Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Bahan Makalah GCG

Bahan Makalah GCG

Ratings: (0)|Views: 70 |Likes:
Published by Cita Yustisia

More info:

Published by: Cita Yustisia on Jul 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/13/2012

pdf

text

original

 
Yusuf al-Qardawimenyebutkan sedikitnya 4 alasanpelarangan tersebut, yaitu:1. Memungut riba artinya mengambilharta orang lain tanpa memberikanorang tersebutpenggantianapapun. Dengan kata lain, sipemberi pinjaman mendapatkansesuatu tanpamemberikanapapun.2. Ketergantungan pada ribamembuat orang malas bekerjauntuk mendapatkan uang.Uangyang dipinjamkan dengan ribatidak akan digunakan dalamindustri atau perdagangan,yangkesemuanya membutuhkan modal.Karena itu membuat masyarakattidak memperolehmanfaatnya.3. Membolehkan memungut ribamenghambat orang untuk berbuatbaik. Jika riba dilarang,orang akanmemberi pinjaman kepada oranglain dengan itikad baik. Mereka idak akanmengharapkan hasilyang lebih besar, selain dari jumlah yang telah merekapinjamkan.4. Orang yang meminjamkanbiasanya kaya dan si peminjammiskin. Si miskin akandieksploitasi oleh si kaya melalui pemungutan riba atas pinjaman.Sebagai sistem perbankan yang lahirbelakangan, adalah penting bagiperbankan syariah untuk tidakmengulangi kesalahan yang diperbuatoleh perbankan konvensional. Hal initerutamaterkait dengan penyalurandana, sebab dalam aspek inilahperbankankonvensionalmenumbuhsuburkan praktekpemungutan riba. Padahal memungutriba adalahpraktek yang jelas-jelasdilarang dalam ajaran Islam.Muhammad
Syafi’iAntonio
menyebutkan beberapaperbedaan antara sistem Bunga danBagiHasil. Pada sistem bunga,penentuan bunga dibuat pada waktuperjanjian dengan asumsi harusselaluuntung. Sedangkan pada sistem bagihasil, penentuan besarnya rasio bagihasil dibuatpada waktu perjanjiandengan berpedoman padakemungkinan untung rugi.Sehubungan dengan itu, perludicermati lebih lanjut keberadaan dariDewan PengawasSyariah. Lembagaini adalah sesuatu yang sangat khasdari perbankan syariah, karenatidakdimiliki oleh perbankan konvensional.
Badan Hukum
Bagi bank syariah yang berbentukperseroan terbatas, organisasinyamengacu pada ketentuanUU No. 1Tahun 1995 tentang PerseroanTerbatas. Hal tersebut berarti bahwadalam sebuahbank syariahkekuasaan tertinggi ada pada RUPS,pengurusan dilaksanakan olehDireksi, danpengawasan terhadapDireksi dilaksanakan oleh Komisaris.
 
Perbedaannya dengan perseroanterbatas lainnya, dalam strukturorganisasi bank syariah wajibadasebuah lembaga yang bernamaDewan Pengawas Syariah (DPS).DPS berkedudukan dikantor pusatdan fungsinya ialah mengawasikegiatan usaha Bank agar sesuaidengan prinsipsyariah. Dalammelaksanakan fungsinya DPS wajibmengikuti fatwa Dewan SyariahNasional(DSN).Sebagai perseroan terbataskepentingan bank syariah padadasarnya sama dengan badanusahayang berbentuk perseroan terbataslainnya, yaitu menghasilkankeuntungan ekonomis.seharusnya kepentingan banksyariah tidak bisa semata-matahanya menghasilkankeuntunganekonomis. Kepentingan utamapenyelenggaraan bank syariahadalah untuk mencarikeridhaanTuhan, untuk itulah diperlukan pengawasan BI dan DPS agar operasionalperbankan syariah beserta produk 
 – 
produknya tetap sesuai jalur.
Dewan Pengawas Syariah
Secara umum tugas DPS adalahuntuk mendiskusikan masalah-masalah dan transaksi bisnisyangdihadapkan kepadanya, sehinggadapat ditetapkan kesesuaian atauketidaksesuaiannyadengan syariahIslam. Wewenang DPS adalah:a. Memberikan pedoman atau garis-garis besarsyariah baik untukpengerahan maupun untukpenyaluran dana serta kegiatanbank lainnya,b. Mengadakan perbaikanseandainya suatu produk yangtelah atau sedangdijalankandinilai bertentangan dengansyariah.Perwataatmadja dan Antoniomengemukakan bahwa anggota DPSseharusnya terdiri dari AhliSyariah,yang sedikit banyak menguasaihukum dagang positif dan cukupterbiasa dengankontrak-kontrakbisnis. Untuk menjamin kebebasanmengeluarkan pendapat makaharusdiperhatikan hal-hal tersebut dibawah ini:a. Mereka bukan staf bank, dalam artimerekatidak tunduk di bawahkekuasaan administratif,b. Mereka dipilih oleh Rapat UmumPemegangSaham,c. Honorarium mereka ditentukanoleh Rapat Umum PemegangSaham.Dengan berkembangnya perbankansyariah di Indonesia makaberkembang pula jumlah DPS.Untukmengantisipasi agar tidak terjadikebingungan di kalangan umat islamakibat banyak danberagamnya DPS,pada bulan Juli 1997 dibentuklahDewan Syariah Nasional. Lembagainimerupakan badan otonom MUIyang diketuai secara
ex-officio
olehKetua MUI. Sedangkan, untukkegiatan sehari-hari dilaksanakanoleh Badan PelaksanaHarian DSN.Bagi perusahaan yang akanmembuka bank Syariah atau cabangsyariah dari bank konvensional ataulembaga keuangan syariah lainnya,mereka harus mengajukanrekomendasianggota DPS kepadaDSN.Berdasarkan laporan DPS padamasing-masing lembaga keuangan,DSN dapat memberikanteguran jikalembaga yang bersangkutanmenyimpang dari garis panduan yangtelah ditetapkan.
 
 jika lembagayang bersangkutan tidakmengindahkan teguran yang diberikan, DSN dapatmengajukanrekomendasi kepada lembaga yangmemiliki otoritas, seperti BankIndonesia danDepartemenKeuangan, untuk memberi sanksi.Fungsi DPS sebagai pengawasmemiliki kesamaan dengan fungsiKomisaris. Bedanya,kepentinganKomisaris dalam melakukanfungsinya adalah memastikan bankselalumenghasilkan keuntunganekonomis. Tetapi, kepentingan DPSsemata-mata hanya untuk menjagakemurnian ajaran islam dalampraktek perbankan. Karena itu,kedudukan DPS danKomisarissebenarnya punya potensi besarmelahirkan konflik, sebab DPS harusberpihak padakemurnian ajaranislam walaupun itu bisa membuatperusahaan kehilangankeuntungan.Sedangkan di sisi lain, Komisarisharus berpihak pada keuntungan,walaupun ituartinya harusmenyimpangi syariah.
Dasar Hukum Al-
Qur’an
, Fatwa MUI- Tentang bunga bank
Surat Ar Ruum ayat 39 :
” Dan sesuatu riba yang kamu
berikan agar dia menambah pada hartamanusia,maka riba tidak menambah disisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamumaksudkan untuk mencapai keridlaan Allah, maka orang-orang ( yang berbuat demikian ) itulah orang yangmelipatgandakan ( pahalanya ).
 Q.S. Al Baqarah ayat 275 :
” Orang –
orang makan ( mengambil riba ) tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yangkemasukan syetan karena tekanan penyakit gila, keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkanmereka berkata ( berpendapat ) bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telahmenghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang
orang yang telah sampai kepadaNya larangan darituhannya lalu terus berhenti ( dari mengambil riba ), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan ) dan urusannya ( terserah ) kepada Allah. Orang yang mengurangi ( mengambilriba ) maka orang
 
orang itu adalah penghuni penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya”.
 Q.S. An Nisa Ayat ( 161) :
” Dan d
isebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang dari padanya, dankarena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil, Kami telah menyediakan untuk orang
 
orang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih “.
 Keputusan Fatw
a Majelis Ulama Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Bunga (Intersat/Fa’idah)
 
Pertama : Pengertian Bunga (Interest) dan Riba
 
Bunga (Interest/fa’idah) adalah tambahan yang dikenakan dalam transaksi pinjaman uang (al
-qardh) yang di per-hitungkan dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkanpemanfaatan/hasil pokok tersebut,berdasarkan tempo waktu,diperhitungkan secara pasti dimuka,dan pada umumnya berdasarkan persentase.
 
Riba adalah tambahan (ziyadah) tanpa imbalan yang terjadi karena penagguhan dalampembayara
n yang di perjanjikan sebelumnya, dan inilah yang disebut Riba Nasi’ah.
 
Kedua : Hukum Bunga (interest)
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->