan makin merangsang tumbuhnya kelas kapitalisdi daerah-daerah pedesaan ( Sobary, 1999 : 6 ). Revolusi hijau telah mengkibatkan terjadinyamonopoli lahan oleh petani kelas atas. Keadaan ini terjadi karena hanya petani-petani kaya yangmampu mengakses barang-barang hasil industri - seperti pupuk, alat-alat pertanian - yang dapatmeningkatkan hasil panen petani. Kondisi ini bukannya mengurangi kesenjangan ekonomi diantara petani, namun justru menambah kesenjangan antara petani miskin dan kaya. Sebab, hanya petanikaya yang mampu mengakumulasi modal lantas mengkonversikan modalnya dengan cara membelilahan-lahan baru. ( White, 1989; via, Li, 2002 : xiii - xiv )Dalam hal ini, kemudian petani kelas bawah menjadi semakin terpuruk. Mereka kehilanganakses ekonomi akibat program pemerintah tersebut. Para petani miskin menjadi lebih miskinkarena kehilangan tanah sebagai asset ekonominya. Tanah diwilayah pedesaan menjadi milik paratuan tanah yang kaya, sebab hanya merekalah yang mampu mengolah dengan biaya produksi yangtinggi. Dengan demikian cara agar para petani yang kehilangan asetnya ini mampu bertahan hidup,hanyalah mencari pekerjaan yang bisa dijadikan pegangan hidup diluar bidang pertanian. Merekamengincar kantong ekonomi di kota-kota besar. Maka terjadilah migrasi besar-besaran para penduduk desa ke wilyah perkotaan. Dengan kata lain Revolusi hijau telah mempercepat prosesemobilitas warga desa ke kota. Kemudian muncul pertanyaan, apakah benar mereka bermigrasikarena dampak kehilangan tanah sebagai akses ekonominya di desa?
 
Sementara Kutanegara (2002) yang melakukan penelitian pada masyarakat di Desa SriharjoYogyakarta, melihat bahwa kesenjangan antara petani atas penguasaan aset tanah justru terjadi pasca revolusi hijau. Penduduk desa berusaha menguasai tanah karena tanah mengalami perubahan peran dari tanah sebagai sarana untuk berproduksi menjadi sumber investasi ekonomi dan sosial.Bagi Pujo Semedi, yang melakukan penelitian di daerah Petungkriyono, revolusi hijau juga bukanmenjadi alasan terjadinya kesenjangan. Malah sebaliknya, adanya revolusi hijau justru membantu petani kelas bawah untuk mengurangi ketergantungan terhadap monopoli petani-petani kaya ataslahan mereka. Alasannya, bahan-bahan ‘canggih’ dunia pertanian, yang merupakan anak kandungdari revolusi hijau, membuat hasil panen semakin melimpah. Dampaknya, ketergantunganekonomi petani miskin yang dulu sering berhutang pada para juragan semakin berkurang ( Semedi,2009 : 26-27 ).Migrasi penduduk desa ke Kota yang terjadi karena perubahan pola kepemilikan tanahakibat revolusi hijau bukan menjadi alasan yang tepat. Pada dasarnya mobilitas penduduk desa kekota sudah terjadi sejak zaman Kolonial bahkan jauh sebelumnya. Hal senada diungkap olehSemedi ( 2008 ), dalam artikelnya berjudul “ Mitos Orang Terisolir”. Ia membuat sebuah 'mitos'tandingan yang mengatakan bahwa Petungkriyono – daerah yang bersebelahan langsung denganLebakbarang- sejak zaman kerjaan Mataram Kuno telah melakukan hubungan dengan daerah luar.Hubungan tersebut berlangsung hingga zaman kolonial, dimana arsip-arsip lama yang dicatat oleh pemerintah kolonial Belanda, menjadi bukti adanya hubungan tersebut. Selain itu, petaniPetungkriyono telah sejak lama menjual hasil panennya ke pasar Ndoro. Hal ini membuktikanmobilitas penduduk sudah terjadi sudah sejak lama.Dari diskusi diatas saya menyadari bahwa sebenarnya mobilitas penduduk desa sudah adasejak dahulu. Mobilitas atau Migrasi penduduk adalah perpindahan dari suatu daerah ke daerahlain baik itu itu menetap ataupun tidak menetap. Menurut Mantra ( 1999 ) Mobilitas merupakan bagian dari proses sosial yang melibatkan ikatan daerah asal, seperti keluarga dan lahan. Artinyafenomena sosial yang terjadi pada suatu daerah berperan aktif dalam mendorong masyarakat bermigrasi. Pendapat tersebut sebenarnya merupakan alasan agar para peneliti tidak terjebak padaanalisis ekonomi semata, meski tak dapat disangkal factor ekonomi sedikit banyak mempengaruhi proses mobilisasi. Factor ekonomi ini merupakan turunan dari model pendorong dan penarik (
 push and pull factor)
yang ada pada teori-teori klasik tentang mobilitas penduduk. Bila peneliti

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->