Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Teori Perubahan Sosial Karl Marx Dan Max

Teori Perubahan Sosial Karl Marx Dan Max

Ratings: (0)|Views: 421|Likes:
Published by Andrew Secreet

More info:

Published by: Andrew Secreet on Jul 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2013

pdf

text

original

 
Teori Perubahan Sosial Karl Marx dan Max Weber
{ November 18, 2008 @ 2:18 pm } · { Actions } Teori perubahan social dan budaya Karl Marx yang merumuskan bahwa perubahan social danbudaya sebagai produk dari sebuah produksi (materialism), sedangkan Max weber lebih padasystem gagasan, system pengetahuan, system kepercayaan yang justru menjadi sebab perubahan.Jika dua pandangan itu digunakan sebagai asas dalam pengembangan program PendidikanNonformal, akan memberikan dampak untung dan rugi, secara literature hal tersebut disebabkanoleh:Menurut Douglas (1973), mikrososiologi mempelajari situasi sedangkan makrososiologimempelajari struktur. George C. Homans yang mempelajari mikrososiologi mengaitkan strukturdengan perilaku sosial elementer dalam hubungan sosial sehari-hari, sedangkan Gerhard Lenskilebih menekankan pada struktur masyarakat yang diarahkan oleh kecenderungan jangka panjangyang menandai sejarah. Talcott Parsons yang bekerja pada ranah makrososiologi menilai struktursebagai kesalingterkaitan antar manusia dalam suatu sistem sosial. Coleman melihat struktursebagai pola hubungan antar manusia dan antar kelompok manusia atau masyarakat. Kornblum(1988) menyatakan struktur merupakan pola perilaku berulang yang menciptakan hubunganantar individu dan antar kelompok dalam masyarakat.Mengacu pada pengertian struktur sosial menurut Kornblum yang menekankan pada polaperilaku yang berulang, maka konsep dasar dalam pembahasan struktur adalah adanya perilakuindividu atau kelompok. Perilaku sendiri merupakan hasil interaksi individu denganlingkungannya yang didalamnya terdapat proses komunikasi ide dan negosiasi.Pembahasan mengenai struktur sosial oleh Ralph Linton dikenal adanya dua konsep yaitu statusdan peran. Status merupakan suatu kumpulan hak dan kewajiban, sedangkan peran adalah aspek dinamis dari sebuah status. Menurut Linton (1967), seseorang menjalankan peran ketika iamenjalankan hak dan kewajiban yang merupakan statusnya. Tipologi lain yang dikenalkan olehLinton adalah pembagian status menjadi status yang diperoleh (ascribed status) dan status yangdiraih (achieved status).Status yang diperoleh adalah status yang diberikan kepada individu tanpa memandangkemampuan atau perbedaan antar individu yang dibawa sejak lahir. Sedangkan status yang diraih
 
didefinisikan sebagai status yang memerlukan kualitas tertentu. Status seperti ini tidak diberikanpada individu sejak ia lahir, melainkan harus diraih melalui persaingan atau usaha pribadi.Social inequality merupakan konsep dasar yang menyusun pembagian suatu struktursosial menjadi beberapa bagian atau lapisan yang saling berkait. Konsep ini memberikangambaran bahwa dalam suatu struktur sosial ada ketidaksamaan posisi sosial antar individu didalamnya. Terdapat tiga dimensi dimana suatu masyarakat terbagi dalam suatu susunan ataustratifikasi, yaitu kelas, status dan kekuasaan. Konsep kelas, status dan kekuasaan merupakanpandangan yang disampaikan oleh Max Weber (Beteille, 1970).Kelas dalam pandangan Weber merupakan sekelompok orang yang menempatikedudukan yang sama dalam proses produksi, distribusi maupun perdagangan. Pandangan Webermelengkapi pandangan Marx yang menyatakan kelas hanya didasarkan pada penguasaan modal,namun juga meliputi kesempatan dalam meraih keuntungan dalam pasar komoditas dan tenagakerja. Keduanya menyatakan kelas sebagai kedudukan seseorang dalam hierarkhi ekonomi.Sedangkan status oleh Weber lebih ditekankan pada gaya hidup atau pola konsumsi. Namundemikian status juga dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti ras, usia dan agama (Beteille,1970).Berbagai kasus yang disajikan oleh beberapa penulis di depan dapat kita pahami sebagai bentuk adanya peluang mobilitas sosial dalam masyarakat. Kemunculan kelas-kelas sosial baru dapatterjadi dengan adanya dukungan perubahan moda produksi sehingga menimbulkan pembagiandan spesialisasi kerja serta hadirnya organisasi modern yang bersifat kompleks. Perubahantatanan masyarakat dari yang semula tradisional agraris bercirikan feodal menuju masyarakatindustri modern memungkinkan timbulnya kelas-kelas baru. Kelas merupakan perwujudansekelompok individu dengan persamaan status. Status sosial pada masyarakat tradisionalseringkali hanya berupa ascribed status seperti gelar kebangsawanan atau penguasaan tanahsecara turun temurun. Seiring dengan lahirnya industri modern, pembagian kerja dan organisasimodern turut menyumbangkan adanya achieved status, seperti pekerjaan, pendapatan hinggapendidikan.
 
Teori inkonsistensi status telah mencoba menelaah tentang adanya inkonsistensi dalam individusebagai akibat berbagai status yang diperolehnya. Konsep ini memberikan gambaran bagaimanatentang proses kemunculan kelas-kelas baru dalam masyarakat sehingga menimbulkanperubahan stratifikasi sosial yang tentu saja mempengaruhi struktur sosial yang telah ada.Apabila dilihat lebih jauh, kemunculan kelas baru ini akan menyebabkan semakin ketatnyakompetisi antar individu dalam masyarakat baik dalam perebutan kekuasaan atau upayamelanggengkan status yang telah diraih. Fenomena kompetisi dan konflik yang muncul dapatdipahami sebagai sebuah mekanisme interaksional yang memunculkan perubahan sosial dalammasyarakat.Max Weber (1864-1920), pemikir sosial Jerman, mungkin adalah orang yang dizamannya paling merasa tertantang oleh determinisme ekonomi Marx yang memandang segalasesuatu dari sisi politik ekonomi. Berbeda dengan Marx, Weber dalam karya-karyanyamenyentuh secara luas ekonomi, sosiologi, politik, dan sejarah teori sosial. Webermenggabungkan berbagai spektrum daerah penelitiannya tersebut untuk membuktikan bahwasebab-akibat dalam sejarah tak selamanya didasarkan atas motif-motif ekonomi belaka. Weberberhasil menunjukkan bahwa ide-ide religius dan etis justru memiliki pengaruh yang sangatbesar dalam proses pematangan kapitalisme di tengah masyarakat Eropa, sementara kapitalismeagak sulit mematangkan diri di dunia bagian timur oleh karena perbedaan religi dan filosofihidup dengan yang di barat lebih dari pada sekadar faktor-faktor kegelisahan ekonomi ataspenguasaan modal sekelompok orang yang lebih kaya. Kegelisahan teoretis yang sama, bahwamarxisme klasik terlalu naif dengan mendasarkan segala motif tindakan atas kelas-kelas ekonomimemiliki dampak besar yang melahirkan teori kritis dan marxisme baru. Aliran ini dikenalsebagai Mazhab Frankfurt, sebuah kumpulan teori sosial yang dikembangkan di Institute forSocial Research, yang didirikan di Frankfurt, Jerman pada tahun 1923. Mazhab ini terinspirasidari pandangan-pandangan Marx, namun tidak lagi menjelaskan dominasi atas dasar perbedaankelas ekonomi semata, melainkan atas otoritas penguasa yang menghalangi kebebasan manusia.Jika fokus marxisme klasik adalah struktur ekonomi politik, maka marxisme baru bersandar padabudaya dan ideologi. Kritisismenya terasa pada kritik-kritik yang dilontarkan atas ideologi-ideologi yang bersandar pada pendekatan psikolog klasik Austria, psikoanalisisme Sigmund

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->