Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Proposal Lokakarya Dan Seminar

Proposal Lokakarya Dan Seminar

Ratings: (0)|Views: 38 |Likes:
Published by See JajaDropdead

More info:

Published by: See JajaDropdead on Jul 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/04/2012

pdf

text

original

 
Proposal Lokakarya dan Seminar
Diperbaiki mulai tanggal 12 Agustus 2009Contoh proposal:diubah untuk Propinsi Sumbar atau .........Proposal ini sekedar acuan untuk memudahkan panitia melaksanakan acara. Dapat diperbaikisesuai kondisi setempatSEMINAR NASIONAL DAN LOKAKARYATENTANG:
PERAN PENTING LEMBAGA KEIMAMAN `ULAMA’ ZU`AMA’
(DEWAN TUANKU IMAM BESAR INDONESIA)UNTUK PEMBENTUKAN MASYARAKAT MUSLIM BERBASIS MASJID,SEBAGAI BASIS PENGAMALAN ISLAM MENUJU INDONESIA RAYADALAM BINGKAI MASYARAKAT MADANIY ISLAMIY DUNIA MODERNI. DASAR PEMIKIRAN, GAGASAN DAN TUJUAN.Umat Islam di seluruh dunia berkewajiban untuk mengamalkan Dinul Islam secara baik danbenar, tanpa pandang dari mana asal dan keberadaan mereka, termasuk umat muslim yangberada di Indonesia. Hal itu sangat disadari oleh umumnya kaum muslimin. Hasil dari kesadarantersebut disuarakan dan wujudkan dalam berbagai macam bentuk. Ada yang melembagakanwujud kesadaran ke Islaman itu menjadi simbol kebangsaan atau kesukuan mereka. Sepertit
erdapat dalam falsafah: “Adat Bersendi Syara’, Syara’ Bersendi Kitabullah” yang menjadi
pedoman dalam lingkungan dunia Melayu Nusantara, termasuk Minangkabau.Dinul Islam itu harus diamalkan sesuai dengan sumber dan landasan pokoknya, yakni al-
Qur’an
dan Sunnah al-Nabawiyyah. Pemahaman terhadap kedua sumber tersebut tentu dengan
mempedomani metode yang ditempuh oleh fuqaha’ sahabat (manhaj ijtihad fuqaha’ al
-shahabat)sepeninggal Rasulullah SAW, serta metode para ulama mujtahid terkemuka yang diakui(mu`ta
 barah). Para ulama itulah yang mewarisi metode fuqaha’ sahabat tersebut dalam
memahami dan mengaplikasikan dinul Islam tersebut, hingga menyebar ke seluruh dunia sampaisaat ini. Tanpa mengikuti sistem tersebut akan menjauhkan umat dari kebenaran Islam.Ummat Islam berkewajiban untuk mengamalkan Dinul Islam secara menyeluruh (kaffah),meliputi unsur `aqidah tauhid (keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang berhak diibadahi),`ubudiyah mahdah (ibadah khusus yang telah ditentukan cara dan bentuknya) dan `ubudiyahghairu mahdah (perbuatan-perbuatan baik yang tidak ditentukan bentuk dan caranya tetapi dapatdinilai sebagai ibadah), akhlaqul karimah (budi pekerti lahir dan batin yang mulia), mu`amalahsyar`iyyah (hubungan timbal balik dalam kehidupan sosial menurut tuntunan syari`at), taqaddumfi al-`ulum wa al-tsaqafah (kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan/teknologi),hirasah al-din (pemeliharaan terhadap semua hal ihwal agama Islam) dan siyasah al-dunia(peranan dalam pengaturan urusan dunia, termasuk masalah bangsa dan negara). Untuk mencapai kondisi ideal tersebut, yakni terbentuknya umat terbaik (khaira ummat) sebagaimanaterdapat dalam al-
Qur’an yang digambarkan sebagai sosok 
-sosok berkarakter pelaksana amarma`ruf nahyi munkar, dilandasi kekuatan iman kepada Allah SWT yang bermuara untuk mewujudkan umat dan negeri yang diridhai dan diberkati oleh Allah SWT.
 
Upaya untuk mencapai kondisi ideal tersebut tentu tidak dapat dilakukan dengan caraserampangan, tergesa-gesa, tanpa modal yang cukup, tanpa upaya serta perjuangan yangmemadai. dibutuhkan syarat-syarat pokok antara lain ialah terselenggaranya pendidikan danpembinaan ummat yang intensif (istimrariyat ta`lim wa tarbiyyah al-diniyyah) yang merataterhadap umat Islam yang jumlah mereka cukup banyak, mulai dari tingkat anak-anak hinggaorang dewasa dan manula, the Islamic long live education (al-tarbiyat min al-mahdi il al-lahdi)dengan arah yang jelas dan dengan berperannya keteladanan dari para pemimpin yang mampumendidik umat.KH. Abdul Wahid Hasyim, Menteri Agama RI pada masa perjuangan kemerdekaan, pernahberkata kepada KH. Saifuddin Zuhri, yang kemudian juga pernah menjabat menteri agama RI,
“al
-
muslimun `ala kharin wa innma dha`fu fil qiyadah” (kaum muslimin ini senatiasa dalam
kebaikan, namun kelemahan itu terletak kepada kepemimpinan umat).Beranjak dari keinginan untuk mewujudkan hal tersebut, muncullah pertanyaan, siapakah yangmungkin, dapat, tepat, pantas dan patut untuk melakukan semuanya itu? Siapakah yang tepatuntuk melakukan pembinaan umat dengan cara yang benar atas dasar kebenaran al-
Qur’an,sunnah Rasulullah SAW, dan dengan berpedoman kepada manhaj `ulama’ al
-salaf al-shalih?Mungkinkah urusan penting untuk melakukan pembentukan mental dan kepribadian umattersebut dilaksanakan oleh sembarangan orang? Jawabannya jelas, tidak!Sebab urusan ini adalah urusan yang besar, menentukan, strategis dan hanya dapat dilaksanakanoleh orang-orang yang tepat, memenuhi syarat untuk itu. Mereka ialah orang-orang yang menjadiahli waris untuk melanjutka
n misi nubuwwah, yaitu para ulama zu`ama’, the riil `ulama’, yang
senantiasa memposisikan dirinya sebagai da`i pendidik umat (murabbiy), yang senantiasamenyediakan waktu mereka, baik dalam keadaan susah ataupun senang, untuk membimbingkaum muslimin dari segala kalangan, agar terbentuk pribadi-pribadi yang memahami danmengamalkan Islam secara kaffah dan mereka terbimbing untuk itu.Lalu muncul pula pertanyaan penting ? Dapatkah sosok seperti itu muncul secara tiba-tiba dansekonyong-konyong tanpa dipersiapkan. Mungkinkah orang-orang seperti mantan artis, pemainfilm, lalu belajar Islam satu atau dua tahun secara sambilan, kemudian mengisi ceramah agamadengan modal ketenarannya, lalu mereka dapat menjadi ulama Islam pembina umat? Begitukah?Jawabannya jelas, tidak! Mungkinkah sosok ulama pembina umat itu terlahir dari generasi yangberkualitas rendah? Seperti mereka yang masuk ke perguruan tinggi agama Islam karena tidak lulus bersaing masuk ke perguruan tinggi umum? Orang-orang terbuang? Jawabnya jelas, tidak!Mereka harus berasal dari generasi muslim yang berkualitas unggul !Mungkinkah program besar, membina umat Islam yang banyak itu tempatnya di hotel-hotelmewah, tempat-tempat wisata, atau yang serupa dengannya? Dengan membayar pendaftaran jutaan rupiah untuk satu atau dua minggu pelatihan dan training? Jawabannya jelas, tidak! Sebabsunnah Rasulullah SAW telah diperintahkan untuk menjadikan dan memposisikan masjidsebagai tempat pembinaan umat, bukan di gedung-gedung mewah atau istana-istana megah.Masjid adalah tempat menghimpun manusia beribadah sujud dan berdzikir kepada Allah SWT,ia sentral tempat pendidikan umat. Masjidlah sarana yang secara syari`at disediakan sebagaitempat terbaik untuk membentuk umat utama/terbaik (khaira ummah) tersebut.Persoalannya ialah, bagaimana gambaran masjid yang seharusnya sehingga ia memang dapatberfungsi sebesar-besarnya menjadi tempat pendidikan bagi umat muslim yang banyak itu?Anak-anak, remaja, dewasa, para orang tua dan termasuk manusia lanjut usia (manula). Sebab,sebenarnya, semakin lanjut usia seseorang maka dia semakin butuh pendidikan (pentarbiyahan)yang intensif, bukan sebaliknya. Bertambah dekat kemungkinan manusia untuk menempuh
 
kematian semakin penting baginya mempersiapkan diri untuk itu.Selain daripada itu, bangunan dan segala bentuk sarana dan fasilitas masjidpun harus memenuhistandar syari`at Islam. Sebab umat Islam dilarang menjadikan kuburan-kuburan siapapun sebagaitempat membangun masjid, oleh karena itu masjid tidak boleh dibangun di atas kuburan-kuburansipapun juga. Masjid harus menghadap ke arah kiblat dengan benar (Ka`bah atau MasjidilHaram), terjauh dari lokasi yang orang ramai melakukan maksiat, tidak boleh terletak di tempat-tempat yang bersuara bising yang dipastikan dapat menggangu ketenangan shalat, selain itumasjid harus memiliki sarana tempat bersuci dan berwuduk yang memenuhi standar danbeberapa sarana lainnya.Berdasarkan hal tersebut sebelumnya, diperlukan adanya program akreditasi masjid yangdiselenggarakan secara terus menerus oleh sebuah badan khusus yang berkompetensi untuk itu.Badan tersebut sekaligus berfungsi untuk melayani dan membuat merancang pembanguan masjidsecara benar dan dengan memperhitungan lokasi yang strategis, demi kepentingan pembinaanumat Islam ke depan. Badan akreditasi masjid ini diharapkan juga berfungsi untuk memperbaikikondisi masjid yang tidak memenuhi syarat syari`at Islam. Hingga dewasa ini masih banyak masjid yang arah hadap kiblatnya salah, sehingga telah beberapa kali menggeser arah hadapkiblatnya. Hal ini bukan urusan enteng, karena berkaitan dengan hukum sah dan batalnya shalatbagi banyak orang.Selain itu perlu pula disadari bahwa bangunan masjid adalah benda yang tak dapat bergerak dantak berbicara, ia bukanlah pemikir, bukan pemimpin yang dapat mengarahkan manusia. Ia adalahsemata benda yang beku (jamid), tempat, bangunan dan sarana. Bila masjid dibangun namuntidak dimanfaatkan sama sekali, maka ia tidak lebih seperti sebuah patung dan monumen, tak peduli apakah ia bangunan yang megah dan mahal. Akan tetapi jika masjid dapat dimanfaatkansecara maksimal maka berfungsilah ia sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan ibadahkepada Allah SWT. Sedangkan fungsi masjid untuk menjadi pusat pembinaan umat, dariberbagai level, tidak akan mungkin terwujud jika di masjid itu tidak ada orang-orang yangberilmu (faqih dalam Islam) dan mempunyai kompetensi yang memadai, yang mendidik danmembimbing umat secara tekun dan istimrariyah (terus-menerus).Suburnya berbagai aliran sesat yang menjerumuskan sebagian umat muslim terutama kaummudanya yang tidak paham dengan Islam, ke dalam gerakan dan kehidupan sesat, baik gerakansesat yang bersifat keagamaan atau kesesatan cara hidup akibat pengaruh budaya Barat yang jahiliyah, adalah sebagai hasil dari ketidakterdidikan dan tidak terbimbingnya mereka denganbaik dan benar secara intensif oleh orang-orang yang tepat, yang berkompetensi untuk itu. Padaumumnya umat muslim di berbagai daerah saat ini bagaikan anak ayam kehilangan induk,berpencar ke mana-mana tanpa penjagaan. Bagaikan kelas tak punya guru, sehingga murid-murid kebingunan tidak dapat belajar dan tak tahu apa yang harus mereka kerjakan.Kebutuhan umat muslim kepada pemimpin kegamaan (spritual leader), yang lebih banyak mencurahkan kemampuan dan ilmu mereka untuk mendidik dan membimbing umat mutlak diperlukan. Rasulullah SAW telah secara tegas menekankan pentingnya hal ini dalam sunnahbeliau. Bahkan bila beberapa orang muslim bermusafir walaupun hanya dalam jumlah tiga orangsaja, mereka diperintahkan oleh beliau untuk mengangkat salah seorang dari mereka sebagai
imam shalat “iddza ijtama`a tsalatsatu nafarin fal ya’ummahum aktsara qur’anan wa in kanaashghara hum”, artinya: jika tiga orang melakukan perjalanan jauh maka hendaklah salah
seorang menjadi imam shalat, yakni yang paling banyak menguasai al-
Qur’an walaupunumurnya lebih muda dari yang lain. Lalu ditegaskan beliau lagi dalam hadis “ idza amma hum fahuwa amiru hum” jika seseorang diangkat menjadi imam shalat mereka maka dialah yang

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->