Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
13Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Shalat Sunnah Rawâtib

Shalat Sunnah Rawâtib

Ratings: (0)|Views: 14,257|Likes:
Published by adi nurcahyo
Keutamaan sholat sunnah yang mengiringi sholat wajib
Keutamaan sholat sunnah yang mengiringi sholat wajib

More info:

Published by: adi nurcahyo on Jan 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See More
See less

12/09/2012

 
Shalat Sunnah Rawâtib
Para ulama sangat memperhatian shalat sunnah Rawâtib ini. Yang dimaksud denganshalat sunnah Rawâtib, yaitu shalat-shalat yang dilakukan Rasulullah shollallahu 'alaihiwa sallam atau dianjurkan bersama shalat wajib, baik sebelum maupun sesudahnya. Adayang mendefinisikannya dengan shalat sunnah yang ikut shalat wajib.
1
SyaikhMuhammad bin Shalih al-'Utsaimin mengatakan, yaitu shalat yang terus dilakukan secarakontinyu yang mendampingi shalat
 fardhu
.
2
 Bagaimanakah kedudukan shalat sunnah Rawâtib ini, sehingga para ulama sangatmemperhatikannya?Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 
ّنِإِهِلَمَع ْِ ِةَاَيِقْ َْوَ ُدْبَْ ِهِ ُَساَحُ اَ َّَأْنِإَ ََجْَأَ ََلْفَأ ْدَقَف ْتَحُلَص ْنِَف ُهُََص  ْَدََف َاَ ٌءْَش ِهِَضِرَف ْِ ََقَْ ْنِَف َرِَخَ َاَخ ْدَقَف ْَ ُرُظْ ّََ ّزَع ّر ٍوَطَ ْِ ِدْبَِ ُرِئاَس ُنوُكَ ّُث ِةَضِرَْ ْِ ََقَْ اَ اَِ َّمَكُيَف َِَذ ىَلَع ِهِلَمَع
Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses, dan bila rusak maka ia telah rugidan menyesal. Apabila kurang sedikit dari shalat wajibnya maka Rabb 'Azza wa jallaberfirman: "Lihatlah, apakah hamba-Ku itu memiliki shalat tathawwu' (shalat sunnah)?"  Lalu shalat wajibnya yang kurang tersebut disempurnakan dengannya, kemudian seluruhamalannya diberlakukan demikian.
(HR at-Tirmidzi).Dari hadits tersebut, menjadi jelaslah betapa shalat sunnah Rawâtib memiliki peran penting, yakni untuk menutupi kekurangsempurnaan yang melanda shalat wajibseseorang. Terlebih lagi harus diakui sangat sulit mendapatkan kesempurnaan tersebut,sehingga Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ّنِإِهِََص ُرْُع ّِإ ُهَ َِُ اََ ُِرَْَيَ َُّراَُْمُخ اَُسْدُس اَُْبُس اَُْمُث اَُْُ  اَُُلُث اَُْُ اَُْِ 
Sesungguhnya seseorang selesai shalat dan tidak ditulis kecuali hanya sepersepuluh shalat, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya sepertiganya, setengahnya.
(HR Abu Dawud dan Ahmad).
KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH RAWÂTIB
 Ada beberapa hadits Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam yang menjelaskan keutamaanshalat sunnah Rawâtib secara umum, dan ada juga yang khusus pada satu shalat sunnahRawatib tertentu, seperti keutamaan shalat sunnah sebelum Subuh.Di antara hadits yang menunjukkan keutamaan shalat sunah Rawâtib secara umum, ialahhadits Ummu Habîbah, yang berbunyi:
اَ ََرْَع ْَْِث ٍْوَ ّُ ِّِ لَُ ٍِلْُ ٍدْبَع ْِ ُهَ ُّ ىََ ّِإ ٍةَضِرَف َرْيَغ اًعوَطَ ًةَْَ  اًْيَ ِةّَجْ ِف 
Tidaklah seorang muslim shalat karena Allah setiap hari dua belas raka'at shalat  sunnah, bukan wajib, kecuali akan Allah membangun untuknya sebuah rumah di surga.
3
 
 
Jumlah raka'at ini ditafsirkan dalam riwayat at-Tirmidzi dan an-Nasâ-i, dari hadits UmmuHabibah sendiri, yang berbunyi:
ْتَاَ َّلَسَ ِهْيَلَع ُّ ىّلَص ِّ ُوُسَ َاَ َةَبيِبَ ُأُّ ىََ ًةَْَ ََرْَع ْََْث ىّلَص ْَ  ِف اًْيَ ُهَ ِرْظ َدْَ ِْيََْََ ِرْظ َْبَ اًَْَأ ِةّَجْِْيََْََ ِِرْَمْ َدْَ ِْيََْََ  ِءاَِْ َدْَ ِرْجَْ َْبَ ِْيََْََ 
Ummu Habibah berkata,"Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda:'Barang  siapa yang shalat dua belas raka'at maka Allah akan membangunkan untuknya sebuahrumah di surga; empat raka'at sebelum Zhuhur dan dua raka'at setelahnya, dua raka'at  setalah Maghrib, dua raka'at sesudah 'Isya`, dan dua raka'at sebelum shalat Subuh'." 
Dalam riwayat lain dengan lafazh :
ِةّَجْ ِف اًْيَ ُهَ ّََ ّزَع ُّ ىََ ًةَْَ ََرْَع ْََْث ىَلَع َرَاَث ْَ 
 Barang siapa yang terus-menerus melakukan shalat dua belas raka'at, maka Allahmembangunkan baginya sebuah rumah di surga.
(HR an-Nasâ-i).Riwayat ini menunjukkan sunnahnya membiasakan dan secara rutin agar kitamengerjakan shalat dua belas raka'at tersebut setiap hari. Sehingga, siapapun yangmembiasakan diri melakukan sunnah-sunnah Rawâtib ini, ia termasuk dalam keutamaantersebut. Dan ini dikuatkan dengan perbuatan Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam ,sebagaimana tersebut dalam hadits Ibnu 'Umar berikut ini.
ُتْظِَ ٍاَََ َرْَع َّلَسَ ِهْيَلَع ُّ ىّلَص ِبّ ْِ اََدْَ ِْيََْََ ِرْظ َْبَ ِْيََْَ  ِْيََْََ ِف ِءاَِْ َدْَ ِْيََْََ ِهِْيَ ِف ِِرْَمْ َدْَ ِْب ِََص َْبَ ِْيََْََ ِهِْيَ  َ ًةَعاَس ْتَاََ اَيِف َّلَسَ ِهْيَلَع ُّ ىّلَص ِبّ ىَلَع ُَخْدُ َذِإ َناَ ُهّَأ ُةَْَ ِْَثّدَ  ََلََ ُنذَؤُمْ َنّذَأِْيََْَ ىّلَص ُرْجَْ
 Aku hafal dari Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam sepuluh raka'at: dua raka'at sebelum Zhuhur dan dua raka'at sesudahnya, dua raka'at setelah Maghrib, dua raka'at setelah'Isya, dan dua raka'at sebelum shalat Subuh. Dan ada waktu tidak dapat menemui Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam . Hafshah menceritakan kepadaku, bila muadzin beradzandan terbit fajar, beliau shollallahu 'alaihi wa sallam shalat dua raka'at.
4
 Dalam riwayat Bukhari dan Muslim terdapat tambahan lafazh:
ِهِْيَ ِَف ُءاَِْَ ُِرْَمْ اّََف ِةَُمُجْ َدْَ ِْيََدْجَسَ 
 Dan dua raka'at setelah Jum'at. Adapun (shalat sunnah Rawatib) Maghrib dan 'Isyadilakukan di rumahnya.
5
 Dalam riwayat Muslim berbunyi:
ِهِْيَ ِف َّلَسَ ِهْيَلَع ُّ ىّلَص ِبّ ََ ُتْيّلََف ُةَُمُجْَ ُءاَِْَ ُِرْَمْ اّََف 
 Adapun (shalat sunnah Rawâtib) Maghrib, Isya dan Jum'at, aku lakukan bersama Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam di rumahnya.
 
JUMLAH RAKA'AT SUNNAH RAWÂTIB
Dalam masalah jumlah
raka'at 
sunnah Rawatib ini, di kalangan para ulama terdapat perselisihan pendapat, yang terbagai dalam dua pendapat. Ini dikarenakan perbedaan dua
 
hadits di atas.
 Pertama
, menyatakan jumlah
raka'atnya
adalah sepuluh dengan dasar hadits Ibnu 'Umar radhiallahu'anhu tersebut, dan inilah pendapat para ulama madzhab Hambaliyah danSyafi'iyyah.
7
 
 Kedua
, menyatakan jumlah raka'atnya ialah dua belas, berdasarkan hadits UmmuHabibah di atas, dan inilah pendapat madzhab Hanafiyyah dan Ibnu Taimiyyah.
 Ketiga
, menyatakan tidak ada batasan jumlah raka'at, bahkan cukup dengan melakukandua raka'at dalam setiap waktu untuk mendapatkan keutamaan shalat sunnah
 Rawatib
,dan inilah pendapat madzhab Malikiyyah.
 Keempat 
, menyatakan jumlah raka'atnya delapan belas. Demikian ini pendapat Imamasy-Sya-irazi dan disetujui Imam an-Nawawi dalam
al-Majmû' Syarhul-Muhadzdzab
.Pendapat ini berdalil dengan hadits Ummu Habibah di atas, serta hadits Ummu Habibahlainnya yang berbunyi:
ُتْِمَس ُّ ىّلَص َّلَسَ ِهْيَلَع ُّ ىّلَص ِّ َوُسَ ِَْَأ ىَلَع ََفاَ ْَ ُوُقَ َّلَسَ ِهْيَلَع َْبَ ٍاَََ ِاّ ىَلَع ُّ ُهَّرَ اََدْَ ٍَْَأَ ِرْظ
 Aku mendengar Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Barang siapa yang menjaga empat raka'at sebelum Zhuhur dan empat raka'at setelahnya maka Allahmengharamkannya dari neraka." 
9
 Juga hadits yang berbunyi:
ْَعَاَ َّلَسَ ِهْيَلَع ُّ ىّلَص ِبّ ْَع َرَمُع ِْاًَْَأ ِرْَْ َْبَ ىّلَص ًأَرْ ُّ َِَ 
 Dari Ibnu 'Umar radhiallahu'anhu , dari Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam beliaubersabda: "Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat sebelum 'Ashar empat raka'at" 
.
10
 Menurut Imam Nawâwi, beliau rahimahullah mengatakan, yang paling sempurna dalam
 Rawatib
yang mendampingi shalat
 fardhu
selain witir, adalah delapan belas
raka'at,
sebagaimana dijelaskan penulis (asy-Sya-irazi), dan paling sedikit adalah sepuluh,sebagaimana yang beliau sebutkan. Di antara ulama ada yang berpendapat delapan
raka'at 
dengan menghapus sunnah Isya'; (demikian) ini pendapat al-Khudari. Dan adayang menyatakan bahwa jumlahnya dua belas, (yaitu) dengan menambah dua raka'at lainsebelum Zhuhur, dan ada yang menambah dua raka'at sebelum shalat 'Ashar. Semua inisunnah, namun perbedaan pendapat ada pada yang muakkad (yang lebih ditekankan)darinya.
11
 
Yang rajih
– 
Wallahu A'lam
 – yaitu mengembalikan definisi shalat sunnah
 Rawâtib
sebagai shalat sunnah pendamping shalat fardhu yang dilakukan sebelum atau sesudah,dan ada anjuran dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam . Sehingga yang lengkapialah delapan belas raka'at, sebagaimana disampaikan Imam an-Nawawi di atas. Namun, manakah yang sunnah muakkad dari semua itu?Dalam persoalan ini, pendapat yang rajih ialah pernyataan yang disampaikan oleh SyaikhIbnu 'Utsaimin
12
, yaitu duabelas raka'at dengan perincian dua raka'at sebelum Subuh,empat raka'at sebelum Zhuhur, dua raka'at setelah Zhuhur, dua raka'at setelah Maghrib,dan dua raka'at setelah 'Isya`, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ummu Habîbah, jugadikuatkan dengan hadits 'Aisyah yang berbunyi: 

Activity (13)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Risa Defco liked this
Nena Tamara liked this
Danvi Sarah liked this
Buyung Sidik liked this
Muhammad Muafi liked this
fatmamuharramah liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->