Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
HARAMNYA BINATANG BUAS

HARAMNYA BINATANG BUAS

Ratings: (0)|Views: 193|Likes:
Published by Husni Abu Hasna

More info:

Published by: Husni Abu Hasna on Jul 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/24/2013

pdf

text

original

 
HARAMNYA BINATANG BUASOlehUstadz Abu Ubaidah Al-Atsariwww.almanhaj.or.idAlkisah suatu saat Ismail Al-Qadhi masuk kepada khalifah Abbasiyyah waktu itu,lalu disuguhkan padanya sebuah kitab yang berisi tentang keringanan danketergelinciran para ulama. Setelah membacanya dia berkomentar : “Penulisbuku ini adalah zindiq [1], sebab orang yang membolehkan minumanmemabukkan tidaklah membolehkan nikah mut’ah, dan orang yangmembolehkan nikah mut’ah tidaklah membolehkan nyanyian, tidak ada seorangalim pun kecuali memiliki ketergelinciran. Barangsiapa memungut semuakesalahan ulama niscaya akan hilang agamanya”. Akhirnya, buku itudiperintahkan supaya dibakar. [Siyar A’lam Nubala 13/465,Adz-Dzahabi]Sejarah berulang lagi saat ini ! Betapa banyak kita jumpai manusia pada zamansekarang yang mengikuti arus hawa nafsunya dengan mencari-cariketergelinciran ulama. Baginya musik boleh-boleh saja karena mengikutipendapat Ibnu Hazm!! Wanita nikah tanpa wali hukumnya boleh karenamengikuti madzhab Hanafiyyah!! Binatang buas tidak haram karena mengikutimadzhab Malikiyyah!! Melafazhkan niat boleh karena mengikuti madzhabHanabilah dan Syafi’iyyah!! Demikianah dia menborong segudang bencana padadirinya!!Perlu menjadi catatan kita bersama bahwa tidak semua pendapat yangdinisbatkan kepada suatu madzhab [2] atau seorang alim berarti pasti shahihalamatnya, bahkan tidak jarang penisbatan tersebut hanyalah anggapansemata. [Lihat At-Ta’alum wa Atsaruhu Ala Fikri wal Kitab Bakr Abu Zaid hal.112]Kajian kita kali ini adalah tentang hukum memakan daging binatang buas,haram atau bolehkah sebagaimana yang populer dalam madzhab Malikiyyah.Kami terdorong mengulas masalah ini karena hukum yang sudah jelastentangnya ternyata masih samar bagi sebagian kalangan. Buktinya, masih adasebagian da’i kondang yang mengatakan : “haditsnya hanya ahad!”, “adakesalahan perawinya!”. Pesan saya kepada juru dakwah yang mau pergi keKorea agar jangan memfatwakan tentang haramnya daging anjing karenapenduduk disana biasa memakannya!!”. Ada juga yang mengatakan :“hukumnya boleh, kan cuma makruh [3], ditinggalkan dapat pahala dilakukan juga enggak berdosa”. Dan komentar lainnya.Kita berdo’a kepada Alloh agar menampakkan sinar kebenaran dalam hati kitasemua dan memudahkan kita untuk mengikutinya. Amiin. TAKHRIJ HADITS
 
Ketauhilah wahai saudaraku seiman –semoga Alloh selalu mejagamu- bahwahadits ini adalah shahih dengan tiada keraguan di dalamnya. Berikut ini kamipaparkan beberapa riwayat sebagiannya yang paling shahih agar hati andamenjadi tentram tentang keshahihannya.[1]. Riwayat Abu Tsa’labah Al-Husyani Radhiyallahu’anhu.Dari Abu Tsa’labah Al-Husyani Radhiyallahu ‘anhu berkata : “RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memakan setiap binatang buas yangbertaring”SHAHIH. Diriwayatkan Bukhari 5530, 5780, 5781. Muslim 1936, Tirmidzi 1477,Abu Dawud 3802, Nasai 4325, 4342, Ibnu Majah 3232, Malik dalam Al-Muwatha’2/496, Ahmad dalam Musnadnya 4/193, 194 Ad-Darimi 1980, 1981, Ibnu Hibbandalam Shahihnya 2555, Syafi’i dalam Musnadnya 1168, 1746, Ath-Thayyalisi1016, Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf 8704, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 19865, Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqa 889, Thabrani dalam Mu’jamKabir 22/208, 209 Ath-Thahawi dalam Syarh Ma’ani Atsar 4/190, 206 Baihaqidalam Sunan Kubra 9/331, Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah 11/233 dari JalurAbu Idris Al-Khaulani dari Abu Tsa’labah. Tirmidzi berkata : “hadits masyhur dari Abu Tsa’labah, hasan shahih”Al-Baghawi berkata : “Hadits ini disepakati keshahihannya”[2]. Riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuDariAbu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “Setiap binatang yang bertaring maka memakannya adalah haram”SHAHIH. Diriwayatkan Muslim 1933, Tirmidzi 4324, Nasai 7/200, Ibnu Majah3233, Malik dalam Al-Muwatha 2/496, Ahmad dalam Musnadnya 2/236, IbnuHibban dalam Shahihnya 5278, Syafi’i dalam Musnadnya 1169, 1748, Ibnu AbiSyaibah dalam Al-Mushannaf 19867, Ath-Thahawi dalam Syarh Ma’ani Atsar4/190, Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah 1/234 dari Ismail bin Abu Hakim dariAbidin bin Sufyan Al-Hadhrami dari Abu Hurairah. Tirmidzi berkata : “Hadits ini hasanAl-Baghawi berkata : “Hadits ini shahih”Ibnu Abdil Barr berkata dalam At-Tamhid 1/139 : “Hadits ini shahih, bahkandisepakati keshahihannya”.[3]. Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuDari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwa sallam melarang dari setiap binatang buas yang bertaring dan burung yangberkuku tajam”SHAHIH. Diriwayatkan Muslim 1934, Abu Dawud 3803, Nasai 4348, Ibnu Majah3234, Ahmad 1/244, 289, 302, 339, 373, Darimi 1982, Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf 8707, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 19870, Ibnu Hibbandalam Shahihnya 5256, Ath-Thahawi dalam Syarh Ma’ani Atsar 4/190, Ibnu Jarud
 
dalam Al-Muntaqa 892, 893, Al-Baihaqi dalam Sunan Kubra 9/315, Al-Hakimdalam Al-Mustadrak 2/47, Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah 11/234 dari Maimunbin Mihran dari Ibnu Abbas. Dan terkadang dari Maimun bin Mihran dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas.Al-Hakim berkata : “Hadits ini shahih menurut syarat Bukhari-MuslimAl-Baghawi berkata : “Hadits ini shahih”.[4]. Miqdam bin Ma’di Karib Al-Kindi Radhiyallahu ‘anhu.Dari Miqdam bin Ma’di Karib Al-Kindi Radhiyallahu ‘anhu berkata : RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya aku telahmendapatkan wahyu kitab (Al-Qur’an) dan semisalnya (Hadits). Ketahuillah,hampir saja akan ada seseorang duduk seraya bersandar di atas ranjang hiasnyadalam keadaan kenyang, sedang dia mengatakan : “Berpeganglah kaliandengan Al-Qur’an. Apa yang kalian jumpai di dalamnya berupa perkara haram,maka haramkanlah”, Ketahuilah tidaklah dihalalkan untuk kalian keledai jinakdan setiap binatang buas yang mempunyai kuku tajam. Demikian pula luqathah(barang temuan) melainkan apabila pemiliknya telah merelakannya. Dan barangsiapa singgah bertamu kepada suatu kaum, hendaklah mereka menjamunya. Jika tidak, boleh baginya (tamu) mengambil haknya”.SHAHIH. Diriwayatkan Abu Dawud 4604, Ahmad 4/130-131, Ibnu Abdil Barrdalam At-Tamhid 1/149-150, Al-Kahthib Al-Baghdadi dalam Al-Faqih walMutafaqqih 1/79 dan Al-Kifayah hal.8, Ibnu Nashr Al-Marwazi dalam As-Sunnahhal. 116, Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah hal. 51, Baihaqi dalam Dalail Nubuwwah6/549 dari jalan Hariz bin Utsman Ar-Rahabi dari Abdullah bin Abu Auf Al-Jursyidari Miqdam bin Ma’di Karib Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.Sanad hadits ini shahih, sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh MuhammadNashiruddin Al-Albani dalam Al-Misykah 163. Hadits ini juga mempunyaisyawahid (penguat-penguat) yang cukup banyak.[5]. Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhuDari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam mengharamkan pada hari Khaibar keledai (jinak), bighal(pernakan dari keledai dengna kuda), setiap binatang buas yang bertaring danburung yang berkuku tajam”.HASAN. Diriwayatkan Tirmidzi 1478, Ahmad dalam Musnadnya 3/323, Ibnu AbiSyaibah dalam Al-Mushannaf 19869 dari Ikrimah bin Ammar dari Yahya bin AbuSalma dari Jabir. Tirmidzi berkata : “Hasan gharib”Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari 9/813 “Sanadnya jayyid”. Dandisetujui Asy-Syaukani dalam Nailul Authar 7/456Dan masih banyak lagi riwayat lainnya dari Ali bin Abu Thalib, Khalid bin Walid,

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->