Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Contoh PTK Mata Pelajaran

Contoh PTK Mata Pelajaran

Ratings: (0)|Views: 259|Likes:
Published by Made Pawana

More info:

Published by: Made Pawana on Jul 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/04/2012

pdf

text

original

 
Contoh PTK Mata Pelajaran Matematika
Cooperative Learning 
Tipe
CIRC 
Berbasis Penemuan untuk Meningkatkan Keterampilan dalam MenyelesaianSoal Cerita Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Tulis, Kabupaten BatangOleh: RochaniAbstrak :
Latar belakang penulis untuk melaksanakan penelitian yang berjudul; ”
Cooperative Learning 
tipe
CIRC 
BerbasisPenemuan untuk meningkatkan keterampilan dalam menyelesaikan soal cerita siswa kelas IX SMP Negeri 1TulisKabupaten Batang” adalah adanya beberapa masalah mendasar yang dihadapi guru matematika ketika membelajarkansiswa kelas IX E SMP Negeri 1 Tulis. Masalah yang dimaksud antara lain: (i) Siswa kurang terampil berpikir untuk  belajar, takut bertanya dan berpendapat, dan kesulitan dalam menyelesaikan masalah/soal cerita ; (ii) Hasil belajar matematika cukup rendah; dan (iii) Adanya faktor pendukung seperti: kualifikasi guru sarjana, alat peraga cukup,lingkungan sekolah mendukung, PBM tepat waktu dan buku pelajaran cukup, akan tetapi masalah tersebut di atas belum terselesaikan. Permasalahannya adalah apakah dengan menerapkan
Cooperative Learning 
tipe
CIRC 
berbasis penemuan dapat meningkatkan hasil belajar matematika ? Maka tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui keampuhan tindakan yaitu meningkattidaknya hasil belajar matematika materi kesebangunan pada siswakelas IX E SMP Negeri 1 Tulis semester ganjil tahun pelajaran 2010/2011 melalui penerapan
Cooperative Learning.
Jenis penelitian tindakan kelas ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Adapun untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti melaksanakan tahapan
 planning 
(menetapkan jumlah siklus dan materi pokok yang akan dipelajari,menentukan sampel penelitian, menyusun
lesson plan
dan instrumen penilaian, menyusun format observasi lainnya),tahapan
action
(melaksanakan tindakan kelas sebanyak 3 siklus mengacu pada perencanaan), tahapan
observing 
(melakukan observasi terhadap perkembangan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomorik serta kinerja kelompok),dan
reflection
(melaksanakan analisa data dan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran, evaluasi proses danhasil belajar yang menjadi fokus dalam penelitian tindakan kelas ini).Validitas data bergantung pada validitas instrumen. Validitas instrumen dalam penelitian ini menggunakan
 practical validity
dan validitas data dengan menggunakan
 face validity.
Sedang teknik analisa data dalam penelitian inimenggunakan analisa deskriptif kualitatif.Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dan mampu menjawab permasalahan yang ada.Berdasar hasil evaluasi, pada akhir siklus III didapat angka pencapaian nilai rata-rata UH sebesar 69,00 (naik sebesar 26 atau 37,68 % dari pra-siklus dan termasuk dalam kriteria baik sekali), angka pencapaian prosentase perolehan skor keterampilan berpikir dalam pembelajaran 0,079 dan termasuk dalam kriteria baik.Selanjutnya, dengan memperhatikan pelaksanaan penelitian dan hasilnya, maka peneliti menyarankan kepada gurumatematika pada khususnya untuk melaksanakan
Cooperative Learning 
agar kemampuan siswa dapat ditingkatkanmelalui pengembangan pengetahuan prosedural dan deklaratif serta belajar secara kooperatif.Adapun implikasi dari penelitian ini adalah bahwa hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pengembangan penelitian tindakan kelas berikutnya dan dapat dijadikan sebagai model pembelajaran alternatif untuk meningkatkankemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik sebagai hasil belajar.
Kata kunci
:
Cooperative Learning 
 
1. PENDAHULUANLatar Belakang
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting diajarkan pada pendidikan dasar dan pendidikanmenengah. Dalam pedoman penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Pertama dijelaskantujuan pengajaran matematika pada pendidikan dasar ( Depdiknas, 2006:8) antara lain agar siswa memahami konsepmatematika secara luwes, akurat, efesiarn, dan tepat serta memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalamkehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu atau kritis, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikapulet dan percaya sendiri dalam pemecahan masalah.Berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis dalam mengajar matematika selama ini, siswa kurang memahamimateri yang diajarkan guru dan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika. Pengalaman jugamenunjukkan bahwa hasil belajar siswa belum memuaskan. Hal ini dapat dilihat diantaranya dari nilai ulangan harian pada materi pokok sebelum dilaksanakan penelitian (pra-siklus). Dimana jumlah siswa yang mencapai tingkatketuntasan belajar baru 37,5 % dari 40 siswa. Dan rata-rata nilai ulangan hariannya sebesar 43.Gejala-gejala yang tampak pada saat proses belajar antara lain: kemampuan menganalisa dan menyelesaikan soalrendah, siswa kurang terampil berpikir dan cenderung suka mencontoh, siswa belum mampu berfikir kritis dansistematis. Akibatnya jika diberikan soal-soal yang agak berbeda sedikit dengan contoh yang diberikan, mereka tidak mampu menyelesaikannya. Hal ini disebabkan siswa belajar hanya dengan mengingat fakta, dan kurang memahamikonsep yang dipelajari.Selanjutnya melalui sebuah diskusi dengan teman sejawat, penulis mencoba mengidentifikasikan masalah sebagai berikut: bahwa mungkin rendahnya hasil belajar matematika disebabkan karena (1) pendekatan pembelajaran yangdiberikan kurang sesuai, (2) metode mengajarnya kurang bervariasi, (3) keterampilan berpikir siswa kurang maksimal(4) teknik penilaian tidak sesuai sehingga perkembangan kemampuan siswa kurang terukur, (5) pemanfaatanlingkungan/alat peraga kurang , dan dukungan belajar dari orang tua dan masyarakat rendah.Dengan mencermati juga bahwa di SMP Negeri 1 Tulis memiliki kualitas guru yang cukup tinggi ( 99% sarjana),memiliki alat peraga matematika dan buku-buku yang cukup serta lingkungan sekolah yang mendukung (berada diluar kota Batang yang nyaman dan sejuk), maka dapat dipahami bahwa rendahnya hasil belajar matematika yangdiperoleh siswa disebabkan karena belum diterapkannya model pembelajaran yang dapat membelajarkan siswa secaramandiri, dan dapat membangun kemampuan dan pengetahuan secara bertahap dengan memanfaatkan lingkungan belajar sebagai media pengajaran untuk menyelesaikan soal cerita atau masalah matematika yang berkaitan dengandunia nyata atau kehidupannya.Mengingat masalah di atas jika tidak diselesaikan akan berakibat munculnya masalah-masalah yang baru seperti siswaakan semakin kesulitan menerima materi pada kelas berikutnya, peluang tidak lulus setelah ujian dan siswa semakinkurang memaknai dan menyenangi pelajaran matematika, maka sejalan dengan langkah-langkah pemerintah dalammeningkatkan mutu pendidikan baik berupa Dana Bantuan Langsung (DBL) yang disalurkan melalui MGMP ProgramMERMUTU (
 Better Education thraogh Reformed Management and Universal Teacher Upgrading 
) maupun usaha peningkatan kualitas guru melalui pelatihan dan pendidikan bagi guru, penulis berusaha mencari ide atau gagasantentang bagaimana cara yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar matematika yang diperoleh siswa.Selanjutnya penulis mencoba akan meneliti apakah tindakan kelas dengan menerapkan model
Cooperative Learning 
tipe
CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composation)
dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa. 
 
1.2. Masalah nyata dalam pembelajaran
Ada masalah yang nyata, jelas dan mendesak yang di dukung oleh data nyata untuk segera diatasi. Masalah tersebut bermula dari adanya 37,5 % siswa SMP 1 Tulis yang baru tuntas dalam ulangan harian dengan materi kesebangunan.Sebagai sekolah negeri di tengah kota, maka banyaknya siswa yang belum tuntas bisa ditekan seminimal mungkin.SMP negeri 1 Tulis di kota Batang, jelas menjadi barometer keberhasilan bagi SMP di daerah.
1.3. Penyebab masalah
Penyebab masalahnya jelas, yaitu raw input-nya (siswa yang masuk) kurang berkualitas. Dengan demikian, guru mata pelajaran matematika harus berusaha keras agar hasil belajar siswa SMP 1 Tulis dapat meningkat, walaupun kualitassiswanya kurang begitu bagus. Di lain pihak, soal-soal UN banyak yang memuat soal-soal cerita. Padahal sebelummengerjakan soal cerita, siswa harus bisa memahami makna soal terlebih dahulu. Untuk itu siswa SMP 1 Tulis perludilatih secara dini dalam memahami makna soal cerita untuk kemudian dapat menyelesaikannya.
1.4.Kolaboratif antar guru mata pelajaran matematika di SMP 1 Tulis
Sebagai guru matematika yang mengajar di SMP 1 Tulis, maka peneliti merasa tertantang untuk memecahkan persoalan lemahnya siswa dalam menyelesaikan soal cerita. Dalam suatu kesempatan, maka secara kolaboratif, paraguru matematika SMP 1 Tulis telah mengidentifikasi masalah yang di hadapi guru dan penyebabnya mengenailemahnya siswa SMP 1 Tulis dalam menyelesaikan soal cerita. Identefikasi penyebab masalahnya adalah sebagai berikut:1. Guru belum menemukan model pembelajaran yang tepat untuk melatih siswa dalam menyelesaikan soal cerita.2. Siswa SMP 1 Tulis dalam menyelesaikan soal cerita metematika mengalami hambatan dalam:a. Memahami makna setiap kalimat yang ada dalam soal cerita; b. Kurang mampu dalam merumuskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan, kurang bisa menghubungkansecara fungsional unsur-unsur yang diketahui untuk menyelesaikan masalahnya; danc. Masih ada yang tidak tahu, unsur mana yang harus dimisalkan dengan suatu variabel.Oleh karena itu, guru-guru secara kolaboratif mencoba mencari cara dan menemukan model pembelajaran yang tepatagar penyebab masalah yang teridentifikasi di atas dapat segera diatasi.Hampir semua kompetensi dasar materi matematika di sekolah SMP ada soal cerita. Soal cerita adalah soal yangdikaitkan dengan kehidupan sehari-hari (contextual problems). Soal cerita dapat dikemas dalam bentuk tes objektif maupun dalam benruk soal uraian yang pengerjaannya perlu menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, dan penyelesaiannya. Kenyataannya, ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami arti kalimat-kalimatdalam soal cerita. Oleh karena itu, maka para guru perlu mencari suatu model pembelajaran yang spesifik sehinggaketerampilan siswa dalam mengerjakan soal cerita dapat ditingkatkan.Berdasarkan ide kolaboratif antar guru-guru matematika SMP Negeri 1 Tulis. Maka model
Cooperative Learning 
tipe
CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)
 berbasis penemuan perlu diimplementasikan di SMP Negeri1 Tulis guna meningkatkan ketrampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita.
Cooperative Learning 
di dalamnyaada
 Learning Society
yang cocok untuk meningkatkan aktivitas kegiatan belajar. Dalam Learning Society ini, gurudapat menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif untuk saling bertanya, mempertanyakan, danmengemukakan gagasan dalam kelompoknya.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->