Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Gasifikasi

Gasifikasi

Ratings: (0)|Views: 339|Likes:
Published by hendramarzola

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: hendramarzola on Jul 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/09/2012

pdf

text

original

 
Gasifikasi Batubara
Secara umum, teknologi pemanfaatan batubara terbagi menjadi pembakaran (
combustion 
), pirolisis(
pyrolysis 
), pencairan (
liquefaction 
), dan gasifikasi (
gasification 
).
 
Pembakaran merupakan pemanfaatan batubara secara langsung untuk memperoleh energi panas,menghasilkan produk sampingan berupa gas buang (
flue gas 
) dan abu. PLTU merupakan salah satucontoh pemanfaatan batubara secara langsung, dimana batubara dibakar di
boiler 
untuk
 
menghasilkan panas yang akan digunakan untuk mengubah air menjadi uap air (
steam 
), yang
 
selanjutnya digunakan untuk menggerakkan turbin uap dan memutar generator untuk menghasilkanenergi listrik.
 
Sedangkan pada pirolisis, batubara dipanaskan dalam kondisi tanpa oksigen. Pada keadaan
 
demikian, zat terbang (
volatile matter 
) di dalamnya akan terusir keluar. Bila suhu pemanasannyarendah, proses ini disebut pirolisis suhu rendah (
low temperature pyrolysis 
), menghasilkan produkberupa bahan bakar padat non asap (
coalite 
). Sedangkan pada pirolisis suhu tinggi, bila batubara
 
yang diproses adalah batubara kokas, maka akan dihasilkan kokas yang keras. Selain padatan yang
 
disebut char ataupun kokas, produk sampingan berupa gas dan material cair yang disebut tar jugaakan dihasilkan pada pirolisis. Pada awalnya, gas dan tar ini tidak dimanfaatkan. Gas hasil pirolisis ini
 
dimulai dimanfaatkan sejak tahun 1800an, yang digunakan untuk keperluan penerangan.
 
Pemanfaatannya bahkan meluas hingga untuk bahan bakar (
fuel gas 
), sehingga industri pirolisis yang
 
bertujuan untuk menghasilkan gas dari batubara pun berkembang pesat. Pada industri ini, gasmerupakan produk utama, sedangkan char atau kokas dan tar merupakan produk sampingan.
 
Sebelum tahun 1960an ketika bahan baku migas mulai menggeser peranan batubara, suplai gas kota
 
(
town gas 
) terutama berasal dari pirolisis batubara ini. Adapun untuk tar, pemanfaatannya dimulaipada pertengahan abad ke-19, ketika perkembangan teknik kimia telah memungkinkan untuk
 
melakukan distilasi dan pemurnian tar menjadi produk pewarna sintetik dan bahan kimia. Jadi,
 
sebelum industri kimia yang berbahan baku migas atau disebut dengan
petrochemical 
berkembang,
 
industri kimia berbasis batubara atau disebut dengan
coal-chemical 
telah lebih dulu eksis.
 
Dibandingkan dengan minyak, salah satu kekurangan batubara adalah bentuknya yang berupa
 
padatan, menyebabkan skala dan nilai pemanfaatannya menjadi terbatas. Pencairan batubara
 
sebenarnya berangkat dari pemikiran untuk lebih meningkatkan nilai guna batubara seperti halnyaminyak. Seperti disinggung pada bahasan pirolisis di atas, salah satu produk batubara ketika
 
dilakukan pemanasan adalah tar, yang berupa cairan. Pada dasarnya, batubara dan minyak
 
merupakan material hidrokarbon yang susunan utamanya terdiri dari karbon (C), hidrogen (H), dan
 
oksigen (O), hanya saja jumlah unsur hidrogen dalam batubara lebih sedikit bila dibandingkandengan minyak. Oleh karena itu, untuk menghasilkan produk cairan dari batubara yang
 
karakteristiknya menyerupai minyak, perlu diupayakan agar kandungan hidrogennya diperbanyak
 
sehingga mendekati minyak. Proses ini disebut dengan hidrogenasi (
hydrogenation 
), dimanabatubara dipanaskan dalam kondisi tekanan tertentu, disertai penambahan katalis. Pencairan
 
batubara dengan metode ini merupakan salah satu pencairan batubara secara langsung (
direct coal 
 
liquefaction, DCL
) yang disebut dengan proses Bergius. Metode ini digunakan oleh Jerman selama
 
Perang Dunia I dan II untuk memenuhi kebutuhan minyak sintetik oleh militer. Selain itu, Jepang pun
 
berhasil mengembangkan sendiri teknologi DCL ini dengan menggabungkan 3 macam metodepencairan pada batubara bituminus yaitu,
direct hydrogenation 
,
solven extraction 
, dan
Solvolysis 
.
 
Teknologi tersebut dikenal dengan proses NEDOL, yang dapat diaplikasikan pula untuk pencairan
 
batubara muda.
 
Selain pencairan secara langsung, metode lain untuk menghasilkan minyak sintetik dari batubara
 
adalah dengan pencairan tidak langsung (
indirect coal liquefaction, ICL
), yaitu melalui proses
 
gasifikasi batubara yang akan dijelaskan lebih lanjut di bawah ini. Pada perkembangannya, pencairan
 
batubara akhirnya lebih banyak menggunakan metode tidak langsung, yaitu melalui gasifikasi.
 
Teknologi Gasifikasi
 
Gasifikasi (
gasification 
) adalah konversi bahan bakar karbon menjadi produk gas
 –
gas yang memiliki
 
nilai kalor yang berguna. Pengertian ini tidak memasukkan istilah pembakaran (
combustion 
) sebagaibagian daripadanya, karena gas buang (
flue gas 
) yang dihasilkan dari pembakaran tidak memiliki nilai
 
kalor yang signifikan untuk dimanfaatkan [Higman, van der Burgt, 2003]. Karena proses ini
 
merupakan konversi material yang mengandung karbon, maka semua hidrokarbon seperti batubara,minyak,
vacuum residue 
,
petroleum coke 
atau
petcoke 
, Orimulsion, bahkan gas alam dapatdigasifikasi untuk menghasilkan gas sintetik (
syngas)
.
 
Karena bertujuan untuk mengenalkan gasifikasi batubara, maka tulisan ini membatasipembahasannya hanya pada ruang lingkup gasifikasi batubara dan aplikasinya.
 
Pada dasarnya, terdapat 3 cara untuk memproduksi gas sintetik dari batubara, yaitu pirolisis,
 
hidrogenasi, dan oksidasi sebagian (
partial oxidation 
).
 
Meskipun produksi gas sintetik pada awalnya memanfaatkan teknologi pirolisis, tapi saat ini pirolisislebih banyak diaplikasikan untuk memproduksi
bio-oil 
dari bahan baku biomassa. Metode yangdipakai adalah
flash pyrolysis 
, dimana biomassa dipanaskan secara cepat tanpa oksigen pada suhu
 
tinggi antara 450~600
, dengan waktu tinggal gas (
residence time 
) yang pendek yaitu kurang dari 1
 
detik. [Bramer, Brem, 2006].
 
Adapun hidrogenasi yang dimaksud disini adalah hidrogasifikasi (
hydro-gasification 
), yang bertujuan
 
memproduksi gas metana (
Synthetic Natural Gas 
) langsung dari batubara. Karena operasional
 
hidrogasifikasi memerlukan tekanan yang tinggi, teknologi ini kurang berkembang dan akhirnya tidaksampai ke tahap komersial. [Higman, van der Burgt, 2003]
 
Sedangkan pada oksidasi sebagian, pemanasan batubara dilakukan dengan mengatur kadar oksigen
 
dari oksidan yang digunakan selama proses berlangsung. Oksidan tersebut dapat berupa udara (
air 
),
 
oksigen murni, maupuan uap air (
steam 
). Produk yang dihasilkan oleh oksidasi sebagian adalah gassintetik, dimana 85% lebih volumenya terdiri dari hidrogen (H
2
) dan karbon monoksida (CO),sedangkan karbon dioksida (CO
2
) dan metana (CH
4
) terdapat dalam jumlah sedikit. Dengan
 
karakteristik produk yang dihasilkan, secara praktikal, istilah gasifikasi sebenarnya merujuk ke
 
metode oksidasi sebagian. Untuk selanjutnya, penjelasan tentang gasifikasi batubara akan mengacuke penggunaan metode oksidasi sebagian.
 
 
Gasifikasi Batubara
 
Terdapat 3 jenis penggas (
gasifier 
) yang banyak digunakan untuk gasifikasi batubara, yaitu
 
tipe
moving bed (lapisan bergerak)
,
fluidized bed (lapisan mengambang)
, dan
entrained flow (aliran 
 
semburan)
. Karena masing
 –
masing penggas memiliki kelebihan dan kekurangan, maka alat manayang akan digunakan lebih ditentukan oleh karakteristik bahan bakar dan tujuan gasifikasi.
 
Untuk model
moving bed 
, batubara yang digasifikasi adalah yang berukuran agak besar, sekitarbeberapa sentimeter (
lump coal 
). Batubara dimasukkan dari bagian atas, sedangkan oksidan berupaoksigen dan uap air dihembuskan dari bagian bawah alat. Mekanisme ini akan menyebabkan
 
batubara turun pelan
 –
pelan selama proses, sehingga waktu tinggal (
residence time 
) batubara
 
adalah lama yaitu sekitar 1 jam, serta menghasilkan produk sisa berupa abu. Karena penggas model
 
ini beroperasi pada suhu relatif rendah yaitu maksimal sekitar 600
0
C, maka batubara yang akandigasifikasi harus memiliki suhu leleh abu (
ash fusion temperature 
) yang tinggi. Hal ini dimaksudkanagar abu tidak meleleh yang akhirnya mengumpul di bagian bawah alat sehingga dapat menyumbat
 
bagian tersebut. Disamping produk utama yaitu gas hidrogen dan karbon monoksida, gasifikasi pada
 
suhu relatif rendah ini akan meningkatkan persentase gas metana pada produk gas. Karena gasmetana ini dapat meningkatkan nilai kalor gas sintetik yang dihasilkan, maka penggas
moving 
 
bed 
sesuai untuk produksi SNG (
Synthetic Natural Gas 
) maupun gas kota (
town gas 
).Contoh alat tipe
 
ini adalah penggas Lurgi, yang digunakan oleh Sasol di Afrika Selatan untuk produksi BBM sintetisdan Dakota Gasification di AS untuk produksi SNG.
 
Gambar 1. Tipikal penggas jenis moving bed
 
(Sumber: N. Holt, Electric Power Research Institute)
 
Pada tipe
fluidized bed 
, batubara yang digasifikasi ukurannya lebih kecil dibandingkan pada
moving bed,
yaitu beberapa milimeter sampai maksimal 10 mm saja. Tipikal penggas ini memasukkan bahan
 
bakarnya dari samping (
side feeding 
) dan oksidan dari bagian bawah. Oksidan disini selain sebagai
 
reaktan pada proses, juga berfungsi sebagai media lapisan mengambang dari batubara yangdigasifikasi. Dengan kondisi penggunaan oksidan yang demikian maka salah satu fungsi tidak akan
 
dapat maksimal karena harus melengkapi fungsi lainnya, atau bersifat komplementer. Hal ini
 
mengakibatkan tingkat konversi karbon pada tipe ini maksimal hanya sekitar 97% saja, tidak setinggi
 
pada tipe
moving bed 
dan
entrained flow 
yang dapat mencapai 99% atau lebih. [Higman, van derBurgt, 2003]. Karena penggas ini beroperasi pada suhu sekitar 600~1000
0
C, maka batubara yang
 
akan diproses harus memiliki temperatur melunak abu (
softening temperature 
) di atas suhu
 
operasional tersebut. Hal ini bertujuan agar abu yang dihasilkan selama proses tidak meleleh, yang

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->